Dr Clara

Dr Clara
Episode 49


__ADS_3

Sesuai dugaanku karna mas David yang tadi selalu mengacau dan mengangguku membuat aku sangat terlambat bahkan orang yang sudah mengatur janji denganku terpaksa menungguku didepan ruanganku.


"Selamat pagi dr. Melliza" sapa seseorang dari arah belakangku.


Aku yang sedang berjalan terburu buru langsung membalikkan badan dan melihat kearahnya.


Melliza: "Oh. Hai.. selamat pagi pak Budiman" sahutku sedikit canggung.


Melliza: "Maaf pak saya datang terlambat tadi saya..


Budiman: "Tidak apa dr. Melliza, saya paham akan alasan anda" potongnya langsung dengan nada penuh ramah tamah.


Budiman: "dr. David pagi tadi mengatakan pada saya bahwa anda mungkin akan datang terlambat jadi dia meminta izin atas nama anda dr. Melliza"


Melliza: "Pa.. pak David? dokter pembimbing saya?"


Apa telingaku ini tidak salah dengar?


Barusan pak Budiman mengatakan mas David meminta izin atas namaku?


Budiman: "Iya memangnya siapa lagi? di Rumah Sakit ini hanya memiliki satu dokter yang bernama David"


Aku mulai berfikir kapan mas David meminta izin pada pak Budiman?


Seingatku pagi tadi dia sibuk mengangguku.


Budiman: "Rumah Sakit ini benar benar beruntung memiliki dokter seperti anda menjadi bagian dari banyaknya dokter disini, saya salut anda tetap membantu persalinan bahkan tanpa pamrih. Membantu tanpa diminta dan memberi tanpa meminta balasan"


Tunggu tunggu.. ini maksud ucapan pak Budiman itu apa yah ko aku masih bingung linglung gini batinku menelaah ucapannya.


Budiman: "Baiklah kalau begitu selamat bertugas kembali saya harus keruangan dr. Eva" pak Budiman seketika itu pula berjalan menjauh tanpa memperdulikan aku yang masih berkecambuk dengan perkataan pak Budiman yang masih menggantung diotak ku.


TING


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel pintarku.


Melliza: "Astaga! aku melupakannya" aku terkejut setelah membaca pesan yang baru saja masuk itu.


Dengan cepat aku berlari menuju arah ruanganku berada.


"MELLIZAAAA!" Bentak seorang wanita cantik yang sedang berdiri didepan pintu rauangnku.


Aku yang baru saja lari jelas mengatur nafasku terlebih dulu dari pada menjawab panggilannya.


"Aku udah nunggu satu jam Melliza disini, kamu kenapa baru datang?" tanyanya langsung tapi tidak dengan nada marah sedikitpun.


Melliza: "Maaf ya tadi aku ada kepentingan mendadak"


Kepentingan netein suami baruku yang manja dan mesumnya tidak tertandingi batinku melanjutkan perkataanku dalam hati.


Melliza: "Ayo masuk" aku pun mengajaknya masuk kedalam ruanganku.


Meski sangat jarang atau mungkin tidak pernah ada dokter di Rumah Sakit ini yang membawa pasiennya kedalam ruangannya tapi ini beda ceritanya karna aku didatangi secara langsung oleh sahabat lamaku yang juga sangat dekat denganku tapi tidak sedekat aku dengan Marsya.


Melliza: "Jadi Apa masalahmu Sya?"


Aku kenalkan yang dihadapanku sekarang yang tengah duduk berharap hadapan denganku ini bukan Marsya tapi Tasya teman satu kampus ku juga dulu.


Dia dan Marsya dulu sering dimirip miripkan selain nama panggilan belakangnya yang sama, mereka juga memiliki paras yang cantik tapi tetap cantik Melliza dong.


Meski mereka sering dibilang memiliki kemiripan tapi aku selaku orang yang berada ditengah mereka berdua rasanya tidak ikhlas untuk menyebut Tasya ini mirip Marsya.


Tasya ini cantik, lemah lembut, penyayang tidak bawel, tidak cerewet dan yang pasti dia itu bersihan banget beda halnya dengan Marsya.


Marsya itu meski dia cantik tapi mulutnya kaya ember pecah rame banget, belum lagi dia itu suka makan coklat atau permen gitu sebelum tidur tapi tidak pernah mau sikat gigi.. makanya giginya dia sering banget sakit dab banyak yang berlubang.


Meski Marsya memiliki banyak sifat yang kadang membuat aku ilfil tapi dia memiliki sifat yang sangat membuat aku nyaman dekat dengannya, nyaman memiliki sahabat sepertinya. Marsya adalah mendengar setia, dia selalu mendengarkan keluh kesahku dan setalah itu dia akan memberikan solusi dan pendapatnya untuk menyelesaikan permasalahnku.


Marsya juga sangat baik, dia tidak pernah perhitungan sama sekali terhadapku membuat aku kadang tidak enak sendiri jika terus dibayarkan makanannya jika kita makan berdua.

__ADS_1


Tasya: "Jadi gini loh Melliza.. kamu tahukan sejak baru wisuda aku langsung menikah dengan Jen"


Melliza: "Jelaslah aku tau, aku kan datang keacara resepsi kalian yang glamor penuh kemewahan itu" sahutku sedikit menggodanya.


Melliza: "Lalu dimana letak masalahnya?" tanyaku lalu menopang daguku dengan kedua telapak tanganku.


Tasya: "Masalahnya aku sudah menikah dengannya dua tahun tapi aku belum juga hamil" dia nampak murung lalu menundukkan kepalanya.


Melliza: "Kamu tinggal ikut program hamil Sya, gampang kan?" usulku memberikannya sedikit semangat.


Dia diam sesaat sambil membuang nafasnya kasar.


Tasya: "Aku sudah mengikuti program hamil Melliza tapi belum juga isi perutnya aku"


Melliza: "Mungkin usaha kalian masih kurang kali?" tanyaku meledaknya.


Tasya: "Kurang apanya Melliza.. setiap malam kita melakukannya bahkan kadang dilanjut waktu bangun pagi" jawabnya blak blakan tanpa rasa malu.


Melliza: "Sebelumnya sudah dicek kesehatan kamu sama suami kamu Sya?"


Tasya: "Udah Melliza.. kita sama sama sehat tidak ada masalah dengan kesehatan kita" jawabnya penuh keyakinan.


Aku berfikir sejenak, memikirkan biasanya hal apa saja yang membuat wanita sulit untuk mengandung atau membuahi sperma dari suaminya.


Melliza: "Mungkin bisa jadi kamu atau suamimu itu terlalu letih atau mungkin depresi itu juga dapat mempengaruhinya"


Tasya: "Benarkah? aku fikir penyebabnya karna aku menunda kehamilan waktu itu"


Melliza: "Kamu menunda kehamilan?" tanyaku heran dengan kening berkerut.


Tasya: "Iya Melliza, waktu pertama menikah dengan Jen aku belum sanggup jika harus menjadi mamah muda. Jadi aku meminta Jen untuk menunda kehamilan dengan aku yang rutin meminum pil pencegah kehamilan selama kita berhubungan" terangnya.


Melliza: "Kamu meminum pil pencegah kehamilan? kenapa tidak suamimu saja yang menggunakan pelindung?"


Tasya: "Melliza semua pria itu tidak ada yang mau ribet. Mana mungkin Jen mau menggunakan pelindung karna aku ingin menunda kehamilan"


Aku langung diam terpaku, mas David hanya satu nama itu yang sekarang sedang aku pikirkan.


Tasya: "Meski sekarang Jen masih sangat mencintai aku tapi aku masih ragu Melliza jika belum ada kehadiran buah hati kita sebagai pengikat kita satu sama lain. Dengan kehadiran anaklah aku bisa mengikatnya"


Melliza: "Kamu harus yakin dan percaya kalau suamimu itu akan mencintaimu seumur hidupnya" aku berusaha menyemangatinya agar tidak putus asa.


Tasya: "Iya aku berharap seperti itu, tapi bukankah dengan aku hamil dan memberikannya keturunan dia akan semakin mencintaiku"


Melliza: "Kamu dan suamimu sudah berusaha sisanya tinggal banyak berdoa pada-Nya, karna bagaimanapun hanya Dia lah yang memberikan kehidupan"


Melliza: "Aku akan memberikanmu resep untuk menunjang kesuburan hormonmu agar nantinya dapat membuahi dengan cepat, tapi resep ini saja tidak cukup kalian..


Aku menggantungkan kalimat karna merasa tidak nyaman untuk melanjutkannya, aku takut menyinggungnya karna ini sangat privasi.


Tasya: "Kalian apa Melliza?"


Melliza: "Kalian.. kalian harus tetap banyak berusaha" jawabku sedikit ragu.


Tasya: "Oh kalau itu sudah pasti Melliza, suamiku itu tangguh diatas ranjang tidak diragukan lagi pokoknya" sahut Tasya membuat aku terkejut.


Ini kenapa Tasya menjadi terbuka begini yah padahal jelas ini privasi batinku masih terheran heran.


Tasya: "Mending kamu cepat nikah Melliza..


Tasya menggantungkan kalimatnya lalu dia bangkit dari duduknya dan wajahnya mendekat kearahku yang masih duduk dihadapannya.


Tasya: "Rasanya itu enak banget Melliza saat ditiduri oleh suami, apalagi kalau suaminya minta terus uuuuh rasanya ituu... susah dijelaskan" katanya lirih didepan wajahku.


Aku yang mendengarnya langung berkedip beberapa kali tidak percaya akan perkataan yang baru saja keluar dari mulut temanku yang dulu sangat aku kenal sebagai anak yang lurus lurus saja, tidak memiliki riwayat anak nakal apalagi mesum sepeti sekarang ini.


Melliza: "Sya?"


Tasya: "Yaaah?" sahutnya yang sudah duduk seperti semula.

__ADS_1


Melliza: "Mau tanya boleh?"


Tasya: "Tanya apa?"


Aku sedikit ragu untuk mengungkapkannya, tapi aku betul betul penasaran.


Melliza: "Tapi ini sedikit privasi, aku takut menyinggungmu"


Tasya: "Kita kan teman, lagian kita sudah tidak bertemu lama semenjak wisuda. Kalau Marsya tidak memberi tahuku bahawa kamu magang di Rumah Sakit ini mungkin aku juga tidak akan bertemu denganmu. Jadi apapun yang Melliza ingin tanyakan, tanyakan saja kita bukannya sudah saling terbuka satu sama lain sejak dulu"


Ya kita sejak jaman kuliah selalu terbuka akan masalah satu sama lain, dan aku selalu menjadi bahan bullyan karna tidak memiliki banyak pengalaman berpacan seperti Marsya dan Tasya yang sudah ahli dalam hal berciuman dan gigit menggigit.


Tidak akan ada yang percaya Melliza yang sekarang cantik dan super sexy ini dulu waktu kuliah tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran.


Tasya: "Kamu sebenarnya mau tanya apa Melliza? kenapa malah diam"


Aku masih juga ragu untk menjawab, tapi itu tidak mengurungkan niatku untuk bertanya padanya.


Melliza: "Maaf sebelumnya tapi yah, aku mau nanya soaaal..


Tasya: "Soal apa? kamu jangan membuat aku penasaran deh Melliza!"


Melliza: "Aduh gimana yah ngomongnya" aku menggigit bibir bawahku karna merasa gerogi.


Melliza: "Begini Sya.. aku mau nanya dulu waktu kamu malam pertama sama suamimu seperti apa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf banget yah bikin kecewa soalnya author bener bener sibuk.


Kalau dipaksakan up berarti gue harus tidur tengah malem, nah kalo gitu ntar gue kurang istirahat, kalo gue kurang istirahat ntar bisa aja gue sakit.


Ya kalo sakitnya cuma sehari dua hari.


Kalo seminggu?


Sebulan?


Bahkan bisa sampe moed aduh amit amit dah jangan sampe! gue belum nikah belum ngerasain di ini itu sama anu kaya dr. Clara.


Jhahahaha authornya pinter bikin cerita ena ena tapi belum berpengalaman alias masih ting ting mohon dimaafkan jika masih banyak kekurangan.

__ADS_1


ndk.id


__ADS_2