Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Nge-bolang


__ADS_3

Betapa Tuhan menyayangiku, saat ku membuka mata yang kulihat itu kamu....


Anggap saja, Tuhan menukar semua permen di masa kecilku dengan tiket untuk memilikimu...


Faturrahman Al-Lail


 ----------------------------


Wajah tenang Gale seperti tak menyimpan beban hidup apapun, teruslah seperti ini karena kamu adalah obat untuk semua orang di sekitarmu.


Cup!


Kecupan basah Fatur membuat si pemilik jidat arena adu kelereng ini terusik.


"Abang, ih! Ngapain deket-deket?!" sewotnya mengeluarkan bola mata indahnya. Indah, tapi sayangnya bola mata ini sering melotot kalo Fatur melakukan hal-hal intim. Fatur tersenyum, paginya sudah dimulai sejak Gale berteriak-teriak.


"Sun (cium) in the morning dulu atuh!" pinta Fatur, layaknya penganten baru. Alih-alih mengiyakan seperti pasangan romantis abad kini, Gale malah mendorong wajah Fatur.


"Gale masih bau!" Gale menutup mulutnya. Fatur tertawa, inilah gadisnya, bukannya membiarkan Gale bangun Fatur malah menangkap pinggang si lincah-nya.


"Abang ih! Awas, mau dikasih bom lagi ini mah?!" ancamnya.


"Sok, biar abang sesep neng!" tantangnya.


"Ih, jorok!"


"Kan biar jadi pasangan sehidup semati, sepiring berdua, mandi dan bo*ker pun bersama!" kekeh Fatur menggoda.


Gale ikut tertawa, apakah benar yang ia nikahi adalah seorang dokter yang katanya terkenal dingin dan kaku, seharusnya seorang dokter itu dewasa, berwibawa dan pintar. Apa ia salah lamar kerjaan? Harusnya Fatur melamar jadi personel Cagur. (kelompok komedian)


"Idih, ga gitu juga! Kalo sepiring berdua Gale mana kenyang! Lebay banget sehidup semati," decihnya.


"Sehidup semati, aku hidup kamu mati..." jawab Fatur. Gale kembali tertawa lepas, "saking susahnya jadi dokter, abang jadi stress. Kasian amat laki Gale ya Allah, ck.." gumam Gale turun dari ranjang.


Gumaman Gale yang mengatainya stres sontak membuat Fatur semakin tergelak. Baru kali ini Fatur bisa tertawa selepas ini.


"Hari ini Gale mau ikut a Badar panen ubi, bang!"


"Kebun ubi panen?" tanya Fatur ikut turun.


"Iya," Gale mengambil baju gantinya di koper.


"Ubi dari sini bagus-bagus. Ga terlalu besar tapi juga ga kecil-kecil."


"Ubi dari sini dikirim kemana?" tanya Gale.


"Kalo jamannya abang, ayah sama om Hendra punya chanel ke supermarket sama usaha rumahan Pondok, nanti uangnya selain buat makan sehari-hari sama biaya operasional Pondok, anak didik yang pada gede-gede dan kerja dapet gaji juga atau biasanya pada nyebut uang saku."


"Oh, Gale mau belajar bertanilah! Biar jadi juragan, kaya om gledek!"


"Boleh tuh! Biar jadi juragan ubi," jawab Fatur.


"Engga ubi aja bang, kaya om gledek juragan sayuran sama ikan,"


"Boleh, asal ga lupa sama tugas istri," jawab Fatur lagi.


Ceklek


Gale keluar dari kamar, terlihat kamar Ori masih tertutup pertanda si empunya kamar masih dangdutan bareng biduan di dunia mimpi.


Gale memang tipe gadis aktif, ia tak bisa jika hanya berdiam diri saja, duduk dan menonton. Sedangkan di sekitarnya orang-orang sibuk. Selepas mandi dan sarapan, Gale langsung on the way kebun.


"Mau nge-bolang dulu!" gumamnya pamit pada sang momy, dimana lagi tempat momy-nya jika bukan di dapur bersama beberapa anak didik Pondok. Mengajarkan resep produk yang bisa dijual dari bahan pangan yang ditanam di Pondok agar menghasilkan cuan.


Panas, basah, kotor tak jadi penghalang buatnya, untuk bersenang-senang.


Ia menyeka buliran keringat di sepanjang garis wajah. Angin sepoi-sepoi jam 9 pagi menggerakkan helaian rambut yang mencuat dari kepangan. Beberapa petak ruangan kelas nampak riuh oleh anak-anak Pondok yang sedang menimba ilmu.


"Panggil gue si bolang!" ujar Gale berseru mengangkat ubi ungu sejajar dengan wajahnya.


"Wah, gede tuh Le!" jawab Kia.


"Masuk grade a, itu Le!" sahut Badar.


"Bolang, bocah kena tilang? Apa bocah ilang?" tanya Ori.


Arka dan Hendra, melihat panen kali ini di tepian kebun, seraya mengobrol tentang pengembangan usaha Pondok agar kualitas produk di Pondok semakin baik.


Fatur ikut membantu, mungkin sudah kebiasaannya saat di Pondok dulu, ia ikut andil dalam setiap proses panen sayuran.

__ADS_1


Ori hanya jadi pengawas saja sambil nyemil tanpa mau berkotor-kotor ria, katanya seperti bocil mainan tanah begitu.


"Bocah petualang lah! Ga pernah nonton tv ya, punya tv ga sih di rumah?" jawab Gale mendesis dan tatapan sinis. Sikap inilah yang membuat Ori selalu ingin mengganggu Gale. Sayangnya Kia tak seperti Gale disaat mereka sedang berdua, apalagi ia sangat terkejut saat dengan beraninya gadis itu mencium bibirnya di bioskop.


"Sorry ya, gue bukan tv lagi, tapi pake layar tancep!" jawab Ori.


"Oh, yang kalo gerimis langsung bubar?" tanya Gale berseru, raut wajahnya polos namun penuh ejekan, membuat mereka yang ada disana tertawa.


"Ha-ha-ha, si bocah!" ia menggelengkan kepalanya menyeruput teh manis.


"Loe dokter, tapi makan loe asal gabres aja bang. Gue sumpahin loe buncit terus diabetes!" umpat Gale pada Ori.


"Sembarangan, ini ga terlalu manis! Sumpah loe ga mempan buat gue,"


"Kaya laki gue dong, iya kan bang. Makannya dijaga! Soalnya liat bini aja udah kemanisan!" ucap Gale jumawa.


"Iya kan bang ?" Gale meminta persetujuan Fatur.


"Iya," jawab Fatur.


"Ha-ha-ha, laki loe iya nya kepaksa, Cah!" tawa Ori.


"Cah...cah...dikira gue cah Sodik, emang rambut gue kepangannya banyak gitu?!"


"Bukan cah Sodik, Le...cah kangkung!" jawab Kia menimpali.


"Ha-ha-ha, tos dek!" Ori menunjukkan hi-five nya pada Kia dari tempatnya.


"Kia nih, mentang-mentang udah sehati sama bang Ori, pindah haluan dari aa!"


"Neng netral a," jawab Kia.


"Ihh, jijik gue !" gidik Ori, kedua gadis ini tertawa.


Gale menghela nafasnya, "capek?" Fatur menghampiri dan menyeka keringat Gale dengan t-shirtnya, sontak saja Gale memeluk perut Fatur.


"Abang ih!" netranya menajam penuh peringatan. Tapi laki-laki ini santai saja mengelap buliran keringat di dahi Gale.


"Itu tahu sutranya kemana-mana. Ada Kia sama yang lain, liat!" lanjutnya. Fatur terkekeh, "ga ikhlas ya? Padahal kan abang mau sedekah,"


"Dih, racun!!" sarkasnya.


"Neduh yuk! Muka kamu udah merah," ia menurunkan kembali ujung t-shirt yang kini bernodakan tanah merah dan keringat Gale tapi gadis ini belum melepaskan tautan tangannya dari sana. Ia masih asyik menatap wajah berkeringat Fatur.


"Woy ah! Kalo mau pelukan jangan disini, ga liat tuh pada ngiler!" teriak Ori.


"Waduh, bang Fatur! Ngiri nih bang," sahut Badar ikut mesem-mesem meski tangannya masih sibuk mengais-ais tanah mencari ubi yang tersembunyi di dalam tanah.


"Pengen dipeluk juga!" jawab Kia merengek.


"Jomblo lagi sirik! Abaikan!! Kalo bisa tuh orang tenggelamkan aja lah, dokter di Indonesia masih banyak ini," jawab Gale.


"Sicimprit nyebelin ! banyak cewek ngejar pada minta dipeluk! Di Indonesia ga ada dokter kaya gue, langka!"


"Iya langka, ga ada dokter yang bibirnya lemes kaya akun admin gosip. Kayanya loe mesti di masukkin ke suaka margasatwa bareng gajah lampung!"


"Bukan Le, tapi burung Cendrawasih deh!" sahut Kia.


Dan kalimat Gale tadi meledakkan tawa mereka, Badar saja sampai terduduk di tanah seraya memegang perutnya.


"Kimvritt si bocah!"


"Nah kan bang, abang aja sebagai dokter jaga ucapan! Nah bang Ori, udah ga ada saringannya, los dol!" tunjuk Gale meminta pendapat Fatur.


"Gue kaya gini cuma kalo lagi sama loe sama Kia," jawabnya.


"Cewek tuh ngejar loe bukan pada minta dipeluk. Tapi mau cekek loe !"


"Entah nagih utang!" pendapat Kia lainnya, Kia dan Gale bertos ria.


"Tos sistahhh!"


"Ini bocah dua, rese amat. Tur, Badar..ga niat buat belain gue apa?" tanya Ori meminta pertolongan, wajahnya seakan mengatakan help me! Fatur menggeleng.


"Engga bang lah, mulut neng Dara killer!" jawab Badar.


"Ga berani Ri, takut jatah gue dipangkas," jawab Fatur, bukan hanya Ori saja yang terkejut dan melongo dengan jawaban Fatur, tapi yang lain juga. Terang saja, Fatur tak pernah bercanda, malah terkesan selalu serius dan dingin. Sekalinya ia mengeluarkan candaan, malah jadi awkward moment.


"Jatah apa bang?!" tanya Gale. Fatur mengedipkan matanya pada Gale.

__ADS_1


"Aduh, Gale kelilipan! Kelilipan cintanya abang," tawanya.


"Idih, minggat loe berdua!" gidik Ori.


"Sirik si jomblo!" desis Gale.


"Jomblo tuh pilihan, kalo gue mau besok gue pacaran!" jawab Ori, Kia melirik penuh keterkejutan.


"Loe so jual mahal sama cewek, gue heran, loe orang apa minyak goreng bang!" mimik wajah Gale selalu sinis jika sedang adu mulut begini.


"Yahh, disamain sama minyak goreng!" tawa Badar.


"Hayu bang ah! Pacarannya jangan disini, ada biangnya si masha!" Gale bangkit disusul Fatur.


"Dar! Badar! Angkut ke gerobak biar dibawa ke pancuran. Udah ditunggu Gina sama anak-anak lain," pekik Hendra.


"Siap pak!" jawab Badar.


Netra Gale jatuh pada ayahnya, tak banyak perubahan pada diri ayahnya. Karena memang sang ayah adalah sosok yang kalem dan kebanyakan diam.


"Bang, ayah bakalan sehat terus kan ya?" tanya Gale, sorot mata gadis itu penuh dengan kekahwatiran melihat ayahnya.


"Kenapa nanya gitu?" Fatur meraih sandal Gale dan mencari batang kayu, sementara Kia melakukan hal yang sama sendiri.


"Bang, ayah kena jantung koroner, ayah juga udah jalanin prosedur pasang ring. Ayah ga akan kenapa-napa kan bang?" Fatur sedikit terkejut dengan ucapan Gale. Darimana gadis itu tau?


"Tau darimana ayah sakit jantung?" alisnya terangkat menatap Gale.


"Ayah sendiri yang bilang."


"Ayah baik-baik aja. Dan insyaallah akan baik-baik saja. Kamu ga usah khawatir," jawabnya.


Gale mendongak dengan air muka memelas, penuh permohonan "Gale boleh minta sesuatu sama abang?"


"Jangankan hanya sesuatu, semua pun jika abang mampu akan abang kasih,"


"Tolong awasin kesehatan ayah bang, abang harus pastikan kalo ayah akan baik-baik aja."


"Abang bukan Tuhan sayang, tanpa kamu minta pun abang akan berusaha semaksimal mungkin dengan ilmu dan kemampuan yang abang punya buat membantu ayah, biar ayah bisa menikmati hidup dengan lebih berkualitas. Sampai Allah benar-benar tau kapan ayah harus kembali,"


"Makasih, abang juga harus sehat." Tambahnya.


"Iya. Cuci dulu tangan sama kakinya di pancuran, Le." Pinta Fatur membersihkan sandal jepit Gale dengan sebuah batang kayu dimana tanah merah sudah menempel tebal.


"Iya! Bang, Gale sama Kia duluan ya?!"


"Yuk, Ki!" ajak Gale.


"Sebentar ini sendalnya," baru saja Fatur menyodorkan sandal Gale, gadis itu sudah merintih kesakitan.


"Awww!"


"Gale,"


Kia mengangkat kedua alisnya, karena dengan sigap Ori langsung melompat dari tempatnya hendak menyentuh kaki Gale, untuk melihat keadaannya, meskipun ia kalah cepat dari Fatur.


"Biar saya saja," ucapnya dingin pada Ori.


"Oh oke, sorry." Raut wajah Ori mendadak redup, ia menggaruk tengkuk tak gatal.


"Baru juga abang mau kasih sendal kamu," Fatur menyingkirkan batu-batu tajam yang menempel di telapak kaki Gale dan membuangnya ke pinggiran supaya tak terinjak orang lain.


"Sakit?" Gale mengangguk.


"Jangan di bukain gitu bang, sakit!" tangannya berpegangan di pundak Fatur yang membungkuk.


"Kayanya masuk deh bang,"


"Bukan kayanya lagi, tapi udah berda_rah," jelas Fatur.


Dengan sekali hentakan Fatur menggendong Gale.


"Cuci dulu lukanya, biar nanti abang obatin," lanjutnya. Ori membeku di tempatnya.


Fatur melewati Ori begitu saja, termasuk Kia yang sedikit kecewa dengan reaksi gercep Ori, padahal sudah jelas Fatur suaminya ada di belakang Gale. Galexia masih menetap di hati Oriza hingga saat ini.


"Bang Ori ! Ikut Kia!" Kia menarik tangan Ori untuk mengikutinya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2