
Hubunganku dengan mas David semakin hari semakin membaik, tak jarang mas David menemuiku ke ruanganku bahkan kadang secara terang terangan datang ke ruang praktek ku hanya untuk mengantarkan makanan.
Dan entah mengapa aku sama sekali tidak keberatan malah rasanya aku sangat tersentuh dan seperti dimanjakan. Mungkin ini salah satu faktor dari hormon kehamilan yang ingin mendapat perhatian secara langsung dari seorang suami.
Melliza: "Jadi bagaimana kondisi kehamilanku dok?" tanyaku setelah menutup kembali perutku yang telah diperiksa.
Dokter: "Janinnya baru akan menginjak minggu ke sembilan, perkembangannya signifikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya normal dan janinnya sangat sehat"
Aku memang dokter kandungan, tapi dalam kondisi seperti ini jelas aku membutuhkan dokter lain untuk memeriksa janin yang berada dalam rahimku.
Aku juga mencari Rumah Sakit biasa biasa saja untuk pengecekan kondisinya, aku tak mau orang orang yang mengenalku tahu termasuk ayah dari anak yang aku kandung.
Dokter: "Saya akan memberikan vitamin untuk anda"
Melliza: "Terimakasih dok"
Sekembalinya aku ke Rumah Sakit dari jam istirahatku yang aku manfaatkan untuk memeriksa kandunganku, ternyata aku sudah ditunggu oleh dua orang wanita.
Yaitu Marsya teman dekatku dan yang satunya istri pertama mas David yaitu mbak Vanessha.
Vanessha: "Akhirnya yang ditunggu muncul juga" katanya setelah mendapati aku yang memasuki ruangan.
Melliza: "Ada apa ya mbak Vanessha? dan Marsya kenapa kalian ada disini?" tanyaku heran pasalnya hari ini bukan lah jadwal chek up kandungannya.
Vanessha: "Tidak usah pura pura bodoh dan sok lugu deh lo Melliza!"
Vanessha: "Gue udah memperingatin lo dengan kandungan gue ini tapi kenapa lo malah berusaha deketin mas David?! HAH!!!" bentaknya padaku yang masih berada didepan pintu.
Vanessha: "Lo cantik tapi kenapa lo murahan gini MELLIZA!!! dimana letak sisi kewanitaan lo sebenarnya?!"
PLAAK
perih, panas, sakit
Marsya: "Tolong jangan main tangan!" Marsya memegangi bahuku setelah aku mendapatkan tamparan keras pada pipiku.
Vanessha: "Gue mungkin dulunya jalang, tapi gue ga hina kaya lo dengan merebut suami orang terutama istrinya sedang mengandung anaknya"
Vanessha: "Lo HINA, MURAHAN, MENJIJIKAN!!! kecantikan lo itu rasanya ingin gue cakar cakar supaya tidak meniduri suami orang. Dasar PELAKOR!" mbak Vanessha hendak meraih untuk mendapat bullyan lagi darinya tapi dengan cepat Marsya menghalaunya dan menjadi pemisah yang berada ditengah antara aku dan mbak Vanessha.
Marsya: "Lebih baik anda pulang, sebelum saya panggilan satpam untuk mengusir anda dari Rumah Sakit tempat suami anda bekerja" ucap Marsya mengusirnya.
Vanessha: "Jika gue masih mendengar lo deketin suami gue apalagi berhubungan intim, jangan salahkan gue kalo gue menghancurkan reputasimu sebagai dokter cantik yang memiliki pujaan pria diberbagai sisi" ancamnya.
Vanessha: "MINGGIR! Dasar PELAKOR!"
Mbak Vanessha pun pergi diiringi dengan isak tangisku dalam pelukan Marsya.
Marsya: "Kenapa jadi begini Za? kamu masih berhubungan dengan dr. David?"
Marsya: "Aku sudah sering memperingatkan kamu agar jangan bermain api Elliza, tapi kenapa kamu tidak mendengarnya? sekarang kamu sendiri yang rugi kan?" Marsya mengusap kepalaku.
Marsya: "Sudah cukup Elliza, tinggalkan dr. David dan cari pria lain yang lebih darinya dan belum beristri"
Melliza: "Aku tidak bisa" kataku lirih masih menangis.
Marsya langsung melepaskan pelukannya dan memandangiku tak suka.
Marsya: "Kau masih ingin menjadi wanita simpanannya? menjadi penghangat ranjangnya?"
Melliza: "Aku tidak bisa Sya.. Aku tidak bisa" aku menunduk dihadapannya tak kuasa menahan tangisku yang semakin lama semakin menjadi.
Marsya: "KENAPA TIDAK BISA?!!" bentaknya mengguncangkan kedua bahuku.
Melliza: "Aku hamil Sya.. Aku hamil anaknya mas David"
Marsya: "Astaga ELLIZAAAA" Marsya mengusap wajahnya kasar, dia kemudian berjalan kesana kemari dihadapanku.
Setelah Marsya pergi yang tak mengatakan apapun, aku hanya berdiam diri dikamar mandi dalam ruanganku.
Meratapi kenyataan yang begitu menyakitkan.
Melliza: "Aku sudah bilang tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu.. tidak bisakah kau mati saja? bisakah kau mati tanpa aku yang harus menggugurkanmu? bisakah kau tiba tiba lenyap dari rahimku?"
Berpuluh puluh pesan dan panggilan dari mas David sama sekali tidak aku tanggapi.
Aku ingin sendiri, dalam keterpurukan ini aku hanya ingin sendiri.
Tangisku tak ada hentinya bahkan sampai aku berada diapartemen pun aku terus menitikan air mata tanpa suara.
Melliza: "Semua karna Cinta"
Melliza: "Andai aku tidak mencintainya, andai aku tak memiliki perasaan terhadapnya tak mungkin semua ini akan terjadi padaku"
Melliza: "Mengapa cinta harus buta? buta terhadap kenyataan yang sudah ada, buta akan segala hal. Mengapa Cinta begitu egois dan ingin memiliki? mengapa harus ada Cinta jika hanya akan membuat luka?"
Melliza: "Aku ingin mencintai dan juga ingin dicintai.. Aku ingin hidup bahagia dalam hubungan yang saling mencintai, aku ingin hidup damai.. sedamai damainya"
TOK. TOK. TOK.
Mata yang sembab dan penampilan yang berantakan tak membuat langkahku terhenti untuk membuka pintu apartemenku yang telah diketuk.
"CLARA?! Kamu kenapa sayang?" mas David langsung memeluk tubuhku dan memperhatikan wajahku dengan sangat khawatir.
David: "Apa yang terjadi? siapa yang membuatmu seperti ini?"
Melliza: "Kamu" kataku lirih dengan pandangan kosong.
David: "Apa maksudmu sayang?" mas David menangkup kedua pipiku.
Melliza: "Semua ini gara gara kamu.. kamu penyebab semua penderitaan yang aku alami, kamu penyebabnya! KAMU!!" Aku melangkah mundur menjauhinya.
David: "Sayang kamu..
Melliza: "PERGI!" bentakku mengusirnya.
David: "Clara kenapa? Jangan begini sayang, kita bicarakan apa masalahnya supaya mas tahu harus berbuat apa"
Melliza: "Pulang mas.. Aku mohon jangan membuat aku semakin menderita, biarkan aku sendiri"
David: "Mas akan tetap disini, menjagamu dan melindungimu"
Melliza: "Pulang lah mas... mbak Vanessha lebih membutuhkanmu, dia lebih berhak mendapatkan kasih sayangmu. Lupakan aku, tidak ada kisah lagi diantara kita. Jika kau memang mencintaiku, biarkan aku sendiri dan menjalani hidupku seperti dulu"
Malam berlalu dan pagi pun datang yang menghantarkan sinarnya sang mentari.
Jika bukan karena sebuah tanggung jawab ku dalam profesi ku menjadi seorang dokter kandungan, menjadi seorang yang ikut membantu dalam tanggung jawab besar mungkin aku tidak akan memilih untuk datang lagi ke Rumah Sakit.
Tapi kedatanganku ke Rumah Sakit kali ini sungguh berbeda dari hari hari sebelumnya selama aku aku berada di Rumah Sakit ini.
Orang yang sangat aku kenali sudah menungguku di dalam ruangan ku. Dia duduk menghadap ke arahku yang berada di ambang pintu dengan senyumnya yang sedari dulu tak pernah hilang sedikitpun. Dia selalu memberiku semangat, memberiku kebahagiaan, senyuman, kegembiraan serta kenyamanan saat aku berada di sampingnya.
"Apa kau tak memiliki niatan untuk memelukku Mel?"
Melliza: "Kak Haris? kau kah itu?" tanyaku masih tak percaya.
__ADS_1
Haris: "Ya ini aku yang dulu sering kau ajak kawin lari" sindirnya yang membuat ulasan senyum dibibirku.
Aku langsung datang padanya dan memeluknya. Betapa rindukan aku padanya, terakhir kami bertemu saat dia meminta izin untuk mengembangkan bisnisnya sekaligus melanjutkan studinya di Swiss.
Haris: "Sepertinya istri kecilku telah melupakan suaminya"
Aku langsung tertawa dalam pelukannya.
Sejak kecil kita berteman tapi mungkin itu tanggapan kak Haris, dulu aku selalu mengidam idamkan menjadi istrinya. Dia yang baik, tampan dan selalu membuatku bahagia menjadi kriteriaku sewaktu masih duduk di taman kanak kanak.
Aku dulu sering mengajaknya bermain nikah ala bocah TK dan dia pun selalu mengiyakannya. Pernah suatu hari saat kita masih kecil dia berkata..
Haris kecil: "Memangnya Mel Mel mau nikah sama kak Haris?"
Melliza kecil: "Mau dong.. kak Halis ganteng ntal pasti anaknya Mellica ganteng ganteng"
Haris kecil: "Terus kalau nanti tidak boleh sama kakek Surya bagaimana?"
Melliza: "Pasti boleh kok, kalau tidak boleh kita kawin lali aja"
Haris: "Kawin lari?"
Melliza: "Iya kawinnya sambil lali lali kan dikejal kakek jadi kawin lali kak"
Betapa menggemaskannya jika aku selalu mengingatkan perkataanku dulu yang masih sangat polos.
Dulu sewaktu kakek masih tinggal di Semarang rumah kakek dengan rumah kak Haris bersebelahan, maka jadilah kami sering bermain bersama meski umur kak Haris terpaut 6th dariku tapi dia tak malu atau risih saat aku bergelayut manja padanya dulu.
Haris: "Bagaimana kabar Melliza?" tanyanya setelah kita sama sama duduk dan saling berhadapan didalam ruanganku.
Melliza: "Aku baik kok kak, kak Haris sendiri bagaimana?"
Haris: "Baik kok matanya sembab kaya digigit tawon"
Aku langsung mengalihkan pandanganku tak mau menatapnya.
Haris: "Kakak baik seperti yang Melliza lihat"
Melliza: "Kapan kak Haris balik dari Swiss? dengar dengar dari berita katanya kak Haris jadi pengusaha muda di Swiss pertama yang datang dari benua Asia yah?"
Haris: "Secepat itu kah beritanya sampai telinga Melliza? padahal mau menjadi kejutan eh malah sudah ketahuan duluan"
Kak Haris ini bukan tipe pria yang sombong atau suka memamerkan miliknya.
Padahal diluar sana banyak pria yang bahkan berlomba lomba memamerkan kekayaannya bahkan lebih parahnya kekayaan kedua orang tuanya hanya demi mendapatkan wanita pujaannya.
Tapi kak Haris ini beda, dia sederhana dan apa adanya. Tak dilebih lebihkan malah sering dikurang kurangkan.
Karna tampangnya yang sudah menunjukan aura kewibawaanya membuat dia menjadi incaran para kaum wanita. Tapi tanggapan yang ia berikan malah mengaku sebagai buruh pabrik dan tampang yang dia miliki hanya karna blasteran antara Menado dan Jawa yang membuat gestur wajahnya begitu mempesona.
Melliza: "Kakak datang kesini sengaja ingin menemuiku?"
Haris: "Kalau bukan menemuimu lalu siapa lagi? memangnya kak Haris memiliki kenalan lagi di Rumah Sakit ini selain kamu" aku tertawa memang benar kak Haris ini hampir tak memiliki banyak teman terlebih seorang wanita, dia sangat anti pati jika menyangkut soal wanita.
Haris: "Ayo kita pulang Mel"
Melliza: "Pulang? pulang kemana?" tanyaku heran.
Haris: "Malang"
Melliza: "Aku tidak bisa kak.. disini tanggung jawabku sebagai dokter banyak"
Haris: "Apa jika ini menyangkut kakek Surya kamu masih mementingkan tugas doktermu?"
Melliza: "Apa yang terjadi dengan kakek?" tanyaku langsung khawatir.
Jantung kakek kumat?
Apa kakek sudah tau tentang kehamilanku?
Haris: "Kita harus pulang, kakek mencarimu dan ingin bertemu denganmu"
Melliza: "Bisakah beri aku waktu sebentar sebelum pulang?"
Melliza: "Hanya sebentar"
Kak Haris pun setuju akan permintaanku untuk menungguku sebelum nantinya aku akan kembali ke Malang.
Ku ambil ponselku dan ku cari kontak bernama mamas.
David: "Hallo sayang?" sapanya setelah mengangkat telponku.
Melliza: "Aku butuh mas David sekarang" kataku yang sedang mencari sebuah gaun tidur didalam lemari apartemenku.
David: "Kenapa? Clara sakit?" nadanya penuh kekhawatiran.
Melliza: "Aku butuh mas David sekarang, aku mohon" pintaku padanya.
David: "Clara dimana?"
Melliza: "Aku diapartemen"
David: "Di.. diapartemen? baiklah mas akan kesana sekarang"
Aku tahu sekarang ini seharusnya dia disibukan dengan tugas tugasnya terlebih mas David ini ketua definisi dokter bedah di Rumah Sakit jelas dia pasti sibuk.
Tapi keinginanku sudah bulat.
Jika kondisi kakek karna tau akan kehamilanku, sudah dipastikan kakek tidak akan mengizinkanku kembali lagi apalagi bersanding dengan mas David.
Jadi untuk yang terakhir kalinya biar aku yang berinisiatif melakukannya.
Tak selang lama mas David pun datang dengan nafas yang saling bekejaran.
David: "Clara?! sayangnya mas kenapa? ada yang sakit? adanya nyeri atau bagaimana?" tanya mas David langsung saat baru menemuiku.
Melliza: "Mommy tidak kenapa kenapa kok dad" kataku langsung memeluknya.
Mas David diam bahkan tak membalas pelukanku.
Melliza: "Daddy?" bisikku pada telinganya sambil menjinjit.
Melliza: "Mommy pengiiin" pintaku sambil memainkan retsletingnya.
David: "Clara kenapa?" tanyanya tapi tak juga menunjukan perubahan sikap, dia tetap diam saat aku memeluknya.
Melliza: "Mommy pengin dicelup celup dad" aku mulai mengecupi lehernya.
Jakunnya mulai naik turun akan aksiku.
Aku menarik tengkuknya dan melumat bibirnya bergantian, tanganku mengelus seluruh permukaan dadanya yang masih menggunakan kemeja hitam polos dan perlahan membuka kancingnya satu persatu.
Melliza: "Daddy?"
David: "Mommy yakin?" tanyanya dengan pandangan ragu.
__ADS_1
CUP
Aku mengecup bibirnya lalu menganggukan kepala.
Mas David menggendongku menuju kamar dengan bertelanjang dada. Aku terus menciuminya sampai akhirnya mas David meletakkanku diatas ranjang penuh dengan hati hati.
Mas David nampak ragu saat melihatku yang berbaring dengan sepasang mata yang sudah berkabut.
Aku duduk dari tidurku lalu meraih pinggangnya. Ku buka pengait celananya dan menurunkan retsleting. Ku turunkan celana itu hingga tertinggal dilantai, ku buka pula CD yang masih melekat pada tubuh bagian bawahnya.
Aku mendongak kearahnya saat adek kecil mas David sudah tegak berdiri.
Melliza: "Mommy ingin memakannya, apa boleh?" tanyaku padanya.
David: "Hanya untuk mommy" sahutnya sambil mengelus kepalaku.
Aku mulai merabanya, mengelusnya hingga memasukannya kedalam mulutku.
Akan aku manjakan kamu untuk yang terakhir kalinya batinku pada adek kecil yang telah berhasil menabur benih didalam rahimku.
David: "Emmmhhhh... sshhhh.. huuuuhhh"
Mas David terus melenguh dengan mengelus kepalaku.
Cukup lama aku memainkan miliknya sampai benar benar tegang. Ku lilitkan lidahku pada ujung kepalanya yang sedikit mengeluarkan lendirnya.
Aku menarik tangannya agar duduk bersandar pada kepala ranjang.
Ku lepas gaun tidur berwarna hitam polos yang super sexy pemberiannya dihadapannya yang telah telanjang lalu merangkak menaiki tubuhnya dan duduk diatas miliknya yang sudah tegang.
Mas David terus memperhatikanku, mungkin dia merasa aneh dengan sikapku yang tak pernah seperti ini sebelumnya.
Kuangkat pantatku dan dituntun miliknya menuju lubang labia kesukaannya.
Mataku terpejam, mulutku terbuka dan dadaku membusung kearah wajahnya saat aku mulai memasukannya perlahan.
"Aaaahhhhh"
Ini daddymu sayang batinku pada janin didalam rahimku.
Melliza: "Dad?" panggilku padanya yang sedang melihat kearah bawah.
Mas David langsung melihat kearahku dalam pandangan yang masih tak bisa ku baca.
Melliza: "Apa mommy sexy?" tanyaku tanpa rasa malu dan mulai menggerakkan pinggulku.
Mas David malah menyipitkan matanya dan mengerutkan keningnya saat mendengarkan perkataanku yang sangat vulgar itu.
Melliza: "Aahhh dad.. mommy cinta daddy ahhh. ahh"
Aku yang sudah merem melek tapi tidak dengan mas David yang malah menatapku curiga.
Melliza: "Daddy kenapa? tidak nafsu lagi ya sama mommy" kataku dengan berhenti menggerakkan pinggulku naik turun.
David: "Clara kenapa?"
Melliza: "Ya sudah kalau tidak mau" kataku hendak bangkit tapi langsung digulingkan tubuhku olehnya hingga dia berada diatasku.
David: "Mommy kenapa?" tanyanya lembut dengan memasukan miliknya.
Melliza: "Aahhh.. mommy cuma pengin daddy" kataku memeluknya agar lebih dekat.
CUP
Melliza: "Mommy cinta daddy"
Mas David hanya menatapku sambil terus memaju mundurkan miliknya dengan ritme lambat.
Cukup lama dalam posisi mas David diatasku yang membuat aku tumpah beberapa kali, tapi tidak dengannya yang masih kuat.
David: "Cukup ya?"
Melliza: "Tapi daddy kan...
CUP
David: "Tidak apa" mas David melepaskan miliknya yang masih tegang setelah mencium bibirku.
Melliza: "Ini dad" aku menyodorkan segelas air padanya.
Mas David memperhatikan gelas itu dalam lalu menatapku.
Melliza: "Minum daddy sayang.. pasti daddy cape" kataku dengan memberikannya.
David: "Kenapa mas merasa ada sesuatu didalam minuman ini?"
Sudah ku duga mas David ini akan curiga.
Melliza: "Daddy mencurigaiku? aku tak mungkin meracuni orang yang aku cintai" kataku penuh keyakinan.
Melliza: "Ragu yah? kalau begitu biar mommy yang minum" kataku hendak mengambilnya tapi ditahan oleh tanganya.
David: "Mas akan meminumnya"
Mas David benar benar meminumnya setengah gelas membuat aku bernafas lega melihatnya.
Maaf mas tapi aku harus membuatmu tertidur paling tidak sampai besok batinku memperhatikanya.
Melliza: "Sini boboan.. mommy kelonin" ajakku padanya agar mau berbaring disebelahku.
David: "Daddy tidak mengantuk, mommy saja"
Melliza: "Paling tidak kelonin mommy dad"
Mas David pun menurut dan berbaring sambil memeluk perutku. Ku hisap lembut kepalanya yang agar cepat tertidur.
David: "Apa yang mommy rencanakan sebenarnya?" tanyanya tiba tiba masih memeluk perutku.
David: "Jangan pisahkan kami mom.. dia darah daging daddy"
Tenyata benar dugaanku, mas David telah mengetahuinya.
Sayang.. apa kau dengar itu daddy mu mengharapkanmu batinku.
Lama tak terdengar suaranya mas David mulai bernafas teratur setalah tadi kudengar isak tangisnya untuk pertama kalinya.
Melliza: "Maaf mas, tapi ini untuk kebaikan kita, kebaikan janin yang aku kandung dan juga janin yang mbak Vanessha kandung"
Melliza: "Aku tahu tak seharusnya aku memisahkan kalian tapi aku berhak memilih hidupku yang lebih bahagia bersama calon anak kita jika memang harus dengan cara menjauh dari hidupmu"
Melliza: "Aku sungguh mencintaimu mas, bahkan sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu"
Melliza: "Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu yang baru tanpa adanya aku dan janin yang ku kandung"
Melliza: "Mbak Vanessha dan calon anaknya lebih pantas mendapatkanmu dan kasih sayangmu, mereka membutuhkanmu mas"
__ADS_1
Melliza: "Biarkan aku pergi dan mencari duniaku dengan calon anakku, aku janji aku akan menjaganya dan tidak akan membiarkannya sedih meski tidak ada sosok ayah disampingnya"
Aku pergi mas dan terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan padaku termasuk janin ini. Aku mencintaimu.