
Tes. Tes. Tes.
David: "Clara! kamu..
Melliza: "Hiks.. hiks.. aku ga mau.. hiks ga" melihat aku yang tiba tiba menangis sesegukan dibawah kungkungan mas David, berhasil membuat mas David menghentikan kegiatannya.
Dengan cepat dia bangkit dari atas tubuhku dan duduk memelukku berusaha menenangkanku.
Melliza: "Aku ga hiks.. hiks.. ga mau mas, aku ga mau" tangisku semakin pecah dalam pelukannya.
David: "Iya iya mas tidak akan melakukannya, kamu tenang yah jangan menangis lagi" mas David terus berusaha menenangkanku padahal dengan jelas dapat aku lihat adek kecilnya masih menegang tinggi menjulang.
Mas David melepaskan pelukannya dan memakaikan kembali pakaianku walau tanpa dalaman. Dia membaringkan tubuhku dan menyuruhku agar tidur, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi dengan masih telanjang.
Pasti mas David ingin menuntaskannya sendiri, maaf mas tapi mahkotaku bukan untuk sembarang pria. Ini kurawat dan ku jaga baik baik hanya untuk suamiku batinku mulai memejamkan mata saat mendengarkan gemericik air shower.
Saat kesadaranku mulai sedikit lenyap terbawa arus mimpi, kurasakan pelukan hangat yang menyelimuti tubuhku.
David: "Mas tidak akan melakukannya lagi, kecuali saat nanti kamu mengizinkannya Clara. Mas tidak ingin melihatmu menangis apalagi terluka karna mas" bisiknya di telinga kananku.
David: "Mas mencintaimu, sangat mencintaimu Clara jadi jangan pernah berusaha meninggalkan mas" setelah kalimat terakhir itu sebuah kecupan manis berhasil mengantarkan kesadaranku sepenuhnya kealam mimpi.
Mentari mulai menampakkan diri berusaha menyadarkan semua manusia yang berada dimuka bumi ini untuk mulai beraktifitas kembali.
Dan aku yang pastinya masih berada dirumah mas David kali ini tengah berjalan sempoyongan mencari segelas air dan beberapa makanan.
Kebiasaan burukku adalah sehabis bangun tidur bukannya mandi atau membereskan tempat tidur tapi aku seorang Melliza Clara Utomo langsung berjalan ke dapur untuk mencari makanan.
Meski aku napak kecil atau bahkan sering dikatai kurus bagai tulang berjalan kata Marsya and the bear tapi aku ini sangat doyan makan. Bukan makan sekali dalam porsi besar tapi aku tipikal cewe makan sedikit tapi berkali kali.
Ku tuangkan air kedalam gelas yang sedang aku genggam, aku ini paling anti air dingin atau semacam minuman apapun yang keluar dari kulkas atau pendingin lainnya. Termasuk bila aku membuat jus atau membeli pun aku selalu meminta tanpa diberi es. Karna landasan pokok hidupku ialah hidup sehat agar bisa hidup sehat sampai menua melihat anak cucu kelak.
Saat aku berusaha membuka kulkas, betapa terkejutnya aku dengan pemandangan yang berada di dalamnya.
Melliza: "MAS! mas David" pekikku memanggil mas David yang sedang berada didalam kamar.
Tak kunjung mendapatkan respon, aku mulai melenggangkan langkahku menuju kamar yang semalam aku gunakan untuk tidur dengan mas David.
Ku buka pintu itu dan mendapati mas David tengah memberesi tempat tidur yang semalam kita gunakan. Melihatnya sungguh membuat relung hatiku tersentuh seketika dan melupakan kejadian semalam.
Mas David itu perfect banget tapi kenapa harus dikotori dengan sifat mesumnya batinku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Melliza: "Mas!" panggilku ketika aku mulai tersadar dari lamunan ku tentang sifat mesumnya mas David.
David: "Iyaa" jawabnya lembut masih melipat selimut tanpa melihat kearahku.
Melliza: "MAS! lihat aku dong" kataku sedikit cemberut.
Mas David tersenyum padaku dan mulai berjalan mendekat kearahku.
David: "Ini mas sudah lihat kamu sekarang, kenapa?" dia merapikan rambutku yang sedikit atau mungkin banyak terlihat acak acakan.
Melliza: "Aku panggilin loh tadi, sampai teriak teriak mas David tidak dengar?" dari pertanyaanku mas David hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Melliza: "Ya ampuuun.. Jangan jangan mas udah mulai bolot lagi, buru buru diperiksa deh mas. Aku tidak mau punya cowo bolot yah" ancamku padanya.
Dari ancaman yang telah aku sampaikan mas David malah ketawa terbahak bahak membuat aku heran sendiri melihatnya.
Jangan jangan selain bolot mas David juga sudah mulai rada rada batinku dan mulai menyingkirkan semua hal hal buruk yang baru saja aku pikirkan.
David: "Clara sayang.. mana ada mas bolot, telinga mas berfungsi dengan sempurna kok" terangnya dan mencolek hidung mancungku meski tidak semancung mas David.
David: "Mas lupa bilang sama kamu bahwa kamar ini kedap suara, jadi kalau kamu berada didalam mau berteriak, menangis, merintih atau mendesah memanggil manggil nama mas sekencang apapun tidak akan terdengar dari luar" jelasnya.
Melliza: "Benarkah?" tanyaku polos.
__ADS_1
David: "Mau mencobanya?" mas David menarik tubuhku kedalam pelukannya.
Melliza: "Tidak terima kasih atas tawarnya kekasih ku yang sangat mesum" jawabku melepaskan diri darinya.
Aku mulai sadar tujuan awalku ingin memanggilnya, hampir saja terlupa.
Melliza: "Mas David itu pisang di kulkas banyak amat mau dibuat apa?" tanyaku mendekatinya kembali.
David: "Tidak dibuat apa apa, itu khusus untuk Claraku tercinta" jawabnya sambil memelukku dan menciumi tengkuk leherku.
Melliza: "Sebanyak itu? mas David kira aku ini monyet ap...emhhh mashh ssshhhhh"
Melliza: "Ma.shh in.i mass. iiih pagi" segala bentuk cumbuan dilancarkan oleh mas David terhadap gunung miniku tanpa perlindungan bra.
David: "Karna ini masih pagi makanya mas ingin nete dulu, sarapan pagi sayang" katanya disela sela kegiatannya.
Mas David terus melakukannya hanya terjeda saat mulutnya berpindah dari payudaraku yang satu ke payudara yang lain. Yang lebih gilanya lagi mas David nete diambang pintu kamarnya tanpa memberi kesempatan untukku duduk atau bersandar pada dinding.
Kegiatan netein bayi mesumku terhenti saat suara ponsel mas David berbunyi dari atas ranjang.
Dia nampak serius saat menerima panggilan entah itu dari siapa aku hanya memperhatikannya.
David: "Sayang... mas harus ke Rumah Sakit sekarang ada operasi besar yang dihadapi anak pemilik Rumah Sakit dia tidak bisa menanganinya sendiri. Kamu mas tinggal dirumah sendiri tidak apa kan?"
Melliza: "Tidak apa mas, tugas mas lebih penting" sahutku.
Anak pemilik Rumah Sakit?
Karna mendapat kabar tiba tiba dari pihak Rumah Sakit, jadi rencana kita yang tadinya akan menonton salah satu DVD harus dibatalkan.
Aku putuskan untuk memasak sesuatu, sesuai bahan yang ada di kulkas. Ku keluarkan bahan bahan yang sekiranya aku gunakan dalam menu yang belum aku tentukan.
David: "Kamu mau ngapain Clara?" tanya mas David tiba tiba saat keluar dari kamar dengan kondisi sudah berpakaian rapih siap berangkat ke Rumah Sakit.
David: "Jangan masak" jawabnya singkat.
Melliza: "Loh kenapa? tidak apa mas agar mas nanti pu..
David: "Mas bilang jangan ya JANGAN! sahutnya memotong bicara dan sedikit membentekku.
Melliza: "Kenapa?"
David: "Tidak apa nanti mas akan suruh orang untuk memasak untukmu, atau kau mau delivery tinggal ambil uang dilemari mas. Tapi ingat jangan MASAK! masak apa pun JANGAN, mengerti Clara" perkataannya adalah sebuah titah bagai sang raja.
Melliza: "Masakanku tidak enak yah mas?" tanyaku pelan dengan menundukkan kepala.
Mungkin waktu itu kenapa mas David menolak untuk aku masakkan kembali karna masakkanku tidak begitu enak dilidahnya. Padahal jika menurut lidahku setiap masakan yang aku buat untuk mas David adalah yang terbaik selama aku memasak. Mencicipinya saja berkali kali sampai kuahnya hampir habis karna takut masih ada rasa yang kurang.
David: "Masakkanmu enak sayang, tapi mas mohon dengarkan perkataan mas. Hari ini jangan masak apapun ok? apapun J.A.N.G.A.N, kalo mas tau kamu masak mas akan benar benar marah sama kamu. Kamu mengerti Clara?"
Melliza: "Iya mas" sahutku singkat agar tidak memperpanjang masalah di pagi hari.
Setelah kepergian mas David yang pastinya minta 'ini itu' terlebih dahulu, aku memasuki kamar mas David untuk mandi dan ganti baju takut tiba tiba mbak Vanessha pulang dan melihat penampilanku layaknya seorang pelakor yang habis memanjakan suaminya semalam.
Ternyata memakan 2 buah pisang tidaklah cukup bagi perutku di pagi ini. Rasa lapar itu lagi lagi datang memenuhi perutku.
"Kalau makan pisang lagi bosen, pengin makan sesuatu yang lain" aku terus mengobrak abrik isi kulkas berharap mendapatkan makanan yang sehat tapi tidak perlu diolah lagi.
"Jagung? Waaaah enak kali ya sarapan sama bunur jagung" terbesit didalam otakku untuk membuat bubur jagung, tapi harus terhenti karna ancaman mas David tadi sebelum dia berangkat.
"Tapi mumpung tidak ada mas David, tidak apa kan asal jangan sampai ketahuan"
Alhasil karna keinginanku untuk makan bubur jagung lebih tinggi dari pada rasa takutku diomeli mas David aku bersikekeh tetap membuatnya.
"Lo siapa?" seseorang menyadarkanku dari kegiatan masakku.
__ADS_1
Aku terlalu fokus pada sepanci kecil bubur dihadapanku yang sedang aku masak sampai tidak sadar ada seseorang yang masuk.
"Emmmm, wangi apa ini" dia mendekatiku yang masih berdiri didepan kompor.
Melliza: "I.ini saya buat bubur jagung mbak Vanessha" melihat mbak Vanessha seketika membuat aku seperti tercyduk telah ketahuan menjadi pelakor.
Vanessha: "Lo kenal gue?" aku heran dengan pertanyaannya, apa mbak Vanessha lupa aku ini pernah datang kesini sebelumnya.
Melliza: "Mbak Vanessha lupa? aku ini..
Vanessha: "Iya gue masih ingat ko, jangan terkejut begitu. Lo Melliza kan yang waktu itu datang malam malam cari pak David"
Vanessha: "Ada urusan apa lo datang kesini lagi?" aku mulai terkesiap mencari alasan apa yang masuk akal terlebih sekarang mas David sedang tidak berada dirumah.
Melliza: "Anu akuu..
Vanessha: "Eh tapi ga penting juga sih ya gue tau, ah sudahlah gue capek"
Vanessha: "Gue mau ke kamar dulu mau ganti baju abis itu gue minta buburnya yah, gue laper banget" katanya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala olehku.
Ku lihat terus pergerakan mbak Vanessha yang berjalan menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar milik mas David.
Ternyata memang tidak satu kamar, apa mungkin mereka sedang bertengkar? batinku.
Saat kami berdua tengah menyantap bubur jagung hasil masakkanku, aku ingin sekali menanyainya dengan pertanyaan pertanyaan yang sudah menumpuk ingin meluap dari otakku. Tapi sangat sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun dari dalam mulutku.
Vanessha: "Lo sama pak David ada hubungan apa?" tanyanya tiba tiba membuat aku gelagapan sendiri.
Masa iya aku bilang kekasihnya mas David, bisa rontok rambut cantikku dijambak olehnya. Belum lagi lihatlah kuku kuku tangannya yang tajam bisa hancur mukaku dicakar cakar olehnya.
Melliza: "Pak David dokter pembimbingku" jawabku menunduk.
Vanessha: "Ooooh, kirain gue lo pacarnya pak David" aku tersedak saat menyuapkan sesendok bubur yang masih terbilang sedikit panas.
Vanessha: "Sorry sorry, gue bikin lo terkejut yah. Iya gue salah juga mana mau lo kan yah cewe modis berperawakan model ya walaupun masih kurang berisi pacaran sama pria yang jauh lebih tua dari lo"
Tapi nyatanya cewe modis ini kekasihnya pak David yang umurnya jauh lebih tua.
Melliza: "Mbak Vanessha, boleh tanya sesuatu ga?" aku mulai memberanikan diri ingin tahu suatu hal yang mengganjal dari kemarin.
Vanessha: "Boleh boleh aja" sahutnya sibuk dengan bubur di hadapannya.
Aku mulai memberanikan diri, menarik nafas panjang panjang takut mbak Vanessha akan tersinggung dengan pertanyaan yang akan aku lontarkan padanya.
Melliza: "Maaf nih ya mbak Vanessha sebelumnya, aku mau nanya, kenapa mbak Vanessha sama pak David pisah kamar?" tanyaku sedikit ragu ragu.
Mbak Vanessha nampak diam sesaat dan mulai menatap mataku tajam.
Gawat jangan jangan aku bakal kena semprot sama mbak Vanessha karna kepo soal hubungannya dengan mas David batinku mulai ketakutan.
Dia nampak melihat keseliling dan aku bingung dengan kelakuannya itu.
Vanessha: "Apa pak David sedang didalam kamar? gue tidak melihatnya dari tadi" mbak Vanessha berkata sedikit berbisik padaku.
Melliza: "Tidak ma.. eh pak David sekarang berada di Rumah Sakit" jawabku hampir keceplosan memanggilnya mas.
Mbak Vanessha nampak bernapas lega mendengar jawabanku.
Vanessha: "Gue sama pak David memang sudah pisah ranjang lama"
Melliza: "Loh! kenapa mbak Vanessha?" aku semakin kepo ingin tahu.
Dia mendekatkan wajahnya kearahku dan berbisik di telinga kiriku.
Vanessha: "Burungnnya pak David kikuk"
__ADS_1