
Melliza: " Ada hubungan apa antara daddy sama Jihan?"
David: "Tidak ada hubungan apa apa" jawabnya membaringkan kembali tubuhku agar memunggunginya dan dapat ia peluk dari belakang.
Melliza: "Jangan bohong daddy" kataku membalikkan tubuhku menghadapnya.
David: "Memang tidak bohong" sahutnya sudah menutup matanya.
Aku langsung melepaskan pelukannya dan menjauh darinya hingga membuat mas David membuka kembali kedua matanya.
Melliza: "Bohong! Jika yang dirumah mbak Nada memang kenyataan berarti yang disini waktu itu juga pasti bukan mimpi kan? Jawab jujur deh mas! pasti Jihan kan yang bantu kamu meniduriku waktu masih mengandung Celine waktu itu" serentetan kata yang aku lontarkan mengingat kejadian waktu masih mengandung Celine dulu.
David: "Bukan dengan Jihan sayang.. tapi dengan mamah Clara"
Mamah?
Melliza: "Ada hubungan apa antara mas David sama mamah aku?" tanyaku menatapnya yang masih tiduran.
David: "Sinih" pintanya dengan mengulurkan tangan kanannya.
Melliza: "Jawab dulu!"
David: "Sini dulu, nanti daddy jelaskan" bujuknya lembut sambil menarik tanganku agar mendekat kearahnya.
Tubuh polosku dipeluk olehnya, lalu sesekali mas David mencium keningku.
Melliza: "Katanya mau dijelaskan?!"
David: "Iya mommy Claraku tercintaaa"
12 Mei 1998
Tepat 25th yang lalu saat usia seorang anak laki laki baru saja menginjak umurnya yang ke 13th.
Dia digendong oleh sang ayah dengan tergopoh gopoh yang juga dilingkup oleh rasa ketakutan akan hal yang baru saja ia saksikan didepan mata.
Bagaimana seseorang menembak secara brutal hingga menewaskan beberapa mahasiswa dan warga awam yang tak tahu apa apa.
Tragedi Trisakti menjadi pengalaman pertama bagi seorang David Setya Mayndra kecil melihat pertumpahan darah yang belum ia tahu apa penyebabnya.
"David tunggu disini, jangan kemana mana sebelum papah menjembut. David dengar!" kata sang ayah yang tak lain Jendral Junaidi yang masih bertugas kala itu.
David kecil hanya mengangguk dalam diamnya.
Dia harus terpisah dengan sang ibu saat mereka terperangkap dalam kerumunan, sedangkan sang kakak Nada sedang menimba ilmu di kota Yogyakarta pada saat itu.
David yang diam masih dalam kondisi syok harus termenung sendirian dibawah kolong jembatan yang masih dialiri air membuat tubuhnya setengah basah karna terendam.
Cukup lama sang Jendral kembali dengan membawa dua perempuan asing dimata David.
Wanita yang satu sekitar hampir menginjak kepala empat tapi wanita yang satunya seperti masih remaja mungkin baru 18 atau 19th.
"Kalian sembunyilah disini, dia putraku" kata sang Jendral pada dua wanita itu.
Setelah kepergian Jendral Junaidi, David berusaha mengakrabkan diri supaya dia tidak terlalu memikirkan kejadian yang sedang terjadi diluar sana.
David: "Hallo" sapanya pada dua wanita itu.
__ADS_1
Kedua wanita itu hanya saling terlempar tatap lalu kemudia kembali menatap David kecil.
David: "Nama aku David, aku putra bungsu Jendral Junaidi. Yang tadi itu papahku, dia hebat kan?" katanya berusaha mendekat dan mengenalkan diri.
"Iya papah David hebat" sahut wanita berusaha hampir berkepala empat.
David: "Apa kalian takut?"
"Iya sedikit" jawab gadis remaja itu.
David: "Jangan takut, ada aku disini. Papah aku hebat jadi aku juga pasti hebat seperti papah" celoteh David kecil berhasil membuat duawanita itu tertawa lirih.
David: "Apa dia juga takut?" tanyanya menunjuk kesuatu arah.
"Siapa?" tanya gadis itu.
David: "Dia"
David menyentuh perut sang remaja yang memang sedang dalam kondisi mengandung enam bulan.
David: "Kamu jangan takut, ada David disini. Aku akan menjaga kamu jadi kamu didalam sana jangan menangis ya"
"Kamu sangat baik dan pemberani nak" kata wanita usia berkepala empat itu.
"Aku berharap anak perempuanku nantinya bisa mendapatkan suami sepertimu" sahut sang remaja.
David: "Maaf tapi jika anak kamu bukan dokter aku tidak mau"
"Memangnya kenapa jika bukan dokter?" tanya wanita itu.
David: "Karna pekerjaan dokter sangat mulia dan jika aku memilki istri nantinya aku ingin dia adalah seorang wanita yang mulia"
David: "Tapi kamu juga harus cantik dan sexy yah, karna aku tidak mau memiliki istri jelek. Aku lebih suka melihat wanita cantik dan sexy" kata David kecil sambil mengelus perut wanita remaja itu.
.
.
.
Dua insan manusia yang saling mencintai dan membutuhkan masih terlelap dalam tidurnya yang indah.
Sang pria memeluk wanitanya dengan cukup erat seakan tidak diperbolehkan pergi.
Nafas laki laki itu mulai memberat saat tangan kanannya membelai lembut sebuah kenikmatan yang masih terhimpit diantara selangkangan wanitanya.
David: "Mommy Claraaa.. bangun sayaang daddy pengin lagi" bisiknya parau khas orang bangun tidur.
Tak ada sahutan hanya tubuh wanitanya yang menggeliat geli dan berusaha menjauh.
David langsung menelentangkan tubuh sang wanita dan menindihnya membuat wanita itu langsung membuka mata dan berteriak pasalnya pria tercintanya ini memaksa hendak memasukinya kembali setelah pergulatannya semalam yang tak adanya hentinya.
Melliza: "Cukup mas David!" kataku dan membanting tubuh mas David agar menyingkir dari atas tubuhku.
Aku berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Mas David pun ikut mengekoriku yang sekarang sedang mengisi bathup hendak berendam.
Dengan seenaknya saja mas David mendahuluiku masuk kedalam bathup dan menyuruhku agar ikut masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Melliza: "Jangan jahil deh mas!" pekikku karna mas David *** remas payudaraku.
David: "Sudah dibilang panggilnya daddy mom, D.A.D.D.Y!"
Tak lama aku berendam tanpa adanya ketenangan karna keberadaan mas David yang cukup sangat sangat menggangguku.
Bahkan saat aku membersihkan diri dengan membilas tubuhku dibawah shower pun mas David masih saja terus menggesekan miliknya meminta masuk tapi selalu aku tolak.
David: "Mommy.. daddy pengin mom" rengeknya.
Melliza: "Sebentar" jawabku singkat lalu mengambil pil yang kemarin malam diberikan oleh Jihan.
David: "Mommy minum apa?" tanyanya dengan memeluk tubuhku yang terbungkus handuk dari belakang.
David: "Itu pil yang diberikan oleh Jihan yah mom?"
Melliza: "Kok daddy bisa tahu?" tanyaku heran memperhatikanya di cermin wastafel kamar mandiku.
Mas David malah tersenyum lalu menciumi pipiku dan bahuku yang terlihat lembab setelah mandi.
David: "Selamat ya mommy"
Melliza: "Selamat apa?" tanyaku heran.
Mas David menelusupkan tangan kanannya kedalam handukku lalu mengelus perutku dan berbisik..
David: "Selamat karna mommy akan mengandung anak kedua dari daddy"
Melliza: "Apa maksudnya mas?!" tanyaku terkejut.
David: "Pil yang mommy minum bukanlah pil pencegah kehamilan, meski bentuknya sama dengan pil pencegah kehamilan pada umumnya tapi itu sebenarnya adalah vitamin penyubur pada wanita yang akan cepat membuahi sel sperma yang masuk. Jadi secara otomatis jika semalam mommy meminumnya maka kemungkinan besar calon anak kedua kita sedang dalam proses pertumbuhan didalam sini" bisiknya yang membuat aku tercengang mendengarnya.
Jadi Jihan memberikanku obat yang malah membuatku akan mengandung kembali?
Bagaimana dengan Celine?
David: "Kita sempurnakan keberadaannya dengan kegiatan olah raga pagi kita"
Mas David menggendongku menuju ranjang, aku masih belum percaya akan apa yang tadi aku dengar sehingga rasanya otakku berhenti bekerja saat membayangkan aku hamil kembali tapi dalam kondisi Celine yang baru akan memasuki tujuh bulan.
Melliza: "Kamu gila mas?! aku tidak mau!" kataku menolaknya saat mas David hendak memasukinya.
David: "Daddy sayang.. panggil aku daddy, aku sudah sangat sangat akan menjadi daddy sempurna dengan kehadiran anak kedua kita"
Melliza: "Celine masih bayi mas! kenapa kamu senekat ini? Celine masih butuh ASI aku"
David: "Pelan pelan daddy sudah mengajarinya turun ke sufor, lagian sudah waktunya dia makan MPASI bukan?"
Melliza: "Ga mas! Celine butuh ASI mas, kamu jangan senekat ini dong mas" kataku memohon padanya.
David: "Tapi daddy ingin mommy hamil lagi, jadi mommy harus hamil lagi dan mengandung anak kedua daddy"
Melliza: "Ga mas! aku ga mau" tolakku berusaha melarikan diri.
David: "Harus mau mommy"
Dan itulah menjadi penetapan pembuatan anak kedua antara aku dan mas David.
__ADS_1
END