Dr Clara

Dr Clara
Episode 54


__ADS_3

Melliza: "Aku tidak mau tahu, pokoknya mas David nanti malam tidak boleh menginap disini lagi"


Sudah seminggu mas David selalu bermalam diapartemenku dan seminggu itu pula mas David tanpa henti meminta jatahnya yang semakin lama bertambah durasi mainnya.


David: "Kalau tidak boleh menginap malam ini berarti jatah untuk nanti malam dilakukan sekarang" sahutnya mesam mesem yang masih polos dibalik selimut.


Melliza: "Sudah jam 7 mas David, nanti kita terlambat!"


David: "Kalau tidak mau sekarang ya sudah nanti malam mas tidur disini lagi" setelah mengatakan itu mas David bangkit dan memelukku dari belakang yang sedang bercermin menatap ngeri ke sekujur tubuhku terutama dibagian atas yang sudah penuh dengan cupang cupang manja mas David.


Melliza: "TIDAK BOLEH!" bentakku melepaskan pelukannya.


Flashback on


Setelah pulang dari Rumah Sakit, mas David sama sekali tidak mengulur waktu untuk langung menyentuhku. Acara mandi bersama selalu menjadi pembuka hidangannya sebelum nantinya mas David akan melahap habis diriku.


Mas David yang akhir akhir ini memiliki stamina lebih dari pada waktu pertama kali kita melakukannya berhasil membuat aku tepar setelah pelepasan terakhirnya.


Aku yang terbangun karna terintrupsi oleh suara ponselku membuat aku langsung terkesiap dan menjangkaunya diatas meja nakas sebelah kanan ranjang.


"Marsya?" gumamku melihat kontak ID yang sekarang sedang berusaha mencalling ku.


Ku lihat mas David masih tidur dengan lelapnya dengan mulut yang masih menempel diujung put*ngku. Tangannya melingkar manis diperutku dan kakinya mengunci pergerakan kakiku.


Melliza: "Hallo Sya" sapaku lirih setelah menarik tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.


Marsya: "ELLIZAAAA.. buka pintunya aku ada didepan pintu apartemenmu"


Melliza: "HAH?! APA!!!"


Aku terkejut setelah mendengar ucapan Marsya yang katanya sudah berada didepan pintu. Dan karna keterkejutanku itu berhasil mengusik tidur lelap mas David yang membuatnya sedikit gelisah. Mulutnya terbuka dan kepalanya kesana kemari seperti mencari letak kenyamanannya.


Langung saja aku masukin put*ngku kedalam mulutnya dan mengelus lembut rambutnya agar dia tertidur kembali.


Uluh uluuuh bayiku minta **** rupanya batinku cekikikan setalah mas David dengan kencangnya menyedot putngku dalam tidurnya.


Marsya: "Za! buru buka pintunya" suaranya Marsya mengintrupsiku kembali.


Melliza: "Eh.. Aku. aku lagi ga di apartemen Sya" sahutku bohong.


Tidak mungkin aku membiarkan Marsya masuk kedalam apartemenku dengan kondisi mas David yang sekarang sedang tidur bertelanjang tanpa kain yang menutupinya.


Marsya: "Loh! jam delapan malam gini kamu lagi dimana? dan tadi perasaan aku lihat ada mobilmu terparkir seperti biasa dibawah"


Melliza: "Aku ada urusan Sya dan aku memang tidak membawa mobil" jawabku kembali berbohong.


Marsya: "Kamu ada praktek?" tanyanya tiba tiba setelah diam beberapa saat.


Kamu memang selalu bisa memberikan jawaban sendiri atas pertanyaanmu sendiri Marsya batinku merasa lega tidak perlu lagi mencari alasan.


Melliza: "Iya.. Aku ada praktek" sahutku mengiyakannya.


Praktek ena enaan sama suami yang super mesum batinku mengusap pipi mas David yang masih mengemut.


Marsya: "Yaaaah.. padahal rencana aku mau menginap malam ini di apartemenmu" nada suaranya nampak kecewa.


Melliza: "Ooooh kamu mah menginap? lain kali saja ya Sya"


Marsya: "Ya sudah besok malam saja ya Za, aku bener bener kangen seranjang sama kamu"


qFlashback off


Benar benar sulit berkompromi dengan mas David. Ada saja alasanya yang membuat aku pusing.


*Tapi mas susah tidur kalau tidak sambil nete sama Clara.


Adek kecilnya mas juga suka bangun minta dimanja manja sama kamu.


Mas tidak mau tidur sendiri lagi Clara, mas maunya dikelonin sama kamu terus*.

__ADS_1


Melliza: "Mas David bisa berpuasa semalam saja kan? besok janji deh aku kasih lebih beneran" aku berusaha menawarkan diri.


David: "Memangnya kenapa sama malam ini? jangan bilang Clara mau ada janji sama Bagas"


Ya sifat cemburunya lagi kumat ini, kalau sampai salah bicara mas David bakal menangkapnya lain karna seorang pria kalau lagi sensitif kadang hanya memiliki satu kata definisi yaitu mengamuk yang dapet menjabarkan apa yang akan dilakukan berikutnya.


Melliza: "Nanti malam Marsya mau menginap disini jadi mas David tahan satu malam yah, besok aku kasih lebih ko. Ya?"


Mas David nampak berfikir dalam diamnya.


Melliza: "Besok aku yang main" kataku berusaha meyakinkannya.


David: "Beneran?"


Sudah pasti tergoda mas David akan ajuanku, dia itu selalu memintaku agar bermain aktif tidak hanya pasif dan menerima perlakuannya. Dia juga ingin aku yang menguasai permainan kita diatas ranjang, mencari kenikmatanku sendiri dan juga berusaha memuaskannya.


Aku hanya mengangguk pasrah untuk mengiyakannya agar nanti malam mas David tidak menginap sementara diapartemenku.


.


.


.


Dan aku yang sekarang tengah berbaring dengan mata yang tak kunjung terpejam karna teror mas David yang terus meminta jatahnya, beda halnya dengan seorang gadis ***** disebelahku ini. Marsya itu tipe gadis yang sekali nempel langsung molor, entah kemana mulutnya yang sedari tadi berkicau menceritakan semua masa lalu kita saat masih kuliah dulu.


Jarum jam di dinding apartemenku menunjukan pukul 10.25 WIB yang seharusnya kebanyakan orang sudah masuk ke kandang masing masing untuk beristirahat. Tapi beda halnya dengan suamiku itu, dia berkali kali mengirimkan pesan whatsapp padaku.


David: "Clara.. Mas pengin sekarang" pesannya.


Sedari tadi Marsya masih terjaga itu mas David sudah mengeluh meminta dikeluarkan hasratnya, tapi aku menolak beralasan Marsya sedang menginap di apartemen.


Melliza: "Besok ya mas David" send.


David: "Mas tidak tahan sayang, dibawah sana sempit dia ingin keluar dan bertemu denganmu Clara"


Melliza: "Mas pelepasan sendiri dulu saja ya" send.


David: "Tidak mau, mas mau kamu sekarang"


David: "Buka pintunya atau mas gedor supaya Marsya tau tentang hubungan kita"


Kan kalau sudah begini aku yang dipusingkan sendiri, berusaha cuek tidak menanggapinya pasti mas David benar benar akan menggedor tapi jika aku membuka pintunya bagaimana dengan Marsya?


David: "Clara masih tidak mau membuka pintunya?"


Melliza: "Iya iya.. ini aku mau buka tapi nanti jangan bersuara sama sekali ya, takutnya Marsya bangun" send.


Setelah mengirimkan pesan itu aku berjalan menjinjit berusaha untuk tidak mengeluarkan suara agar tidak membangunkan Marsya.


Aku tutup pintu kamarku agar setidaknya masih ada penghalang suara yang masuk kedalam kamar.


Setelah berjalan menuju pintu apartemenku dan membukanya langung nampaklah seorang pria yang kelihatannya sudah sangat tidak sabar.


"Ah"


Mas David langsung mendorong tubuhku dan menghimpitnya kedinding setelah menutup pintu.


Melliza: "Pelan" kataku lirih yang langung dianggukinya.


Mas David yang mungkin sudah menahannya terlalu lama langung begitu bernafsu setelah melihatku.


Lumatan bibirnya yang panas dengan lihainya mencium, menjilat dan mencecap bibirku bergantian.


Nafasnya begitu memburu dan panas saat terasa dikulit pipiku akan hembusannya.


Tangannya ikut bekerja seiring bibir dan lidahnya didalam mulutku. Telapak tanganya meraba dan menyentuh ke setiap inci lekuk tubuhku.


panas

__ADS_1


Kata itu yang menjabarkan aura didalam tubuhku.


Mas David yang sudah sangat tidak sabar membuat dia bahkan langung bermain inti. Dengan gelisah dia menarik CD ku yang memang kali ini aku memakai dress tidur, mas David juga langung membuka pengait celananya lalu menarik retsletingnya dan menurunkan celananya sampai sebatas paha.


David: "Ssssshhh.. Mas tidak kuat sayang, mas lakukan sekarang yah?" bisiknya panas di telingaku.


Melliza: "Pakai pelindungnya" kataku lirih mengingatkannya saat dia berusaha menuntun adek kecilnya.


David: "Mas tidak bawa" bisiknya yang sudah sangat terlihat gelisah.


Belum juga sempat menyela mas David langsung menarik kaki kiriku dan diangkat oleh tangan kanannya.


"Aahhhhh" desahku keluar setelah tertancap dengan sempurna milik mas David dalam tubuhku.


Ku perluk lehernya saat mas David mulai melancarkan aksinya. Tangan kananku melingkar di lehernya sedangkan tangan kiriku memegangi lengan kanannya yang mengangkat pantatku agar naik sejajar dengan miliknya.


Aku benamkan wajahku di bahunya sambil terus menahan agar desahanku yang biasanya tidak bisa tertahankan itu setidaknya jangan samapai keluar malam ini karna takut akan membangunkan seseorang yang masih lelap tertidur.


"Eh.. eh. eh. eh.."


Aku tau mas David juga ikut menahannya, tapi sekuat kita menahan tetap saja mulut kita mengeluarkan apa yang sekarang sedang kita rasakan.


Aku memperhatikanya yang sedang terpejam dengan kerut dikeningnya.


CUP


Ku kecup bibirnya hingga membuat mas David membuka matanya. Dia tersenyum dan terus mencari kenikmatannya.


CUP


Ku kecup lagi bibirnya.


David: "Nakal yah" bisiknya.


Mas David melepaskan miliknya lalu menurunkan kaki kiriku, kemudian dia membalikan tubuhku agar membelakanginya.


"Uuuuhhh"


Mas David menyodoknya dari belakang dan itu membuat aku langsung menggigit bibir bawahku akan sensasi baru lagi yang aku rasakan.


Tangan kiriku membungkam mulutku rapat rapat dan tangan kananku berpegangan pada dinding saat mas David mempercepat tusukannya.


Aku tersentak bahkan ingin menjerit saat mas David dengan kerasnya *** kedua payudaraku. Aku tau dia juga tersiksa sama sepertiku, sama sama harus menahan rasa yang ingin dikeluarkan dari mulut itu rasanya sangat menyiksa.


Huh huh huh..


Dera nafasnya sangat berat saat baru saja mendapat pelepasannya.


Melliza: "Sudah kan?" tanyaku lirih sambil berbalik badan kearahnya.


CUP


David: "Masih kurang"


Mas David melingkarkan kedua tanganku agar memeluk lehernya, sedangkan dirinya mengangkat pantatku dan mengarahkan kedua kakiku agar melingkari panggulnya.


David: "Mas pengin main disofa, kita belum pernah mencobanya" katanya setelah membaringkan tubuhku diatas sofa depan Tv.


Kita memang saling membungkam mulut agar tidak mengeluarkan suara suara dahsyat yang melantun begitu indah jika saling bertautan. Tapi dibawah sana bagaimana mungkin kami bisa menutupinya, milikku yang sudah sangat becek dan banjir itu membuat milik mas David dengan mudahnya masuk bagaikan diberi pelumas. Decakan penyatuan kami sungguh sangat terdengar jelas apalagi saat mas David terus memaksa miliknya agar lebih dalam lagi hingga menyentuh dinding rahimku. Bahkan keheningan diruang Tv ini bukan hanya diisi suara penyatuan kami, setiap hentakkan hentakkan yang dibaut olehnya menimbulkan bunyi dari kulit kami saat bertemu.


Bagaikan paduan suara yang melantun indah membuat nafsu kita sama sama semakin membuncah naik dan tak terkendali. Keringat itu terjun bebas dari pelipis matanya mengenai pipiku yang berada dibawahnya.


Enak, nikmat dan bikin nagih


Permainan panas mas David kali ini benar benar berbeda dari malam malam sebelumnya. Membuat aku rasanya sangat beruntung memiliki suami ya meski suami rahasia tapi tetap saja dia jago main bahkan bukan hanya diatas ranjang. Dia berhasil memuaskan nafsuku yang sebelumnya sama sekali tidaj ada menjadi sangat bergairah jika sudah dipancing olehnya disetiap malamku.


Melliza: "Baru satu setengah jam main saja sp*rmanya sudah berserakan dimana mana, apalagi main sampai pagi.. bisa bisa apartemenku isinya benihnya mas David semua disetiap sudut" gumamku.


Setelah kepergian mas David yang menampakan senyum jumawahnya penuh kepuasan, aku putuskan mengelap semua sisa sisa benih mas David yang berceceran dilantai dan disofa.

__ADS_1


Aku mengelapnya penuh ketelitian agar bersih dan tidak meninggalkan sisa sama sekali agar Marsya tidak dapat menemukan sisa kenikmatan mas David.


"Kamu lagi apa Elliza?"


__ADS_2