
Gale tak lagi mendebat Fatur, melihat dari raut wajahnya, Fatur sedang tak ingin dicandai dan di debat. Sebenarnya ia belum tau penampakan Fatur jika sedang marah seperti apa, apa se seram hulk kalo lagi emosi? Atau lebih mirip reog Ponorogo. Tapi dari mimik wajahnya saja, mendadak bulu kuduk Gale merinding,
"Hm, lebih mirip ayah!" benak Gale sebenarnya ingin tertawa.
"Abang janji bakalan cerita, tapi abang butuh waktu." Ia ikut bangun dari tepian ranjang dan menghampiri istri nakalnya.
"Janji ya?" kelingkingnya mengacung di depan wajah Fatur,
"Janji," Fatur mengecup kelingking Gale.
"Abang besok ke sekolah mau bayar kartu ujian kamu," Fatur mengekori Gale sampai ambang pintu kamar mandi, dimana Gale masuk untuk mengambil air wudhu.
"Ga usah bang, bayar punya Fathya aja. Sekolah Gale udah lunas sampe lulus. Ayah bayar lunas, jadi ga usah ngejar-ngejar TU." Gale melangkah keluar, Fatur tersenyum mendengus, Arka memang menomor satukan pendidikan, apalagi terhadap anak-anaknya. Ia masih merasa kerdil di depan ayah mertuanya itu.
"Fathya kan terima beasiswa, kalo gitu abang ga perlu datang ke sekolah lagi, punya utang dong sama ayah," Gale menoleh dalam mukenanya, ia sampai lupa jika Fathya pemenang beasiswa itu, bahkan mungkin ia akan mendapatkan tempat pendaftaran universitas favorit atas jalur undangan juga.
"Kan kamu udah jadi tanggungan abang, masa dibayarin ayah?" Fatur mendekati.
"Abang ribet! Udah sana wudhu, Gale tungguin!"
...****************...
Gale kembali ke aktivitasnya, mungkin ini penampilan terakhirnya sebelum ia lulus dan meninggalkan hobbynya ini untuk berkuliah dan menjadi istri seorang dokter Faturrahman Al-Lail.
Pagi sekali, Gale sudah sibuk dengan make up, rambutnya sudah ia kepang dua. Mungkin selama ini Fatur tak sering melihat Gale mengaplikasikan make up di wajah cantiknya, hanya saat menikah saja ia pernah melihatnya.
"Emangnya harus pake make up gini?" tanya nya bersidekap di ranjang melihat Gale yang memoleskan maskara dan kawan-kawannya, seketika jiwa posesif Fatur bergejolak.
"Iya atuh bang, biar totalitas! Kalo kata oma Lia, biar ga kuleuheu bin caludih. Lagian ini cuma tipis, sesuai umur remaja!" jawabnya mengecup bibirnya sendiri agar liptinnya rata, sempurna sudah, mirip Selena Gomez!
"Abang juga mau ada acara di luar kan?" tanya Gale tanpa mengalihkan pandangannya. Pikir Gale mungkin semacam penyuluhan di puskesmas atau balai warga dengan isi orang-orang lanjut usia, memangnya mau diisi kalangan apa lagi, rata-rata penyakit jantung diidap oleh sebagian banyak dengan usia diatas 40 tahun. Padahal jelas sekali gadis ini keliru.
Fatur menarik alisnya sebelah, matanya tak pernah bergeser dari sosok si cantik nakal. Sepertinya keputusannya membatasi kegiatan dance Gale benar, lihat saja ia sekarang, riskan sama pebinor.
"Yuk! Udah jam setengah 7, Gale takut telat buat breafingnya. Sadisss bahasanya!" tawa Gale membawa serta tas jinjing bergambar kucing miliknya.
"Loh! Tumben dandan begini Le? Ada acara?" tanya mama, Gale mengangguk.
"Ada ma, katanya sih ada konseling kesehatan dari dinas, kerja sama bareng beberapa rumah sakit, nah sekolah Gale juga kepilih buat jadi tempat konselingnya, bakalan ada tamu dari dinas, dokter, sama dari polisi juga! Haaa! lumayan bosen sih ma, sama acara beginian, apalagi kalo pematerinya udah tua sama bau minyak gosok, ngomong panjang lebar kaya lagi nina boboin, Gale berasa pengen gelar kasur disitu ma!" ia menyendok nasi goreng, mama dan Fathya tertawa, dan Fatur mendengus. Belum tau saja gadis ini siapa pemateri yang jadi tamu kehormatan.
"Ketauan nih suka nyiumin bau orang," tuduh mama.
"Bukan suka nyiumin, tapi kecium aja baunya !" jawab Gale.
__ADS_1
"Kamu nih," desis Fatur.
Gale tergesa berniat turun dari mobil, "abang, Gale buru-buru. Gale masuk ya!" diraihnya tangan Fatur dan mengecupnya, kini Fatur selalu mencium kening Gale jika salah satunya pamit.
Gale sampai berlari-lari masuk ke dalam.
"Loh, Gale ga tau emangnya kalo abang jadi pemateri di sekolah kita?" tanya Fathya melongo melihat ke hectic-an Gale.
Fatur terkekeh jahil, ia menggeleng, "engga."
"Abang ga bilang?" tanya Fathya lagi.
"Belum," jawabnya lagi santai. Biar jadi surprise pikirnya.
Deretan mobil berjejer di pelataran parkir, termasuk mobil Teri dan Seli. Meskipun satu rumah sakit dan sekarang satu program bersama, tapi keduanya jarang bertegur sapa. Lebih tepatnya Fatur, semenjak kejadian yang lalu, ia menganggap Seli hanya sebagai sesama dokternya saja.
Area lapang sekolah ini memang luas, cocok untuk dipakai acara yang melibatkan banyak orang.
Gale tengah bersama anak teater, musik dan dance di belakang. Acara ini disambut oleh sedikit drama musikal tentang pergaulan anak muda jaman sekarang yang mengesampingkan gaya hidup sehat dan cenderung terjerat, alko hol, dr ugs, dan se x bebas.
Kursi dengan busa sofa yang empuk berjejer di depan podium bersama meja dan peralatan multimedia. Di lapang adalah tempat penampil dan murid-murid sekolah ini.
"Udah rame banget ini borr!" Lila mencari-cari tempat untuk duduk bersama duo sengklek Faisal dan Irvan.
"Cal!" pekik temannya.
"Disana!" tunjuk Ical diikuti Irvan dan Lila.
"Hay Fat," sapa Seli berbasa basi, tapi Fatur tak ingin mengobrol lebih jauh lagi.
"Mayan nih sekolah, mahal kayanya sekolah disini?" tanya Teri duduk bersama Fatur, mereka masih berada di ruang kepala sekolah bersama tamu lainnya, dimana mereka masih berbasa-basi satu sama lain.
"Lumayan," bisik Fatur.
"Adek loe sekolah disini kan? si Fathya?" tanya Teri.
Fatur mengangguk, "Gale juga disini."
Waktu bergulir setiap menitnya, para pengisi acara sudah menempati kursinya, termasuk Seli.
Fatur memilih duduk di paling ujung samping Teri. Mungkin dari sudut depan, posisinya tidak terlalu terlihat. Tapi dari posisinya ia dapat melihat dengan jelas semua audiens.
Di tengah podium sana, kepala sekolah bicara panjang lebar ala-ala mario teguhnya. Padahal anak-anak disana sibuk dengan dunianya sendiri, memandangi para tamu acara konseling ini, hanya sebagian saja yang menyimak.
__ADS_1
"Widihhh! Ganteng-ganteng dong! Ini fix sih, definisi dunia isinya cogan semua!"
Jauh dari ekspektasi Gale tadi pagi, mulai dari dokter, bapak polisi dan tentara yang hadir disana. Wajahnya tak ada yang malu-maluin kalo diajak ke kondangan, kecuali bapak dari dinas pendidikan yang memang sudah beruban.
Otak siswi disini memang satu frekuensi dengan cabe-cabean, selalu haus wajah rupawan.
"Elah si bapak, kebanyakan ngomong. Udah kali lah, giliran yang ganteng-ganteng aja yang maju!" terdengar kalimat sumbang nan durhaka dari siswi ditertawai oleh Lila.
"Iya nih, ga puas apa tiap senin ngomong di depan," bisik mereka lagi, mulut mereka memang terlatih jadi mak nyinyir generasi penerus.
"Otak loe berdua mikirnya yang ganteng mulu!" tukas Lila di belakang mereka, padahal jauh di dadanya ia pun sama saja.
"Kaya yang loe engga aja!" ujar Faisal.
"Tanpa menunggu lama lagi..." terdengar suara dari pelantang sana.
"Ga lama gimana, si bapak ngomong hampir satu jam pelajaran!" ucap Faisal pelan ditertawai siswa di sekitarnya, Fathya kebetulan duduk dekat mereka hanya bisa mengulum bibirnya, sepertinya ia suka dengan teman-teman Gale. Meskipun mereka bar-bar tapi selalu saja ada kekonyolan yang diciptakan.
"Sebagai sambutan acara, ada sedikit drama musikal dari gabungan beberapa kegiatan ekstrakurikuler SMA KENCANA BAKTI yang alhamdulillah selalu memboyong piala atas prestasinya di berbagai kompetisi!"
Riuh tepukan tangan menggema bersamaan dengan suara musik dan narasi. Belum lagi bidikan kamera tim dokumentasi dari berbagai pihak.
"I'ts show time!"
"Galexia!"
Dengan tampilan yang sudah bukan seragam lagi, ia dan yang lain mengambil tempat.
"Itu!" tunjuk Teri, menoleh pada Fatur, begitupun Seli yang ikut mengangkat kedua alisnya seolah terkejut melihat si gadis nakal yang pernah berdebat dan berebut Fatur dengannya.
"Galexia, istri gue." Fatur berdehem, disampingnya Teri malah tertawa kecil.
Galexia meliuk-liukkan dan menghentak seirama dengan musik beat, memainkan perannya dalam pentas. Penampilannya memukau bersama yang lain, apalagi saat ini ia terlihat cantik, menawan, dan....
Mata Fatur jatuh pada rok mini yang dipakai Gale, meskipun Gale memakai lagi celana pendek lagi di dalamnya.
"Astagfirullah, Gale, ck ck! Minta kunciin di kamar kamu, Le?!" gumamnya.
.
.
.
__ADS_1
.