
Tak banyak obrolan di dalam mobil, tepatnya memang mereka tak bicara satu sama lain. Hanya suara perpindahan gigi dan suara jalanan di luar yang masuk melalui celah kaca jendela mobil, hingga mobil bergerak masuk parkiran sebuah rumah makan khas betawi dengan gambar seorang bapak tua berpeci hitam memegang mangkok.
"Gabus Pucung Babeh Mu'in"
Teri sudah berada disana duluan dan memilih tempat duduk.
Fatur meraih tangan Gale dan menggenggamnya, melihat dimana Teri duduk.
Gale masih meneliti tempat makan ini, perintilan khas betawi lawas tertempel di beberapa dinding, begitupun bangunan semi bambu ini.
"Bang Fatur!" sapa seorang pemuda dengan t-shirt wangky berwarna merah bata, bertuliskan nama rumah makan tempat mereka berada sekarang.
"Fath," ia menyapa Fathya.
"Bang Jali,"
"Jali, babeh mana Li?" tanya Fatur.
"Ada di dapur, mau makan bang?!" Jali mempersilahkan mereka untuk memilih tempat.
"Udah pesen Li, tuh!" tunjuk Fatur pada Teri.
"Oh, oke dah! Pesen minum apa bang, biar aye (saya) siapin?" tanya nya.
"Kaya biasa Li," jawab Fatur. Lirikan mata Jali jatuh pada gadis yang sedari tadi meneliti tempat ini.
"Siapeh (siapa) bang, pacar?" tanya nya menaik turunkan alisnya.
"Bini Li,"
"Bini bang?!!" Jali cukup terkejut, pasalnya ia terlihat seusia Fathya, ditambah dengan seragam yang ia pakai.
"Oh, jadi ini nyang (yang) kata mak Mpon bini bening abang," ia mengangguk-anggukan kepalanya. Mendengar nama mak Mpon disebut, Gale tau jika orang-orang ini adalah orang dekat Fatur.
"Kenal mak Mpon?" tanya Gale langsung nyambar kaya ikan cup ang dikasih cacing sutra.
"Kenal lah neng! Orang mak Mpon tetanggan, udah viral bang Fatur kawin di gang Irit. Tapi jahat lu bang, ga undang-undang!" ujar Jali mendengus.
"Iya dadakan Li, biar nanti abang ke gang Irit buat silaturahmi sekalian sukuran!" jawab Fatur.
"Ya udah bang, duduk dah kesianan (kasian) bediri terus,"
"Udah pesen belum?" tanya Fatur pada Teri.
"Belum, baru nyampe gue!" jawabnya.
"Bang, Gale ke toilet dulu deh!" ijinnya.
"Iya, toilet di sebelah sana!" tunjuk Fatur.
"Oke,"
Sepeninggal Gale, Fatur dan Fathya duduk.
"Fath,"
"Iya bang?"
"Kamu belum laporan sama abang loh?!"
"Oh iya, Gale ga deket sama siapapun selain Pandawa, sebenernya dia itu anaknya jutek bang kalo di sekolah. Cuma ga tau, cowok-cowok pada suka malahan. Ya, kaya yang abang liat barusan di sekolah! Sejauh ini Gale ga pergi kemana-mana selain dari yang abang tau cuma sebatas rumah, rumah om Arka, sekolah, sama rumah sakit."
Teri sampai melongo dibuatnya, "busett!" ia tertawa.
"Pandawa tuh nama orang? Bukannya tokoh wayang?" tanya nya mengintrupsi.
"Pandawa, cs nya Gale yang tadi berempat bang. Ivan, Ical, Lila, sama Andini," jawab Fathya.
"Oh, oke..oke," angguk Teri.
__ADS_1
"Sampe segitunya loe Tur, nyuruh adek buat mata-matain istri loe sendiri?!"
"Harus!!" jawabnya singkat dan tegas.
Jika Teri dan sebagian orang akan berfikir Fatur bucin, lebay, posesif biarlah. Karena Fatur sadar akan itu, memenangkan Gale bukanlah perkara mudah, saat itu Allah sedang mengasihaninya. Ada perjuangan keras di dalamnya.
"Bucin," kekeh Teri.
Fatur teringat akan surat tadi, ia membuka surat yang sudah ia pindahkan ke saku celana.
"Apaan tuh, surat? Masih jaman?" tanya Teri.
"Siapa Ahmad Fath?" tanya Fatur pada adiknya.
Fathya yang tengah memainkan tempat tusuk gigi mendongak, " Ahmad anak band sekolah, udah ga aneh bang. Ahmad, Nungki anak OSIS, Mulya anak Rohis, Oni anak pecinta alam, Kevin anak basket, Rovi anak voli!" jawab Fathya menghitung dengan jari.
"Hm,"
Sepertinya memang Gale seperti dugaannya, banyak yang menyukai.
"Ck, ck! Bukan main, banyak saingan loe Tur! Wajar sih kalo menurut gue," Teri ikut hanyut dalam obrolan ghibah sepasang adik kaka ini.
"Ralat Ri, bukan saingan. Tapi calon kuman!" jawab Fatur.
"Wah! Asik bener, ngomongin apa nih?!" Gale tiba-tiba datang dan duduk di samping Fatur membuat mereka cukup terkejut, terutama Fathya yang mengadu.
"Le, ih! Kaget gue!" sewot Fathya.
"Dih, apaan sih. Orang gue nanya juga!"
"Udah?" tanya Fatur.
"Udah, tadi barusan Gale liat ondel-ondel dipajang disitu deket ke toilet, ada taman kecil juga! Bagus deh bang! Foto yu Fath, mau gue upload di sosmed!" ajak Gale.
"Ga usah upload-upload lah, ngapain?" jawaban Fatur membuat tak hanya Gale yang specchless, bahkan gadis itu mengerutkan dahinya jadi beberapa lipatan.
"Ha? Kenapa? Biasanya juga abang ga pernah larang-larang Gale?" raut wajah Gale mulai keruh.
"Tuh makanan datang! Makan dulu!" tunjuknya, biarkan ia memberikan tip pada si pelayan karena datang tepat pada waktunya, Teri mengulum bibirnya melihat tingkah Fatur seperti bocah abege sedang dimabuk cinta.
"Oh, yee! Kebetulan perut Gale dah laper!" Gale berseru meneguk salivanya melihat makanan menggiurkan lidah.
"Wangi banget!" binar matanya membuat Fatur tersenyum.
"Makasih," refleks Gale pada pelayan seraya menebarkan senyuman manis. Memang ini kebiasaan Gale yang sering diajarkan Arka dan Shania, jadi disaat siapapun membuatnya senang ia akan mengucapkan terimakasih, tak membedakan siapapun dia.
Pipinya merona alami, "emhhh enak!" tak ada makan jaim untuknya, sikat..sikat saja selama itu nikmat.
"Liat Gale, gue jadi ngiler juga!" Teri yang awalnya masih menyedot es teh manisnya kini mengambil sendok dan mulai makan.
"Fath buruu! Ah, lama!" Gale mengambil gaya diantara bias cahaya siang hari dan angin yang melambai di pipi dan rambutnya.
"Bentar,"
"Cih, gantian dong Le! Gue juga pengen kali!" gerutu Fathya seraya membidik gaya Galexia.
"Iya ntar gantian!"
Belum pernah Fathya sesenang ini, bahkan bersama Tami pun jarang seperti ini.
"Ah elah! Gaya loe boring sistahh! Jangan gitu dong, loe ga pernah liat IG apa?!" Gale mengarahkan gaya Fathya, terkesan kaku dan old buat Gale.
Fatur tersenyum melihat moment ini. Gale memang istimewa, spesial kaya nasi goreng komplit.
"Loe sebucin ini sama Galexia, Tur? Belum pernah gue liat orang kaku bucin, ternyata semenggelikan ini!" kekeh Teri, hanya dibalas dengan menaikkan alisnya, pandangan Fatur beralih pada Teri dan benda sekelilingnya.
"Gue suka Gale dari dia kecil!"
"Ha?! Pedo fil," tembak Teri terkesan bercanda, tak percaya saja dengan kisah cinta masa kecil, tak ada kisah seindah novel di dunia nyata.
__ADS_1
"Tapi nyatanya gitu, gue sayang sama Gale sejak umur gue sekitar 11 tahun, saat memulai perjalanan perjuangan hidup, titik balik kehidupan gue. Dia anak Arkala Mahesa, orang yang nolong waktu itu. Dan Allah ga henti-hentinya sayang sama hambanya dengan mengirimkan Gale sebagai penyemangat, dan motivasi. Ga mudah buat gue dapetin Gale, ambisi jadi dokter bukan hanya untuk mengubah nasib dan pencapaian hidup, tapi untuk sebuah pembuktian dan modal untuk meminta Gale pada ayahnya." Teri sesekali mengerutkan dahinya menyimak cerita Fatur.
"Oke, gue paham. Loe pantes dapet itu brother!" Teri menepuk-nepuk bahu Fatur.
"Makanya ga akan gue biarkan siapapun untuk mendekati bahkan menyentuh Gale, siapapun yang dekat sama Gale mesti di pantau," lanjutnya.
"Gue panggil dulu mereka," Fatur bangkit dari duduknya.
"Oke,"
"Udah foto-fotonya? Yuk pulang!"
"Ga ketemu dulu babeh Mu'in bang?" tanya Fathya, sementara Gale sedang melihat-lihat hasil jepretannya dan Fathya di ponsel.
"Udah barusan, babeh lagi sibuk. Jadi belum bisa ngobrol lama. Nanti juga ketemu lagi, sekalian ke gang Irit buat sukuran sama bagiin besek!" jawabnya.
"Besek apa?" tanya Gale.
"Hampers nikahan kita sayang, kita kan belum sempet bagiin hampers," cubit Fatur di pipi Gale.
"Emang abang udah pesen?" tanya Gale, ia menyerahkan ponsel pada Fathya, karena sejak tadi mereka berebut ponsel Gale untuk melihat hasil foto.
"Udah pernah ada rencana sama momy sama ayah, tapi belum sempat terealisasikan karena abang sibuk. Nanti diomongin lagi, barusan udah pesen catering juga sama babeh buat makan-makan.."
"Oh,"
"Yuk pulang, kamu masih harus dihukum Jadi harus istirahat!" Gale mengernyitkan dahi.
"Hukuman apa?! Emang Gale salah apa?!"
"Ha-ha-ha." tawa Fatur meledek.
"Suka pura-pura lupa, ga inget kamu ngapain tadi di sekolah?"
"Ih abang mah! Kan Gale udah jelasin, udah minta maaf juga lah!" dumelnya menghentak-hentak kaki.
"Jadi manusia tuh pemaaf dikit kek, ini istrinya loh bukan maling rokok!" keruhnya sewot.
"Justru karena ini istri abang, makanya abang didik!" Fatur mengusap kepalanya.
"Ga mau ah! Abang ga seru!" Gale menepis tangan Fatur.
"Gale mau tidur di kamar mama aja atau Fathya!" omelnya.
"Boleh!" jawab Fatur, Gale dan Fathya menaikkan alisnya, semudah itu Fatur mengijinkan.
"Boleh, kamu mau di kamar Fathya? Nanti abang suruh Fathya tidur di kamar kita," lanjutnya.
"Kok gitu?!" tanya Fathya ikut sewot, ia yang tak ikut-ikutan jadi terkena imbasnya.
"Emang harusnya gimana? Masa suami pisah ranjang dari istri?!" tanya Fatur so so oon.
"Itu mah sama aja atuh bang dokter!" sungut Gale segera menyambar tasnya dari kursi.
"Bang Teri, Gale ikut mobil abang aja pulangnya!" Teri yang tak tau menau mendongak tak mengerti.
"Ri, kunci mobil loe mana, biar gue yang bawa!" pinta Fatur.
"Ish!" Gale menggidikan bahunya kesal.
"Terus Fathya pulang sama siapa?" tanya gadis itu.
.
.
.
Noted:
__ADS_1
Besek : Bingkisan