
Gale menaruh sendok di piringnya. Sayang sekali rasa nikmat dan lezat ketoprak harus terganggu dengan kedatangan Cika.
Anak heitttsss Bakti Persada, yang katanya saingan mpok Alfa di sosmed pada masanya, saingan lambe turah di dunia pergosipan dan saingan Anya Geraldine dalam hal kecantikan, cih! Gale ingin tertawa mendengarnya.
"Turun derajat loe, gaul sama anak buangan?!" dengusnya tertawa mengejek.
Gale berdiri, tangan Fathya sudah menahan swetter Gale kuat-kuat.
"Le, jangan diladenin. Udah kita makan aja terus balik," bisik Fathya. Mata Gale manatap penuh dengki pada gadis dengan rambut panjang lurus sampai punggung, entah biar apa ia benar-benar membuatnya selurus sapu ijuk, tak tau gaya-gayaan biar orang tau dia abis rebonding atau menutupi punggungnya yang berlubang?
Gale sampai menoleh pada Fathya, tak percaya jika Fathya melarangnya untuk membalas jelmaan nini towok begini.
"Loe takut sama modelan neneknya sinchan begini?" tunjuk Gale pada Cika, gadis itu sontak melotot disebut neneknya sinchan, mungkin karena alisnya yang dibuat setebal sinchan atau karena kelakuan Cika yang lebih menyebalkan dari si sinchan.
"Kurang aj ar!" decak Cika.
"By the way, gue udah mau direkrut sama pihak Betawi dancer loh! Just for your info!" mata dan gayanya yang angkuh membuat Gale ingin mendorongnya ke piring ketoprak.
"Ini buat loe yang waktu itu jambak rambut gue sampe rontok!" Cika tiba-tiba meraih teh tawar panas bahkan masih menguarkan asap di meja dan menyiramkannya ke arah Gale.
Gale dan Fathya sampai tergelonjak, terutama Gale yang merasa perut dan dadanya tersiram air panas.
"Aww panas! Woy, si@*lan! Jangan lari loe!" Gale mengejar Cika karena gadis itu langsung berlari setelah menyiram Gale.
"Orang kaya begini ga bisa dibiarin!" tanpa mengambil start Gale mengejar ben cong taman Lawang satu itu.
"Cabe bayar ketoprak!!"
"Galee!!!"
Fathya menggaruk telinganya serba salah, "aduhh!"
"Bang berapa?"
"30 ribu neng,"
"Ini uangnya, makasih!"
"Tapi neng ini belum habis?!!" jerit si abangnya.
Fathya berlari mengejar Gale, "Gale tungguin!!"
Dengan membelah lautan manusia kadang sampai menabrak-nabrak, Fathya kepayahan menyusul dua gadis nakal itu.
"Ya Allah Gale!" jerit Fathya saat melihat Gale kini malah sedang jambak-jambakan dengan Cika. Peristiwa dulu terjadi kembali, hanya bedanya jika dulu masalah antrian cilor, dan kali ini adalah buntut dari kejadian lalu, dan mungkin puncak dari permasalahan kedua gadis ini sebelumnya.
"Bilang aja loe sirik sama gue! Karena gue bisa foto bareng Hans Hutabarat! Kompetisi kemaren juga loe ga ikutan, pasti karena ga masuk babak kualifikasi, loe kan selalu jeaolus sama gue!" ujar Cika di tengah usahanya membalas jambakan Gale. Mereka jadi tontonan beberapa pengunjung di area itu. Untung saja keduanya bertengkar bukan di tempat seramai tadi, namun tetap saja banyak orang melintas dan melihat.
"Aduh ! Loe berdua tuh malu-maluin tau ngga?!" pekik Fathya ingin memisahkan. Tangannya menggapai-gapai Gale lalu beralih ke tengah diantara Gale dan Cika untuk memisahkan cengkraman tangan keduanya tapi tetap sia-sia.
Gale menjambak lebih keras, begitupun tarikan Cika.
"Loe yang sirik sama gue, tanpa harus ketemu pun gue di DM duluan sama Hans! Loe pikir situ oke? Ngaca! Muka sama leher udah kaya papan catur hitam putih!" jawab Gale.
"Sembarangan! Ale-ale!!"
"Tanpa harus gue ngemis-ngemis pun gue kenal sama Hans!" jelas Gale mengenalnya, siapa lagi kalau bukan onta-nya Deni.
__ADS_1
Di tempat lain
Fatur memijit pangkal hidungnya merasa lelah, operasi dokter Rey berjalan lancar atas diagnosa dan saran tindakan darinya, ia membuka snelli dan mengunci kembali ruangannya. Beberapa kali ia membaca riwayat penyakit dan gejala yang dialami, pasien mengalami anfal dan butuh tindakan secepatnya, disini otaknya yang belum sepenuhnya sadar harus ia maksimalkan.
***
"Masih ada waktu, kayanya Gale juga masih di CFD," gumamnya melirik arloji seraya mengemudikan mobil, melaju membelah jalanan di hari weekend. Beberapa kali ja menghubungi Gale, tapi tak mendapat respon dari istri nakalnya, ia mencoba menghubungi adiknya.
Ponsel Fathya bergetar saat sedang melerai kedua gadis-gadis yang entah sedang meributkan apa, ia pun tak mengerti.
"Abang?!" matanya melotot penuh harapan. Hatinya lega sang kaka akhirnya menelfon.
"Hallo, abang!!! Abang tolongin Fathya. Gale berantem bang!"
Fatur sampai mengerem mobilnya mendadak mendengar kabar mengejutkan ini, "berantem?"
"Kamu sama Gale dimana, abang udah sampe!"
"Fathya sama Gale di deket taman sebelah timur yang ada umbul-umbul promosi sosis!"
"Oke abang kesana!" Fatur mematikan panggilannya, segera memarkirkan mobil di tempat yang memang sedikit jauh, lalu berlari sekencangnya.
"Dek, ya Allah udah dek!" lerai salah satu pengunjung disana.
"Gale, Cika udah!!!" Fathya sampai berkeringat berusaha memisahkan keduanya.
"Diem loe cupu! Ternyata pindah dari BP, loe ada peningkatan gaul sama preman sekolah gini?! Biar loe ga cupu lagi dan bisa berantem di sekolah baru gitu?!" ucap Cika, kata-katanya ini semakin membuat tarikan tangan Gale menguat di rambutnya. Gale juga mengunci kaki Cika dan menghempaskannya ke bawah jalanan beraspal.
"Brukk!!" Fathya sampai tak berkutik melihat aksi Gale.
"Astaga!" decak si pria dan Fathya melihat Cika terkapar sambil meringis.
"Jadi loe yang bully Fathya dulu di BP, harusnya tuh loe masuk BK atau engga dikeluarin dari sekolah, gue rasa korban loe bukan cuma Fathya!" sungut Gale berapi-api membalikkan pad topinya ke belakang.
Cika bangun dengan meringis, dihempaskan seperti ini lumayan membuat badannya ngilu, para karateka saja dihempaskan selalu dialasi matras sedangkan ia? jalanan beraspal.
"Karena gue Cika, siswi istimewa di BP! Anak kesayangan di BP,"
"Ga mungkin pak Arka mau mungut loe jadi anak kesayangan di BP! Bakalan gue laporin kejadian ini sama kepsek loe!" ancam Gale. Cika tertawa mengejek, "silahkan kalo loe kenal! Kepsek gue orangnya kalem, ga akan kemakan omongan orang luar. Yang ada loe orang luar di hempas!"
Gale menyeringai dan tertawa, ingin rasanya ia meneriaki Cika Pak Arka ayah gue!!!!
Cika tak terima ditertawakan seperti itu, apalagi seorang Gale..ia dituntut harus bisa lebih dari siapapun termasuk Gale, kupingnya selalu panas jika mendengar anak BP selalu membicarakan primadona dari sekolah lain. Mulai sejak itu ia selalu mencari tau tentang Gale, dan kebetulan sekali mereka selalu di pertemukan di tukang cilor jajanan kesukaan keduanya, begitupun hobby yang sama, kompetisi sama menyeret nama keduanya di bangku rival.
Cika bangun dan langsung menyerang Gale dengan menarik rambut Gale, Gale tak tinggal diam ia kembali menyarangkan cengkramannya di rambut, membelitnya kuat dan kaki yang ia layangkan di tulang kering Cika.
"Dek, sudah dek. Jangan berantem!" ucap seorang pria mencoba memisahkan keduanya bersama Fathya.
"Ya Allah Gale!!" Fatur datang tepat pada waktunya, sebelum orang-orang yang melihat lebih banyak lagi.
"Abang!" seru Fathya.
Fathya dan seorang pria menahan Cika lalu Fatur menahan Galexia.
"Saya abangnya gadis ini mas, makasih! Maaf jadi repotin," ucap Fatur. Sengaja Fatur belum mau mengakui hubungannya di depan orang luar, mengingat Gale masih sekolah. Apalagi jika dilihat-lihat gadis yang tengah bertengkar dengan Gale tidak menyukai Gale, bukan tidak mungkin akan menjadikan ini suatu kesempatan untuk membalas Gale.
Gale dan Cika masih menatap penuh permusuhan dengan tampilan yang sudah semrawut.
__ADS_1
"Awas loe Galexia! Liatin aja gue bakalan bikin KENCANA BAKTI malu punya siswa kaya loe!"
"Sangat gue tunggu! Tunggu kartu pemecatan dari BP buat loe! Ijazah loe bakalan ditahan!!" sungut Gale.
Cika merapikan rambut dan bajunya, sementara Gale masih ditahan Fatur. Fatur membawa Gale ke tempat yang lebih sepi.
"Ada masalah apa sampai berantem gitu? Ga malu diliatin banyak orang?" tanya Fatur, kedua alisnya hampir bersentuhan saking ia menatap tajam pada istri nakalnya. Pria itu meminta adiknya Fathya membeli air mineral.
"Ga apa-apa. Cuma masalah lama!" jawabnya ketus.
Fatur menghela nafasnya merapikan rambut Gale dan pakaian yang dipakainya, sweeternya sedikit miring ke kiri menampilkan leher dengan cap darinya.
"Liatin aja! Siapa yang bakalan lebih dulu ambil tindakan!" desis Gale.
"Le, udah lah. Emang masalah apa sih, sampe segitunya? Jangan bikin masalah jadi runyam, kamu udah mau lulus," Fatur melihat bekas cakaran Cika di punggung tangan dan sedikit di pipi Gale.
"Ini sampe luka-luka gini? Bisa ngga sebentar aja, pas waktu ga sama abang kalem sedikit?" tanya Fatur masih dengan ekspresi yang sama.
"Lukanya harus dibersiin, takutnya kuku dia kotor!"
"Udahlah nanti aja di rumah, Gale udah biasa!" jawab gadis ini santai menurunkan tangan Fatur dari wajahnya.
"Lagian dia yang mulai duluan bang! Dia ganggu Gale, nyiram air panas ke baju! Terus jambak rambut Gale, dia juga yang udah bully Fathya dulu waktu di BP!" sembur Gale tak terima.
"Bully?" Fatur mengernyit.
"Emang Fathya ga bilang sama abang?" Gale mendengus.
"Pasti ga berani," gumamnya tersenyum miring.
"Dia siram kamu pake air panas? Dimana?" tanya Fatur.
"Bagian dada sama perut," Fatur mencoba mengecek sweeter Gale yang memang basah, dan memang kulitnya sedikit memerah.
"Gale ga apa-apa bang," jawabnya. Fathya menyerahkan air mineral pada Gale.
"Nih diminum!"
"Gale lapar lah! Baru juga satu suap ketoprak, mana dah dibayar lagi!" gerutunya. Fathya mengulum bibirnya, "lagian maen pergi aja! Kalo balik lagi juga pasti udah diberesin abang sama ibunya."
"Kamu lagi makan barusan?" tanya Fatur mengusap kepala Gale.
"Iya lah, terus keburu datang nenek sihir! Berantem deh, Gale lapar bang, dari bangun tidur belum sempet makan, mana semalem..." Gale memicingkan matanya pada Fatur.
"Semalem kenapa?" tanya Fathya penasaran.
"Abis ngeronda!!" sarkas Gale, ditertawai Fatur.
"Yuk cari makan lah! Perut Gale udah konser bang!"
.
.
.
.
__ADS_1