
David: "Kamu tau pasti bukan resiko jika mengonsumsi pil dan menunda kehamilan menggunakan KB? Rahimmu akan kering dan sulit hamil nantinya kau mengerti itu?" terangnya mengingatkanku akan hal yang sangat aku pahami.
Melliza: "Lalu bagaimana? jika mas tidak memenuhi syarat ketiga ku maka aku..
David: "Cukup mas yang menggunakan pelindung kamu tidak perlu. Mas tidak ingin mengambil resiko jika kamu sulit mengandung nantinya" potongnya langsung sebelum aku selesai bicara.
Dasar keras kepala, sebegitu inginkah mas David memiliki keturunan dariku?
Oh mungkin mas David ingin mendapat keturunan yang sempurna dari wadah yang sempurna juga. Aku cantik berkulit putih mulus tinggi dan ramping jangan lupakan rambut pirangku yang sebenarnya ini adalah bawaan dari lahir. Sebenarnya sejak aku lahir tidak keseluruhan berwarna pirang, hanya ada dibagian tengah yang melingkari ubun ubun.
Kakek sudah melakuan segala upaya agar rambut aku bisa hitam semua tapi nyatanya bertambahnya usia rambutku mulai rontok dan berganti pirang seperti saat ini pirang kecoklatan bercampur hitam.
Melliza: "Mas David cari apa?" tanyaku heran saat mas David membuka lemari bajuku yang tidak langsung dijawab.
David: "Pakai ini" katanya setelah memegang dress putih tanpa lengan selutut yang sangat sederhana.
Melliza: "Untuk apa aku pakai ini?... Oh! mas David masih berniat mau ketemu keluargaku? mas sudah janji loh mas kita setuju menikah asal dirahasiakan dari semua orang" kataku berusaha mengingatkan akan perjanjian yang telah kita sepakati.
David: "Cepat pakai ini dan bersiap siaplah" mas David tidak menjawab perkataanku dia malah memberikan baju ditangannya yang seingatku dress itu belum pernah aku pakai karna terlalu sederhana.
Melliza: "Aku tidak mau yang ini, aku mau milih sendiri saja" sahutku lalu melengos melewatinya menuju lemariku.
Sebenarnya aku sangat tidak nyaman sedari tadi bernegosiasi menyampaikan pendapatku dengan kondisi sama sama telanjang dihadapan mas David, Tapi aku bersyukur meski sedari tadi adek kecilnya mas David belum juga tertidur tapi mas David masih mau mengontrolnya dan lebih mendengarkan apa keinginanku.
David: "Pakai yang ini Clara menurutlah... Mas tidak mau lagi melihatmu mempertontonkan lekuk tubuhmu dihadapan pria lain selain mas"
Melliza: "Ok aku akan pakai tapi jawab dulu aku mau dibawa kemana?" tanyaku curiga tapi belum juga mengambil dress yang diulurkan oleh tanganya.
David: "Pakai dulu, nanti mas kasih tau kalau sudah sampai" sahutnya menyerahkan dress ditangannya.
Melliza: "Aku ga mau pakai ini yah kalau tidak dikasih tau dulu" ancamku saat mas David hendak masuk ke kamar mandi.
Mas David tetap diam dan mengambil handuk milikku yang tergantung didekat cermin. Aku terus mengekorinya ingin tahu dia akan membawaku kemana, aku khawatir mas David nekat membawaku kehadapan kakek itu jelas diluar rencanaku.
Melliza: "Mas!" bentakku saat tak kunjung mendapat jawaban dengan menghentakkan kaki kananku ke lantai kamar mandi cukup kuat hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras karna ruang kamar mandi yang begitu tertutup tidak memiliki ventilasi udara.
David: "Pelan Clara!" sahutnya langsung menghadap kearahku dan melihat kedua kakiku.
David: "Kamu ini sangat suka menyiksa diri yah hah?! bagaimana jika luka? jika kamu tidak sengaja terpeleset? kamu paling suka membuat mas khawatir ya Clara.. jangan lakukan itu lagi"
__ADS_1
Ini mas David lagi ngomelin aku cuma karna aku menghentakkan kaki ke lantai cukup kuat?
Mas David takut aku terluka?
Jelas jelas aku akan sangat terluka dengan keinginannya yang tak terbantahkan itu.
Melliza: "Makanya tinggal jawab kita mau kemana apa susahnya sih" omelku balik padanya.
David: "Kita akan ke Gereja"
Melliza: "Gereja?" tanyaku membeo perkataannya.
David: "Iya kita akan menikah sore ini juga, mas tidak ingin membuang banyak waktu lagi karna mas tau pasti kamu masih berharap ingin pergi dari mas jadi mas harus membuat kamu sadar bahwa kamu sudah tidak bisa pergi lagi dari hidup mas sampai kapanpun itu"
Melliza: "Dasar cowo brengsek" gumamku pelan lalu melangkah keluar kamar mandi.
David: "Kamu bilang sesuatu Clara?" tanyanya langsung membuat aku terkesiap karna merasa takut jika mas David mendengar ucapanku barusan.
Melliza: "Tidak.. tidak ada, aku tidak mengucapkan apapun" sahutku bohong.
David: "Baiklah"
David: "Clara?" panggilnya dari arah belakang tubuhku yang membuat aku reflek melihat kearahnya.
David: "Jangan pernah lagi sebut mas dengan kata terakhir dalam gumamanmu barusan atau kamu akan merasakan yang namanya bercinta tanpa henti hingga pagi, kamu paham bukan maksud mas?"
Aku tidak menjawab hanya diam dan menelaah perkataan mas David yang membuat aku mematung dan membayangkan sepeti apa yang namanya bercinta sampai pagi tanpa tidur dan tanpa jeda.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya gaes yang kemarin ada sedikit kesalah tapi sekarang sudah diralat ko jadi readers sekalian sudah bisa membaca ulang episode 39.
Dan untuk beberapa pihak yang mengatakan ceritanya sudah mulai membosankan, dengan sangat berlapang dada saya mengatakan ada boleh meninggalkan halaman ini dan silahkan mencari novel yang sesuai dengan kriteria diri anda sendiri.
Saya bukan tipe penulis yang suka mengemis.
Saya hanya berusaha menceritakan sisi lain dari seseorang yang disebut pelakor.
Bukankah hidup itu tidak selalu manis, seperti nasib dr. Clara bukan maksud author ingin berperilaku jahat pada pemeran utama tapi kadang hidup itu juga penuh liku liku.
Maaf jika banyak pihak yang kecewa karna dr. Clara dengan dr. David tanpa penyelesaian masalah terlebih dulu dengan Vanessha.
.
.
.
Sekali lagi saya ingatkan jika anda tidak suka akan karya saya maka tinggalkan halaman ini jika perlu silahkan anda mencoba membuat karya anda sendiri dan nikmatilah saat anda mendapat cercaan saat penggemar novel anda tidak setuju akan keputusan anda dalam membuat alur cerita.
ndk.id
__ADS_1