
Sebulan telah berlalu dan tak terdengar kabar kembali tentang mas David.
Ada yang mengatakan dia pergi ke Swiss mencari seperti orang gila, ada juga yang mengatakan bahwa mas David hidup bahagia dengan mbak Vanessha dan telah melupakanku.
Entah mana yang benar yang pasti aku ingin melupakannya.
Jihan: "Neng Verna.. sepertinya sudah saatnya neng Verna keluar, ini sudah berlalu dan pasti David itu juga telah lelah mencari" katanya membuyarkan lamunanku tentang masa masa indahku bersama kakek.
Melliza: "Tapi aku masih takut Ji"
Jihan: "Tapi janin neng Verna juga harus mendapat pemeriksaan, memangnya neng Verna tidak ingin tahu jenis kelamin calon anaknya neng?"
Melliza: "Benar juga.. waah sayang kamu cowo atau cewe yah, mommy jadi tidak sabar" kataku penuh hingar bingar.
Aku dan Jihan pun putuskan untuk ke salah satu rumah sakit ternama yang ada di kota Surabaya.
Aku ingin memberikan yang terbaik untuk calon anakku meski dia belum lahir ke dunia ini.
Melliza: "Selamat siang bu dokter" sapaku pada dokter kandungan yang nantinya akan menjadi dokterku sampai nanti proses persalinan berlangsung.
"Selamat siang.. dengan ny. Verna Adi Utomo yah" sahutnya penuh senyum keramah tamahan.
Melliza: "Iya betul" sahutku sedikit canggung karna masih belum terbiasa.
"Perkenalkan saya dokter Nada, saya dokter yang akan terus memantau proses kandungan nyonya..
Melliza: "Panggil saja Verna bu dokter" selaku karna merasa canggung.
Nada: "Kalau begitu panggil saja saya dokter Nada kalau bisa Nada saja juga boleh agar lebih akrab" katanya penuh dengan senyum keramahan.
Jika sudah seperti ini kadang aku rindu akan profesiku yang dulu.
Aku yang dulu duduk seperti posisinya sekarang tapi aku yang sekarang malah duduk berperan sebagai pasien.
Kadang memang kita tidak pernah tahu jalan hidup seperti apa yang telah Tuhan rencanakan untuk kita.
Nada: "Mari kita lakukan pemeriksaan tapi sebelum itu boleh saya meminta data orang tua calon anak?"
Melliza: "Tentu saja" sahutku.
Nada: "Nama ibunya Ver..na A.di Uuuu.. to. mo" pengerjaannya sambil menulis sebuah formulir.
Nada: "Umur?" tanyanya.
Melliza: "24th" kataku yang langsung ditulisnya.
Nada: "Nama ayahnya?"
Aku langsung diam bingung harus jawab apa.
Nada: "Verna? nama ayahnya? suami anda siapa?" tanyanya dengan melihatku.
Jihan: "Ha..
Melliza: "David Setya Mayndra" sahutku sebelum Jihan menyebutkan nama kak Haris.
Karna sebelumya, semua diberi tahu jika ada yang bertanya siapa ayah atau suamiku maka kak Haris dengan tenangnya meminta bahwa anak yang aku kandung adalah miliknya.
Jihan: "Neng?"
__ADS_1
Melliza: "Dia ayahnya Ji, anak ini darah dagingnya" sahutku.
dr. Nada tampak bingung akan percakapan kami.
Nada: "Jadi nama ayahnya siapa tadi?"
Melliza: "David Setya Mayndra" jawabku mantap.
Nada: "Da..Vid Set.ya May... May siapa tadi?"
Melliza: "Mayndra" jawabku.
Nada: "Mayndra! Ok berarti nama ibu Verna Adi Utomo dan sang ayah David Setya Mayndra" katanya setelah membaca ulang formulirnya.
Nada: "Oh hampir lupa! berapa usia suami anda ini?"
Melliza: "38th"
Nada: "Wow selisih umurnya jauh juga ya" katanya yang sambil menulis.
Nada: "Memang cinta itu tidak mengenal usia, kita tidak bisa memilih cinta kita akan datang pada siapa. Kita bagaikan air didalam arus yang harus mengikuti setiap arah arus itu mengalir"
Setelah pemeriksaan selesai yang menyatakan bahwa janin yang aku kandung memilki jenis kelamin perempuan membuat aku semakin bahagia.
Aku tidak mempermasalahkan calon anakku perempuan atau laki laki yang jelas aku hanya ingin dia tubuh sehat didalam tanpa kelainan sama sekali.
Aku diberi tahu agar tidak boleh terlalu stres dan terlalu banyak pikiran karna aku juga tau bahwa itu akan memperngaruhi sang janin.
Aku diharuskan serileks mungkin dan jangan terlalu terbebani.
Melliza: "Kamu yang sehat sehat ya nak" kataku terus mengelus perutku yang kian membuncit.
Melliza: "Entah.. sepertinya dia tidak ingin merepotkan semua orang yang menyayangi mommynya"
Jihan: "Waaah.. dede nurut banget ya sama mommy ga mau nyusahin mommy" Katanya dengan ikut mengelus perutku.
Kehamilan pertamaku begitu mudah terlewati selama empat bulan yang akan memasuki minggu ke 17. Aku tak mengalami mual pada pagi hari atau pilih pilih makanan.
Hanya saja napsu makanku melonjak naik begitu saja bisa makan dalam sehari empat sampai lima kali belum lagi cemilannya.
Tapi baby yang sekarang aku kandung ini lebih suka atau lebih bernafsu saat melihat buah buahan.
Buah buahan apa saja masuk kedalam mulutku, padahal dulu aku sangat pemilih apalagi jika itu akan menyangkut dengan berat badanku. Hanya saja semenjak aku hamil aku tak mau lagi membatasi semua keinginanku itu, karna aku tahu yang menginginkannya bukanlah aku tapi baby yang aku kandung.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Gue manusia bukan robot!
Gue juga butuh istirahat, dan ingin memiliki waktu gue sendiri.
Gue berusaha konsisten dengan update setiap hari meski itu hanya satu itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Gue tahu akan perasan kepo kalian tapi kalian juga harus tahu kalo gue juga manusia biasa yang makanya sama kaya kalian.
Gue juga bisa sakit, gue juga butuh waktu istirahat.
Menulis adalah salah satu hobi gue, tapi gue manfaatkan cuma dikala waktu senggang bukan menjadi dominan dalam hidup gue.
Gue ga mau terlalu memaksakan tubuh gue untuk hal belum terlihat manfaatnya bagi gue.
Jujur kalau disuruh milih gue lebih baik menghilang dan kabur dari novel ini karna tuntutan tuntunan yang katanya mendoakan gua sehat selalu dan mengingatkan gue untuk istirahat tapi juga memaksa gue untuk up banyak bahkan.
Aneh ga sih?
Dan lagi cuma karna novel ini gue mencampakan novel ketiga gue, hanya demi memuaskan nafsu kekepoan kalian.
Tolong sekali lagi jangan hanya menjadi seorang readers fanatik, tapi jadilah readers yang dapat menempatkan disemua sisi.
ndk.id
__ADS_1