Dr Clara

Dr Clara
Episode 79


__ADS_3

CUP


"Sudah selesai? bagaimana kondisinya? maaf tadi daddy kejebak macet di jalan"


Aku masih tak percaya akan keberadaanya termasuk kelakuannya yang tiba tiba mencium pelipisku dan sambil mengelus perutku.


"Anda suaminya?" tanya papah mbak Nada.


"Iya saya suami sekaligus ayah dari anak yang dikandung oleh istri cantikku ini" sahutnya tanpa rasa ragu.


Nada: "Oooh.. berarti anda tuan David Setya Mayndra?" tebak mbak Nada.


Pria itu langsung menatapku dan berkata..


"Bukan David tapi Haris" sahutnya.


"Perkenalkan saya Haris.. Haris Prasastro, suami dari Verna Adi Utomo"


(Yaaah.. pada kecewa deh😊)


Nada: "Lah?! lalu siapa David yang Verna sebutkan kemarin?" tanyanya bingung.


Haris: "Mungkin kemarin istri saya ini lupa mengatakan memang benar ayah dari anak yang dikandung istriku ini adalah anak David, tapi sekarang mereka sudah bercerai dan sekarang Verna adalah istri saya jadi secara otomatis anak yang dia kandung juga anak saya" jelas kak Haris yang membuat aku sedikit tak nyaman karna pelukannya pada pinggangku termasuk tangannya yang terus mengelus perutku.


Haris: "Kalau begitu kami pamit terlebih dulu ya" pamit kak Haris.


Nada: "Oh iya mari" sahut mbak Nada.


Melliza: "Saya pulang dulu ya mbak Nada, mari pak, adek" pamitku pada mereka semua.


.


.


.


Melliza: "Jangan ulangi itu lagi kak" omelku setalah berada didalam mobil kak Haris.


Haris: "Maaf.. habis kakak takut jika David itu bisa menemukan Melliza. Kakak dengar dari bi Jihan kamu mengakui David sebagai ayah dari anak yang kamu kandung saat pertama pemeriksaan kandunganmu"


Melliza: "Dia memang ayahnya, apa yang salah?" sahutku mulai tak suka.


Haris: "Kamu tidak sedang berusaha membuat celah David bisa menemukan keberadaanmu dan calon anak ini kan Melliza?"


Aku langsung tertegun mendengar penuturan kak Haris.


Haris: "Kakak harap kamu bijak dalam mengambil keputusan, jangan sia siakan pengorbanan almarhum kakek Surya yang telah menutup rapat keberadaanmu saat ini"

__ADS_1


Hari terus berlalu hingga berganti bulan, perutku semakin membuncit dan sang baby yang berada didalam semakin aktif.


Jihan: "Sayang jangan tendang tendang terus yah.. kasihan mommy mu dia kesakitan"


Aku yang duduk selonjoran di karpet depan televisi ruang tengah merasakan sakit bukan hanya diperut melainkan dibetisku yang semakin kian membengkak.


Bahkan cobaannya tidak hanya disitu, aku juga harus mengalami flu dan batuk batuk karna pergantian musim yang tak menentu membuat tubuhku tak kuat apalagi wanita hamil sangat dilarang meminum obat sembarangan karna bisa memperngaruhi kondisi janin.


Melliza: "Haduh Ji.. ini kenapa bisa sesakit ini" keluhku sambil terus mengelus perutku berharap sang baby bisa sedikit tenang.


Tisu sudah berserakan disekitarku karna ingus dan juga tangisku yang tak kuat merasakan sakit diperut dan bengkak dibetisku.


Jihan: "Kita ke dr. Nada saja ya neng, saya tidak tega melihat neng Verna seperti ini" katanya penuh rasa iba.


Kehamilanku yang sudah mendekati bulan terakhir masa mengandung memang sedikit menyiksaku. Awalnya aku sangat bahagia karna bis melihat telapak kaki baby girl saat menendang tapi lama kelamaan aktifitasnya terlalu sering hingga membuatku kualahan merasakan sakit.


Pembengkakan betis memang sudah sangat wajar apalagi dikehamilan anak pertama seperti aku, tapi ini kenapa harus dibarengi dengan flu dan batuk segala yang membuat tenagaku terkuras habis karna merasa lemas.


"Aduh Verna maaf.. sekarang aku sedang mengambil cuti untuk beberapa hari bersama keluarga" kata mbak Nada saat ditelpon meminta waktu jam prakteknya hari ini.


Melliza: "Jadi bagaimana ini mbak? rasanya sakit" pekikku sambil memijat pelan pinggang belakangku.


Nada: "Apa dirumahmu semua terkena flu dan batuk?" tanyanya disebrang sana.


Melliza: "Iya hampir semuanya mbak, padahal semua sudah aku suruh pakai masker termasuk aku sendiri tapi tetap saja aku terkena flu dan batuk"


Nada: "Begini saja.. kamu datang saja kerumahku nanti aku akan merawatmu disini" tawarnya.


Nada: "Tidak tidak.. kau pasienku aku harus merawatmu dan menyembuhkannya sebelum nantinya proses persalian akan berlangsung"


Aku pun akhirnya setuju untuk dirawat olehnya selama beberapa hari kedepan di rumahnya.


Awalnya ditentang keras oleh kak Haris bahkan dia berniat ikut menginap takut takut akan terjadi sesuatu padaku.


Tapi aku meyakinkannya bahwa aku akan baik baik saja karna mbak Nada sudah seperti kakak perempuan yang baik untukku.


Jihan dan Mus pun tidak mempermasalahkan jika memang itu yang terbaik untukku.


Nada: "Jadi Verna akan menepati kamar ini untuk sementara waktu, dan ingat setiap pagi kamu tidak boleh lupa untuk berjemur dan jalan jalan paling tidak setengah jam" katanya mengingatkanku.


Melliza: "Maaf merepotkan ya mbak"


Nada: "Tidak apa asal nanti masuk dalam biaya" katanya sedikit menggodaku dengan tertawa.


Melliza: "Baiklah aku akan membayarnya nanti" sahutku juga dengan ikut tertawa bersamanya.


Nada: "Apa dia masih suka menendang?"

__ADS_1


Melliza: "Iya.. lebih sering dan lebih kuat membuat perutku rasanya sakit" keluhku.


Nada: "Harus sering dielus mungkin dia ingin ketenangan"


Melliza: "Aku selalu mengelusnya dan mencoba menenangkanya tapi tetap saja mbak"


Nada: "Mungkin baby kangen papanya kali Ver.. dia ingin dielus papah kandungnya"


Aku langsung murung dan tak mau menjawab kalimatnya lagi.


Apa benar baby girl rindu mas David?


Tapikan selama ini hanya aku yang menyayanginya, sama sekali tidak ada peran mas David dalam masa kandunganku yang sudah delapan bulan ini.


Nada: "Itu hanya mungkin Verna" katanya menenangkanku.


Nada: "Dan bagaimana dengan kelahirannya nanti kau ingin menggunakan jalur caesar atau normal?"


Melliza: "Aku ingin melahirkan secara normal saja mbak" jawabku.


Nada: "Kamu yakin?" tanyanya lagi.


Melliza: "Iya agar aku bisa tahu pengorbanan mamahku dulu saat melahirkanku"


Aku pun beristirahat di kamar yang telah disediakan oleh mbak Nada untukku.


Aku berharap aku tidak terlalu lama merepotkannya dengan menginap dirumahnya.


Terlebih ini dirumah ada suami mbak Nada yang tampangnya lumayan garang, ya meski sebenarnya dia sangat baik dan perhatian tapi tetap saja wajahnya cukup menakutkan bagiku.


Melihat kehangatan keluarga mbak Nada membuat aku merasa iri.


Ada ayah, suami dan seorang anak bukankah begitu beruntung mbak Nada ini tidak seperti diriku.


Dihamili oleh pria beristri yang telah mengandung, ditinggal kakek tercinta dan sekarang rasanya seperti hidup sebatang kara jika tidak ada baby sekarang yang aku kandung pasti aku tidak memilki lagi tujuan hidupku.


Aku mulai terlelap dalam tidurku hingga aku tiba tiba terbangun dengan rasa keterkejutan mendalam dan nafas naik turun yanhmg saling memburu.


Apa itu tadi?


Mimpi?


Ilusi?


Hayalan?


Atau hanya karna pembawaan sang baby?

__ADS_1


Tapi mengapa terasa nyata?


Terasa nyata sampai aku benar benar merasakannya.


__ADS_2