Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
You are Invited!!


__ADS_3

...💞Tasyakur Nujuh Bulanin💞...


...You are Invited!!!...


...Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera. Bismillahirahmanirrahim,...


...Kami mengundang bapak/ibu dalam acara tasyakur 7 bulanan anak pertama kami. Waktu dan tempat :...


...Minggu, 17 November 202X (jam 09.00 WIB)...


...Gardenia Residence blok- B 12, Jakarta....


...Atas kehadirannya kami ucapkan terimakasih, tiada kesan tanpa kehadiranmu. Wassalam....


...Fatur Dan Gale...


...*************...


Priit!


Priit!


"Kanan pak kanan!" Kondisi rumah sudah ramai, namun tetap kondusif.


"Parkir di lapang voli sebelah aja pak!" satpam komplek mendadak jadi tukang parkir di rumah Gale. Rupanya Fatur mengundang banyak orang dalam acaranya ini, termasuk ayah Arka dan momy Shania.


"Abang kenapa jatohnya jadi kaya hajatan!" jujur saja Gale tak terlalu suka dengan keramaian seperti ini. Beda halnya dengan Fatur, Arka dan Shania, acara 7 bulanan Galexia menjadi ajang pengumuman jika Fatur dan Gale sudah menikah, berhubung pernikahan mereka dulu hanya dilakukan di rumah sakit secara tertutup.


"Anggap aja ini resepsi kita dulu, bukan buat pamer. Tapi sekedar pemberitahuan, atau silaturahmi buat kerabat sama rekan kerja kalo abang udah ga sendiri. Ga enak kan kalo ada bahasa mereka yang bilang kita sombong, ga undang-undang?" jelas Fatur, bibirnya tak lepas dari senyuman melihat Galexia berbalut baju muslim putih berenda potongan payung ditambah jilbab dan make up tipis, tampak sangat cantik. Sedangkan Fatur sendiri memakai kemko putih dan celana bahan hitam, juga songkok.


"Bang, ka Gale! Udah ditunggu yang lain di bawah!" ucap Andro setengah menempel di daun pintu.


"Iya Ndro, abang sama Gale kedepan."


"Yuk!" ajak Fatur, Gale menerima uluran tangan Fatur untuk keluar dari kamar.


"Bujug busrak!! La, gua kira ga serame ini?! Biasanye gua kalo undangan jadi mak paraji ga segini banyaknya tamu, palingan orang sekampung, mana pejabat sama orang gedongan semua 'ya! Kalo kaya gini, gua nerpes La, etdah!" mak Mpon mendadak pucat melihat tamu undangan bukan orang-orang sembarangan (baginya). Sedikitnya yang datang memakai kendaraan pribadi.


Mama Fatur mengusap pundak wanita yang kini sudah berusia hampir 60 tahun itu.


"Mak, mak paraji paling top dah se-Citayem!" tawa mama Fatur.


Nyak haji bertindak sebagai mc acara, para tamu tidak duduk menggelar di bawah, namun di kursi yang sudah disediakan. Ada rekan sejawat Fatur, rekan kerja di rumah sakit termasuk direktur rumah sakit, bahkan Seli ada disana.


Rekanan bisnis momy, dan para kerabat juga rekanan bisnis ayah. Tetangga di gang Irit dan tetangga sekitar, tak lupa teman dekat Gale, keluarga besar Kurawa, keluarga angkringan dan keluarga Route 78.


Gale didampingi Fatur masuk ke dalam ruang tamu yang sudah disihir menjadi nuansa putih hijau, dan balon huruf yang ditempel di halaman depan, tepat pintu masuk.


..."Nujuh Bulanin Galexia"...


...(Tujuh bulanan Galexia)...

__ADS_1


"Gale cuy Gale..." tunjuk Andini saat Gale keluar di rangkul Fatur dengan perut buncitnya.


"Pake jilbab jadinya kalem!" kekeh Faisal.


"Mih, ka Gale cantik pake kerudung. Nom-nom juga mau mih kaya gitu?!" ujar Naomi menarik-narik baju Lelicia, ibunya.


"Iya, nanti Nom-nom dijilbab. Bilang sama papih!" angguk Leli, bocah 7,5 tahun itu menyerbu ayahnya Denial menceritakan keinginannya dengan heboh lalu duduk di pangkuan Deni.


"Ga nyangka ponakan gue yang masih bocah udah mau punya bocah lagi, perasaan baru kemaren tuh anak minta es krim sambil ngesot-ngesot nyeret tas kuda poni!" tawa Guntur dan Ari.


"Itu artinya loe berdua udah tua! Tapi menolak tua," sahut Melan.


Langkah Gale tak lepas dari sorot mata para tamu.


"Mak! Ibu hajat, diem aja kenapa sih! Jangan sibuk ngurusin makanan terus, ada yang lain!" ujar Ari yang menatap lelah ibu hajat satu ini, malah sibuk jadi petugas catering.


"Tuh, besan, anak sama mantu loe disana mak! Malu sama relasi bisnis, kalo disini loe kaya petugas catering," tawa Guntur dan Deni duduk diantara barisan keluarga.


"Berisik loe! Gue mau cek dulu, takut ada yang kelupaan," alasannya padahal Shania sedang menutupi kegugupannya.


"Asal jangan deketin sama si om pong mak, pasti makanan bakalan kurang terus!" tawa Roy mengehkeh.


"Loe semua bisa ga, ga usah berisik. Udah pada tua tapi kaya bocah!" decak Niken.


"Tau nih!" setuju Inez.


"Sha, itu pak Arka udah disana masa loe tinggal?!" tunjuk Leli.


"Ha-ha-ha, saravvv! Anak dah dua tapi mentalnya mental perawan, buruan sana, disini ada kita-kita!" Melan mendorong Shania.


Akhirnya calon granny yang selalu tampil cantik dan awet muda ini melangkah menghampiri keluarganya. Kurawa lebih dari sekedar teman, sahabat untuk Shania sekeluarga, mereka sudah seperti keluarga yang selalu ada 24 jam selama 7 hari.


Fatur memanggil seorang santri berprestasi di gang Irit untuk membacakan ayat suci al-Qur'an. Lantunan ayat yang merdu membuat ruangan seketika sejuk dan damai.


Mama menaruh beberapa botol air di tengah-tengah para tamu yang tengah khusyuk bersama kembang 7 rupa.


Seiring dengan elusan yang dilakukan mak Mpon di perut Gale, ia kemudian membawa Gale bersama Shania ke kamar untuk berganti pakaian.


"Mii, Gale ga mau kainan begini. Malu!" rengeknya melihat kain samping tergeletak di ranjang yang sudah disiapkan untuk ia pakai.


"Kagak neng, kan ditutupin pake kembang melati," jawab mak Mpon.


"Janji jangan yang vulgar ya mak?!" pinta Gale,


"Berisik deh! Momy dulu juga gini," Shania membelitkan kain samping di badan Gale, lalu rangkaian melati menutupi tubuh bagian pundak, bahu sampai dada Gale. Terakhir Shania memasangkan bandana yang terbuat dari untaian melati di kepala Gale, dengan rambut yang dicepol satu.


"Kagak usah pake sendal neng, takut licin!" ujar mak Mpon.


"Udah kaya lemper mak ini, dibelit-belit!" kekeh Gale dihadiahi toyoran Shania dan tawa mak Mpon.


Saat ketiganya keluar dari kamar, ternyata Arka sudah menunggu di luar pintu kamar, menatap lekat putrinya.

__ADS_1


Ia merangkul putrinya dari samping, membantu Galexia berjalan ke tempat siraman. Tangan Gale memeluk pinggang ayahnya dari samping.


"Lancar-lancar sampai lahiran," ucapnya kemudian mengecup pucuk kepala Gale.


"Uhh, terharu gue!" Lila meremas lengan Faisal.


"Terharu sih terharu oncom, tapi tangan gue jangan dipelintir gini!" omel Faisal.


Acara yang dipandu nyak haji beralih ke halaman, Gale digiring menuju tempat yang sudah disediakan dan duduk disana. Nuansa adat kedaerahan sangat terasa dengan rangkaian bunga-bungaan dan tembang yang di dendangkan.


Mak Mpon sudah berdiri bersama keluarga Gale, ia membacakan do'a dan memegang ubun-ubun Gale,


"Byurrr!"


Air dari 7 masjid yang sudah bersatu dengan bunga, telur, 2 butir kelapa dan air do'a tadi membasahi kepala hingga kaki Gale. Ia mengerjap karena dinginnya air.


"Silahkan nak Fatur, sebagai suami dan ayah dari jabang bayi.." nyak haji mempersilahkan Fatur untuk ikut menyiramkan air ke tubuh Gale.


Fatur tersenyum tampan penuh suka cita menatap Gale, wajahnya refleks maju dan mengecup pucuk kepala Gale hingga memantik kehebohan para tamu.


"Sehat-sehat sayang, lancar sampai lahiran,"


"Woahhhh!!!"


"So sweet! Jack and Rose mah kalah romantis lah!" seru Andini dan Lila ditertawai tamu yang lain.


"Berisik bandrek!!" toyor Faisal menatap tak enak pada tamu lain yang sontak memandang ke arah mereka. Belum usai dengan kehebohan Andini dan Lila, onta satu ini juga ikut berseru, "uhuyyy! Pasangan romantis abad kini, gantinya Habibie--Ainun!" pekik Roy.


"Berisik sableng!" dorong Ari. Shania dan Arka menepuk jidatnya, kenapa harus dilahirkan diantara orang-orang baik namun kewarasannya digadaikan. Tak mungkin kan, Shania melemparkan sepatu haknya ke arah mereka di depan para tamu undangan.


Gale dan Fatur tertawa melihat kekonyolan mereka.


Fatur kembali mengecup ubun-ubun dan kening Gale, lalu menyiramkan air dalam gayung batok kelapa ke atas kepala Gale. Selanjutnya Arka dan Shania, entah kenapa jika menghadapi kedua orangtuanya ini Gale selalu melow, nampak jelas ia sangat menahan untuk tidak menangis, menangis seakan ingin menumpahkan rasa menyesal jika selama ini belum bisa menjadi seperti apa yang diharapkan kedua orangtuanya. Menumpahkan kekhawatirannya akan proses kelahiran nanti. Lalu Andro dan Fathya yang ikut ambil bagian menyiram Gale, tak lepas kecupan sayang di kening Gale dari adik dan adik iparnya, kemudian mama mertuanya yang malah memeluk Gale,


"Makasih Gale," bisiknya mendaratkan kecupan singkat dengan hidung di kedua pipi Gale yang basah. Terakhir oma dan opanya dalam satu guyuran. Begitu banyak cinta untuk Galexia disini, para tamu tak luput mengabadikan moment haru ini di bidikan kamera ponselnya.


.


.


.


Noted :


Bujug busrak : kalimat spontan bernada sama dengan "waduh! busett!" bahasa betawi pinggiran.


Etdah : buset deh!


Nerpes : nervous, gugup.


Orang gedongan : orang kaya, orang berada.

__ADS_1


__ADS_2