
Sebuah mobil berwarna hitam kini melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang kini tampak tak begitu lengan. Gelap nya malam dan dingin nya udara kini menemani mereka.
“Tutup jendela nya, udah malem dingin,” perintah Abqa pada Ayumi yang kini malah membuka jendela mobil sambil menyandarkan kepalanya pada sisi jendela. Abqa yang melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Masih pengen kayak gini, seger banget,” ucap Ayumi dengan senyumannya yang kini membuat Abqa menarik Ayumi lalu menutup jendela mobilnya dari tombol yang berada di dekat nya. Ayumi yang melihat hal tersebut kini menghembuskan nafas nya kasar dan menatap Abqa dengan kekesalannya.
“Dasar ngeselin,” ucap Ayumi dengan kekesalannya pada Abqa yang sama sekali tidak dipedulikan oleh laki-laki tersebut yang kini malah dengan santainya tetap mengemudikan mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang.
“Berapa bulan lagi kamu ada di bedah saraf?” tanya Abqa sambil melihat sekilas ke arah Ayumi yang kini tampak berpikir. Terlalu betah berada di sana bahkan sampai membuatnya lupa jika setelah ini ia juga harus magang di divisi lain.
“Kayaknya satu minggu lagi, nggak rela banget sebenarnya mau pindah divisi,” ucap Ayumi dengan hal-hal nafasnya yang membuat Apakah kini mengelus Puncak kepala baris tersebut dengan begitu rambutnya.
“Nanti kalau udah jadi dokter juga bakalan Stay disana,” ucap Abqa berusaha untuk menenangkan gadis tersebut yang kini menghembuskan nafasnya kasar sambil melakukan kepalanya setuju mendengar ucapan Abqa.
“Udah jangan sedih lagi kamu jelek kalau lagi sedikit itu,” goda Abqa yang membuat Ayumi kini membelalakkan matanya sambil menatap Abqa dengan kekesalannya.
“Orang cantik ini dibilang jelek,” ucap Ayumi dengan kekesalannya yang hanya membuat Abqa kini terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya deh si paling cantik,” ucap Abqa hingga Ayumi kini malah salting. Terlihat dari pipi nya yang kini sudah bersemu merah.
“Tuh kan kedinginan. Sampai merah gitu pipi nya,” goda Abqa dengan tawa kecil nya pada Ayumi yang kini dengan kesal memukul lengan Abqa.
__ADS_1
“Ngeselin banget,” Kesel Ayumi.
Lama mereka berada di Jalan kini akhirnya mereka sampai di depan rumah Ayumi. Ayumi baru saja pulang dari rumah sakit karena kini ia ada operasi yang harus diikuti oleh nya. Sekedar melihat nya. Hingga membuat nya baru bisa pulang pukul 20.12.
“Sampai rumah langsung tidur,” pesan Abqa pada Ayubi saat ini sudah sampai di depan rumah Ayumi. Ayumi yang mendengarnya gini hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah laki-laki di sampingnya tersebut.
“Kamu nggak mau mampir?” tanya Ayumi pada Abqa yang kali ini menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari gadis tabungan tersebut.
Ayumi hanya menganggukkan kepalanya singkat lalu setelahnya ia segera keluar dari mobil tersebut. Sebelum memasuki rumahnya Ayuni menyempatkan dirinya untuk Melambaikan tangannya pada Abqa setelahnya barulah kini ia segera masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan jika Ayumi aman sampai ke dalam rumahnya barulah kini Abqa melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ayumi.
Kini ia juga begitu lelah karena harus lembur di kantor nya. Sebelum nya Abqa pikir setelah ia melanjutkan kuliah nya ia tak perlu untuk mengerjakan pekerjaan kantor nya. Nyatanya ia salah, ia malah tetap saja harus menyelesaikan pekerjaan kantor nya.
Saat Abqa kini tengah melajukan mobilnya membelah jalan yang berada di depannya tiba-tiba saja dari kejauhan ia tak sengaja melihat seorang gadis yang kini dengan mengabaikan tangannya. Melihat hal tersebut kini Abqa dengan segera menghentikan laju mobilnya apalagi saat melihat keadaan wanita tersebut yang kini terlihat tengah membawa bayi kecil.
“Mas tolong saja, anak saya sakit saya gak punya kendaraan untuk bawa anak saya ke dokter. Saya juga gak punya uang untuk membawa anak saya dengan taksi,” ucap nya dengan air mata nya yang kini terlihat mengalir membasahi pipi mulus nya.
“Ayo masuk biar saya bantu untuk bawa ke rumah sakit,” Uca Abqa sambil membantu ibu tersebut membawanya masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan Abqa bisa melihat interaksi ibu dan anak tersebut. Wanita yang berada di sampingnya itu kini terlihat berusaha untuk menenangkan anaknya yang menangis.
“Sabar ya Sayang sebentar lagi kita akan sampai,” aku ucapnya sambil mencium bocah yang berada dalam gendongan itu. Abqa sesekali melihat interaksi tersebut membuat nya tak tega melihat hal tersebut.
__ADS_1
Hingga tak beberapa lama kini mereka akhirnya sampai di depan rumah sakit besar yang tak lain adalah milik keluarga Abqa. Melihat rumah sakit mewah dan besar di depan nya kini malah membuat wanita di samping Abqa itu enggan untuk turun.
Abqa yang melihat hal tersebut kini menaikkan sebelah alisnya bingung.
“Kenapa?” tanya Abqa dengan kebingungannya.
“Saya gak punya uang Mas. Di sini pasti bayar nya mahal, bantu saja cari puskesmas atau dokter yang murah aja Mas,” ucap wanita tersebut yang membuat Abqa kini memutar bola matanya malas mendengar nya.
“Gak papa, ini rumah sakit punya gue. Biar gue yang urus,” ucap Abqa berusaha untuk menenangkan wanita di samping nya itu yang kini masih tampal terdiam karena mereka sudah terlalu merepotkan Abqa.
“Ayo turun ngapain masih diem aja? Mau anak lo makin kesakitan?” tanya Abqa dengan begitu sarkas nya. Wanita tersebut menggelengkan kepalanya dengan tegas. Tentu saja ia tak ingin hal tersebut terjadi.
Berusaha untuk menekan rasa malu nya kini ia harus pikirkan adalah anaknya. Hingga akhirnya kini dengan segera ia keluar dari mobil dan mengikuti Abqa.
Saat mereka kini memasuki rumah sakit bersamaan banyak yang melihat orang mereka dalam catatan pengetahuannya.
“Bantu mereka biaya biar jadi urusan saya,” ucap Abqa dengan begitu tegasnya pada bunganya yang kini melakukan kepalanya setelahnya bayi berusia 7 bulan tersebut segera dibawa menuju ke UGD untuk dilakukan pemeriksaan.
“Pak Terima kasih karena sudah membantu saya, Saya nggak tahu lagi harus membalas kebaikan bapak gimana,” ucap wanita tersebut yang kini hanya membuat Abqa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari wanita di depannya tersebut.
“Tunggulah anak kamu di sini, gue pergi dulu. Besok gue balik lagi,” ucapkan selalu setelahnya ia segera pergi dari sana karena hari yang sudah mulai malam dan ia pun juga sudah begitu lelah ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
__ADS_1
Apalagi besok dia masih harus berangkat kuliah dan menjemput gadis yang begitu dicintai tersebut. Wanita tadi yang melihat kepergian Abqa kini hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Entah dengan cara apalagi ya harus membalas kebaikan tersebut. Yang jelas gini ya begitu berterima kasih kepada laki-laki tersebut.
***