
“Abqa kamu kenapa nak?” sebuah suara yang begitu lembut kini langsung menyapa saat kini Abqa dan Ayumi baru saja sampai di rumah Abqa. Melihat keadaan anaknya yang kini terlihat terluka tentu saja membuat wanita yang tak lain adalah ibu Abqa terkejut saat melihat kondisi anaknya tersebut.
“Cuma kecelakaan kecil kok Mah, nggak ada hal serius,” tutur Abqa pada Moniko yang kini malah berdecak mendengar ucapan dari anaknya. Setelah kepergian Abi kini Moniko merasa takut jika anaknya sampai mengalami luka.
“Gak ada kecelakaan itu kecil Abqa,” tegas Moniko, terlihat kini wajah wanita tersebut begitu marah pada Abqa. Abqa yang mendengar ucapan Ibu nya menghembuskan nafas nya kasar. Ia tahu jika Ibunya kini sudah mengalami trauma setelah kehilangan Abi.
“Ma, Abqa baik-baik aja. Udah ya,” ucap Abqa sambil menggapai tangan Ibu nya. Tapi yang ada kini Monika malah pergi begitu saja meninggalkan Abqa dan Ayumi. Ayumi yang sedari tadi masih merengkuh Abqa kini mengelus tangan Abqa lembut.
“Biar aku samperin Mama ya, tapi aku anter kamu ke kamar kamu dulu,” ucap Ayumi pada Abqa yang kini menganggukkan kepalanya. Melihat Mama nya yang seperti ini rasanya Abqa begitu hancur. Tak hanya Mama nya, kedua orang yang begitu ia cintainya nyatanya sering kali seperti ini.
Namun ia mengerti, bagaimanapun Abi memiliki posisi yang begitu dalam di hati mereka. Dan Mama nya, ia hanya takut harus kehilangan anaknya lagi. Abqa begitu tahu bagaimana Ibu nya itu setelah kehilangan Abi. Ibu nya begitu hancur bahkan sering menangis dan sampai harus di rawat di rumah sakit.
Ayumi kini memilih untuk mengantar Abqa ke kamar laki-laki tersebut. Saat Ayumi sampai di kamar Abqa, ia membantu Abqa menuju ke arah ranjang nya.
“Kamu di sini aja, jangan kemana-mana. Setelah ini aku bawain minum sama makanan,” perintah Ayumi dengan tegas nya. Abqa yang mendengar nya hanya terkekeh dan menganggukkan kepalanya.
“Lagian tuh aku yang sakit kepala, dan ini cuma sedikit luka. Bukan hal yang serius, jangan berlebihan gitu ah,” ucap Abqa pada Ayumi yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Abqa.
“Istirahat,” perintah Ayumi yang setelah nya segera keluar dari sana menuju ke arah kamar Monika yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
Saat Ayumi baru saja keluar dari kamar Abqa, Ayumi sempat menoleh ke arah kamar di sebelah Abqa yang merupaan kamar Abi. Senyuman sendiri terbit di wajah gadis tersebut. Selalu saja seperti ini. Nyatanya sampai saat ini ia masih merasa sedih dan belum bisa melupakan Abi.
Pintu kamar dengan cat putih dengan tanda larangan yang berada di pintu. Tak lupa sebuah foto kecil yang merupakan fotonya juga foto Abi juga masih tertempel di sana.
“Aku kangen,” hanya itu yang akhirnya Ayumi ucapkan. Lalu setelah nya ia segera pergi karena ia ingin menemui Monika dan berusaha menenangkan wanita tersebut.
Tepat saat Ayumi berada tepat di depan kamar Monika. Ayumi dapat mendengar sebuah suara tangisan dari dalam kamar. Gadis tersebut memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya ia mengetuk pintu di depannya.
“Mah Ayumi boleh masuk?” tanya Ayumi minta izin dari dalam namun tidak ada suara hingga ia sedikit membuka pintunya dan kini ia dapat melihat Monika yang melihat ke arahnya dengan tatapan seminggunya seolah mengizinkannya masuk dan membutuhkan sebuah dukungan.
Ayumi akhirnya masuk ke dalam kamar mau nikah lalu duduk di samping wanita tersebut yang kini dengan hidup di lantai depan berada di samping ranjangnya.
“Ma, Abqa baik-baik aja. Tapi dia gak sengaja nabrak pinggiran jalan karena ada anak kucing yang lewat, tadi Abqa langsung dibawa ke rumah sakit. Ayumi tau pasti Mama khawatir sama Abqa,” ucap Ayumi pada Monika yang kini masih saja menangis.
“Ayumi tahu Ma, Mama pasti khawatir sama Abqa. Tapi kasian Abqa Ma, kalau Mama seperti ini. Abqa pasti sedih liat Mama seperti ini, dan Ayumi rasa selama ini kita terlalu jahat sama Abqa Mah,” ucap Ayumi tiba-tina yag kini tentu saja membuat Monika mengerutkan kening nya bingung mendengar nya.
“Mama nggak ngerasa kalau selama ini Abqa hidup di bawah bayang-bayang Abi? Selama kepergian Abi, Ayumi rasa menjadi Abqa bukan hal yang mudah. Setelah bertahun-tahun Abqa tidak berada di sisi Mama, Papa, juga Abi kini tiba-tiba ia harus memikul beban yang besar di pundaknya.” Ayumi kini menghentikan ucapannya sejenak. Tatapannya kini begitu sendu menatap ke arah depan.
“Dia harus menanggung beban untuk menjaga kita semua, tapi bagi kita kita hanya melihatnya seperti bayang-bayang Abi. Tanpa kita sadari itulah yang kita lakukan pada Abqa, termasuk Ayumi. Ayumi merasa jika selama ini Abqa selalu mewujudkan ekspektasi kita. Dia selalu bersikap kuat dan menjaga kita semua Padahal dia juga jauh lebih hancur dari itu, bagaimanapun Abqa adalah kembaran Abi mereka memiliki ikatan yang kuat Mah,” ucap Ayumi yang kini melanjutkan ucapannya dengan tatapannya yang masih menatap lurus ke arah depan dan terlihat begitu nanar.
__ADS_1
“Ayumi sampai sekarang belum bisa melupakan hati tapi Abqa selalu ada di samping Ayumi menemani Ayumi juga menjaga Ayumi, selama ini juga Abqa menanggung beban seharusnya ia ikut bersama-sama dengan Abi Tapi kini ia harus pikul sendiri. Dia harus memenuhi ekspektasi keluarga semua ia lakukan agar kekosongan yang beberapa tahun ini terjadi bisa sedikit ia tambal.” Ayumi gini terus saja melanjutkan ucapannya sedangkan Monica yang mendengarnya kini hanya terdiam sambil menatap ke arah Ayuni dengan air matanya yang masih mengalir. Ditambah dengan Segala ucapan Ayumi yang begitu menusuknya kini menambah derasnya air mata dan rasa sakit yang ia rasakan.
“Apapun yang terjadi di sekitar kita terkadang tanpa sengaja kita mengaitkannya dengan Abi hal-hal yang berada di posisi itu adalah Abqa,” ucap Ayumi yang kini kembali melanjutkan pembicaraannya mengingat bagaimana tadi Monica yang malah terlihat begitu marah melihat Abqa yang kecelakaan jelas saja semua itu karena ketakutan Monica akan bayang-bayang Abi. Padahal Abqa baik-baik saja, dan Monika malah marah padanya.
“Ma, Abqa juga hancur. Tapi yang dia pikirkan adalah kita. Dia juga butuh semangat, tapi selama ini yang bisa ia lakukan hanya memberi semangat,” ucap Ayumi lagi melanjutkan ucapannya yang semakin menusuk.
“Maaf kalau Ayumi berbicara terlalu banyak Ma,” ucap Ayumi dengan senyuman sendu nya pada Monika yang kini menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ayumi.
“Boleh Mama peluk kamu?” tanya Monika yang kini Ayumi balas dengan anggukan. Hingga kini mereka saling berpelukan.
“Mama rasa kini memang perlu memulai semua dari awal. Tentang Abqa, bukan lagi Abqa dan Abi. Abi pasti di sana juga merasa sedih melihat kekacauan kita seperti ini,” ucap Monika pada Ayumi yang kini membuat Ayumi menganggukkan kepalanya setuju.
“Ayumi rasa juga seperti itu Ma. Abqa sudah begitu kuat untuk kita selama ini. Dia selalu memberikan semangat yang padahal juga dia perlukan,” ucap Ayumi yang kin dibalas dengan anggukan setuju oleh Monika.
“Perolehan kita memang harus mulai mengikhlaskan Abi. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orang nya, begitu kan Yum?” tanya Monika yang kini kembali membuat Abqa Ayumi menganggukkan kepalanya setuju mendengar ucapan dari Monika.
Kini mereka akhirnya sepakat untuk memulai semua dari awal dan bisa untuk menemani Abqa. Tanpa mereka sadari sebenarnya sedari tadi. Abqa berada di sana, mendengar semua pembicaraan tersebut. Hingga ia tak sadar kini ia sudah meneteskan air mata nya.
Mendengar semua itu membuat nya antara senang dan juga sedih. Karena kini akhirnya ia bisa terlihat. Dan sedih mendengar semua penuturan dari Ayumi.
__ADS_1
“Gue akan selalu sayang sama lo, Ayumi.”
***