Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
'Si positif thinking


__ADS_3

Ia menghirup nafas dalam-dalam. 4 hari berada di rumah sakit menurutnya terlalu lama.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," mama langsung merangkul menantunya ke dalam pelukan. Menangis diam-diam, setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gale melirik Fatur yang berada di sampingnya.


"Kalau sampai kamu sama calon cucu-cucu mama hilang, mama sendiri yang bakal bikin dia lenyap," Gale sedikit terkejut dengan ucapan mama, perempuan dengan sisi lemah lembutnya ternyata bisa sadis juga.


Gale tertawa getir, "Gale ga apa-apa ma, udah baik-baik aja. Mama jangan ngomong kaya gitu ah ngeri!" Malam juga belum tapi obrolan mama sudah main lenyapin orang aja, ngeri!


"Sini deh ma, tempelin tangannya!" pinta Gale antusias seraya mengajak mama duduk. Mama menempelkan telapak tangan dan mengusapnya di perut Gale. Ada getaran-getaran sayang dari dalam sana, tanda-tanda bahwa ada kehidupan di dalam, kedua wanita itu tersenyum.


"Kata abang mereka lagi rebutan tempat," ucap Gale membuat mama dan Fathya ikut tertawa kecil. Galexia, sosok gadis yang hanya ada hal positif di otaknya, selalu memandang setiap hal di hidupnya adalah anugrah. Kehamilan di usia mudanya tak menjadikan ia stres berlebihan, apapun pandangan orang, ia tak peduli..selama ia tak minta makan pada orang lain.


"Fathya juga mau Le!" seru Fathya mendekat dan menempelkan telapak tangannya bergantian dengan mama.


"Eh! Ada Ale!" tawanya senang.


"Mama bisa rasain kan cucu-cucu mama di dalem sana baik-baik aja." Gale mengerti jika ibu mertuanya ini marah dan murka, sejak dulu ia hanya bisa diam dan mengalah demi anak-anaknya yang masih kecil agar tidak menjadi contoh buruk bagi Fatur dan Fathya, tapi batas kesabaran seorang manusia ada batasnya. Bukankah orang jahat terlahir dari orang baik yang sering dijahati?


"Tetep jadi mama yang lembut dan bijak ya ma, buang jauh-jauh luka itu. Ikhlaskan masa lalu, biar jadi kenangan kalau mama adalah strong mother mampu berjuang bareng abang sama cabe juga, anggap aja setiap detik yang Allah kasih buat mama adalah cara Tuhan buat bikin kepribadian mama lebih tangguh," mama tersenyum dengan mata berlinang, mengusap surai hitam putri dari Arkala Mahesa.


Terbuat dari apa kamu Gale?


"Mama ada bikin puding," ucapnya.


"Mau! Kenapa ga bilang dari tadi ih," sewot Gale ia langsung meluncur menuju kulkas meskipun gerakannya pelan, sudah pasti mama menyimpannya disana.


"Biar mama aja yang ambil Le, kamu baru pulang dari rumah sakit. Mama aja yang liatnya ngilu!" mama menghampiri Gale.


"Ga apa-apa ma, harus dibiasain..di rumah sakit juga kebanyakan baringan. Bosen!" tembaknya.


Gale jadi berfikir, jika mama saja sampai rela melenyapkan bapak, lalu apa kabar dengan Fatur?


"Abang?!" panggilnya mencari dimana keberadaan Fatur, tapi tak ada jawaban dari lelakinya itu.


Ia mencari suami dokternya di kamar, sampai ke kolong ranjang tapi tak menemukan Fatur.


Tapi matanya terhenti saat menemukan Fatur sedang berada di luar dari bingkai jendela kamar.


Perempuan itu tertawa-tawa, "abang lagi ngapain?!" ia melihat Fatur dengan celana pendek selutut menampakkan kaki kuatnya ditumbuhi bulu kaki dan kaos hitam polos sedang menjemur pakaian dan dala man Gale. Seorang dokter muda, dengan segudang prestasi, memiliki asisten rumah tangga namun lihatlah sekarang, ia sedang menjemur pakaian.

__ADS_1


"Lagi godain cewek," jawabnya meniru cara Gale menjawab pertanyaan orang, Gale kembali tertawa dengan menahan perut.


"Biar sama Gale aja bang, turun dong harga diri dokter kalo kaya gini?!" Gale ingin mengambil alih pekerjaan Fatur.


"Biar abang aja, kamu duduk istirahat. Abang cuma cuci baju kamu selama di rumah sakit. Nanti bau dan berjamur kalo dibiarin lama," jawabnya meneruskan mengambil hanger atau gantungan.


"Lagian harga diri abang ga dijual, udah sold out! Bukan berarti bantuin istri terus harga diri suami turun sayang, kamu lagi makan puding kan? Udah makannya?" Gale mengangguk, bukannya masuk Gale malah menggeser kursi, memilih tempat yang tepat untuk melihat view di depannya.


"Kamu ngapain?" tanya Fatur.


"Mau nontonin orang ganteng jemur baju!" jawabnya santai.


"Bang, coba kaosnya dibuka biar lebih hot lagi?!" pintanya, Fatur menggelengkan kepalanya.


"Bener?! Kamu baru aja pulang dari rumah sakit loh! Nanti berabe lagi kalo jadi nav su?!"


Gale tertawa kecil, dengan cepat ia menutup akses pintu ke dapur.


"Takut ada yang liat! Kalo Fathya atau mama sama bibi sih gampang tinggal cari cowok, nah kalo mang Kosim yang mupeng gimana?! Berabe!" tawa Gale, untuk kali ini Fatur tertawa sependapat. 4 hari tanpa banyolan bumilnya, Fatur sungguh merindukannya, Gale bak candunya sekarang..bukan hanya urusan ranjang, tapi kehadiran, setiap celotehan, dan wajahnya adalah merk hero in pribadi Fatur sebagai suplemennya.


Fatur membuat gerakan membuka t-shirtnya, membuat Gale berseru.


"Wowww!"


"I love you abang!" pekiknya seperti fans boyband.


Coba bayangkan, lelaki sexy nan ganteng bertela njang dada, dengan celana selutut sambil bawa-bawa ember hitam 'anti pecah' dan sendal jepit, bukankah wow!


Gale menatap penuh teliti, namun matanya jatuh tepat di punggung tangan Fatur.


"Abang ini kenapa?" tunjuk Gale.


"Ini..." Fatur tak menjawab.


"Jangan bilang abang berantem, Gale tau ini bekas apa bang? Ini tuh kaya nonjok sesuatu!" dahinya berkerut.


"Abang..."


"Bapak?" tanya Gale, sorot mata Fatur tak bisa berbohong.


Gale mengalungkan kedua tangannya di leher Fatur.

__ADS_1


"Jangan kaya gini lagi, Gale ga mau ayah dari anak-anak Gale jadi anak durhaka," Fatur mengangguk.


Tangan Fatur mendongakkan dagu Gale, lalu menatap lekat bibir merah muda istrinya, sudah 4 hari ia tak merasai bibir itu, ia rindu..


Pas sekali momentnya, dilattari oleh langit sore kejingga-jinggaan keduanya menyatu dalam rasa rindu yang menggebu dan saling mengasihi.


Selalu manis, rasa coklat ataukah vanilla...


"Pudingnya rasa coklat sama vanilla ya?" tanya Fatur, membuat Gale terkekeh, "aduh jadi pengen pipis ih, nahan terus ketawa!"


"Awas pipis di celana lagi, abang baru beres nyuci loh!" Gale kembali menahan tawanya.


"Tuh kan, abang mah! Gale jadi pipis lagi dikit!" cemberutnya, tawa itu tak pernah hilang dari Fatur.


"Abang harus nyuci lagi atuh?!" tanya nya, Gale mengangguk.


"Abang minggu besok Gale mulai masuk kampus ya, kayanya mau nyicil tugas ospek, biar ga riweuh alias hectic!"


"Iya, belajar yang bener! Biar bisa jadi dokter berkompeten, sesuai dengan apa yang kamu cita-citakan," masih dengan posisi Fatur memeluk pinggang Gale, dan Gale memeluk leher Fatur.


"Iya,"


"Jangan nakal, ga usah pecicilan terus gombalin cowok. Banyak yang suka baper sama kamu!"


"Iya,"


"Jangan banyak lirik kanan kiri, lurus aja sesuai tujuan kamu buat belajar,"


"Nabrak atuh nanti," kekeh Gale.


"Ck, dibilangin juga!"


"Iya abang, perlu Gale catet engga?"


"Catet disini!" Fatur menempelkan dahinya dan dahi Gale.


"Catet, kalo kamu sudah punya suami sebentar lagi mau jadi bunda..."


"Iya,"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2