
Sorry ya gaes yang kemarin udah pada kasih jawaban kaga ada yang bener kasih alasan kenapa dr. Melliza mau menikahi pria itu jadi Up 10 Episode ditunda dulu ya..
Happy reading gaes 😊
Hari ketiga bolosku dari tugasku sebagai dokter, hari ini sama sekali tidak ada yang istimewa. Hanya berbaring liat Instagram, dan tidur sangat membosankan.
Melliza: "Tidak guna sekali ponselku ini, aku cantik dilengkapi dengan sexy tapi kenapa ponselku sepi bagaikan kamar mayat tak ada suara atau getaran kehidupan" gumamku meratapi ponselku yang tidak memiliki pesan selain pemberitahuan masa tenggang yang akan berakhir.
Melliza: "Hampa banget jauh dari mas David, jadi kangen netein dia.. betapa kencang bibirnya menyedot put*ingku sampai aku kelojotan dibuatnya. Belum lagi jarinya yang...
Kata kataku terhenti saat mengingat perkataan kak Bagas kemarin perihal mas David yang menikahi mbak Vanessha.
Melliza: "Sudahlah lupakan Melliza.. Dia suami orang bagaimanapun meski tidak ada cinta atau saling menyayangi satu sama lain tetap saja statusnya suami istri, dan sampai kapanpun mas David tidak akan menceraikan mbak Vanessha jadi kamu jangan terlalu berharap untuk menjadi satu satunya" gumamku lagi sembari menutup mata hendak tidur di ranjang kamarku.
KRING KRING KRING
Ku lihat layar ponselku saat berbunyi karna sebuah panggilan whatsapp.
Melliza: "Marsya?" gumamku heran saat melihat nama kontak yang tertera.
Melliza: "Hallo Sya?" sapaku saat setelah menekan tombol hijau keatas untuk mengangkat teleponnya.
Marsya: "Ellizaaaa... bukain pintuuuuu" sontak aku menjauhkan layar ponselku karena tak kuat akan suaranya yang melengkin.
Melliza: "Kamu didepan?" tanyaku memastikan sambil bangkit dari ranjangku.
Marsya: "Menurutmu? untuk apa aku menelponmu meminta dibukakan pintu jika belum berada didepan pintu" sahutnya yang sepertinya sudah berada didepan pintu.
Aku pun langsung berlari kecil kearah pintu untuk membukakan pintu untuk sahabat tercerewet plus terkepo sedunia itu.
Setelah membuka kuncinya, ku tarik knop pintunya lalu mengeluarkan kepalaku untuk mengeceknya.
Marsya: "Kamu lagi ngapain Ellizaaa.. buru bukain pintunya" omelnya saat melihatku.
Melliza: "Hehe.. Hanya mengecek saja siapa tau tukang teror" sahutku lalu membukakan pintu lebih lebar agar Marsya dapat masuk.
Marsya: "Ooooh.. jadi itu alasan kamu kenapa suruh telepon dulu sebelum mau main ke apartemen kamu, gitu?" tanyanya tepat sasaran.
Melliza: "Iya.. ayo masuk" ajakku pada Marsya.
Karna mas David yang tak hentinya menerorku alhasil aku menyarankan Marsya untuk menelponku sebelum main ke apartemenku, aku yakin bila aku tidak memblokir nomornya pasti sudah puluhan atau mungkin ratusan pesan dan panggilan yang masuk darinya.
Marsya: "Eh tunggu!" Marsya mencekal tanganku yang sedang menarik pergelangan tanganya untuk masuk kedalam apartemenku.
Melliza: "Kenapa? ada yang...... pa.. pp.pak David?" aku terkejut saat mas David keluar dari balik dinding sebelah pintu apartemen.
Bentuk pintu apartemenku itu tidak sejajar dengan dinding disampingnya, pintu dibentuk lebih masuk sehingga dinding yang menghimpit pintu tidak sejajar.
David: "Hai dr. Melliza CLARA" sapanya yang penuh penekanan.
Marsya: "Pak David khawatir akan kondisimu yang sudah tidak masuk selama 3 hari, jadi aku sengaja mengajaknya kemari agar pak David juga bisa melihat sendiri kondisimu" terang Marsya yang masih tidak aku gubris karna bagiku ancaman terbesarku sedang berdiri tepat di hadapanku.
David: "Apa kami tidak dipersilahkan masuk dr. Melliza?" tanyanya yang aku tahu maksud dan tujuannya.
Melliza: "Ya! silahkan masuk pak David" sahutku yang mempersilahkan mereka berdua masuk dan duduk di meja makan mini.
Marsya: "Bagaimana kondisi mu saat ini? Kelihatannya sudah terlihat baikan, Apa kamu sudah minum obatmu Za? Jangan sampai lupa nanti magh mu semakin parah dan menjadi akut" perkataan Marsya bagai polisi yang sedang menginterogasi tersangka, beruntun tanpa jeda.
Obat?
Mana ada obat magh disini, aku tidak memiliki riwayat penyakit magh jadi mana ada aku nyetok untuk jaga jaga.
Bagaimana ini? cari alasan Melliza.. ayo gunakan otak cantikmu untuk berfikir.
Melliza: "Ee.. ituu obatnyaaa.. obatnya abis Marsya, iya obatnya sudah habis" alasanku agar Marsya tidak curiga.
Marsya: "Sudah habis? kamu tidak sedang berbohong kan Elliza?" tatapan matanya tajam saat melihatku berjalan kearahnya dengan dua cangkir teh diatas nampan yang aku bawa.
Melliza: "Tidak ko tidak" jawabku gelagapan sambil menaruh nampan diatas meja dihadapan mereka berdua.
David: "Anda kemarin sudah minum obat apa memangnya?" tanya mas David tiba tiba.
Jawab apa ini, mana aku tahu obat apa untuk magh. Kenapa mas David malah mempersulit keadaan sih, lihat tuh matanya Marsya sudah melotot kaya mau copot.
__ADS_1
Marsya: "Ellizaaaa kok diam, jawab dong" kata Marsya menyudutkanku.
Melliza: "Aku.. akuu.. aku tidak tahu" dari jawabanku langsung mendapat perhatian lebih dari mas David yang memandangiku aneh.
Marsya: "Kamu lagi ngelawak ya Elliza, kamu punya riwayat sakit magh tapi ga tau nama obat yang kamu konsumsi? lalu untuk berikutnya kamu akan membeli obat itu dengan cara apa jika tidak menyebutkan nama obatnya?" tanya Marsya terheran heran padaku yang duduk di sebelahnya.
David: "Mungkin dr. Melliza ini salah satu orang yang tidak mengenal namanya tapi bisa memahami bentuknya, bukankah kadang orang juga ada yang seperti itu tidak ingin repot repot mengetahui nama obatnya karna sulit disebut makanya mereka cukup memahami bentuknya dan nanti mendeskripsikannya pada apoteker. Apa perkataan saya benar dr. Melliza?"
Aku tidak tau dibalik pembelaan mas David ini murni ingin membela atau ada maksud terselubung yang pasti wajah datarnya tidak dapat aku baca sama sekali niat apa yang berada di otaknya saat ini.
David: "Saya berteman dengan seorang apoteker yang memiliki resep untuk orang penderita sakit magh yang sudah lama, obat ini dapat memperingan terjadinya magh yang akan kambuh lagi tapi dosis obat ini terlalu tinggi sehingga kemungkinan sembuhnya akan total tapi efeknya adalah kantuk berhari hari"
Marsya: "Wah bagus dong pak David, berati kamu bisa sembuh perlahan Za kalau kamu meminum obat itu" kata Marsya antusias tapi beda halnya denganku.
David: "Hanya saja..
Marsya: "Hanya saja apa pak David?"
David: "Karna obat ini dilarang beroperasi maka dari itu hanya dipergunakan jika sudah mendesak dan itu sepertinya hanya ada di apotek teman saya" terang mas David.
Marsya: "Bisakah pak David tanyakan pada teman pak David apa obat itu masih menyediakan setok paling tidak beberapa untuk Elliza agar dia tidak kumat kumat lagi magh nya. Elliza sudah memiliki magh sejak dulu dan tak sembuh sembuh dia juga ketat dalam mengatur pola makannya mungkin itu juga yang mengakibatkan magh nya sering kambuh"
Yang namanya berbohong memang tidak ada enaknya, seperti saat ini aku berbohong sekali waktu masa kuliah tapi kebohongan itu masih mengikutiku sampai sekarang bahkan lebih memburuk karna aku menambahnya batinku mulai gelisah.
David: "Kemarin saat saya memintanya untuk salah satu pasien saya katanya masih ada tapi tinggal beberapa lagi karna memang sudah tidak dioperasikan maka dari itu tidak memproduksinya lagi"
Marsya: "Bisakah pak David memintanya sekali lagi untuk Elliza?"
David: "Bisa saja tapi tidak hari ini, mungkin akhir pekan" sahutnya.
Marsya: "Kenapa akhir pekan pak David? Apa tidak bisa sekarang saja, saya takut obat itu keburu habis dan Elliza belum sempat mencobanya"
David: "Karna apotek itu berada di Serpong Tanggerang dan lagi bukankah dr. Marsya tau sendiri bahwa saya tidak membawa mobil hari ini"
Mengapa aku mulai tau arah pembicaraan ini akan berakhir dimana, ini pasti siasat mas David lagi batinku memperhatikan mas David yang juga tengah melihat kearahku.
Marsya: "Baiklah biar saya yang..
David: "Tidak apa dr. Melliza? Apa anda tidak ingin sembuh dari penyakit anda yang sudah lama bersarang pada tubuh anda?" pertanyaan mas David telak membungkam perkataanku.
Marsya: "Kamu ini kenapa sih Elliza? Kamu mau sakit dan terus merasakannya diperutmu?"
Aku diam tak menjawab karna aku bingung harus menjawab apa.
Marsya: "Sudah kamu anteng disini, aku sebagai temanmu mana tega selalu mendapat keluhan darimu karna magh mu yang selalu mengganggu"
BODOH!
Satu kata untuk diriku sendiri karna dulu selalu melarikan diri dari Marsya dengan beralasan sakit magh kambuh, dan sekarang aku harus menanggung kebohonganku sendiri yang sudah menumpuk begitu banyak.
Marsya: "Pak David apa anda ingin saya mengantar anda pulang terlebih dahulu?" tawar Marsya saat sedang bersiap hendak pergi.
David: "Tidak perlu.. saya sudah memesan draiver ojek online 10 menit lagi sampai" jawabnya sambil menunjukan layar ponselnya pada Marsya dan tak luput aku pun melihatnya yang langung membuat jantungku tenang karna setelah kepergian Marsya mas David juga akan pergi.
Tenang Melliza tenang batinku sambil mengelus elus dadaku.
Marsya: "Ya sudah aku pergi dulu ya Za mari pak David"
Marsya: "Pak David jangan lupa kirimi alamat apoteknya" kata terakhir Marsya sebelum benar benar hilang dari hadapan mas David.
Setelah kepergian Marsya hawa canggung mulai menyelimuti semua isi ruangan apartemenku.
Melliza: "Maaf pak David apa tidak sebaiknya anda menunggu draiver anda dilobi saja agar saya tidak bolak balik mengunci pintu" kataku mencoba mengusirnya halus saat sedang di dekat pintu setelah melihat kepergian Marsya yang telah memasuki lift.
David: "Oh! kamu benar juga" sahut mas David dan berdiri berjalan kearahku.
Melliza: "Pak David maaf.. ponsel anda" kataku menunjuk ponselnya yang masih berada diatas meja makan.
CEKLEK CEKLEK
Melliza: "Pak David apa yang anda lakukan?" kataku saat melihat mas David malah menutup pintu dan menguncinya.
David: "Tentu saja mengunci pintu, apa kamu tidak melihatnya Clara?" mas David tersenyum padaku yang membuat jantungku mulai kembali berdetak cepat karna merasa ketakutan.
__ADS_1
Aku berjalan mundur kearah televisi berusaha menjauh dari jangkauannya.
Melliza: "Pak David.. draiver anda pasti sudah menunggu dibawah bukankah tadi anda sudah memesan ojek online?" kataku berusaha mengingatkannya.
David: "Maksudmu ini Clara?" tanya balik mas David yang menunjukan layar ponselnya.
Aku terkejut saat melihatnya, ternyata yang tadi aku lihat bersama Marsya hanyalah sebuah screen shot. Betapa bodohnya aku telah terjebak dua kali oleh mas David.
Melliza: "Ap.. apa, apa yang pak David inginkan?" tanyaku langsung to the point meski ada rasa risau disetiap kata yang keluar dari mulutku.
David: "Ayolah Clara.. kamu pasti tahu jawabannya" sahutnya yang tidak langsung memberikan jawaban pasti.
David: "Mendekatlah Clara... mas kangen banget sama kamu sayang" katanua sambil mengulurkan tangan berusaha menggapaiku yang masih berjalan mundur perlahan hendaj memasuki kamar.
Aku langsung berbalik dan hendak lari menuju kamarku ingin mengunci diri disana sampai mas David lelah dan nantinya akan pulang sendiri tanpa aku usir.
Padahal tinggal menguncinya tapi mas David dengan cepatnya menahan agar pintu kamarku tidak tertutup.
Melliza: "Mas David lepas jangan ganggu aku lagi" kataku sambil terus mendorong pintu agar bisa tertutup.
Tidak ada jawaban hanya pintu yang sedikit demi sedikit mulai bergerak lebih membuka celah menjadi lebih lebar.
Sampai akhirnya aku tidak kuat lagi menahan pintu karna mungkin tenaga mas David jauh jauh lebih kuat dariku apalagi dia adalah seorang pria.
Melliza: "Mas.. mas David aku mohon, jangan ganggu aku" kakiku mulai melemah karna mas David terus berusaha berjalan kearahku.
Mas David lagi lagi tidak menjawab, dia bergerak cepat merengkuh lenganku dan meriknya kedalam dekapannya. Menggendongku lalu meletakkanku perlahan diatas ranjangku.
Sebelum niatanku ingin melarikan diri darinya mas David dengan pintarnya memangkas niatku itu dengan dia yang langsung menindih tubuhku.
Kening kita yang saling menyatu, tatapan mata yang saling mengunci satu sama lain membuat aku juga tidak bisa melawan tubuhnya yang sudah mengunciku dibawah kuasanya.
David: "Kenapa Sayang? kenapa kamu sangat suka membuat mas menderita karna jauh darimu? kenapa kamu menutup diri dan menjaga jarak dari mas?Kenapa harus memblokir nomer mas? Kenapa Clara? Kenapa?" tanyanya beruntun penuh dengan nada kelembutan dan juga tatapan mata sayu.
Melliza: "Karna kamu sudah menikah mas.. harus berapa kali aku menjawabnya?" sahutku tak mau terintimidasi.
David: "Clara pernikahan mas dengan Vanessha hanya orang orang Rumah Sakit yang tau selain itu tidak ada termasuk para tetangga"
Melliza: "Aku tidak perduli! menyingkirlah dari atas tubuhku" jawabku tidak mau lagi terjebak olehnya.
David: "Tidak akan!" jawabnya singkat.
Melliza: "Menyingkirlah! kau berat mas DAVID" pekikku mendorong kedua bahunya.
David: "Menikahlah dengan mas Clara"
Lagi lagi penawaran itu, mau berkali kali mas David menawarkannya dengan menyogokku dengan uang pun aku tidak akan pernah sudi menjadi istri kedua.
Melliza: "MIMPI!" jawabku langsung menolaknya telak.
David: "Menikahlah dengan mas atau...
Melliza: "Atau apa?!" bentakku saat melihat seringai menakutkan terlintas di wajah datarnya.
David: "Atau mas akan memperkosamu sekarang juga"
Perlawanan tubuhku terhadapnya yang masih setia berada diatas ku membuat aku terdiam mendengar kaya memperkosa dari mulutnya.
Ku telan salivaku susah payah mencoba menelaah perkataannya barusan.
David: "Bagaimana sayang.. kamu memilih kehilangan keperawananmu dengan cara terhormat dengan menjadi istri dari seorang David Setya Mayndra atau ingin mendapat perlakuan brutal karna pemerkosaan yang akan segera berlangsung jika kamu menolak untuk menikah dengan mas?" katanya dengan mengelus elus mahkotaku yang masih tertutup rapat oleh celana yang ku gunakan.
David: "Jika kamu bertanya mas ingin memilih yang mana, maka jawaban mas adalah memperkosamu dengan brutal. Mengoyak selaput kewanitaanmu dengan kasar agar mas mendapat kepuasan mas tersendiri. Terlebih milikmu masih sangat sempit pasti akan sangat menyenangkan jika mas melakukannya dalam mode faster, adek kecilnya mas akan sangat termanjakan oleh pijatan otot otot dinding kewanitaanmu. Dan mas akan menyemburkan berkali kali benih yang akan membuatmu hamil dan terpaksa kamu pun akan menikahi mas"
Hamil?
Itukah yang diinginkan mas David?
Membuatku mengandung anaknya?
Apa aku akan benar benar menikah dengannya?
Atau kak Bagas nantinya akan datang seperti biasa menolongku saat aku sedang tersudut oleh pamannya?
__ADS_1