
Gale membatu di tempatnya, seakan kini dunia sedang meninggalkannya sendiri bersama si tampan nan dingin di depan.
Shottt!
Darr!
Satu tatapan Fatur bisa membunuh Gale saat itu juga. Ternyata se-kacrut**** ini rasanya kalo ketauan lagi gombalin laki-laki lain di depan mata pasangan.
"Aduh! Kan, kan...loe semua mesti ikut tanggung jawab! Ga mau tau gue!" Gale panik, bibirnya mengerucut lucu.
"Terimakasih pertanyaannya untuk adek Galexia, atau saya harus panggil juga, cinta?" mendengar namanya disebut oleh Fatur, Gale mendadak be*go. Beda Gale beda teman-temannya. Mereka malah menyoraki, seakan sedang menyoraki beruang madu lagi sepedaan.
"Gale keren! Bisa gaet dua sekaligus!" puji beberapa siswa, mereka tak tau jika pujian mereka seperti ejekan, poor Gale...
"Tapi penyakit seperti itu bukan ter- Teri-Teri namanya," Teri sampai tertawa mendengar Fatur mengulang kata-kata Gale. Baru kali ini pria sipit ini melihat bentukan Fatur kalo lagi cemburu.
"Beberapa gejala tadi bisa dikategorikan ke dalam gejala halusinasi efek dari obat-obatan seperti yang disampaikan tadi di awal oleh Briptu Aiman, kecuali jantung yang berdegup kencang dengan intensitas sering dan cukup mengganggu aktivitas, harus dilakukan skrining jantung, untuk mengetahui dan mendeteksi kemungkinan adanya gangguan pada jantung, kecuali kalo kamu sedang merasa marah, habis melakukan aktivitas olahraga/berat, cemas, panik, khawatir, dan takut !" tembak Fatur, ia semakin ciut hanya mengangguk seperti boneka susan.
Bolehkah ia sekarang menggali lubang yang sangat dalam, lalu menghilang dari peradaban. Atau siapapun bisa tolong memasukkan tubuhnya ke kardus lalu paketkan Gale ke gugusan galaksi yang berbeda dari bima sakti?
"Mamposss!" gumaman Gale.
Sampai acara selesai Fatur tak sedikitpun menampilkan wajah damai dengan Gale.
"Kalo sampe uang jajan gue angus, loe semua gue palak sepuasnya!" Gale berjalan bersama keempat makhluk tak berakhlak itu, jelas mereka akhlakless dimana keempatnya malah tertawa terbahak diatas penderitaan Gale.
"Tenang zeyengkuhhh, gue bantuin. Ini salah gue juga!" Lila merangkul Gale.
Langkah mereka berjalan menyusuri ruangan koperasi sekolah yang langsung menyambung ke depan perpustakaan, bersamaan dari anak tangga ruang guru, turun Fatur bersama tamu lainnya yang hendak undur diri menuju parkiran.
"Sayangkuh, cintakuh! Babang tamvan ga akan sesadis itu sama istri gemesinnya!" Andini ikut tertawa.
"Apaan! Kalo bininya kaya barusan mah, kalo gue juga digantung aja lah di pohon rawit!" tawa Faisal.
"Loe! Awas kalo janji loe boong buat traktir keripik, gue mau nawar plus teh kotak ah!" tunjuk Gale pada Ical.
"Siap!" jawab Faisal.
"Ivan traktir gue makan lah, buat jaga-jaga kalo duit jajan gue tiba-tiba di-cut !"
"Tetot banget gue! Ketauan modal sama abang!!"
"Lagian, loe bini tapi ga tau laki ada disini?!" tanya Irvan.
"Ya meneketehe, gue kira beda tempat! Kalo tau juga ga mungkin gue berani, ini sih gue cari lobang jurang sendiri!" dumel Gale.
"Pensiun dong buaya daratnya KENCANA BAKTI!" tawa mereka lagi.
"Galexia," panggil suara ngebass di belakang mereka.
Kaki mereka terhenti seketika lalu berbalik badan, terkecuali Gale yang sudah tau siapa yang ada di belakang mereka.
"Dokter Teri, om dokter Fatur?!" gumam Andini dan Lila.
"Aduh, mendadak mules ini mah!" gumam Gale membalikkan badannya.
"Eh ada abang sayang!!! Abang ko ga bilang kalo konselingnya di sekolah Gale sih?!" tanpa dosa, tanpa basa-basi Gale menghampiri Fatur dengan wajah dibuat semanis mungkin besar harapan Fatur akan luluh, tapi rupanya pesona itu tak mempan untuk mengubah raut wajah Fatur jadi hangat. Ciri-ciri kalo buaya darat ketauan belangnya ya dengan pura-pura lupa, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Maaf," wajahnya kini memelas.
__ADS_1
"Yang tadi itu..."
"Siapa yang kena penyakit ter-Teri-Teri?" tanya Fatur mengangkat alisnya angkuh, Teri hampir meledakkan tawanya melihat ekspresi panik juga takut Gale plus kejadian gombalan tadi. Istri kecil Fatur tak hanya nakal, mengasyikan, menggemaskan tapi juga menawan dan mempesona.
"Mereka bang! Mereka yang suruh!" tunjuk Gale pada Andini dan Lila, dimana keduanya sudah nyengir kuda.
"Ga usah nyalahin orang, kan kamu yang gombalin Teri. Berarti begini ya kelakuannya kalo lagi ga bareng abang?" Fatur menjiwir hidung bangir Gale.
"Jangan galak-galak Tur, nanti kalo mewek loe juga yang repot, ga ada yang urusin si junior," ucap Teri berbisik terkekeh.
"Oh jadi dokter Teri itu temen abang? Ha-ha-ha, bilang dong! Jadi Gale ga perlu repot-repot terima tawaran Pandawa buat dapet traktiran sebulan!" tawanya. Teri menaikkan kedua alisnya, ternyata gadis ini melakukan itu untuk tawaran traktiran.
"Mau apa emangnya kalo tau temen abang? Mau lebih gencar lagi gombalinnya?" tanya Fatur.
Gadis ini memukul lengan kokoh Fatur, "ish abang, kalo ngomong suka bener!"
"Ha-ha-ha," Teri menggelengkan kepalanya.
"Engga bang! Itu mah cuma biar suasana hidup aja, daripada suntuk!" bibirnya manyun.
"Lagian siapa suruh ngumpet, jadi kan yang menang jackpot bang dokter Teri," memang hebat gadis ini sudah salah tak mau salah sendirian.
"Jadi abang yang salah?" Fatur mengangkat ssbelah alisnya dan melipat kedua tangan di dada.
"Tuh kan salah lagi, oke Gale diem aja!" ia membuat gerakan mengunci mulutnya.
"Yaaa, tau gini minta om dokter aja nomornya si dokter Fendy chow ini!" bisik Andini di belakang diangguki Lila, "hooh No! Ngapain pake taruhan segala!" Lila mendesis.
"Emangnya uang jajan dari abang kurang, pake terima tawaran kaya gitu?" tanya Fatur.
"Ya engga, buat seru-seruan aja! Lagian kan lumayan bang, kalo di traktir, uang jajan Gale utuh!" kekehnya.
"Ha-ha-ha, pinter!" Teri menjempoli Gale.
"Ambil tas kamu, abang tunggu di parkiran!" titahnya.
"Tapi bang..itu..!" Mata Fatur menyorot tajam tak ingin dibantah.
"Oke!!" dengan segera Gale berlari menuju ruang ekskul dan menyambar tas miliknya. Gale tau suami dokternya ini tak suka dibantah.
Baru natap aja udah nyeremin, apalagi kalo beneran marahnya? Emang yang sekarang marahnya boongan? Gale terkikik sendiri.
"Kalian duluan saja, biar Gale sama saya," ucap Fatur pada Pandawa.
"Asiap om dokter!" aura Fatur seperti Arka, aura-aura mencekam, patutlah anak-anak ini langsung tunduk.
"Lele bontot!!! Kita duluan!" pekik Lila dari kejauhan, Gale membalikkan badannya dan mengokei.
"Abang!" Fathya melambaikan tangannya.
"Hay bang Teri?" sapa Fathya.
"Hay Fath," balas Teri.
"Abang tadi keren ih, pada bilang ganteng loh bang! Pada motoin," ujar Fathya.
"Wah! Masa?!" tanya Teri.
"Iya, tapi banyakan motoin bang Gatur sih!" kekeh Fathya.
__ADS_1
"Kalo gitu besok-besok pasti pada deketin Fathya, buat nanyain nomor telfon abang Fathya sama bang Teri," jawab Teri melihat beberapa siswa kini memandang interaksi mereka.
"Fath, ikut abang makan siang..bareng Gale sama Teri?" tanya Fatur.
"Boleh bang, hari ini ga ada jadwal les kok!" jawabnya.
Gale kembali, ia sudah mengganti pakaian minim tadi dengan seragam, meskipun hampir sama saja pas badannya, Gale melapisi seragam dengan jaket jeans hijau mint miliknya.
"Yuk!" Gale masih dengan nafas terengah-engahnya.
"Lah ini anak bawang mau balik juga?" tanya Gale pada Fathya.
"Fathya Le, loe seneng amat ganti-ganti nama orang!" ketus Fathya malas, walau sebenarnya Fathya cukup senang. Hari ini adalah pertama kalinya lagi Gale mau mengajaknya mengobrol, setelah peristiwa dengan Seli. Itu artinya Gale sudah memaafkannya.
"Sama aja!" gidiknya acuh.
"Kalo gitu gue jalan duluan ke resto, Tur!"
"Oke," jawab Fatur.
"Gale, Fathya. Bang Teri duluan," Gale dan Fathya mengangguk.
"Ka Gale!!!" panggil adik kelasnya, dari lain arah. Fatur ikut menoleh saat membukakan pintu mobilnya untuk Gale.
"Ya?"
"Ini," ia menyodorkan selembar surat berwarna pink pada Gale.
"Apa?" tanya Gale.
"Ada salam dari kak Ahmad!" ucapnya terengah, dengan ragu Gale menerimanya.
"Ahmad?"
"Kak Ahmad XII IPS 1! " si adik kelas itu kembali.
"Oh,"
Belum Gale memasukkan sepucuk surat merah muda itu, Fatur langsung merebutnya, "eh.." Fathya mengulum bibirnya, baru kali ini ia melihat kakanya kebakaran jenggot karena cemburu.
Triple kill untuk Gale,
"Biar abang yang simpen!" ia memasukkan benda yang tak jaman lagi di masa orang-orang sudah menggunakan gadget itu ke dalam saku snelli-nya.
"Masuk," pinta Fatur pada Gale.
"Duh, bikin runyam aja!" dengus Gale menggumam.
.
.
.
.
Noted :
Kacruttt : plesetan dari kacau.
__ADS_1
Meneketehe : plesetan dari manakutau.
Skrining : pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui apakah seseorang beresiko lebih tinggi mengalami sebuah gangguan kesehatan.