
"Kamu lagi apa Elliza?"
Aku yang sedang serius mengelap sambil senyum senyum membayangkan betapa panasnya mas David tadi, harus terkesiap saat satu kalimat berhasil mengejutkanku.
Aku membalikan tubuhku menghadapnya yang berada diambang pintu.
Melliza: "Marsya" kataku lirih.
Untunglah aku sudah merapikan pakaianku dan memakai kembali CD ku.
Marsya: "Apa yang kamu lakukan Za?"
Melliza: "Aku.. Aku sedang mengelap ini Sya" sahutku menunjuk sofa dihadapanku.
Melliza: "Tadi aku tidak sadar telah menumpahkan..
Marsya: "Apa yang kamu lakukan Elliza?" tanyanya datar.
Melliza: "Akuuu...
Marsya: "Apa yang baru saja kamu lakukan dengan dr. David Melliza Clara Utomo"
DEG
Marsya: "Aku sudah mencurigaimu sejak masalah cupang tempo lalu tapi aku masih belum tahu itu milik siapa, lalu aku selalu memergoki dr. David yang tak pernah absen sedikitpun untuk datang keruanganmu. Dimana sebenarnya jalan pikiran kamu Ellizaaa? dr. David sudah beristri kau tau itu bukan?!" nada suara Marsya lama kelamaan mulai meninggi.
Melliza: "Aku bisa jelaskan Sya, kamu jangan salah paham dulu" aku coba mendekatinya.
Marsya: "Apa yang perlu dijelaskan? kamu ingin membela diri bahwa kamu bukan pelakor? IYA?!"
Melliza: "Aku.. aku.. aku bukan pelakor Sya, bukan!" sahutku merasa tidak terima.
Marsya: "Kalau bukan pelakor lalu apa Melliza? APA?!!!"
Marsya: "Dia sudah beristri, tapi kamu.. kamu menjijikan Melliza, menjijikan!"
Rasanya begitu perih mendengar perkataan dari sahabat yang bahkan sudah seperti saudara sendiri. Bahkan perkataan Marsya lebih menyakitkan dibanding beribu ribu cemoohan kedua kakakku.
Marsya: "Apa ini cara mu untuk mempermudah masa magangmu Elliza? kau menyerahkan dirimu pada dokter pembimbingmu? Kau hina Elliza, kau menjijikan. Aku tidak sudi memiliki teman sepertimu"
__ADS_1
Aku langung meluruh jatuh kelantai setelah mendengar perkataan Marsya yang bagai petir menyayat hati.
Aku memang salah telah mencintai mas David.
Tapi apa cinta bisa memilih?
Jika memang bisa aku juga sebenarnya ingin berhubungan dengan laki laki lajang bukan malah menjalin kasih dengan suami orang.
Apa aku hina?
Aku menjijikan?
Tapi apa yang harus aku putuskan kala itu jika tidak mengiyakan kemauannya untuk menikah dengannya.
Apa aku harus terima diperkosa begitu saja? atau aku harus menerima tawarannya untuk menikah secara resmi?
Mana? mana yang harus aku pilih diantara itu.
Keputusan bijak seperti apa lagi yang bisa membuat aku tidak begitu dirugikan selain menikah secara diam diam.
Aku juga sakit, aku juga tidak ingin ini terjadi. Aku memang mencintainya aku ingin memilikinya tapi itu dalam arti untuk diriku sendiri.
Melliza: "Iya kamu benar Sya.. Aku ini hina dan aku menjijikan, tidak sepantasnya aku menjadi temanmu" kataku lirih.
Aku mendongak melihat kearahnya, dimatanya masih penuh rasa kecewa terhadapku.
Melliza: "Maaf Sya aku tidak bisa" aku menunduk tak mampu berbuat apa apa lagi.
Marsya: "Elliza!"
Melliza: "Aku tidak bisa Sya, aku tidak bisa. Mas David.. dia.. dia sudah mengikatku, kita..
Kataku terhenti, rasanya berat untuk memberanikan diri mengatakan semuanya terhadap Marsya.
Melliza: "Kita sudah menikah Sya" kataku lirih.
Marsya langung mendekat kearahku dan menggoncang tubuhku keras.
Marsya: "KAMU SUDAH GIKA ELLIZA!!!" dia berteriak tepat di hadapanku.
__ADS_1
Melliza: "Aku harus bagaimana lagi Sya, harus bagaimana. Dia mengancamku"
Marsya: "Kamu ini tidak pernah gentar akan ancaman Elliza, untuk ala kamu takut dengan ancamannya"
Melliza: "Apa yang harus aku lakukan antara dua pilihan yang begitu ambigu Sya. Apa yang akan kamu pilih jika hanya ada pilihan antara diperkosa atau dinikahi secara resmi. Apa Sya? APA?!"
Marsya langsung diam setelah mendengar penuturanku.
Melliza: "Aku tidak memiliki pilihan lain selain setuju untuk menikahinya, tapi itu pun aku setuju jika pernikahannya dirahasiakan"
Marsya: "Siapa saja yang tahu tentang ini?"
Melliza: "Selain kami hanya baru kamu yang tahu Sya"
Marsya: "Kenapa kamu tidak bicara pada kakekmu? dia akan menolongmu Za" sarannya.
Melliza: "Aku pun awalnya berencana seperti itu, tapi mas David selalu selangkah didepanku Sya. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, apalagi aku juga belum mengetahui ancaman apa yang akan mas David berikan pada kakekku jika aku sampai pergi dari sisinya"
Marsya: "Ancaman? dr. David mau mengancam kakekmu?"
Aku hanya mengangguk angguk lesu.
Marsya: "Mungkin itu hanya gertakan Za, kamu jangan takut akan ancamannya"
Melliza: "Bagaimana mungkin aku tidak takut Sya, jika kakekku saja kelihatannya begitu terkejut saat aku mengucapkan nama mas David. Pasti ada yang terjadi diantara mereka yang belum aku ketahui"
Marsya: "Kalau begitu kamu bersembunyi dibalik namaku saja, pasti dr. David tidak akan mengetahuinya"
Melliza: "Tidak Sya.. tidak, mas David itu nekad orangnya. Dia akan tetap mengincar kakekku"
Melliza: "Yang dia inginkan hanya aku tetap berada disisinya dan jangan berusaha melarikan diri"
Melliza: "Sya? Apa keputusanku salah?"
Marsya langung memeluk tubuhku erat.
Marsya: "Kamu tenang yah, aku akan cari jalan lain agar kamu terlepas dari dr. David"
Aku kira Marsya akan membenciku, tapi nyatanya dimalam itu Marsya menjadi penenang untukku.
__ADS_1
Dia menyakinkanku bahwa aku bisa terlepas dari mas David, tapi entah mengapa rasanya seluruh tubuhku tidak ingin sama sekali menjauh dari lingkup mas David. Aku ingin selalu berada disampingnya, melayaninya dan mencintainya.
Jiwa dan raga ini rasanya hanya ingin dimiliki oleh mas David, hanya ingin dia bukan orang lain.