Dr Clara

Dr Clara
Episode 65


__ADS_3

Kakek akan terus berusaha agar Caca terlepas dari David, Caca tenang dan sabar ya. Dan ingat satu hal Jangan sampai Caca menanam benihnya karna itu akan semakin membuat kakek sulit melepaskanmu darinya jika Caca berhasil mengandung anaknya.


Itulah perkataan kakek yang terakhir sebelum mas David menggandeng tanganku paksa keluar dari rumah yang dulu menjadi tempatku tinggal.


Setelah sampai di Jakarta aku putuskan untuk kembali ke apartemen terlebih dahulu sebelum besok akan mulai kembali bekerja sebagai dokter kandungan di rumah sakit tempat magang ku dulu yaitu Rumah Sakit Pancaran Kasih.


Semenjak kejadian waktu di Malang sikap Mas David benar benar berubah terhadapku, dia bahkan tidak mampir ataupun hanya sekedar masuk ke dalam apartemen.


Mas David hanya mengecup keningku lalu memelukku dan berbisik bahwa aku mencintaimu Clara, selepas itu dia langsung pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berada di depan pintu apartemen.


Malam ini aku benar benar sendiri di dalam apartemen tanpa adanya Mas David yang biasanya selalu merengek untuk mendapat kehangatan dari tubuhku. Dia juga tidak mengirimkan satu pesan pun apalagi menelepon yang membuat aku pasti akan berpikir bahwa mas David pasti sekarang sudah memiliki waktunya sendiri dengan istri pertamanya yaitu mbak Vanessha.


Tok. Tok. Tok.


Bayangan bayangan mas David yang sedang bercumbu dengan mbak Vanessa langsung lenyap begitu saja ketika terdengar suara pintu yang diketuk.


Melliza: "Apa itu mas David?" gumamku merasa heran.


Melliza: "Tapi kenapa dia kembali lagi? Apa dia hendak bermalam disini?"


Meski masih berada di mode penasaran tentang siapa orang yang di balik pintu itu tetapi tidak mencegah langkah kakiku untuk berjalan ke arah pintu apartemenku untuk membukanya.


"Racanhaaaiiiii"


Melliza: "Mau apa kak Bagas kesini?" tanyaku dingin.


Bagas: "Aku kangen Rara, kok pulang ke Malang tidak memberi tahuku terlebih dahulu. Dan kenapa aku telpon tidak aktif nomornya?"


Melliza: "Memangnya kak Bagas siapa aku sampai harus laporan terlebih dahulu"


Aku sungguh ingin menjauhi semua yang berhubungan dengan keluarga Mas David atau kak Bagas. Aku tak ingin kakekku terkena lagi atau mungkin bahkan aku dapat lebih tersiksa jika aku menambah masalah dengan berhubungan secara langsung dengan Mas David dan juga keponakannya kak Bagas.


Bagas: "Rara benar.. memangnya aku ini siapanya Rara"


Melliza: "Kalau begitu lebih baik kak Bagas pulang" kataku seraya menutup pintu.


Bagas: "Loh! loh.. loh kenapa disuruh pulang?" katanya menahan pintu agar tidak tertutup.


Melliza: "Ya karna kak Bagas bukan siapa siapa aku, untuk apa berada disini malam malam"

__ADS_1


Bagas: "Kalau begitu jadikan aku kekasihmu ya Rara?"


Melliza: "Tidak" jawabku langsung tanpa pikir panjang.


Bagas: "Kekasih gelap juga tidak apa apa, Yah?"


Melliza: "Tidak!" jawabku mantap.


Bagas: "Lelaki simpanan?"


Melliza: "Pulang sana kak, aku capek ingin istirahat"


Bagas: "Tidak mau!"


Kak Bagas ini disuruh pulang tapi ini kenapa dia malah maksa ingin masuk?


Bagas: "Aku tidak mau pulang sebelum Rara menjadi pacarku"


Melliza: "Maksa banget.. aku ini sudah memiliki pria (bajingan) dalam hidupku"


Bagas: "Hanya pacar simpanan Rara.. apa salahnya mencoba siapa tahu nanti kamu akan lebih memilihku dari pada kekasihmu itu"


Bagas: "Ya Racanhai?"


Bagas: "Aku akan selalu meluangkan waktu untuk Rara.. seperti menemani berbelanja, kita juga bisa sering sering nonton atau hanya sekedar launch. Apapun itu aku akan berusaha selalu ada untuk Rara"


Selalu ada?


Aku telah menjalin kasih dengan mas David bahkan sudah hampir 4 bulan, dan di empat bulan ini aku sudah menjadi istrinya selama tujuh minggu tapi tak pernah sekalipun mas David pernah meluangkan waktunya atau menyempatkan diri untuk menemaniku berbelanja kita bahkan tidak pernah menonton atau sekedar launch yang kak Bagas sebutkan.


Jika dipikir ulang setiap saat aku bersamanya hanya ada kata bercinta yang akan kita lakukan dan itu menghabiskan waktu bahkan selama kita bersama.


Bagas: "Bagaimana? Rara mau kan?"


Aku menatapnya matanya yang penuh kegembiraan.


Aku mau memiliki sebuah hubungan yang seperti disebutkan oleh kak Bagas. Aku bahkan sangat ingin memiliki kekasih dan menjalin kisah romantis layaknya pasangan pasangan yang sering aku temui dikala aku keluar bersama Marsha.


Tapi ini kenapa aku harus mendapatkan tawaran yang aku inginkan malah dari seseorang yang masih memiliki ikatan dengan mas David dan yang lebih parahnya nya kak Bagas ini memiliki Marga yang harus aku jauhi karena perintah kakek.

__ADS_1


Melliza: "Tidak" Sahutku singkat yang langsung merubahkan ekspresinya menjadi sedih.


Bagas: "Kenapa? Apa alasanya?"


Melliza: "Karna kak Bagas berMarga Daynitra" ucapnya tanpa menutup nutupi.


Bagas: "Memangnya kenapa jika aku menyandang nama Daynitra? Jika Rara memiliki masalah dengan nama ini itu bukan aku penyebabnya, aku tidak tahu apa apa tapi kenapa malah aku yang kena dampak dan mendapatkan penolakan cinta terus menerus dari wanita yang aku cintai?"


Bagas: "Apa Racanhai sama saja dengan orang awam yang akan menilai seseorang dari covernya saja?"


Apakah kak Bagas tidak mengetahui permasalahan antara kakekku dan keluarganya?


Benarkah kak Bagas tidak mengetahuinya?


Bagas: "Aku sungguh mencintai Rara.. bahkan aku sampai rela menjadi pacar simpanan jika Rara tidak ingin putus dengan dokter bedah itu"


Bagas: "Aku akan sangat rahasia dan tidak akan mengumbar kemesraan didepan umum, aku juga tidak akan memberitahukan kepada siapapun tentang hubungan kita termasuk om David"


Om David?


Melliza: "Baiklah.. Aku mau tapi jaga rahasia ini bahkan jangan sampai pak David tahu tentang hubungan ini"


Karena jika sampai paman tersayangmu itu tahu maka bukan hanya kau yang akan dihajar habis habisan olehnya, tapi dia juga akan menyiksaku selama sepanjang malam.


.


.


.


Dan sejak malam itu resmilah kak Bagas menjadi pacar simpananku yang sangat dirahasiakan dari semua orang yang termasuk pria bajingan yang menyandang sebagai suamiku.


Kak Bagas tak tanggung tanggung mengajakku hampir setiap malam untuk keluar dan merasakan indahnya hawa romantis yang sering didamba dambakan oleh semua kaum wanita.


Mulai dari dinner romantis lalu datang ke pameran pameran layaknya seorang pasangan yang sangat dikagumi oleh semua pasang mata yang melihat.


Entah lenyap kemana nama mas David di dalam hati dan pikiranku saat aku sedang bersamanya. Kak Bagas seolah tahu bahwa aku sangat membutuhkannya, membutuhkan keromantisannya, membutuhkan kepeduliannya dan membutuhkan perhatiannya.


Hidupku ini cukup rumit. Dikala sang paman menyakiti ada sang keponakan yang selalu datang menghampiri. Tapi kebahagian yang aku rasakan bersama kak Bagas itu hanyalah kebahagiaan antara sahabat, tidak ada sama sekali percikan rasa jatuh cinta seperti dulu yang aku rasakan pada mas David.

__ADS_1


Aku kira selama lima hari ini mas David tidak perduli lagi padaku karna sudah memiliki mbak Vanessha dihidupnga. Tapi nyatanya dia bahkan sekarang sedang berusaha menahan gerahamnya yang sudah mengeras.


David: "Apa sudah puas bermain diluar sana? Apa keponakan mas telah berhasil membuat tantenya ini bahagia?"


__ADS_2