Dr Clara

Dr Clara
Episode 5


__ADS_3

Tiga hari setelah acara makan itu, aku tidak pernah lagi bertemu pak David di rumah sakit. Karna sift kerja kita yang berbeda apalagi dengan profesiku sebagai dokter kandungan yang harus siap setiap saat kapanpun aku dibutuhkan.


Meskipun aku yang harusnya libur tidak menutup kemungkinan bahwa aku akan mendapat panggilan darurat dari pihak rumah sakit.


Dan datanglah hari yang aku tunggu tunggu, yaitu hari dimana aku masuk pagi yang berarti aku bisa bertemu dengan pak David.


Aku yang belum menggunakan jas kebesaranku sebagai seorang dokter berjalan bak super model yang sedang catwalk menggunakan mini dress berbahan burkat dengan lengan tanggung dan panjang dress tepat di atas lututku. Dilengkapi dengan sepatu Vans berwarna hitam bertali putih yang semakin melengkapi penampilanku dan jangan lupakan make up tipisku yang selalu menjadi andalanku setiap mendekati seorang pria yang sedang aku incar.


Aku terus berjalan lurus ke suatu ruangan yang menjadi tujuan utama ku di pagi hari ini. Bukan ruanganku tentunya, ya kemana lagi kalau bukan ke ruangan pak David. Dokter berparas tampan yang sekarang namanya sedang terukir indah dengan jelas di hati dan pikiranku.


Senyuman manis yang bisa membuat diabetes terukir indah diwajah cantikku, ku pandangi terus kotak berwarna biru tua yang sedang ku pegangi sedari tadi sejak aku keluar dari apartemen.


Kira kira apa yang akan dikatakan pak David tentang masakanku ini? batinku.


Masakanmu sangat enak Melliza.. atau..


Ini pertama kalinya saya merasakan masakan seenak ini, kamu sangat pandai memasak Melliza.


Aku terus membayangkan senyumannya itu, aku sangat berharap dia bisa tersenyum tulus padaku.


"Ellizaaaaaa..." suara melantang yang sudah pasti sesuai dengan dugaanku.

__ADS_1


Bisa aku tebak siapa pemilik suara yang sedang memanggilku ini, suara yang bahkan bisa membangunkan para mayat di kamar jenazah.


Aku berhenti berjalan dan perlahan membalikkan badanku untuk melihat ke arah sumber suara itu.


Marsya: "Elliza kamu sudah mulai pikun atau ssedang salah jalan? Biisa bisanya berjalan sampai sini" tanyanya yang sudah berdiri di hadapan ku.


Melliza: "Tidak, aku tahu.. ruanganku ada di sebelah sana" jawabku dengan menunjuk arah ruanganku berada.


Marsya: "Laluuuu?" tanyanya menyelidik dengan wajahnya yang didekatkan ke wajahku.


Aku angkat kotak makan berwarna biru tua itu yang aku niatkan akan diberikan pada pak David sejajar dengan wajahku.


Marsya: "Apa itu? Kamu bawa bekal? Tumben, coba aku lihat isinya" dia berusaha berebut kotak makananku.


Melliza: "Ini itu untulk pak David" kataku santai.


Mendengar perkataanku, langsung saja aku dihujani dengan berbagai pertanyaannya.


"Kamu suka sama pak David?"


"Dia sudah beristri Elliza"

__ADS_1


"Kamu jangan macam macam yah!"


"Nanti kamu sendiri yang menyesal Elliza"


"Pria tampan yang lajang masih banyak Elliza"


"Kamu jangan jadi pelak...


Langsung saja aku bungkam mulutnya yang tidak henti hentinya nyerocos seperti bebek kurang makan.


Melliza: "Kemarin kemarin siapa yang menyuruh aku pepet pak David terus supaya luluh yah? LUPA?!!" kataku dengan sedikit menahan emosi.


Marsya: "Ooooh jadi kamu ma..


Melliza: "Iya!" langsung saja aku potong kalimatnya karna kalau tidak teman satuku ini akan banyak menyita waktuku, tidak tahu apa aku ini sudah kangen berat sama pak David.


Marsya: "Aku kira kamu mau merebut suami orang" katanya yang diiringi dengan hembusan nafas kasarnya.


Sejujurnya sampai sekarang aku masih selalu berharap bahwa pak David itu lajang.


Bahkan aku selalu berharap pak David bercerai dengan istrinya. Jahat bukan aku? Tapi inilah kenyataannya, kenyataan bahwa aku memang menyukainya dan tidak bisa mengubur perasaan ini .

__ADS_1


Tiga hari tidak bertemu dengannya, tidak melihat wajah datarnya yang jutek dan tatapan yang tidak bisa aku baca membuat aku semakin menggila ingin memilikinya.


Benar aku ingin memilikinya, sangat sangat ingin memilikinya.


__ADS_2