Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Air mata buaya


__ADS_3

Gale melirik ke arah Fatur, dengan mata mendelik ia menggerutu, "ini kenapa masih dipake-pake?" jiwirnya di lengan jas Fatur.


"Abang buru-buru, soalnya kamu udah marah-marah. Ruangan aja minta dikunciin suster Nita."


"Buka--buka!!! Mau pamer, biar apa? Biar keliatan keren? Biar bisa tp--tp (tebar pesona) sama mahasiswi disini apa gimana? Jangan macem-macem pak dokter, kalo ga mau jantungnya Gale tusuk pake belati?!" kedua alisnya terangkat dan berkacak pinggang, sadisss! Bisa se-terang-terangan itu Gale menyatakan warning-nya, sementara Fatur justru hanya bisa uring-uringan tak jelas di belakang Gale jika cemburu. Sungguh perbedaan karakter yang mencolok. Sebenarnya ada senyum merekah disana, begitu sayangnya Fatur padanya sampai ia tergesa-gesa begitu demi tak mau melihat Gale marah.


"Ini kotor, sekalian nanti minta kamu cuciin," kekehnya. Bibir Gale langsung menyungging tak enak.


"Ya udah lepas, buruan. Bang Ori sama yang lain udah di cafe dari tadi," baru saja mereka ingin keluar dari area taman,


"Dok!" beberapa mahasiswi yang sepertinya mengenali Fatur berlarian seperti korban kebakaran.


"Dokter Faturrahman Al-Lail kan?"


"Iya?" Fatur dan Gale membeo.


"Wahhh, aslinya ganteng banget!"


"Boleh minta foto bareng ngga?"


Gale sampai dibuat menganga, matanya membola, selebar dunia. Kehadirannya seperti dianggap angin pantai, hanya melambai-lambai namun tak nampak.


"Si*@lan," desisnya pelan.


"Eh, iya tolong fotoin dong boleh kan?!" pintanya pada Gale, ia terlihat mengotak-atik ponsel pintarnya.


"What??!!" pekik Gale,


Fatur mengulum bibir melihat istrinya terlihat kesal dan melongo begitu. Coba, bagaimana bentukan cemburu istri gemoy nan nakalnya ini? Fatur ingin mengetahuinya.


Gadis itu menyerahkan ponsel milik si cowok pada Gale, terlihat jelas Gale meraih ponsel mereka dengan kasar dan raut wajah menabuh genderang perangnya.


"Emang muka gue mirip banget kaya tukang foto di Ragunan gituh?!" gerutunya, demi apa? Fatur ingin sekali meledakkan tawanya melihat wajah masam bin kecut Gale.


Mereka mengambil gaya seperfect mungkin di samping Fatur yang diam saja sudah tampak keren berkharisma, sorot mata Gale memandang penuh dengki dan murka. Wajahnya sudah memerah pertanda siap-siap meledak.


"Nyebelin!"


Gale memotret mereka tapi bukan ke arah Fatur dan dan para mahasiswi itu. Ralat, 3 mahasiswi dan satu mahasiswa tapi mahasiswa ini tulang lunak alias melambai.


"Oke siap ya! Satu..dua..!!" pinta Gale ketus.

__ADS_1


Jepret!!!


Gale malah mengarahkan bidikan kameranya ke lain arah.


"Tuh!" Gale dengan sengaja melempar ponselnya ke bawah lalu pergi dengan menghentakkan kakinya kasar dari sana, berjalan cepat dan lurus saja.


"Eh! Oyy, hape gue nih! Kalo ga ikhlas bilang dong!" ucap si tulang lunak segera meraih ponsel dan mengelusnya layaknya hewan peliharaan kesayangan. Beruntung Gale tak jadi melemparnya ke kolam Makara.


"Eh, maaf atas tindakan istri saya. Kalo ada kerusakan ponselnya nanti bisa hubungi pihak kampus saja, biar nanti konfirmasi ke saya. Saya tanggung jawab," Fatur segera berbalik dan menyusul Gale sambil terkikik geli. Marah istri nakalnya ini memang dahsyat.


"Eh, iya dok. Maaf! Kita kira bukan..." mereka sempat terkejut tak menyangka jika Gale adalah istri dari dokter tampan itu. Karena rasa senang bertemu dengan sosok idola, mereka sampai lupa sekitar.


Saat keduanya mengecek hasil jepretan foto, betapa terkejutnya mereka.


"Njayyy dong! Yang difoto malah pohon," omelnya.


...----------------...


"Gale!" beberapa kali Fatur berteriak memanggil tapi Gale tak menggubrisnya.


Mengingat kejadian tadi Fatur tertawa dengan suara pelan. Gale terus saja berjalan cepat malah setengah berlari mencari dimana letak mobil Fatur, ia berdecak..harusnya marah ga usah nanggung. Marah, tapi yang dicariin mobil Fatur, kalo masih sayang dompet ga usah so so'an pake acara marah.


"Nyari mobil ya neng cantik?" kekeh Fatur, mata Gale menatap tajam pada Fatur, saat lelaki itu mendekatinya.


Langkah Gale menjauh dari parkiran, tapi Fatur menangkap tangannya.


"Iya deh, maaf abang salah. Jangan marah atuh, masa istri abang secantik ini cuma dijadiin tukang foto ?!" ia masih tertawa.


"Ga usah ketawa! Seneng kan, banyak yang suka?! Gale dianggap apa?!" sengaknya.


"Engga gitu, masa iya mau nolak. Nanti dikira sombong, lagian belum pernah ada yang gitu sebelumnya, mereka udah kaya junior abang." Fatur memegang kedua pundak Gale, sementara wanita ini membuang muka ke lain arah.


Wajahnya masih merah, tanda jika ia masih cukup marah.


"Jadi engga, ketemu Ori?"


"Jadilah! Mana mobil, buka pintunya, Buru!!" decaknya memerintah sambil melotot. Sungguh menggemaskan marah Gale, ngeri-ngeri gemesin. Fatur menarik tangan Gale lembut menuju dimana mobilnya dan membuka pintunya.


Gale duduk dengan kasar dan membanting pintu mobil, tangannya bersidekap di dada dengan pipi menggembung, hampir tak dapat dibedakan yang mana pipi yang mana perut.


Fatur tertawa sambil menggelengkan kepalanya, "gemes,"

__ADS_1


Setidaknya rasa kesal tadi saat melihat Gale berdua bersama Randi terbalaskan dengan melihat rasa cemburu Gale, terkadang lelaki pun lebay...ingin melihat bagaimana dicemburui pasangan, agar tau seberapa besar rasa keposesifan si pasangan. Senang rasanya melihat Gale marah saat ada yang mendekatinya.


Fatur melirik Gale beberapa kali, dengan mata yang bergantian fokus ke jalanan, sebelah tangannya meraih tangan Gale.


Semula, Gale bersikukuh melipat kedua tangannya, menolak Fatur. Tapi lama-kelamaan, ia akhirnya luluh kala Fatur membawa tangannya di genggaman dan mengecupinya beberapa kali.


"Jangan marah lagi, abang minta maaf, lain kali abang bakal nolak."


"Abang ga peka! Masa ga tau kalo Gale marah, giliran Gale deket-deket cowok lain, abang juga marah kan? Gale juga sama!"


"Gale juga punya hati!" ia menyentuh dadanya, menandakan jika hatinya berdenyut dan sakit.


"Itu jantung sayang,"


"Bo*do!" sungut Gale menarik tangannya dari genggaman Fatur.


"Seenggaknya ijin dulu kek, Gale bukan angin yang engga keliatan!" ia sesenggukan, rupanya bumil ini menangis. Fatur sampai menghentikan mobil dan menepikannya, ia jadi menyesal karena niat usilnya berujung menangisnya Gale.


"Eh, ko nangis? Jangan nangis, abang salah..abang minta maaf. Abang tau sebenernya, tapi abang sengaja mau liat gimana reaksi Gale kalo ada yang deketin abang. Udah ya, abang minta maaf. Ga akan diulangin lagi," ia membuka seatbelt dan memeluk Gale.


"Ya udah, Gale mau apa? Sebagai permintaan maaf abang," tawar Fatur mengurai pelukan dan mengusap sudut mata Gale.


Wajah itu langsung cerah, "kalo gitu abis ketemu bang Ori, Gale mau nonton! Gale juga mau makan di restoran jepang, udah lama ga kesana,"


"Oke,"


"Gitu kek dari tadi, kan ga usah ada drama mewek segala!"


Fatur kembali ke stelan awalnya datar dan dingin, "jadi yang barusan?"


"Itu namanya air mata buaya!" tawa Gale puas mengusili balik Fatur, pria ini menyeringai.


"Sini abang tunjukkin serangan buaya lapar!" Fatur memajukan posisinya ke arah badan Gale, lalu menarik tuas jok Gale hingga membuat Gale sedikit merendah.


Sontak saja Gale terkejut dengan apa yang dilakukan Fatur, "abang?!"


Fatur menahan kedua tangan Gale dan mulai mendaratkan bibirnya di bibir Gale dengan ber has rat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2