Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Merasa dibandingkan


__ADS_3

Gale benar-benar takjub dibuatnya, Fatur memang mandiri dan rapi. Peralatan mandinya saja disimpan dalam satu pocket bening lengkap dari mulai kebersihan ujung rambut hingga ujung kaki semua ada disini. Terkadang ia malu sendiri karena ia tak serapi Fatur.


"Katanya kebelet ?" tanya Fatur.


"Malu," cicit Gale.


"Cepat atau lambat abang bakalan liat semua yang ada di diri kamu, itung-itung sekarang membiasakan diri sebelum nanti abang ambil hak abang," jawab Fatur. Ucapan itu sontak menuai rasa hangat di hati Gale dan menjalar ke wajahnya.


"Apa abang serius mau jadiin Gale partner hidup abang?" tanya Gale, mendadak kepercayaan dirinya merosot tajam.


"Untuk apa abang nikahi kamu kalo abang hanya main-main ?" Fatur baru setengah tela_njang.


"Gale mau lakuin itu, atas dasar cinta bang." Jawabnya menunduk.


Fatur mengangkat wajah Gale, "maka dari itu cintai abang!"


"Bang,"


"Hm,"


"Gale pipis di celana, abang ih!" meweknya. Fatur melirik ke arah bawah Gale, ternyata memang sudah basah dan rembes. Fatur tertawa terpingkal. Sementara Gale yang sudah memegang kedua lengan Fatur tak mau melepaskannya agar Fatur tak terlalu fokus pada celananya yang sudah basah.


"Astagfirullah! Abang bisa awet muda kalo hidup sama kamu, Le!"


"Abang ih hiks! Jangan bilang sama Fathya atau yang lain. Kan malu!" omel Gale.


"Janji! Asal ada uang tutup mulut!" jawabnya.


"Preman sekolah pipis di celana," tawa Fatur kembali meledak.


"Abisnya abang ngomong terus, Gale udah ga kuat!" serunya cemberut dan sewot.


"Terus ini gimana?" tanya Gale mengusap sudut matanya.


"Ya dibukalah celananya," jawab Fatur.


"Biar mandi bareng sama abang," Gale langsung menggeleng kuat.


"Enak di abang! Gale belum mau dibobol," jawabnya.


"Engga, abang janji!"


"Janji abang janji dompet kulit buaya, imitasi..palsu!"


"Insyaallah engga," jawab Fatur meyakinkan.


"Tapi abang balik badan, biar Gale mandi duluan?!" pintanya.


"Boleh," Gale menatap Fatur ragu, tak pernah ia bayangkan di usia 18 tahun ia mandi di depan laki-laki, meskipun Fatur adalah suaminya, tapi jujur ia belum siap melepas harta berharganya yang ia jaga selama 18 tahun ini.


Gale melepas pegangannya di lengan liat Fatur, lalu pria ini membalikkan badannya sesuai janjinya. Gale membuang nafas kasar, lalu satu persatu mulai membuka helaian demi helaian pakaian yang menutupi badannya. Hingga kini badannya polos toples.

__ADS_1


Gale menyiramkan air dingin ke badannya dengan gayung.


Byurrr!


Percayalah, Fatur ingin sekali menoleh saat ini juga untuk melihat godaan terbesar di belakangnya, apalagi tak ada dosa yang akan membayanginya ataupun Gale.


Semut hitam yang berjalan merayap seperti sedang menertawakannya yang tak berani melanggar kepercayaan Gale. Bahkan s3tan dalam pikirannya mulai menghasut dan membisikan kalimat perayu agar ia mau membalikkan badannya. Waktu terjadi seakan slow motion untuknya, begitu lama.


Otaknya sampai travelling bagaimana wajah segar Gale sepaket dengan lekukan tubuh gadis itu.


"Shittt!"


"Udah?" tanya Fatur saat tak lagi mendengar suara gemericik air. Tapi tak ada jawaban dari Gale.


Ia membalikkan badannya, tapi tanpa diduga, Gale tiba-tiba menubruk badannya hingga membuat Fatur terpundur dan punggungnya menabrak tembok, gadis itu mengecup singkat bibirnya.


"Makasih udah bisa Gale percaya," ucapnya, jarak antara wajahnya dan Gale hanya beberapa centi saja.


"Ambil wudhu sana, kita solat subuh jamaah di surau Pondok, bareng yang lain!" titah Fatur, Gale mengangguk.


Gadis ini mengambil wudhu lalu keluar dari kamar mandi.


...----------------...


Surau Pondok sudah ramai, tidak bisa menampung semua anak-anak Pondok. Mungkin usia sekitar 14 sampai 18 tahun, dan beberapa anak yang dibawah usia itu.


"Kamu abis ngapain tadi subuh? Rusuh banget! Harus hati-hati kak, di rumah kake Hadi tuh ga semua tembok, tapi bilik kayu!" ucap Shania mewanti-wanti anaknya ini.


"Ngomong-ngomong kaka masih bisa jalan ke surau atau digendong Fatur?" tanya Shania.


Gale menaikkan alisnya, "ngapain di gendong-gendong mii? Kaki kaka masih sehat ga lumpuh?!" tanya Gale.


"Ya kali aja, kalo yang pertama kali kan suka sampe sakit bagian itunya sampe kadang jalan aja ganjel! Sampe lecet," jawab Shania berbisik.


"Ha?" Gale menggelengkan kepalanya, masa perang bantal sampai susah berjalan. Aneh-aneh saja ibunya ini.


Gale sengaja masih memakai atasan mukenanya, untuk menutupi kissmark di lehernya. Ia berjalan bersama momynya dan Kia sambil bergelayut manja di lengan ibunya, hal yang sudah jarang bahkan langka ia lakukan lagi sekarang.


Dari tatapannya ia melihat Fatur sedang mengobrol dengan perempuan, sepertinya mantan anak Pondok juga karena disana ayahnya ikut nimbrung, terlihat Fatur ikut ketawa-tiwi bersamanya.


"Sarah?!" sapa momynya saat menemui mereka.


"Eh, bu Sha!" serunya senang melihat Shania.


"Ini pasti..."


"Neng Dara?!" tanyanya. Karena terkadang Gale dipanggil dengan nama Dara.


Gale tersenyum tipis. Jika Sarah mengingat Gale, tidak dengan gadis ini.


"Ini..."

__ADS_1


"Kia," jawab Kia.


"Gimana kabarnya Sarah?" tanya Shania.


"Alhamdulillah baik bu, ibu sekeluarga gimana?" tanya nya kalem dan manis. Momy nya bisa bermanis-manis ria, tapi tidak dengan Gale yang menganggap Sarah adalah ancaman, karena sedari tadi ia melirik terus ke arah Fatur dengan mata memuja.


"Alhamdulillah,"


"Sarah udah jadi perawat Sha," ucap Arka.


"Oh hebat! Fatur dokter, kamu perawat. Wah hebat-hebat!"


"Semoga nanti bisa ketemu sama bang Fatur, bisa kerja bareng!" jawab Sarah.


"Aamiin," Gale melotot dengan jawaban suaminya ini.


"Liat kan kak, ka Sarah, bang Fatur sudah jadi apa yang mereka cita-citakan, kamu sudah siap? Sebentar lagi sudah memasuki ujian," tanya Arka, berharap anaknya ini mulai serius memilih universitas bergengsi dan meninggalkan dunia dancenya, dengan otak Gale yang mumpuni, bukan tidak mungkin jika ia akan menjadi seorang dokter atau ilmuwan dan sebagainya asalkan tidak dengan dance. Ternyata apa yang dipikirkan Arka berbanding terbalik dengan pikiran Gale, tak ada satu orang pun yang ingin dibanding-bandingkan dengan orang lain, secara tak langsung pertanyaan ayahnya menyinggung Gale, belum lagi senyum Shania dan Fatur yang mengembang untuk Sarah.


Rasa marah dan kesal seketika menyelimuti Gale, "siap! Sejak dulu Gale siap buat ninggalin Jakarta ke Amerika kejar cita-cita!" jawabnya tajam tanpa melirik lagi wajah kebingungan dari Fatur. Jika ditanya gen siapa yang lebih besar menempel pada Gale, jawabannya jika sedang mode ngambek begini, duplikat Arka benar-benar menempel di diri Gale.


"Wah Dara mau ke Amerika?" tanya Sarah berseru.


"Niatnya, mau ikutan kompetisi dance! Buat rebut hadiah tiket ke Amerika! Insyaallah harus bisa," ketus Gale, tanpa sadar ucapannya membuat Fatur, Shania, dan Arka mengerutkan dahinya.


"Permisi, Gale duluan!" hawa panas bergemuruh di dadanya.


"Ini gue kenapa sih?Mau pms apa gimana?!"


"Gale!" teriakan Fatur tak digubris Gale, gadis itu terus berjalan menuju rumah pak Hadi.


"Cah?! Loe kenapa?" tanya Ori yang berada disana melihat wajah keruh Gale.


"Apa?! Loe juga mau bilang, kalo ga ada yang patut dibanggakan dari diri gue?! Gue yang selalu bikin masalah, gue yang selalu bikin onar dan repotin semua orang? Cita-cita gue yang kampungan?!" dadanya naik turun menandakan emosi yang menggebu di sana.


"Loe kesambet apa?" tanya Ori kebingungan.


"Ga lucu!" sarkas Gale, refleks Ori menarik Gale ke dalam pelukannya. Fatur yang melihat itu seketika menarik tangan Gale dengan kasar hingga membuat Gale kini terlepas dari pelukan Ori, dan menubruk dadanya. Tapi Gale segera berontak dan masuk ke dalam rumah.


"Jaga sikap Ri, gue hargai loe anggap Gale adik. Tapi hanya sebatas itu, tidak sampai melewati batas!" ucap Fatur tajam dan dingin membuat Ori meringis.


"Sorry, sorry Tur..kelepasan. Kebiasaan gue peluk Gale. Tapi loe juga harus inget Tur sama kata-kata gue, dan hari ini gue liat Gale ga baik-baik aja. Jangan bilang itu ulah loe?!"


"Jangan campuri urusan rumah tangga saya!" Fatur segera masuk ke dalam menyusul Gale.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2