
Aku terus menulis hingga tidak sadar sudah jam 5 sore, dan aku baru mendapat setengah masih sisa setengah lagi.
"Ayo Melliza kamu bisa!"
kataku menyemangati diriku sendiri walaupun sebenarnya tangan kananku sudah tidak keras apa apa lagi.
Selalu terbayang wajah istri pak David yang pernah lintas sekali dihadapan ku waktu itu. Aku tidak akan tega merebut suaminya, bagaimana jika posisi dia itu adalah aki dan suamiku hendak direbut oleh wanita lain jelas aku tidak akan terima.
"Loh dr. Melliza, anda masih disini? Belum pulang?" tanya seseorang yang sangat aku hindari.
Melliza: "Oh pak Arman? Iya saya harus menyelesaikan hukuman saya hari ini juga" kataku dan berusaha menulis kembali.
Arman: "Begitu ya? Baiklah biar saya temani dr. Melliza disini, dari pada dr. Melliza sendirian akan lebih baik jika ada yang menemani" jelasnya hendak duduk di hadapanku.
Mendengar perkataannya reflek aku membereskan semuanya. Dari pada harus seruangan dengannya lebih baik aku sendiri.
Melliza: "Tidak perlu pak Arman, ini saya sudah selesai dan akan langsung pulang" kataku yang sudah berdiri dengan menggendong tas ku.
Arman: "Begitu ya? Ya sudah bagaimana jika kita jalan berbarengan saja sekalian kearah parkiran" katanya yang ikut ikutan berdiri.
Melliza: "Oh iya baiklah" kataku yang jelas menggunakan ekspresi canggung.
Dasar dokter genit, sialan gara gara dia aku harus menulis didalam mobil yang berada dipinggir jalan karna tadi aku harus mengelabuhinya terlebih dulu dengan berpura pura akan pulang batinku yang terus terusan ngedumel didalam hati.
"Pantas saja dari tadi aku menguap terus ternyata sudah jam 10 malam" kataku saat melihat kearah ponselku.
Ku renggangkan semua otot otot badanku yang sedari tadi hanya duduk terutama tangan kananku yang sudah tidak berbentuk tangan manis lagi karna sedikit bengkak. Mungkin ini efek karna aku terlalu memaksakan tanganku untuk menulis akhir akhir ini.
"Akhirnya selesai juga, waktunya laporan pada masunja kejam yang memberikanku hukuman macam ini"
"Tapi tunggu, jika aku datang kerumanya sekarang apa tidak mengganggunya? Ini sudah terlalu larut untuk bertamu" aku terus berfikir.
Ah sudahlah dari pada aku menundanya nanti malam aku lagi yang terus terusan diganggu oleh pak David batinku.
Aku putuskan untuk tetap datang kerumahnya pak David. Hawa disekitar rumah pak David lumayan dingin apalagi aku sekarang hanya menggunakan rok pensil sebatas paha dengan belahan disamping paha kananku berwarna abu abu dipadukan dengan t-shirt tipis polos berlengan panjang berwarna navy yang dengan sempurnanya memampangkan setiap lekuk tubuhku.
Jika aku mengetuk pintunya takut menganggu ketentraman tetangga yang lain mungkin lebih baik aku memberi tahukan kedatanganku dengan mengirim pesan pada pak David saja batinku dan berusaha mengeluarkan ponselku dalam tas.
Saat aku sedang mengetikan pesan untuk pak David bahwa sekarang aku sedang berada didepan rumahnya, tapi niatanku diurungkan karna tiba tiba saja pintu didepanku terbuka dan menampakkan seorang wanita dewasa yang cantik dengan penampilan yang begitu fulgar.
"Oh astaga! Kau mengejutkanku" katanya dengan mengelus elus dadanya karna terkejut dengan keberadaanku.
"Maaf bila aku mengejutkanmu" kataku sedikit tidak enak hati karna telah membuatnya terkejut.
"Cari siapa yah malam malam begini?" tanyanya.
Baru saja aku akan menjawab dia sudah angkat bicara lagi.
"Ooh cari pak David yah?" katanya dengan tebakannya yang sangat benar.
__ADS_1
"Iya" kataku dengan menganggukan kepala.
Pak David? kok istrinya sendiri memanggil pak David dengan sebutan pak juga?
"Mari masuk, silahkan duduk" katanya mempersilahkan aku duduk disalah satu sofa diruangan itu.
"Iya terima kasih mbak...
"Vanessha, namaku Vanessha" katanya memperkenalkan dirinya.
Melliza: "Oh iya namaku Melliza mbak Vanessha" kataku mengulurkan tangan dan disambut hangat olehnya.
Vanessha: "Tunggu sebentar ya biar aku panggil pak David dulu, siapa tahu dia belum tidur" katanya dan beranjak pergi kedalam.
Loh kok siapa tau?
Dia istrinya kan?
Aku semakin terkejut saat melihat mbak Vanessha mengetuk pintu yang aku masih yakini itu kamar pak David.
Setelah memberi tahu kedatanganku pada pak David, mbak Vanessha kemudian bersiap siap seperti akan pergi.
Melliza: "Loh mbak Vanessha mau kemana malam malam begini?" tanyaku karan merasa heran.
Vanessha: "Mau ketemu sama pacar" dia mengedipkan matanya sebelah mencoba menggodaku.
Pacar?
Vanessha: "Mau ikut? disana banyak cogan loooh pasti mereka suka kalau kamu ikut gabung apalagi kamu cewenya modis banget"
Melliza: "Ah tidak terima kasih" tolakku dan mbak Vanessha pun berlalu pergi keluar.
Ketemuan sama pacar?
Lah memangnya pak David tidak tahu?
Pertanyaan itu selalu berputar putar di kepalaku membuat aku menjadi semakin pusing.
Aku memijit mijit kepalaku yang terasa pening karnanya terlebih karna akhir akhir ini aku kurang nyenyak beristirahat.
"Apa kamu sebegitunya tidak ingin menjadi kekasih ku sampai melakukan semua ini Clara?"
Tanpa aku sadari ternyata pak David sudah duduk di sofa yang lain sedang memandangi 3 buku tebal besar yang biasa digunakan anak akuntan untuk menulis dokumen keuangan.
Melliza: "Saya hanya berusaha melaksanakan hukuman yang anda berikan pak David"
David: "Jika hanya untuk melaksanakan hukuman kenapa tidak memilih menjadi kekasih ku saja Clara? Kenapa kamu harus repot repot mencopy ulang semua ini" katanya menunjuk buku yang berada diatas meja.
David: "Kenapa kau begitu keras kepala Clara?" aku hanya diam dan mendengarkan semua perkataannya karna jika aku pun menjawab itu tidak ada gunanya.
__ADS_1
David: "Kamu bahkan selalu melewatkan makan siangmu, istirahatmu hanya untuk menyelesaikan hukuman yang bahkan menyiksamu" ternyata dia selalu mengawasiku tanpa sepengetahuanku.
David: "Apa menjadi kekasih ku adalah hal yang buruk Clara?!" pak David mulai membentakku, tapi aku tetap diam tidak menjawab.
David: "FINE!!! Jika itu mau mu, kamu menang dr. Melliza anda boleh keluar sekarang juga dari rumah saya dan pergi yang jauh dari hidup saya. Hukuman ini sudah selesai selanjutnya teruslah berusaha untuk menjauhi saya, usahakan agar anda tidak menampakkan diri lagi dihadapan saya"
Mendengar perkataannya membuat dadaku entah mengapa terasa sesak sekali begitu menyakitkan seakan tidak terima dengan apa yang baru saja pak David katakan.
Namun apa daya bukankah ini yang kamu inginkan Melliza? pergi menjauh dari kehidupannya dan tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangga pak David.
Aku pun akhirnya berdiri dan berjalan keluar kearah pintu hendak memasuki mobilku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bangun sayang ini sudah pagi"
Ku buka perlahan kedua mataku yang terasa berat, kulihat sebuah senyuman saat pertama kali membuka mataku.
"Good morning dear, let's wake up" katanya mengelus pipiku lembut dan mengecup keningku.
Aku tersenyum padanya lalu mengecup bibirnya sekilas dan lebih mengeratkan pelukanku padanya.
Melliza: "Sebentar lagi yah, aku masih mengantuk pak David"
•
•
•
__ADS_1
Apa yang terjadi?
terus pantengin ya gaes😉