
Hari ini adalah jadwal olahraga untuk kelas Ayumi, dan kini gadis tersebut sedang berganti pakaian di taoilet hingga telinganya tanpa sengaja mendengar percakapan di samping toilet, tepatnya di gedung samping.
Suara tersebut terdengar begitu familiar di telinga Ayumi, seperti suara seseorang yang kerap kali menganggunya, yang tak lain adalah suara Abi dengan seorang gadis. Ayumi menajamkan pendengarannya, menempelkan telinga ke arah dinding agar ia bisa mendengar dengan jelas.
Katakan ia tak sopan mendengar pembicaraan orang lain, tapi kini ia merasa begitu penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
"Aku denger kamu mutusin semua pacar kamu selain aku," ucap gadis tersebut dengan suara nya yang begitu lembut. Bisa Ayumi pastikan kini gadis tersebut tengah menampilkan senyum kemenangan.
Ayumi berdicih mendengarnya, laki-laki seperti Abi memutuskan kekasihnya dan hanya menyisakan satu kekasih? Suatu hal yang mustahil karena sampai tadi pagi saja buktinya laki-laki itu masih saja mengganggunya.
"Ya," ucap Abi dengan nada sombongnya yang membuat Ayumi rasanya ingin muntah mendengarnya.
Ucapan buaya tak ada yang dapat di pegang, namun jika benar Ayumi sangat berdoa agar laki-laki itu juga melepaskannya dan membiarkannya hidup tenang tanpa gangguanm laki-laki tersebut.
"Apa semua ini karena aku?" tanya gadis itu dengan senyuman malunya. Tingkat kepercayaan dirinya kini begitu tinggi karena Abi hanya mempertahankannya saja.
"Lo bercanda? Ya engga lah, semua gue putusin ya karena Ayumi. Sementara karena Ayumi belum bener-bener nerima gue, jadi ya lo gue pertahanin seenggaknya gue gak jomlo," ucap Abi dengan santainya membuat gadis di depan terdiam seketika. Ucapan Abi begitu jujur tampa mempedulikan perasaaan gadis di depannya itu. Apa dia pikir gadis itu tak memiliki perasaan?
Ayumi yang mendengarnya pun tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Abi, apa Abi serius dengan ucapannya? Seketika Ayumi tersenyum mendengarnya entah bagaimana bagai ada gelenyar di hati gadis itu saat mendengar Abi mengatakan itu demi dirinya. Bahkan pipiya kini sudah bersemu merah dengan detak jantung nya yang sudah berdetak tak karuan.
Ayumi menggeleng menepis apa yang ia rasakan jauh-jauh. Tidak, ia tak boleh termakan ucapan buaya tersebut, ucapan laki-laki tersebut tak ada yang bisa di percaya. Dan jika yang laki-laki itu katakan hanya untuk membuatnya di tindas oleh kekasih dan mantan kekasih Abi, bisa gadis itu pastikan ia akan membawa kucing nya untuk Abi.
Dengan iseng Ayumi menaiki kloset untuk memelihat orang di sebrang yang sudah tidak bersuaru, berpikir apakah mereka sudah pergi atau belum. Namun saat melihat keluar melalui jendela ia begitu terkejut melihat adegan yang kini tengah ia lihat.
__ADS_1
Abi tengah berciuman dengan gadis yang ua ketahui bernama Rawny. Ayumi membekap mulutnya, menatap tak percaya pada pandangan di depannya. Sudah ia duga ucapan Abi hanya sebuah omong kosong belakang. Entah mengapa melihat hal tersebut membuat Ayumi kesal, tidak bukan karena Abi yang tengah berciuman dengan gadis lain melainkan pada ucapan Abi ya, ya itu yang kini ia yakini.
"Ayumi lo lama banget, udah belom?" tanya Kayana di luar bilik kamar mandi sambil menggedor pintu kamar mandi dengan tidak sabarannya pasalnya memang Ayumi sudah sangat lama berada di kamar mandi.
"Udah, bentar," jawab Ayumi dari dalam kamar mandi. Ia memang sudah selesai berganti pakaian dan hendak keluar sebelum ia mendengar suara Abi.
Tak lama setelah memastikan tak ada yang salah dengan penampilannya, gadis tersebut segara keluar untuk menemui temannya itu. Di luar kamar mandi sudah ada Kayana dan Kitri yang dengan setia menunggunya dengan wajah kesalnya.
"Hehe sorry guys tadi ada panggilan alam dulu," alibi Ayumi yang memang lebih memilih berganti pakaian di kamar mandi dari pada di ruang ganti karena ruang ganti yang penuh.
"Ya udah yok langsung ke lapangan aja ngeri kalo telat tar di hukum sama pak Putra," ucap Kitri yang langsung mengajak sahabatnya yang lain berjalan beriringan menuju lapangan.
"Alah lo mah bukannya takut di hukum, tapi takut jatah mantengin pak Putra berkurang," sanggah Ayumi yang memang benar adanya. Karena memang guru olah raga mereka masih begitu muda, mungkin berumur dua puluh lima tahun dan guru tersebut memang memiliki wajah yang tampan hingga banyak murid yang menyukainya.
Ayumi dan kedua temannya langsung saja masuk ke barisan dan setelahnya mereka langsung berdoa sesuai keyakinan mereka masing-masing. Baru setelah berdoa mereka pemanasan.
"Ayumi. Ayo pimpin pemanasan karena tadi kamu telat," ucap pak Putra memerintahkan Ayumi yang langsung membuat mata gadis itu memelotot. Pasalnya hanya ia yang di panggil, padahal kedua sahabat nya juga terlambat.
"Kitri sama Kayana juga kok pak," ucap Ayumi sambil menjadikan sahabatnya teman dala hukumannya kali ini.
"Ya udah ayo bertiga," ucap pak Putra sambil memanggil ketika nama siswi nya itu yang langsung maju. Setelahnya mereka memulai pemanasan di mulai dari mengangkat kepala ke atas, di lanjut dengan gerakan kepala yang lainnya, lalu gerakan pada tangan, kaki, dan terakhir kombinasi.
"Sekarang kalian lari tiga kali putaran," ucap pak Putra yang kembali memerintahkan yang langsung di balas dengan seruan malas oleh para siswi yang malah kepanasan dan lelah berlari.
__ADS_1
"Yah pak," seru semua siswi dengan wajah melasnya.
"Ayo deh gak usah pada manja jadi cewek," ucap salah satu laki-laki dari kelas XI IPA 1, kelas yang berada dalam jam olah raga yang sama dengan kelas Ayumi.
"Bacot lo Anying," sarkas Kayana dengan kesal pada laki-laki tersebut yang kini hanya menyengir kuda setelah di tatap tajam oleh para gadis.
"Sudah-sudah cepat lari sekarang atau akan saya tambah menjadi lima kali putaran," ancam Pak Putra hingga mereka hanya bisa menurut dan mulai berlari tak ingin jika hitungan lari mereka harus di tambah lagi mengingat lapangan sekolah mereka yang sangat luas. Bahkan jika akan di buat dua rumah ukuran besar akan cukup.
Setelah selesai berlari dengan napas yang tak teratur mereka mulai mencari tempat duduk di tempat yang dingin. Ayumi dan teman sekelasnya yang lain duduk di bawah pohon besar di pinggir lapangan dengan kaki yang berselonjor.
"Hari ini akan saya tes untuk ketahanan daya tahan tubuh jadi nanti akan ada push up, sit up, back up, kalian bisa memilih pasangan masing-masing. Ayumi kamu bisa dengan saya," ucap Pak Putra yang langsung mendapatkan sorakan dari murid lainnya. Memang banyak yang mengira jika Putra menyukai Ayumi. Memangnya siapa yang tak akan menyukai gadis cantik tersebut?
"Bapak belum pernah ditabok Abi nih pasti," ucap salah satu siswa yang cukup sadar diri atau lebih tepatnya takut untuk mendekati Ayumi, pada Putra. Memperingatkan guru tersebut agar tidak mengganggu milik Abi.
"Gak papa pak gas aja, Abi mah banyak ceweknya," ucap Kayana yang mendukung hubungan murid dan guru tersebut. Ayumi yang mendengar hal itu hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan teman-temannya itu.
"Saya juga ikhlas kok pak, kalo bapak sama Ayumi," ucap Kitri dengan wajah sedihnya yang membuat Ayumi mual melihatnya.
Entah mengapa server temannya pada macam iblis seperti ini, padahal Ayumi adalah seorang bidadari. Mereka seolah mendukung siapa saja yang sedang berada di dekat mereka. Jika itu Abi maka mereka juga akan mendukung Abi.
"Sudah-sudah, apa yang kalian bicarakan ini? Ayo cepat kita mulai penilaian nya," ucap pak Putra dengan tegasnya membuat mereka berhenti bersuara dan mulai penilaian dengan tenang.
Tak sampai selesai ketenangan itu berjalan, saat mereka sedang Sit up tiba-tiba saja suara pukulan dan jeritan terdengar membuat mereka kini menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
***