
Empat Tahun berlalu...
"Aaahh.. daddy pelan dad"
"Uhh mom, ah.. emhhh"
"Jangan ditumpahin didalam ya..
"Loh?! Daddy kenapa didalam?!"
" Supaya mommy hamil lagi"
Setalah kejadian waktu itu aku sungguh hamil anak kedua mas David. Dan setelah menjemput Celine kembali akhirnya mas David meresmikan pernikahan kita di altar pernikahan yang sesungguhnya.
Kehidupan kami sangat sangat bahagia, memiliki dua anak yang sangat ceria dan pintar.
Mas David juga mengambil alih perusahan sesuai keinginan paman, selain karna itu bidang yang sesuai dengan mas David. Perusahaan juga membutuhkan sosok pemimpin seorang pria yang bijak, kompeten dan tegas seperti mas David.
Melliza: "Mommy ga mau hamil dulu daddy.. anak anak masih kecil" kataku yang masih dibawah kungkungannya.
David: "Tapi daddy masih kurang jika hanya dua" sahutnya tak mau mendengarkanku dan berusaha memasukiku kembali.
Melliza: "Kita tunggu paling tidak sampai mereka sekolah dasar dad"
David: "Daddy maunya sekarang"
"Aahhhh.. daddy kenapa selalu nekat seperti ini sih"
DOG. DOG. DOG.
Kegiatan panas kita harus terhenti dengan gedoran pada pintu kamar kita.
DOG. DOG. DOG.
"Daddyyy.. BUTA PINTUNAAAA" teriak anak keduaku.
David: "Benar benar anak satu ini selalu saja menggangu daddy sama mommy"
Melliza: "Dad.. buka pintunya" kataku mendorong dadanya agar bangkit dari atas tubuhku.
David: "Biarkan saja, dia selalu menggangu membuat mommy tidak juga hamil"
"BUTA PINTUNYA ATO DAVIN DOBLAK" teriaknya membuat aku terkekeh dengan ucapan putra bungsuku itu.
Davin Aditya Mayndra
Putra yang secara langsung mendapatkan nama dari mas David, secara langsung mendapatkan kasih sayang mas David sejak mengandungnya, melahirkannya bahkan sampai dia tumbuh kembang sampai tiba tiba mereka bermusuhan seperti saat ini.
Melliza: "Buka lah dad, kamu tahu sifat Davin kan? dia tidak akan pergi sebelum menemui mommy tercintanya"
Meski nama mereka hanya berbeda satu huruf dibelakangnya tapi mas David dan Davin ini memiliki sifat dan rupa sangat sama, hampir tidak ada bedanya jika rambut Davin seperti mas David.
Dan karna sifat mereka yang samalah yang membuat mereka selalu bertentangan dan saling menolak untuk bekerja sama.
Mas David akhirnya bangkit dan memakai celana boxernya lalu berjalan menuju arah pintu hendak membukanya.
__ADS_1
Davin: "Lama! Minggil atu mau lewat" katanya berjalan kearah ranjang tempatku sedang duduk yang telah memakai kembali dress tidurku.
Mas David hanya mengerutkan kening melihat sikap Davin yang seolah mengibarkan bendera perang dengannya.
Celine: "Hai daddy"
David: "Hai Cecel"
Mas David menutup pintu lalu menggandeng Celine mendekat kearahku yang sudah dipeluk erat oleh Davin.
Davin: "Mommy diapain sama daddy? to tadi Davin dengal mommy teliat teliat? daddy jahatin mommy yah?"
Melliza: "Tidak ko.. daddy tidak jahatin mommy"
Yang aku herankan dari Davin adalah dia selalu curiga akan mas David. Selalu mengira bahwa mas David ini selalu menyakitiku, melukaiku.
Bahkan saat aku masih mengandungnya aku sama sekali tidak ingin disentuh olehnya atau mungkin itu keinginan dari jabang bayi yang tak ingin dijenguk oleh daddy nya.
Celine: "Cecel sudah bilang sama adek Davin kalau pintu kamar mommy dikunci berarti daddy lagi mau buat adik buat Cecel sama adek Davin. Tapi tadi adek Davin tidak mau dengar"
Mataku langsung melotot kearah mas David tak percaya bahwa mas David ini menggunakan Celine untuk melancarkan aksinya.
Celine: "Ko leher mommy merah merah?" tanyanya polos.
Davin: "Iya! tenapa melah melah mommy?" tanya Davin sambil menelisik sekujur leherku.
David: "Itu digigit sama daddy" jawab mas David sekenanya dengan memeluk tubuhku dari belakang.
Davin: "Daddy gigit mommy sampai melah begini?! sini Davin gantian gigit daddy"
Aku masih geleng geleng pusing mendengarkan segala ucapan mas David yang tersengat seharusnya tidak dilayangkan untuk anak kecil seperti Davin dan Celine.
Davin: "Daddy cinta mommy?"
David: "Sangat cinta" sahut mas David semakin mendusel ditengkukku.
Davin: "Jangan detat detat sama mommy nya Davin!" katanya dengan mendorong kepala mas menjauh.
David: "Inikan istrinya daddy lagian mommy lebih sayang sama daddy dari pada sama Davin" ejek mas David yang langsung mendapat cubitan dariku.
Davin: "Ini mommy nya atu!" katanya dengan memeluk leherku kuat sampai membuat aku kesulitan bernafas.
David: "Mommy lebih cinta daddy buktinya mommy tidurnya sama daddy bukan sama Davin"
Davin: "Mommy nda cinta daddy, butinya mommy nda gigit daddy, belalti mommy nda cinta daddy. Iya tan mom? Mommy nda cinta daddy tan?" Davin terus menyudutkanku dengan semakin memeluk dengan erat leherku.
Aku yang semakin pusing dibuat oleh kedua priaku ini lebih menyakitkan lagi saat Celine hanya tertawa melihat keadan ini.
David: "Daddy masih pengin mom" bisik mas David tak tahu malu jelas jelas masih ada Davin dan Celine dihadapan kita.
David: "Kalian main diluar sana sama suster, daddy mau tidur siang lagi" usir mas David pada dua anaknya.
Celine: "Ayo dek, daddy mau bobo" ajak Celine pada Davin.
Davin: "Daddy saja yang tidul dilual sama sustel, Atu mau main sama mommy disini"
__ADS_1
David: "Mommy.. Ayolah mom" pintanya berbisik.
Melliza: "Davin main sama suster sama kakak Cecel dulu yah, nanti malam kita pergi ke time zone"
Davin: "Nda mau! Davin pengin boboan sama mommy disini"
David: "Davin pengin punya adik ga?" tanya mas David tiba tiba saat Davin terus saja mendusel minta dikelonin.
Davin: "Matdutnya Davin jadi tata kaya tata Cecel?"
David: "Iya nanti Davin dipanggil kakak juga sama kaya Davin panggil kakak Cecel kalau Davin punya adik" mas David mulai antusias saat Davin tertarik akan bujuk rayunya.
Celine: "Berarti nanti Cecel punya adik lagi?"
David: "Iya nanti daddy buatkan, Cecel mau berapa?"
Berapa mas David bilang?
Dia kira melahirkan anak itu segampang kita buang hajat kali.
Celine: "Cecel mau dua dad supaya bisa diajak main barbie barbiean" jawab Celine dengan menunjuk angka dua dijarinya.
David: "Ok! kalo Davin mau berapa?"
Melliza: "DADDY!"
Davin: "Atu mauuu.. tiga!" ucapnya senang.
Tapi yang membuat aku ingin tertawa adalah jari Davin bukannya menunjuk tiga malah menunjuk angka lima.
Melliza: "Tiga seperti ini sayang" kataku sambil membenarkan jarinya.
David: "Tiga masih kurang Davin, kalau main bola itu pemainnya ada sebelas belum lagi pemain cadangan"
Melliza: "Kamu jangan jadi kompor deh dad, nanti bagaimana kalau Davin nagih janjinya kamu"
David: "Ya kita tinggal buatkan gampang kan"
Gampang dia bilang?
Gampang bagi kaum pria yang hanya tinggal ngalirin, sedangkan kami kaum wanita yang harus mengandung belum lagi resiko melahirkan yang tinggi.
David: "Mumpung mommy masih dalam tahap subur suburnya jadi harus dimanfaatkan jangan ditunda lagi"
Keputusanku kala itu yang ingin terus melahirkan secara normal memang menjadi senjata bagi mas David untuk terus meminta anak padaku.
Terlebih aku yang masih tergolong muda belum menginjak kepala tiga terus saja digencar olehnya supaya hamil anak ketiga.
Sampai sejauh ini mas David tak juga pernah membahas permasalahnya dengan almarhum kakek. Dia mengatakan pada saat kita berkunjung ke makam kakek, dia akan melupakan semua yang terjadi dan memulai hidupnya dengan bahagia bersama aku dan Celine.
Jika Clara mencintai mas, mas harap Clara hanya perlu percaya akan ucapan mas. Mas tidak akan pernah membohongi Clara
Dia tak pernah sekalipun menjelek jelekkan kakek atau berkata buruk tentangnya meski aku tahu jika aku bertanya pasal permasalahan yang dulu hanya ada api kemurkaan yang ada pada kedua matanya.
Perlahan aku tahu akan permasalah yang dulu menjadi dasar retaknya hubunganku dengan mas David.
__ADS_1
Mulai dari Mus, Jihan sampai pak Ilham sekretaris kakek pun mulai terbuka dan terang terangan menyampaikan kebenarannya padaku.