
Rasanya kini Ayumi sangat malas untuk datang ke sekolah apalagi dengan keadaan sekolahnya yang kini. Karena kini ia malah selalu menjadi objek bully dari teman-temannya. Tak hanya Abi saja yang kini membullynya, bahkan banyak murid dari sekolahnya yang ikut membully Ayumi dan itu sangat menjengkelkan untuknya. Ayumi sama sekali tidak takut. Hanya saja rasanya begitu malas jika harus selalu menanggapi apa yang mereka lakukan pada Ayumi.
Namun mau bagaimana lagi? Bahkan belum sampai satu semester kini ia berada di sekolah tersebut tidak mungkin ia akan pindah lagi ke sekolah lain hanya karena bully yang ia dapat. Tidak, Ayumi tidak akan melakukan itu. Ia tidak ingin orang-orang malah menganggapnya adalah gadis yang lemah dengan langsung pindah setelah mendapatkan bully dari teman-temannya.
Ayumi jelas tidak akan melakukan itu karena keberanian dan harga dirinya begitu tinggi untuk gadis itu sendiri. Jadi ia tidak akan menyia-nyiakan semua ini hanya karena perlakuan yang ia dapat. Namun juga Ayumi tidak akan diam saja, tentu ia akan melawan jika ada yang telah berbuat berlebihan.
Dengan langkah malasnya kini Ayumi berjalan menuruni tangga menuju ke arah ruang makan yang ternyata kini sudah ada ibunya yang menunggu gadis itu.
“Morning Bunda,”sapa Ayumi saat ia berada di depan ibunya itu.
Melihat kedatangan anaknya Mutia tersenyum ke arah anaknya itu. Kini Mutia hanya sendiri berada di ruang makan atau tepatnya hanya berdua dengan anaknya itu karena kini suaminya tengah berada di luar kota.
“Kenapa nih masih pagi udah kelihatan lesu aja?” tanya Mutia pada anaknya itu yang kini sudah duduk di mejanya sendiri. Ayuni menghembuskan nafasnya kasar bingung harus menjawab apa pertanyaan ibunya itu.Karena jelas ia tidak akan menceritakan yang sesungguhnya pada sang ibu.
“Nggak papa sih mah cuman lagi PMS aja,” jawab Ayumi. Tak sepenuhnya berbohong karena kini ia memang sedang PMS. Mutia menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban dari anaknya itu.Iia adalah ibunya jadi tentu ia mengetahui jika ada yang tidak beres dengan anaknya itu dan kini Ayumi tidak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada gadis itu.
__ADS_1
Meskipun Mutia ingin mengetahui yang sebenarnya namun ia memilih untuk menyimpannya terlebih dahulu dan menanyakannya nanti saja saat anaknya itu pulang sekolah agar tidak semakin membuat Ayumi merasa bad mood.
Ayumi kini memilih memakan makanannya dengan lahap dan terburu-buru ia ingin berangkat sepagi mungkin dan membiarkan dirinya untuk terus berada di dalam kelas tanpa harus terlibat interaksi dengan orang di luar kelasnya. Meskipun sebagian teman kelasnya juga ada yang tidak menyukai Ayumi atas tindakan yang ia lakukan namun tak sedikit juga yang bersikap biasa saja pada Ayumi dan merasa jika Ayumi tidaklah salah karena ia lakukan hanya sebuah bentuk pembalasan untuk Abi.
“Aku udah selesai nih mah Aku berangkat duluan ya,” ucap Ayumi untuk berpamitan pada ibunya itu. Ayumi menyalami tangan ibunya setelahnya ia segera pergi menuju ke arah garasi rumahnya mengambil kendaraannya di sana.
***
Seperti yang sudah-sudah kini saat Ayumi baru saja turun dari mobilnya bahkan sudah ada saja yang membicarakannya. Ayumi menghembuskan nafasnya kasar berusaha untuk tidak memperdulikan mereka dan segera berjalan menuju kelasnya sebelum ia harus bertemu dengan Abi yang malah akan semakin membuatnya kesal dengan tingkah laki-laki tersebut dan juga pada akhirnya dengan para murid yang malah ikut membullynya.
Baru saja Ayumi akan membuka pintu kelasnya namun Kitri yang baru datang langsung menarik tangan Ayumi. Namun terlambat Ayumi malah ikut menarik pintu kelasnya sekaligus hingga kini mereka berdua terkena cipratan air yang berada di atas pintu.
Ayumi memejamkan matanya berusaha untuk menahan amarahnya yang siap untuk meledak ia jelas tahu siapa yang sudah melakukan semua ini memangnya siapa lagi yang bisa melakukan ini jika bukan Abi?
“Lu ngapain ikut narik gue? lihat lu ikutan basah kan?” ucap Ayumi pada sahabatnya itu yang kini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Udah nggak apa-apa gue juga ada baju ganti kok di loker ini juga nggak terlalu basah sih sebenarnya,” ucap Kitri pada sahabatnya itu berusaha untuk menenangkan Ayumi yang kini menghembuskan nafasnya kasar. ini masih pagi namun Abi sudah berulah dan membuatnya kesal pagi ini. Lihat saja bahkan apa yang kini Abi lakukan padanya tidak mengubah persepsi orang lain. Jika apa yang Ayumi lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang telah Abi lakukan padanya, di mata mereka tetaplah Abi yang benar dan Ayumi yang salah. Ingin sekali rasanya Ayuni memberikan pelajaran untuk mereka semua namun jelas semua itu tidak akan berguna dan malah yang ada Ia yang semakin dibully.
“ Wah masih pagi udah ada yang basah-basahan aja nih belum mandi lo?” suara yang begitu keras diiringi dengan tawa itu membuat Ayuni kini menoleh ke arahnya dengan Tatapan yang begitu tajam.
“ Duh takut gue ngeliat tatapan lu,” ucap laki-laki itu lagi dengan tawanya Ayumi menghembuskan nafasnya kasar lalu tersenyum ke arah laki-laki tersebut untuk menyembunyikan rasa kesalnya agar Abi, laki-laki yang kini tengah mentertawakannya itu tahu jika ia tidaklah terpengaruh dengan semua ini walau jelas terlihat Kak Ayumi memang Tengah kesal pada laki-laki itu.
”Gue mah udah mandi cuman ada aja orang iseng yang belum mandi tapi ngajak-ngajakin gue buat mandi pagi ini. Orang Gabut gitu biasa nggak ada kerjaan jadinya pagi-pagi udah nyiapin air buat nyambut gue.” Ayumi tersenyum dengan begitu sinisnya pada laki-laki di depan itu yang kini hanya tertawa mendengar jawaban Ayumi.
“Gabut? kurang kerjaan? Iya gue emang nggak kerja beda kan sama cowok lu itu yang pengusaha?” Ucap Abi yang kini membuat Ayumi mengurutkan keningnya Mendengar siapa yang Abi maksud. Apakah yang Abi maksud adalah Niclas?
“Terserah lo. Pagi-pagi udah ngerugiin orang aja lo,” kesal Ayumi yang setelahnya langsung membawa Kitri untuk pergi dari sana dan menuju ke arah loker untuk mengganti pakaian mereka yang sudah kotor karena terkena cipratan air yang Abi siapkan untuk Ayumi. Air yang Abi siapkan memang lah air bekas pel.
Laki-laki itu memang begitu niat menyiapkannya untuk Ayumi.Abi mengepalkan tangannya namun setelah nya Abi kini malah mengikuti Ayumi.
***
__ADS_1