Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Sumpah yang harus ditunaikan


__ADS_3

"Kita lakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui kondisi leher ser viks."


"Maksudnya?!" beo Gale. Fatur menggendong Gale menuju ranjang dan membaringkan tanpa ijin Gale.


"Malu ih!" pelotot Gale pada Fatur, Seli yang mengerti hanya mengulas senyuman.


"Ga usah malu, abang udah hafal di luar kepala malahan!" jawabnya datar, tentu saja Gale menghadiahinya sentilan di bibir Fatur, "mulutnya astagfirullah!"


Seli tersenyum penuh arti, Fatur sudah menemukan kebahagiaannya, tak pernah ia melihat sikap Fatur semanis hari ini pada perempuan termasuk padanya dulu. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Gale.


"Kakinya boleh ditekuk," pinta Seli.


"Ini mungkin sedikit sakit, tapi ga usah takut. Tarik nafasnya dalam-dalam," intruksi Seli tenang, mencoba menularkan ketenangan pada Gale, pastinya tak akan mudah untuk gadis ini, persalinan pertama dengan kondisi bayi kembar.


"Aduh!" tangannya mencengkram tangan Fatur, satu.. dua jari Seli masuk ke dalam dewi Gale hingga kedalaman yang Gale sendiri tak tau, sepertinya...ia sentuh atau aduk tapi rasanya tak se-lovely seperti saat Fatur yang melakukan ketika mereka sedang berduaan, ini begitu sakit. Gale sampai memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.


Seli melirik Fatur dan mengangguk, Fatur mengerti apa ini artinya, "berapa?"


"Baru 3, kemungkinan sekitar jam 8 atau 9 malem."


"Udah belum ih, sakit!" tanya Gale.


"Udah kok," Seli segera melepaskan sarung tangan yang terdapat len dir dan bercak da rah.


Fatur menimang-nimang, ia sudah memesan ruangan VIP untuk Gale di hpl yang sudah dihitung oleh dokter Tara, tapi ternyata kenyataan tak sesuai dengan rencana.


"Dokter Tara bukannya ijin cuti Tur?" tanya Seli membersihkan sarung tangan di kamar mandi dan membungkusnya dengan plastik.


"Oh ya?" Fatur membantu Gale kembali memakai celana. Ia dengan cepat mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi dokter Tara. Sekitar 10 menit mereka berbicara Fatur terlihat menghembuskan nafasnya.


"Makan lagi ya, abang suapin!" bujuk Fatur setengah memaksa.


"Bentar atuh bang, perut Gale ga enak abis di periksa! Malah makin sakit ih, tadi diapain sih?!" keluhnya hampir melelehkan air matanya, semakin sini rasa sakitnya semakin bertambah.


"Gimana Tur?" tanya Seli.


"Iya, dokter Tara sedang diluar Jakarta," jawab Fatur.


"Terus Gale gimana? Kalo engga keberatan dan kalian mau, saya bisa gantikan? Saya minta riwayat pemeriksaan bulanan Galexia," tawar Seli bertanya dan melihat sepasang suami istri itu. Gale jauh menatap Seli, apakah ini waktunya ia harus sudah berdamai dengan hati, karena hati manusianya masih belum bisa menerima Seli, rasa kesal, sakit hati, kuatir dan curiga masih menggantung di benaknya.


"Ya sudah, saya keluar dulu. Dilanjut saja makannya Gale, biar nanti siap berjuang! Hubungi saja kalau butuh bantuan, insyaallah hari ini saya ada 24 jam," jawabnya pamit undur diri.


"Abang terserah Gale, kalau Gale masih belum bisa terima Seli, abang bakal telfon teman sesama dokter berikut rekomendasi rumah sakit lain sekarang?"


"Gale mau!" tukasnya cepat.


"Gale udah maafin tante Seli, insyaallah Gale terima. Takut nanti Gale ga selamet, jadi Gale ga punya musuh selain Cika, takut bikin pasaran Gale berat." Gale akhirnya melelehkan air mata yang sudah sejak tadi dibendungnya. Baru bukaan 3 saja sakitnya sudah seperti diaduk-aduk dan diremas, apalagi kalau...? Gale sangat-sangat kagum dengan perjuangan para ibu di seluruh dunia.


"Istigfar kamu! Ga usah ngaco ngomongnya!" Fatur sontak saja marah dengan ucapan Gale.


Gale tersenyum melihat Fatur marah, "kan kalo, andai..." jawab perempuan itu menghapus air matanya.


"Ga usah berandai-andai yang ga bener! Abang ga suka Gale ngomong gitu, jangan bilang kaya gitu lagi!!" ucap Fatur penuh penekanan, Gale mengangguk.


"Elusin pinggang Gale dong bang, pegel!" pintanya, ternyata begini rasanya melahirkan.


"Dilanjut ya makannya," pinta Fatur meminta Gale makan, padahal ia pun sama-sama belum makan.


2 jam sudah berlalu, bahkan tak sedetik pun Fatur meninggalkan Gale dari kamar. Di depan, Shania dan Arka sudah eneg menjawab para tamu yang bertanya dimana keberadaan yang punya hajat?

__ADS_1


Gale meminta berjalan-jalan keluar kamar ditemani Fatur, make up tipisnya tersapu banjir keringat. Mereka sontak menoleh ke arah bumil, baru saja beberapa jam yang lalu ia baik-baik saja, kini tau-tau sedang merasakan nikmatnya berjuang. Mama, Pandawa, Kurawa, Fathya dan Andro masih disana menemani bumil yang baru saja siraman 7 bulanan ini otewe melahirkan.


"Sakit banget ya Le?! Gue jadi ogah married lah kalo ngeri gini!" Lila ikut meringis melihat Gale yang kepayahan.


"Dih, sue! Mau jadi perawan tua loe?!" decak Faisal.


"Ya engga gitu juga Lo," ujar Andini.


"Abisnya liat bontot kesiksa gitu, kok ikut mules!" jawab Lila, mereka duduk di kursi yang belum dibereskan.


"Pinggangnya pegel? Panas? Sini onty elusin!" Melan menghampiri Gale.


"Bang, sudah siapin tas perlengkapan?" tanya mama.


"Udah ma, di kamar!"


"Sini Andro masukkin ke mobil bang, biar nanti gampang bawanya," inisiatifnya.


Sementara para ontanya tengah membantu pekerja catering dan dekorasi membereskan sisa-sisa acara.


"Gemoy, mana yang sakit nak? Pinggang, pinggul, perutnya, perlu onta pijit atau dijampi?!!" tanya Guntur sekonyong-konyong datang membawa kehebohan.


Gale tertawa ditengah kesakitannya, "onta apaan sih!"


"Peak laki loe Dib," tawa Niken pada Diba.


"Anak-anak kalo capek, pada dibawa aja ke kamar tamu om, ini juga sudah hampir magrib," pinta Fatur.


"Oh, tenang aja Tur, gampang lah anak turunan Kurawa mah gelar tiker juga jadi!" jawab Roy.


"Kaya ikan pindang?!" tanya Shania tertawa.


"Kia mana onty?!" tanya Gale setengah meringis dielusi Melan.


"Dia katanya ijin telat, tadi sih bilang udah di jalan!" jawab Niken.


"Assalamualaikum!" benar saja, tak lama suara gadis yang sedang dibicarakan itu datang.


"Udahan ya?! Kia telat ihh!" salamnya pada semua orangtua termasuk tos dengan Pandawa.


"Loh, ini bumil kenapa?!" serunya melihat Gale dalam keadaan yang mengkhawatirkan.


"Gale mau lahiran," jawab Fathya.


"Loh, kok?! Bukannya masih 7 bulan?!" ia terkejut.


"Udah deh, nanti lagi ceritanya, lagi ga pengen banyak ngomong. Makan sono!" suruh Gale.


"Tau aja kalo Kia laper, abis kegiatan dari kampus!" nyengirnya.


Drrtt...drrttt...


Ponsel Fatur bergetar, ia langsung melengos keluar untuk menerima panggilan.


Alis yang tadinya datar kini mengerut dan mengenyit seperti sedang memikirkan sesuatu.


(..)


"Baik, saya segera kesana!" jawabnya, sejenak ia memandang Gale diantara banyak orang di ruang tengah, istrinya ini sedang berjuang. Sudah pasti ia akan marah dengan keputusan yang diambil Fatur.

__ADS_1


Waktu seakan berputar mundur untuk Fatur, saat ia berdiri dengan pakaian terbaik, dan mengucap sumpah setia yang harus ia emban semasa hidupnya.


Demi Allah saya bersumpah, bahwa


1.Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.


2.Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai seorang dokter.


Hingga pikirannya lama berdiam di poin ke tujuh dari 12 poin yang ia ucapkan dengan lantang dan penuh keyakinan serta kebanggaan.


7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat....


"Abang harus janji temenin Gale waktu lahiran!"


"Pokoknya abang harus temenin Gale, Gale ga mau lahiran sendirian, suruh aja pasien abang jangan pada sakit dulu!"


Ia mengusap wajahnya kasar, dan masuk lagi ke dalam.


"Siapa bang?" tembak Gale masih berdiri bertopang siku di kepala sofa, dengan Melan yang mengusapi pinggangnya.


"Le, abang harus ke rumah sakit sekarang. Pasien abang terkena serangan jantung dan diduga mengalami Tamponade jantung, abang harus segera menanganinya, abang mohon pengertiannya dari Gale."


Gale mengerutkan alis matanya mendadak buram, "terus Gale gimana?! Abang lebih mentingin orang lain dibanding istrinya yang mau lahiran?!" air mata Gale menganak sungai, badannya bergetar karena sesenggukan.


"Abang minta maaf sayang," meraup wajah Gale dan mencium keningnya.


"Abang usahain cepet, biar bisa nemenin Gale lahiran, tapi sekarang ijinin abang buat obatin pasien abang ya,"


"Abang udah janji nemenin Gale," tangisnya semakin menjadi, Shania langsung memeluk Gale yang bermandi peluh.


"Eh, kok gitu. Kan disini banyak orang nemenin. Fatur itu dokter, ada tugas yang harus diemban," Shania mencoba bicara.


"Abang yakin Gale istri dan calon ibu yang kuat! Gale pasti bisa," masih dengan tatapan memohon pada Gale, Fatur mengusap-usap perutnya dimana kedua buah hatinya sebentar lagi akan keluar.


"Kakak," Arka ikut mendekati Gale dan mengusap lembut punggung Gale menyalurkan kekuatan, seolah berkata kami ada disini, biarkan suamimu pergi bertugas.


"Tugas Fatur mulia, nolongin nyawa orang. Menjadi dokter itu tak mudah, temasuk seperti sekarang, ada sumpah yang harus dia tunaikan diatas kepentingan pribadinya," jelas Arka.


Gale masih sesenggukan antara sedih, kecewa, dan takut, ia langsung memeluk Fatur dan mengangguk, "abang hati-hati."


"Abang tunggu Gale di rumah sakit," pamitnya.


"Ayah, mii, mama, semuanya saya pamit dulu!"


"Iya, selamat bertugas dok," Arka menepuk pundak Fatur.


"Titip Gale,"


"Ga usah khawatirin bocah ngapa yak Tur, ada kita-kita disini!" pekik Roy.


"Sedih banget gue! Kaya liat drama korea!" mata Lila ikut berkaca-kaca.


Fatur merogoh ponsel dan berjalan tergesa, "Minta dokter Bian hubungi saya, ada tindakan bedah yang harus dilakukan." ucapnya samar semakin menjauh menuju pintu rumah. Gale menatap kepergiannya dengan nyalang,


.


.


Noted :

__ADS_1


entep pindang : berjejer kaya ikan pindang.


__ADS_2