
Hari minggu ini Abqa hanya menghabiskan waktu nya di rumah sakit dengan menjaga Abi. Ibu nya kini juga berada disana bersama dengan Ayah nya. Keluarga mereka dengan kompak kini menjaga Abi.
Abi semakin hari kini semakin kurus dan hal itu membuat Abqa tak tega melihat adik nya itu. Adik nya yang dulu begitu gagah kini bahkan tak bisa melakukan apapun dan tak berdaya. Setelah mimisan beberapa waktu lalu tubuh Abi kini semakin melemah. Bahkan Abi sering merasa kesakitan yang begitu parah di kepalanya.
Namun Abi yang tak ingin membuat keluarga nya semakin khawatir malah sering menutupi nya. Ia masih berusaha terlihat kuat dan baik-baik saja di depan keluarganya.
“Mama sama Papa mau beli makanan dulu ya, Abqa kamu jaga adik kamu ya,” pesan Monika saat mereka kini tengah asik berbincang dengan Monika yang semula menyuapi anaknya buah.
“Siap Ma,” ucap Abqa dengan senyumannya pada ibu nya itu.
“Ma, Abi nitip makanan dari luar dong. Bosen makanan dari rumah sakit mulu,” ucap Abi pada ibu nya itu. Setelah dua minggu hanya makan makanan rumah sakit Abi merasa bosan juga hanya memakan makanan hambar.
“Iya nanti mama tanya dokter dulu makanan yang bagus buat kamu apa,” ucap Monika pada anaknya itu yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Monika.
“Ya udah Mama sama Papa pergi dulu,” ucap Monika lalu mengelus puncak kepala anaknya itu sayang.
Setelah nya ia segera pergi dari sana bersama dengan suaminya itu. Setelah kepergian Mama nya kini Abqa berjalan ke arah adiknya itu dan kini duduk di samping Abi dimana sebuah kursi di sediakan.
“Gimana keadaan lo?” tanya Abqa pada Abi.
“Seperti yang lo liat, lo tenang aja gue semakin membaik kok jadi lo gak perlu lagi ngerasa kesel pas gue minta lo jagain Ayumi. Tapai kalau gue emang gak bisa bertahan lo harus jagain dia ya, gue percaya sama lo,” ucap Abi dengan senyumannya pada kakaknya itu. Abqa yang mendengar ucapan Abi kni menatap adiknya itu dengan tatapan datar nya.
__ADS_1
“Gue gak suka ya lo ngomong gitu. Lo harus jagain pacar lo itu sendiri, lo yang punya pacar kenapa harus gue yang repot,” uap Abqa pada Abi dengan dengusan kasar nya yang membuat Abi kini mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ucapan kakak nya itu.
“Kan cuma seandai nya,” ucap Abi pada kakaknya.
“Gue gak suka. Udah lah lo harus sembuh, pacar lo itu butuh elo bukan gue. Gue mungkin bisa memanipulasi dia dengan muka gue, tapi enggak dengan perasaan. Gue tau Ayumi tuh aneh kalau sama gue, dia ngerasa beda Bi. Karena meskipun wajah kita sama. Hati dia tau, siapa tuannya,” ucap Abqa panjang lebar menjelaskan pada ayah nya itu. Abi yang mendengar ucapan kakaknya itu hanya tersenyum dengan sendu nya sambil menganggukkan kepalanya.
“Tapi gue gak tau sampai kapan gue bisa bertahan,” ucap Abi pada Abqa.
“Lo akan terus bertahan, lo punya semangat untuk tetep bertahan Bi. Ada Ayumi, Mama, Papa, dan Gue” ucap Abqa pada kembarannya itu. Tangannya kini mengepal berusaha menahan air mata nya agar tidak turun. Mendengar ucapan Abi emosional nya begitu tak baik. Ia hanya tak ingin jika harus kehilangan adiknya itu secepat ini. Mendengar ucapan kakaknya itu Abi hanya mengangguk saja. Ia hanya berharap jika ia memang masih memiliki kesempatan untuk tetap bertahan.
“Udah lah gak usah bahas itu,” ucap Abqa pada Abi dengan kekesalannya yang kini malah membuat Abi terkekeh mendengar ucapan kakaknya itu.
“Dan ya lo tau pas awal lo koma, yang jadi dokter lo Mama nya Veni,” ucap Abqa yang kin membuat Abi memeblalakkan matanya tak percaya mendengar ucapan kakaknya itu. Veni adalah gadis yang dulu pernah ia sukai hanya saja gadis itu malah menyukai kembarannya.
"Keterlaluan lo," ucap Abi dengan tawa nya yang kini hanya mendapatkan tatapan datar dari kakaknya itu.
"Kesel gue lagian," ucap Abqa yang membuat Abi menggeleng mendengar nya.
"Emang lo gak ada gitu cewek yang lo suka?" Tanya Abi penasaran. Pasalnya kakaknya itu belum pernah bercerita apapun tentang hubungannya pada Abi ataupun tentang orang yang di cintai nya.
"Ada, sahabat gue. Tapi beda agama. Jelas Mama sama Papa gak bakal mau kecuali dia ikut gue," ucap Abqa menceritakan pada adik nya itu. Abi yang mendengar nya tentu saja merasa terkejut pasalnya kakaknya itu tak pernah menjelaskan apapun dengan nya. Dan kini ia malah bercerita tentang hal yang mengejutkan itu.
__ADS_1
"Move on aja lah kalau gitu. Cari yang seagama," ucap Abi pada kakak nya itu yang kini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Abi.
"Lo sendiri, lo yakin bakalan terus nyembunyiin semua ini dari Ayumi? Gue rasa lo harus ngasih tau dia, karena cepat atau lambat juga pasti ketahuan," ucap Abqa memperingati adik nya itu.
Abi yang mendengar ucapan Abqa hanya tersebut sambil menganggukkan kepalanya.
"Nanti deh gue pikirin lagi, gue belum siap buat nyakitin dia," ucap Abi dengan senyuman sendu nya pada kakak nya itu. Abqa yang mendengar ucapan Abi hanya bisa menghela nafas nya kasar.
"Lo harus kasih tau dia Bi, jangan sampai lo nyesel karena gak ngasih tau dia dan Ayumi nyesel dan nyalain diri sendiri karena gak tau keadaan lo," ucap Abqa pada Abi.
Abi yang mendengar nya hanya mengangguk. Ia pun kini tengah bimbang antara memberitahu Ayumi atau terus menyembunyikannya. Ia hanya tak ingin Ayumi merasa sedih. Melihat Ayumi bersedih tak akan bisa untuk Abqa.
"Gue bakalan pikirin itu tapi untuk saat ini sampai gue siap buat ngasih tau dia. Please bantu gue ngerahasiain ini dari dia, bantu gue dulu buat jaga dia," ucap Abi meminta pad Abqa. Abqa hanya diam mendengar nya.
"Tiga hari, kalau lebih dari itu lo belum ada keputusan gue yang bakal ngasih tau dia. Lo butuh dia Bi buat jaga lo dan ngasih lo semangat," ucap Abqa pada Abi.
"Kita bahas yang lain aja," ucap Abi mengalihkan pembicaraan.
"Lo istirahat deh," ucap Abqa yang memilih untuk pergi dari sini menuju ke arah sofa dan memainkan ponselnya di sana mengabaikan Abi yang kini terus menatap keluar jendela. Bisa Abqa mengerti pasti kini ia tengah memikirkan tentang Ayumi.
Sulit untuk mereka saat ini. Namun Abqa hanya tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari.
__ADS_1
***