Dr Clara

Dr Clara
Episode 4


__ADS_3

Aku sekarang tengah duduk disebuah ruang tamu yang tidak cukup besar dengan nuansa klasik yang menghiasi ruangan itu. Ku amati sekilas ruangan itu tidak ada satu pun foto pak David atau sang istri yang ikut menghiasi.


David: "Ayo katanya mau makan" ajaknya yang telah mengganti pakaiannya.


Baru saja aku hendak berdiri dari duduk ku, ku lihat sesosok perempuan yang lebih sexy dariku melintas di depan kami menuju arah keluar pintu dengan terburu buru.


Siapa dia?


Apa dia istrinya? Pikirku.


Pantaslah pak David tidak tertarik padaku, dia saja setiap harinya disanding dengan wanita yang bahkan lebih sexy dariku. Apalagi dengan dadanya yang menonjol, bila dibandingkan dengan milikku jelas aku kalah jauh, batinku dengan pandangan yang menyedihkan terarah pada dua bukit kembar yang bertengger indah di dadaku.


Aku pun melihat pak David yang nampaknya biasa biasa saja saat melihat wanita itu pergi, lalu pak David melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Ku ikuti langkahnya masuk ke dalam ruang tengah dan kemudian ku bisa melihat meja makan yang tidak besar karna hanya ada emapt kursi duduk.


Aku duduk disalah satu kursi berhadapan dengan pak David, ku perhatikan semua lauk pauk yang berada di atas meja makan yang terlihat begitu menggugah selera makanku.


David: "Ayo! Apa hanya melihatnya perut anda sudah kenyang?" tanyanya tanpa melihat ke arahku.


Melliza: "Baik pak, maaf saya merepotkan bapak" kataku dan mulai membalikkan piring yang berada di depanku.


Pria di hadapanku tidak menjawab, dia lebih fokus pada makanan yang berada di hadapannya.


Sungguh dia semakin terlihat tampan meski hanya menggunakan kaos polos berwarna putih itu. Kadang aku yang tengah makan sesekali mencuri pandang, karna bagaimanapun ini adalah hal pertama yang aku lakukan pada seorang pria yang bahkan usianya terpaut tiga belas tahun denganku.


Sesendok demi sendok ku makan makanan yang telah tersedia di atas piringku.


Melliza: "Waaah masakan istri bapak enak juga ya, jadi kangen masakan bibik di rumah" kataku.


Puji sedikit keahlian istrinya memasak pasti akan membuat aku terkesan di matanya. Kau memang pintar Melliza, batinku.

__ADS_1


Tiba tiba pak David menghentikan kegiatan makannya karna ucapanku dan mulai menatapku, aku yang serasa ditatap pun berusaha untuk senyum semanis mungkin meskipun jantungku sudah berdetak ta beraturan sejak di dalam mobil.


David: "Ini bukan masakan istri saya"


Bhuhuk.. uhuk.. uhuk...


Aku terbatuk mendengar perkataannya, gagal sudah memujinya batinku miris.


Tapi yang tak kalah mengejutkannya dari kegagalan pujianku yaitu sekarang pak David yang sedang menyodorkan segelas air putih untukku, aku sangat terkesan hinggga masih diam tak berkutik.


David: "Ini diminum" katanya.


Aku masih terperangah dan perlahan tangan kananku menerimanya dan mulai menenggaknya tanpa henti hingga habis, jangan lupakan mataku yang tak kunjung berkedip melihat ke arah pak David yang sedang makan.


Kemudian tanpa ku duga tiba tiba dia melihat ke arahku, mata kami saling bertemu dan saling menatap satu sama lain dan disini aku malah gelagapan dan semakin salah tingkah.


Saat aku yang sudah siap akan membereskan meja makan, tapi niatku diurungkan dengan pemandangan pak David yang dengan telitinya membereskan lauk lauk sisa dan akan mengelap meja. Aku pun mendekati dia.


Melliza: "Pak biar saya saja" pintaku.


David: "Tidak, anda tamu disini" sangkalnya dan mulai mengelap meja.


Ku pegang tangan kanannya yang tengah memegang lap yang sedang digunakan untuk mengelap meja dan aku pun mengambil paksa lap meja itu.


Melliza: "Sudahlah pak, saya sudah terbiasa. Lagi pula yang seperti ini itu tugas wanita pak" kataku dan mulai mengelap seluruh permukaan meja hingga bersih tanpa noda.


Ku arahkan pandanganku pada pak David, dan lagi lagi dia sedang menatapku.


Sejak kapan pak David menatapku?

__ADS_1


Karna merasa gerogi diperhatikan, akhirnya ku putuskan untuk pergi mencuci piring. Tidak banyak karna yang makan hanya aku dan pak David, ku selesaikan cucian piring dengan cukup cepat.


Aku lap tanganku yang basah karna air dengan lap yang tergantung di dinding dekat tempatku berdiri sekarang.


Melliza: "Huff... Akhirnya kelar juga" kataku dan mulai memperhatikan sekeliling siapa tahu masih ada yang terlewat aku bereskan.


Saat aku membalikkan badan, aku dikejutkan dengan sepasang mata yang masih setia memperhatikanku dengan posisi yang sama seperti tadi dan tatapan mata yang sama pula.


Melliza: "Aduh pak David maaf jangan melihat saya seperti itu pak, saya jadi gerogi" kataku dengan salah tingkah.


David: "Berapa umur anda?" tanyanya.


Aku melihat ke arahnya dalam diam dan terus masih saja memperhatikannya.


Kenapa pak David bertanya tentang umurku?


Apa wajahku terlihat tua dengan usia mudaku?


Perasaan aku rutin merawat wajahku, tak pernah aku ijinkan pasukan jerawat ataupun keriput terpasang di wajah yang licin seperti pantat bayi ini.


Melliza: "Umur saya dua puluh empat tahun pak" jawabku.


Pak David hanya diam, tapi dengan tatapan yang masih mengarah padaku.


Melliza: "Kalau begitu saya pamit ijin pulang ya pak, sudah terlalu malam" pamitku pada pak David.


Sebenarnya aku masih betah di rumah ini apalagi jika harus dekat dekat dengan pak David tapi kenapa setiap ditatap sama matanya itu aku seperti kikuk lalu salah tingkah?


Jadilah aku minta ijin pulang sebelum pak David tahu kalau jantungku hampir saja copot karna tatapannya.

__ADS_1


__ADS_2