
"Kenal Galexia? Yang perutnya buncit lagi hamil, kaya orang busung lapar ?! Yang absurdnya ga ketulungan tapi cantiknya luar binasa?!" pertanyaan yang sungguh membuat hati teriris-iris kaya bawang merah.
Ia menggeleng setengah mengerutkan dahi, bertanya tapi kaya mau ngajak ribut.
Karena Irvan nan jauh disana, jadinya personel kurang satu, trio kwek-kwek akhirnya masuk almamater kuning sepaket mulut sembrononya, atas permintaan Gale.
"Masa sih ga ada yang kenal sama model majalah bobo?!" gumam Lila sontak dihadiahi toyoran dari Faisal dan Andini.
"Guysss! Welcome di kampus orang!!" pekik Gale baru muncul bersama Nadia dan Arlan.
"Lele! Bontot! Calon bunda, calon dokter anak-anak ga waras!" balas Andini dan Lila berlari menghambur ke arah Gale. Sontak saja Arlan, dan Nadia juga orang sekeliling mereka menatap aneh.
"This is Pandawa Le! Ga kangen loe, udah kaya anak ilang aja ga pernah muncul ke permukaan, kelelep di kobokan pecel lele mana?" Lila dan Andini memeluk Gale, sangat amat rindu...
Faisal menjewer ketiga gadis ini, "ga usah malu-maluin bapak! Gini nih anak ga di adzanin waktu bayi."
"Aduduh! Ical ih, kangen tau sama Lele!" aduh Lila mengusap kupingnya.
"Oh iya, sampe lupa! Ini Arlan, ini Nadia," Gale mengenalkan kedua temannya.
"Hay," mereka berjabat tangan saling melempar senyum.
"Ini temen baru Lele?" Nadia sampai menahan kedutan di bibirnya agar tak tertawa.
"Iya, kita temen satu fakultas sama Galexia,"
"Hilih! Ga usah seformal itu sama kita. Kebagusan namanya dipanggil lengkap, panggil aja lele.." ujar Andini.
"Berisik! Reputasi gue bagus disini Dono, mau jajan ngga? Tapi disini ngga ada keripik!"
"Gitu kek dari tadi, apa harus gue pingsan di tanah terus guling-guling biar loe peka!" jawab Faisal.
"Lan, Nad..ikut jajan ke depan kampus yuk! Ini temen-temen fakir gue mau makan katanya! Tapi jemput dulu si cabe ya, ntar abang ngomel-ngomel kalo ga bareng!" kekeh Gale.
Andini, Lila, dan Faisal melotot, "ck, siarlan lah! Dibilang fakir dong!" Arlan yang namanya disebut hanya bisa terkekeh.
"Ck, ck kakak ipar yang baik!"
"Loe ga tau ini siapa?" tanya Andini menunjuk Faisal.
"Siapa?!"
"Adek pungutnya pengacara kondang, yang banyak berliannya! Andre taulany!" jawab Andini.
Pffttt, hahahaha!"
"Itu bukannya pelawak ya?!" tanya Lila membeo.
"Udah tau nungging!" ujar Gale.
"Nanya sist, nanya bukan nungging!" dumel Lila.
"Kac roet nih anak-anak. Balik lah kelian kurang obat!" angguk Faisal berjalan duluan.
"Iyain aja lah, gue mah bebal yang penting perut kenyang!"
__ADS_1
Arlan dan Nadia tak berhenti tertawa, padahal dilihat dari gaya dan outfit mereka. Sepertinya mereka pun bukan orang-orang sembarangan, barang-barang yang melekat di tubuhnya merupakan brand ternama. Tapi memang beginilah apa adanya mereka.
"Bener ya, pantes aja pada pengen masuk sini." Faisal mengedarkan pandangannya melihat area kampus.
"Eh, Le..kolam Makara dimana, gue pengen liat dong. Lagi dinyalain ngga?" tanya Lila antusias kaya anak tk lagi karyawisata.
"Ngapa?! Loe mau ikut mandi atau nyuci disana?" tanya Gale.
"Njirr, sad banget idup gue, kalo sampe numpang mandi disana," jawab Lila.
"Kayanya lagi nyala deh tadi, tapi ga tau kalo sekarang!" jawab Arlan. Mereka berjalan berkeliling sambil menunggu Fathya selesai dengan acara senatnya.
"Eh ngomong-ngomong si cabe kemana?" tanya Andini.
"Katanya mau ikutan kegiatan kesenatan kampus!" jawab Gale acuh, padahal atas usulnya dan paksaannya lah Fathya mengikuti kegiatan itu, agar luas pergaulan.
"Hah?! Kesetanan?!" tanya Faisal yang sudah oleng. Cuaca panas, lelah yang mendera dan perut yang lapar membuat indra pendengaran seketika tak berfungsi.
Bwahahahahah! tawa mereka meledak seketika.
"Saravvv njir ih!" ujar Lila dan Gale.
"Kuping loe! Emang minta dibersiin pake linggis!" sarkas Andini mendorong pelan bahu Faisal.
"Ha-ha-ha, gue ga berenti ketawa lah! Kalian gokil abis," ucap Arlan berpendapat.
Anak-anak kesenatan baru saja bubar jalan dari ruangannya. Fathya yang baru saja keluar dan mendongak melihat Gale dan kawan-kawannya.
"Ale!" mereka menoleh lurus karena kebetulan arahnya berpapasan.
"Cabe?!"
"Bukan kayanya, belum pernah liat." Jawab lelaki yang menyampirkan jaketnya di bahu. Randi mengerutkan dahinya, nampak good looking dari kacamata anak milenial, tapi mereka asing.
"Cantik-cantik men!" bisik Saka diangguki Abi.
"Satu frekuensi kayanya sama Galexia, pantes aja ! Iya kan Ran?!" goda Robi.
"Maaf kak, permisi.." Fathya menyela langkah mereka untuk menyapa Gale dan Pandawa.
"Eitts Fathya ikut BEM nih?" tanya Faisal.
"Iya sal, disuruh Gale!"
"Bwahahaha! Kaka yang perhatian oyyy," ketiganya mengacak rambut Gale.
"Ga usah diacak-acak juga, tangan loe abis ngupil!" desis Gale.
"Buru lah laper uy!" ucap Ical.
"Jajanan di depan kampus enak-enak loh!" ujar Nadia.
"Oh ya? Kuy lah Le, sikat!" ajak Faisal, setelah bertemu Fathya sambil keliling-keliling kampus favorit di Indonesia mereka kembali untuk jajan.
"Di traktir Lele lah! Kita kan tamu!" tawa Faisal merangkul pundak Lila.
__ADS_1
"Ogah ah! Gue tau emak loe dapet arisan ya, pasti loe kecipratan!" balas Gale.
"Ha-ha-ha anak motor maenannya arisan emak-emak dong!" tawa Andini merangkul Gale.
"Lele tuh yang banyak duit, abis malak abang semalem ya Le?" kekeh Fathya bongkar kartu. Gale menepuk jidatnya.
"Wah! Asik dong,"
"Mau gue traktir, tapi nanti baliknya loe bertiga jadi tumbal pembangunan jalan sana!"
"Njirr! Bontot sadis!"
"Gue otewe cari juga lah kaya Lele, om om dokter atau CEO ganteng, tajir, sayang istri, soleh kaya om dokter Fatur!" jawab Lila.
"Cinta emang buta!"
"Kalo cinta buta, gue udah pacaran sama pohon bukan sama orang," sahut Gale dari belakang.
"Hahaha, bener lah bontot! Gue suka gaya loe," tawa Faisal. Sementara mereka membuka forum obrolan unfaedahnya Nadia, Fathya dan Arlan hanya bisa menyimak sambil tertawa-tawa, specchless pasalnya omongan Pandawa sulit untuk mereka imbangi, level otaknya sudah berada di atas langit-langit rumah.
"Dih, lele bukan gitu juga! hamil bikin lele ga romantis lah," manyun Lila menoleh ke belakang.
"Bukan soal romantis ga romantis, tapi cinta itu memandang logika. Orang-orang lebay tau ngga sih, katanya cinta tak membutuhkan alasan kalo engga alasannya karena hati yang memilih, ga setuju gue! Kalo cinta tak beralasan dan hati yang memilih ko kebetulan banget cintanya sama cowok ganteng, tajir, plus keren?! Bulshitt lah! Kalo hati yang memilih, dari dulu gue udah merit sama tukang cilor di deket sekolah BP! Abisnya cilornya bikin gue jatuh hati!" jelas Gale dengan gaya acuhnya.
"Bwahahahahaha! Kimvritt gue punya temen gini amat!"
"Gue bakalan minta dilamar pak Ujang, soalnya sering bukain gerbang sekolah waktu gue bolos! Dan hati gue tersentuh karena itu,"
"Kayanya dosen disini mesti banyak ngucap istigfar dapet mahasiswi kaya loe, Le!"
Coba loe tanya gue apa yang bikin gue suka sama abang?!" pinta Gale.
"Apa?" tanya ketiganya melambatkan langkah dan berjalan berdampingan dengan Gale.
"Karena dia...."
"Kenapa?"
"Karena dia..."
"Buru ah, lama-lama gue kentutin juga loe!" kesal Andini. Gale tergelak, ini yang paling dia suka dari teman-temannya yang nyablak.
"Karena dia, udah pernah nyium kentut gue!" Gale tertawa puas melihat wajah teman-temannya keheranan sekaligus masam dan berjalan bersama Fathya, Arlan dan Nadia.
"Kimvrittt! Dasar istri ga ada akhlak!" desis ketiganya.
"CCS, cantik-cantik saravvv!"
Gale tertawa sambil menoleh dan memelet pada ketiga temannya.
"Enaknya diapain tuh anak?!" tanya Lila.
"Ceburin ke empang om gledek yang isinya ikan baraduda!" tawa Andini, berlari menyusul Gale.
"Njirrr sue! Punya temen ga ngakhlak semua,"
__ADS_1
Tanpa sadar, di belakang mereka beberapa pemuda mendengar celotehan absurd Pandawa sambil tersenyum-senyum sendiri melihat kekonyolan mereka.
"Parah, Galexia. Cantik-cantik gokil! Kalo belom merit gue kejar!" kekeh Robi.