Dr Clara

Dr Clara
Episode 82


__ADS_3

Celine Veronica Mayndra


Nama yang akhirnya telah aku tetapkan sesuai keinginan papah mas David yang juga bisa dikatakan papah mertuaku tapi entahlah, memang belum ada kata cerai diantara aku dan mas David tapi kita terpisah sudah cukup lama.


Hubunganku dengan mbak Nada sempat renggang karna aku yang perlahan menjauhinya tapi mbak Nada dengan sikap dewasanya memberikan tanggapan tetap positif padaku dan mengerti apa akan rasa kecewaku yang telah ia perbuat.


Melliza: "Baby Telinnya mommy sudah bangun yah" kataku mendengar adanya pergerakan dari ranjang bayi yang bersebelahan dengan ranjangku.


Meski aku menyiapkan sendiri jasa baby sitter tapi itu pun hanya sebatas mengurus peralatan Celine. Seperti mencuci botolnya, mencuci bajunya dan sekedar membereskan tempat tidur.


Hampir sangat jarang aku menitipkan Celine padanya, jikapun dipegang oleh suster aku pasti akan memanggil Jihan untuk mengawasinya.


Katakan aku mulai meniru penyakit mas David yang possessive dan terlalu over protektif, tapi rasa takut itu terus merayapi perasaanku akan perkataan mas David sewaktu dia terakhir pergi.


Jihan berkata bahwa aku tidak boleh terlalu mempercayai orang luar dengan mudah, bisa saja salah satu dari mereka adalah orang suruhan mas David.


Melliza: "Ini ketayangan mommy.. ti tayang tayang kita jemur yuuuk biar sehat" ajakku dengan menggendongnya.


Aku menjemurnya hanya dibatas balkon tak sampai keliling komplek.


"Ellizaaa... I'm coming"


Pekik seseorang yang sudah lama tak terdengar suaranya.


Melliza: "Hallo tante Marsya.. Celine disini" kataku meniru suara anak kecil.


Marsya: "Ya ampuuun.. ndanduuut" katanya hendak memeluk Celine.


Melliza: "Sudah cuci tangan belum?!" kataku langsung menghadangnya dengan tubuhku.


Marsya: "Sudah dong" senyumnya tak sabar hendak menggendong Celine.


Melliza: "Pakai sabun?!"


Marsya: "Ya iyalah pakai sabun Elliza masa pakai semprotan nyamuk" sahutnya sekenanya.


Marsya mengambil alih dan menggendong Celine dengan gemas.


Marsya: "Baby ndanduut.. ini baby ndandut ini, gembul banget sih pipinya ya ampuuun mbul mbul"


Melliza: "Ngasih sebutannya yang bener dong! namanya kan sudah cantik jangan diubah jadi apa tadi.. mbul mbul? Apaan itu, Ga! aku ga mau Celine dipanggil mbul mbul" omelku tak terima.


Marsya: "Ya elaaah.. mommy kamu ribet banget ya ndut" katanya mengajak bicara Celine.


Marsya: "Oiya Za.. soal nama kamu yakin ngasih nama marganya pak David?"


Melliza: "Mau bagaimana lagi.. dia memang ayahnya, jadi mas David berhak menaruh marganya dibelakang nama Celine"


Marsya: "Za?"


Melliza: "Hm?" sahutku sekenanya.


Marsya: "Aku mau minta maaf sama kamu Za" katanya lirih sedikit murung.


Melliza: "Minta maaf soal apa?"


Marsya: "Soal aku yang selalu melaporkan keadaanmu ke kakekmu, aku hanya ingin balas budi karna beliau dulu membantu biaya kuliahku saat keluargaku bangkrut. Aku tidak tau kalau masalahnya akan serunyam ini dan membuat kamu menjadi menderita seperti ini" katanya dengan menitikan air mata.


Marsya: "Aku bukan teman yang baik Za! aku jahat!" derai air matanya terus berjatuhan.


Melliza: "Hei.. hei.. jangan menangis Sya, liat kamu tidak malu dilihat oleh Celine" kataku berusaha menggodanya.


Setelah tau aku bersembunyi dari mas David, Marsya menemui kakekku yang masih berada dirumah sakit.


Dia bercerita bahwa dia sama sekali tidak tahu soal permasalahan kakek dengan mas David dulu. Yang dia tahu, kakek menyuruhnya agar membuat jarak antara aku dan mas David. Karna Marsya juga tidak ingin aku menjadi seorang istri simpanan terlebih saat mendengar aku hamil anak mas David dia semakin takut pasalnya mbak Vanessha juga sedang mengandung jadilah dia bergerak cepat melaporkannya pada kakek agar Marsya berharap aku cepat dijemput dan dibawa jauh karna menurutnya sebesar apapun kasih sayang seorang suami ke istri keduanya tetaplah dimata dunia aku hanya pengrusak dan Marsya tidak ingin itu terjadi padaku.


Marsya: "Apa kau akan melanjutkan pernikahanmu dengan pak David?" tanyanya yang sudah duduk disofa kamarku.

__ADS_1


Melliza: "Aku tidak yakin.. aku masih takut" kataku membaringkan Celine ditempat tidur.


Marsya: "Apa yang membuatmu tidak yakin? Apa karna mbak Vanessha?"


Marsya: "Meraka sudah bercerai lama Za" perkataannya berhasil membuatku terusik.


Marsya: "Aku tahu itu bahkan kemarin saat bertemu dengannya yang habis melahirkan"


Marsya: "Anak mbak Vanessha bukanlah anak pak David, itu milik pria lain. Dan soal perceraian meraka sudah terjadi saat kamu tiba tiba pergi ke Malang setelah masa magangmu itu"


Jadi?


Selama ini mas David juga merahasian perceraiannya dariku?


Kenapa kau sungguh sulit ditebak mas?


Kenapa kau selalu membuat aku salah paham padamu mas?


Kenapa kamu tidak berusaha menjelaskannya agar aku tidak merasakan sakit saat itu?


Marsya: "Akan lebih baik kau tanyakan saja semuanya baik baik pada pak David. Aku takut salah bicara dan membuat kalian bertentangan lagi"


Marsya: "Aku hanya memberi saran.. sekarang sudah ada Celine diantara kalian, aku tak mau anak ini nantinya menjadi korban broken home karna aku tahu rasanya seperti apa meski kau menjanjikan kebahagiaannya nanti tapi sosok anak perempuan juga ingin mendapatkan pahlawan dalam hidupnya yang akan selalu melindunginya karna bagaimanapun darah itu lebih kental Za, dan hanya pak David mungkin yang nantinya akan memahami Celine saat kamu sendiri tidak tahu apa yang sedang dirasakan oleh putri kecilmu. Ada titik dimana seorang ayah tidak akan bisa digantikan oleh seorang ibu, aku harap kamu mengerti itu Elliza"


Petuah Marsya yang selalu melantun indah bagai nyanyian penghantar tidurku disetiap aku hendak memejamkan mata.


Berbulan bulan mulai terus aku lewati dengan tumbuh kembang Celine yang semakin pesat.


Berat badannya di bulan kelima menuju enam ini sudah mencapai 7,8kg dengan pipi yang kian membuat hidungnya jadi terlihat pesek. Padahal jelas jelas Celine ini seperti mas David memiliki hidung mancung hanya saja sekarang pipinya kian bulat. Dan aku baru sadar ternyata lama kelamaan rambut Celine sama sepertiku sedikit pirang tapi miliknya tidak terlalu banyak masih berdomian warna hitam.


Aku yang sudah mulai kembali beraktifitas ke perusahan sejak Celine berumur empat bulan memaksaku agar sedikit mempercayai baby sitter tapi tetap dalam pengawasan CCTV dan Jihan tentunya.


Melliza: "Yesi.. nanti luangkan waktuku di jam satu siang sampai jam dua, aku ada janji dengan dr. Cory untuk memberikan imunisasi pada Celine siang ini" kataku yang sudah bersiap siap.


Yesi: "Baik non" sahutnya diiringi anggukan kepala.


Aku mulai bersiap siap hendak meninggalkan ruanganku jika Yesi menghadang jalanku.


Melliza: "Aku tidak memiliki janji apapun hari ini jadi suruh dia membuat janji dulu baru bisa bertemu denganku. Katakan aku sibuk" aku berjalan melewati Yesi dan hendak turun kelantai dasar menggunakan lift.


Aku berjalan cepat tapi masih menunjukan keanggunan dalam langkahku menuju pintu lobi.


"Hai sayang"


Aku langsung terhenti dan melihat kearah sofa yang memang dikhususkan untuk menunggu para tamu atau dokter dokter pembimbing dari luar negri.


Melliza: "Apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku dengan ekspresi dingin.


David: "Oh?! Clara belum dapat laporan yah?" mas David mendekat kearah tempatku berdiri.


Tak terjeda lama ponselku berdering mendapat panggilan dari Jihan.


Melliza: "Hallo Ji.. kalau sudah gilirannya masuk saja Ji tidak usah menungguku" kataku pada Jihan disebrang sana.


Jihan: "Gawat neng! Gawat! Ya Allah.. Celine..


Melliza: "Gawat kenapa Ji?! Celine kenapa Ji?!! JI! CELINE KENAPA?!" bentakku merasa takut akan hal buruk yang terjadi pada putri kesayanganku.


Jihan: "Celine neng.. Celine.. Celine diculik neng" Suara Jihan bercampur dengan tangisannya yang menjadi.


Melliza: "Huh?!" Aku syok, rasanya oksigen telah diambil secara paksa dari kehidupanku hingga membuat aku sekarang sulit bernafas.


Aku mulai menitikan air mata yang tak terbendung.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa orang suruhanku yang terus mengawasi Celine bisa lengah hingga terdapat celah sampai bisa menculik Celine?

__ADS_1


David: "Anak buahmu kerjanya sangat lambat sayang" katanya yang tiba tiba angkat bicara.


David: "Celine diculik bukan?"


Melliza: "Mas David tahu?"


David: "Jelas mas tahu" sahutnya dingin.


David: "Karna mas.. yang telah menculiknya darimu Clara"


Melliza: "Huh? Haha haha.. kamu kira aku ini terlalu bodoh ya mas. Kamu pikir aku percaya bahwa kamu akan menculik Celine dariku?" kataku menggeleng kepala.


Melliza: "Kamu itu sangat menyayanginya mas, mana mungkin kamu tega memisahkannya dari ibunya terlebih dia masih membutuhkan ASI. Aku yakin kau hanya menggeretak saja"


Suara rekaman bayi sedang menangis pun melangkah buana didalam ruang loby depan. Tangisan yanh sering aku dengar dikala Celine haus dan meminta susu.


David: "Mas hanya akan menyayanginya jika mas mendapatkan mommy nya, mas tidak terlalu membutuhkannya karna cukup dengan mommy nya mas dapat meng copy Celine berapapun yang mas inginkan"


Melliza: "Dia masih bayi mas! kau apakan dia sampai menangis seperti itu?!!" bentakku mulai emosi.


David: "Mas tidak berbuat jahat padanya. emmm.. hanya tidak memberinya susu mungkin 3 sampai 4 jam"


Melliza: "KAU TIDAK MEMBERINYA SUSU SELAMA ITU MAS DAVIIID?!!" emosi meluap tak perduli lagi dengan pandangan sekitar yang bertanya tanya apa yang sedang terjadi.


Melliza: "Dimana otakmu HUH?!!" aku mendorong bahunya rasanya sangat ingin menghajarnya.


Melliza: "Dimana Celine?!" bentakku terus mendorongnya hingga terjatuh.


David: "Clara ingin tahu keberadaan bayi itu?" mas David bangkit dan berdiri kembali dan mendekat kearahku.


David: "Layani mas semalam maka Clara bisa bertemu lagi dengan putri kecil Clara" bisiknya yang semakin membuatku murka.


Melliza: "Aku tidak akan masuk kedalam jebakanmu lagi" sahutku menjauh darinya.


David: "Baiklah.. terserah Clara saja, intinya mas sudah mengajukan tuntutan. Selanjutnya keputusan berada ditangan Clara sendiri"


Melliza: "Kenapa kamu sejahat itu mas DAVID?!"


David: "Semua karna cinta sayang.. mencintaimu yang membuat mas berbuat seperti ini"


Melliza: "Kamu tidak mengandungnya, tidak juga merasakan sulitnya tidur saat perut semakin membuncit. Dan kau tak merasakan sakit yang tak terhingga saat melahirkannya, tapi kenapa kau menyiksaku seperti ini mas?! KENAPA?!"


David: "Jangan lupa sayang.. aku ambil alih dalam proses kelancarannya menuju dunia ini"


Melliza: "Apa maksudmu?!"


David: "Apa kamu melupaknya Claraku tercinta?" katanya dengan mengelus pipiku.


David: "Karna keras kepalamu yang tetap ingin melahirkan secara normal membuat mbak Nada meminta bantuanku untuk mengaulimu, kau tahu? mencumbumu sayang"


Jadi?


David: "Mbak Nada terpaksa memberikan semacam obat yang dapat membuatmu diambang khayalan dan kenyataan tapi obat itu aman dan tidak berpengaruh pada kanduanganmu kala itu"


David: "Dan sangat tidak diduga, Clara meresponnya dengan sikap welcome bahkan merasa kurang"


Melliza: "Jadi..


David: "Lansung pada intinya saja sayang, jangan bertele tele karna mas sudah risih dilihat oleh orang banyak"


David: "Mas tunggu keputusan Clara, semakin lama Clara mengambil keputusan maka semakin lama pula Celine akan bertemu mommy nya dan harus mulai berpuasa tidak meminum ASI lagi"


Mas David melenggang pergi dengan perasaan yang tak bersalah setelah membuat aku khawatir akan kondisi Celine sekarang.


Dia memberikanku nomor ponselnya alih alih nanti aku berubah pikiran dan akan menerima tawarannya.


Jika aku melapor pada polisi sepertinya percuma pasti mas David memiliki beberapa jaringan dan hubungan dengan polisi dikota ini karna apa?

__ADS_1


Karna kakak iparnya yaitu suami mbak Nada adalah seorang Letnan kolonel pastilah dia akan membantu mas David sekuat tenaga agar mencapai keinginannya yaitu mendapatkanku kembali.


Jika aku mengiyakan keinginannya kenapa masih berat rasanya yah. Meski mas David dan mbak Vanessha sudah bercerai bahkan sebelum adanya Celine dirahimku tetap saja rasanya enggan jika harus memuaskan nafsunya kembali.


__ADS_2