
Seorang laki-laki dengan wajah datar dan tatapan tegas nya ini baru saja keluar dari bandara. Aura misterius dengan wajah tampannya kini membuat laki-laki tersebut menjadi pusat perhatian. Namun laki-laki itu sama sekali tidak peduli dan tetap berjalan dengan wajah tegas nya.
Saat sampai di depan bandara laki-laki itu segera mencari taksi. Beruntung tak lama untuk nya mendapatkan taksi. Setelah duduk dengan nyaman di posisinya kini laki-laki itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi kembarannya. Laki-laki itu adalah Abqara, kakak kembar Abi.
Tak membutuhkan waktu lama untuk menghubungi saudara kembar nya setelah di dering kelima Abi segera menjawab panggilan dari kembarannya itu.
“Lo dimana?” tanya Abqa setelah panggilannya dijawab oleh kembarannya itu. Abqa memang bukan orang yang suka basa basi.
“Gue di jalan. Mau jemput pacar gue, kenapa?” tanya Abi di seberang sana. Memang Abqa dapat mendengar suara deru motor dari pengendara lain.
“Cepat pulang bentar lagi hujan. Lo juga hati-hati jangan ngebut,” ucap Abqa dengan begitu perhatiannya pada adiknya itu.
“Lo pulang?” tanya Abi di seberang sana dengan begitu bersemangat nya yang hanya dijawab dengan dekheman oleh Abqa.
“Ok ok tunggu gue. Gue mau jempung yang mulia ratu dulu,” ucap Abi yang kini melah membuat Abqa menggeleng melihat tingkah kembarannya itu.
“Hm,” jawab Abqa yang setelah nya langsung menutup panggilan teleponnya. Abqa hanya menggeleng melihat tingkah adik nya itu.
Ia dan Abi memang banyak beda nya. Abi yang begitu banyak berbicara dan ia yang cuek dan dingin. Mereka memang begitu berbanding terbalik.
Selama ini Abqa memang jarang bertemu dengan keluarganya karena ia harus tinggal di luar negri. Dan kini saat datang adik nya itu malah sibuk dengan kekasih nya. Sebelumnya Abqa memang sudah mendengar jika Abi memiliki kekasih yang ingin diajak serius. Sebelumnya Abqa tak menyangka jika akhirnya adiknya itu memiliki kekasih juga karena yang ia tahu sebelumnya adiknya itu memiliki banyak kekasih dan kini akhirnya Abi memiliki kekasih yang ingin terus ia pertahankan dan begitu ia cintai.
__ADS_1
Selama perjalanan Abqa memilih untuk membaca buku tentang bisnis. Abqa memang lebih suka membaca untuk menghabiskan waktu luang nya. Hujan yang kini turun begitu deras membuat Abqa mengalihkan perhatiannya pada hujan yang kini turun dengan deras nya.
“Musim sekarang lagi gak nentu Mas, ini tumben banget hujannya deres gini,” ucap supir taksi di depan Abqa yang kini membuat Abqa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan supir taksi tersebut.
Setelah nya Abqa kembali membaca buku nya. Namun tak lama suara dentuman yang begitu keras bersamaan dengan suara supir taksi yang kini memikat.
“Ya allah,” teriak nya yang membuat Abqa kini sontak menatap ke arah depan. Di mana sebuah motor sport berwarna hitam kini terlindas sebuah truk kontainer dengan pengendara nya yang terpental menghantam bahu jalan.
“Mas nya buru-buru. Di depan ada kecelakaan mas,” ucap supir taksi tersebut sedangkan Abqa kini menatap lurus ke arah pengendara yang tengah dievakuasi tersebut. Tatapannya kini menajam saat melihat wajah pengendara motor yang helm nya bahkan sudah terpental itu.
“Abi,” ucap Abqa dengan tatapan sendunya. Kini dengan segera Abqa turun dari taksi nya. Supir taksi tersebut yang melihat nya segera menepikan mobil nya lalu mengikuti penumpangnya itu.
Abqa kini sudah berlari dan saat sampai di depan kembarannya ia segera berlutut dan menatap kembarannya itu dengan tatapan sendu nya.
“Gue gak tau gue bisa bertahan atau engga. Tapi tolong jagain pacar gue, Ayumi. Jangan kasih tau dia kendisi gue. Gue gak mau liat dia sedih,” ucap Abi yang masih saja memikirkan tentang kekasih nya di saat seperti ini.
“Jaga pacar lo sendiri,” ucap Abqa dengan tegas pada Abi.
“Bantu saya bawa kembaran saya,” ucap Abqa dengan tatapan memohonnya pada orang di sekitar.
“Sebentar lagi ambulan datang Mas, saya sudah menelpon ambulan,” ucap seorang yang berada di sana. Abqa memejamkan matanya. Ia takut jika Ambulan tidak datang tepat waktu. Namun jika tak memakai ambulan tak ada yang melakukan pertolongan pertama dan tak bisa untuk membawa kembarannya itu dengan cepat.
__ADS_1
“Jaga Mama, jangan kecewain Papa,” ucap Abi sambil memegang tangan Abqa.
“Jangan ngomong sembarangan, jangan tutup mata lo tetep sadar,” ucap Abqa dengan begitu panik. Tak membutuhkan waktu lama kini anggota medis datang bersama dengan ambulan. Anggota tenaga medis segera membantu untuk membawa Abi.
“Pak tolong antar koper sana dengan mengikuti ambulan,” ucap Abqa pada supir taksi tersebut sambil mengeluarkan beberapa lembar uang yang segera ia berikan pada supir taksi tersebut. Setelah nya ia segera ikut masuk ke dalam ambulan. Abqa terus saja menggenggam tangan Abi dengan begitu erat.
“Abi gue mohon jangan tutup mata lo,” ucap Abqa pada Abi dengan tatapan sendu nya.
“Gue sakit bego. Gue istioraat bentar,” ucap Abi pada Abqa yang setelah nya laki-laki itu segera menutup mata nya. Bersamaan dengan itu alat medis yang kini terpasang di tubuh Abi berbunyi. Keadaan di dalam ambulan begitu panik.
“Tekanan darah nya semakin turun,” ucap perawat yang kini berada di samping Abqa. Abqa kini semakin ikut khawatir dan begitu takut.
“Lo harus bangun Abi, gue gak mau jagain pacar lo,” ucap Abqa pada Abi dengan air matanya yang kini sudah mengalir dengan begitu derasnya.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Abqa segera membantu mendorong brankar Abi menuju UGD. Seorang dokter yang sudah menunggu sedari tadi kini juga ikut mendorong sambil memeriksa keadaan Abi. Dan mengatur semua alat medis. Saat sampai di ruang UGD Abqa kini hanya menunggu di depan ruangan dengan tatapan khawatir nya. Ia baru saja bertemu dengan kembarannya itu namun kini mereka harus dipertemukan dalam keadaan yang tidak baik seperti ini.
Ingatan Abqa tentang kejadian malam itu terbuyarkan saat ibu nya kini menepuk pundak nya. Tanpa sadar air matanya bahkan sudah mengalir. Melihat kedatangan ibunya Abqa dengan segera menghapus air matanya.
“Sarapan dulu. Mama sudah bawain kamu makanan. Abis ini langsung sekolah,” ucap Monika pada anaknya itu. Abqa kini menoleh sekilas ke arah Abi yang masih saja terbaring dengan begitu lemah nya dengan banyak alat medis yang kini terpasang di tubuhnya.
“Lo kapan bangunnya? Lo bilang cuma mau istiraha bentar. Ini udah satu bulan lebih dan lo masih istirahat? Lo gak kasian sama mama? Lo gak mau bangun dan memperbaiki hubungan lo yang udah gue rusak?” tanya Abqa lagi pada Abi.
__ADS_1
“Abi pasti bakalan bangun. Dia laki-laki kuat. Sekarang mending kamu sarapan dulu. Terus berangkat sekolah,” ucap Monika sambil menepuk bahu anaknya itu. Abqa mengelus tangan Abi. Setelah nya ia segera menuruti permintaan ibu nya itu.
***