First Love Casanova

First Love Casanova
Akhir?


__ADS_3

Abi kini menatap soal di depannya dengan serius. Kini adalah hari terakhirnya untuk mengikuti ujian nasional. Ini juga mapel terakhirnya. Abi berusaha untuk mengerjakannya dengan serius. Mapel peminatan yang Abi ambil adalah Fisika karena memang ia cukup menyukai pelajarannya ini.


Di ruangannya kini tak hanya ada pengawas ujian namun juga ada ayah nya yang berjaga.


Awalnya semua berjalan dengan lancar dan mudah untuk Abi. Meskipun ia juga harus banyak berpikir untuk menentukan rumus yang digunakan.


“Abi kalau merasa gak kuat kita istirahat dulu ya,” ucap Mario pada anaknya itu. Abi yang mendengar ucapan Ayah nya kini hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Papa tenang aja, Abi baik-baik aja,” ucap Abi dengan senyumannya.


Sebenar nya kini Mario begitu tak tega melihat anaknya itu. Keadaan Abi yang semakin memburuk membuat Mario takut terjadi sesuatu pada anaknya itu saat Abi harus banyak berpikir. Namun Abi malah bersikeras untuk tetap mengikuti ujian. Meskipun kemarin saat ujian matematika ia sempat mimisan namun beruntung Abi kondisi Abi tidak semakin memburuk.


Pengawas yang sekarang menjaga Abi segera berjalan ke arah Abi untuk memeriksa soal laki-laki tersebut.


“Masih banyak waktu kok Dikerjain pelan-pelan aja,” ucap pengawas tersebut menasihati. Abi hanya menganggukkan kepalanya dan mulai serius mengerjakan soal di depannya itu.


Abi kini mulai fokus kembali dengan soal di depannya. Namun tiba-tiba saja saat ia sedang serius mengerjakan soal di depannya. Kepalanya kini terasa begitu sakit. Abi memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakit itu. Ia tak ingin membuat ayah nya itu khawatir dan Abi masih ingin mengerjakan soalnya hingga selesai.


“Ayo Bi lo kuat,” batin Abi pada dirinya sendiri. Abi kembali fokus mengerjakan soal di depannya meskipun kepalanya kini sudah begitu sakit. Ia ingin mengerjakannya sebaik mungkin.


Waktu terus berjalan dan Abi masih mengerjakan soalnya mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang semakin lama malah semakin sakit.


Hingga saat tersisa satu soal lagi, Abi rasanya sudah tak kuat menahan sakit dikepalanya. Bahkan hidung nya kini sudah mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang menetes di atas laptop nya.


“Abi,” suara pekikan dari ayah nya itu yang terakhir kali Abi dengar. Hingga kegelapan lah yang selanjut nya mengambil alih.

__ADS_1


***


Ayumi baru saja keluar dari ruangannya. Kini akhirnya mereka bisa bernafas lega karena akhirnya kini mereka sudah selesai dengan yang mereka.


“Ay mau main gak? Kapan lagi kan kita bisa main bareng lagi,” ajak Kayana pada Ayumi saat mereka kini berjalan keluar dari ruangan ujian mereka.


“Sorry banget ya, hari ini gak bisa dulu,” ucap Ayumi pada sahabat nya itu.


“Yah Ay, udah lama loh kita gak main bareng,” ucap Kitri yang kali ini ikut menanggapi Memang benar semanjak Ayumi mengetrahui ika Abi berada di ruamh sakit. Ayumi tidak pernah mau diajak oleh sahabat-sahabat nya itu untuk bermain sepulang sekolah. Ia akan lebih memilih untuk menemani Abi di rumah sakit.


“Sorry banget ya,” ucap Ayum merasa tak enak hati sahabat nya itu. Mereka akhirnya hanya bisa menghela nafas kasar dan memaklumi saja.


“Ya udah lah. Mungkin next time,” ucap Kayana akhirnya. Ayumi yang mendengar ucapan sahabat nya itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia merasa tak enak hati harus menolak ajakan dari sahabatnya itu.


“Ayumi,” suara panggilan itu membuat Ayumi menoleh saat di lihat nya Abqa juga sahabat Abi yang kini berari ke arah nya. Ayumi yang melihat itu mengerutkan kening nya.


“Kita pergi sekarang,” ucap Abqa dengan begitu tegas nya membuat Ayumi kini sontak menegang melihat bagaimana ekspresi Abqa. Jantung nya kini berdetak tak terkendali. Kini ia begitu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Abi.


“Abi baik-baik aja kan?” tanya Ayumi pada Abqa dengan tatapan penuh tanya nya. Wajah nya pun kini sudah berubah sendu. Sahabat Ayumi yang mendengar ucapan Ayumi kini mengerutkan kening nya bingung namun belum sempat mereka bertanya. Kini Abqa malah sudah lebih dulu menariknya.


Di koridor sekolah kini kelima remaja beranjak dewasa itu berjalan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Tentu saja hal itu kini membuat banyak tanya bagi para murid. Saat sampai di parkiran. Mereka segera menuju kendaraan mereka masing-masing. Dan selanjutnya melakukannya dengan kecepatan tinggi.


“Abi baik-baik saja kan Abqa?” tanya Ayumi pada Abqa yang kini hanya diam saja karena tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tak ingin membuat Ayumi khawatir pada Abi.

__ADS_1


“Kita berdoa aja ya,” ucap Abqa akhirnya pada Ayumi. Ayumi yang mendengar ucapan Abqa memejamkan matanya. Kini ia tahu ada yang tidak beres dengan tunangannya itu.


Tak lama mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Ayumi lebih dulu keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Abqa juga sahabatnya yang lain. Kini tujuannya hanya lah Abi. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak menetes.


Saat sampai di ruangan Abi. Di dalam depan ruangan Abi sudah ada kedua orang tua mereka. Bahkan ayah dan ibu Ayumi juga sudah ada di sana.


Dengan langkah gontai kini Ayumi berjalan menuju ke arah orang taunya. Melihat kedatangan Ayumi kini Sarah seera memeluk anaknya itu.


“Abi gimana Ma?” tanya Ayumi pada Ibu.


“Kita tunggu sambil doa ya,” ucap Sarah pada Ayumi. Ayumi yang mendengar ucapan ibunya kini sudah menangis. Sarah tak tega melihat anaknya itu semakin mengarahkan pelukannya pada anaknya itu.


Tak lama dokter yang memeriksa Abi keluar bersamaan dengan sahabat Abi juga Abqa yang baru sampai.


Dengan wajah lelah nya kini dokter tersebut keluar bersama dengan dokter yang lain juga perawat yang mengikuti.


“Bagaimana keadaan Abi dok?” tanya Mario pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Abi.


“Maaf tapi kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Tanggal kematian 2023 Bulan 2 tanggal 4 hari Jum’at, jam 12.44 WIB,” ucap Dokter tersebut yang kini berhasil membuat Ayumi lemas. Kin gadis tersebut sudah terduduk di lantai. Ia hanya menangis, tak ada suara dalam tangisnya. Ia seperti tengah menerka apa semua ini nyata?


Ayumi seolah masih berharap jika ini hanya mimpi saja.


Tanis Ibu Abi kini sudah meledak dalam pelukan suami nya yang kini juga ikut menangis karena kini ia harus kehilangan salah satu anaknya.


Abqa kini masih membeku dengan lemas kini ia terduduk di kursi tunggu. Sahabat nya pun kini sama-sama membeku saling memejamkan matanya masih tak menyangka jika kini mereka kehilangan sahabat mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2