
Fathya tersenyum melihat interaksi keduanya.
Sejenak Fatur melihat ke arah lantai ruang utama disini, dimana ia biasa terlelap hanya untuk memejamkan matanya yang mengantuk dan merebahkan badannya yang lelah, meskipun saat terbangun tubuhnya serasa remuk karena hanya beralaskan tikar.
Gale yang melihat, memeluk Fatur, "kalo jadi abang Gale ga yakin bakalan bisa! Pengen peluk Fatur kecil!" cicitnya teredam dada Fatur.
Pria itu mengulas senyum, mengusap lembut kepala Gale dan mengecup pucuk kepalanya.
"Cukup abang yang survive, kamu..anak kita, ga akan abang biarin merasakan apa yang abang rasakan dulu!" Gale semakin dalam menenggelamkan wajahnya di dada Fatur.
"Ekhem! Udah belum, mau dikunci nih. Takut yang punya kontrakan marah?!" ujar Fathya.
"Kalo mau mesra-mesraan dilanjut nanti di rumah!" lanjutnya.
"Cabe! Ganggu suasana tau ngga!"
********
Sudah lebih dari seminggu sejak mengunjungi rumah kontrakan di gang Irit, Gale terlihat panik dan khawatir dengan hasil dari SNMPTN yang ia ikuti, takut-takut kalau ia tak lolos.
"Kalo nama gue ga ada gimana cabe?" Gale sampai mengunyah cepat keripik kentang di depannya tanpa jeda. Lain hal Shania yang sering menggigiti kuku kalau sedang panik, Gale lebih memilih menggigiti dan mengunyah makanan, lebih bermanfaat tentunya karena bikin kenyang.
"Jangan pesimis Ale, cek yuk!" Fathya menyalakan laptopnya, sedangkan Gale malah bersembunyi di balik bantal sofa.
"Loe aja yang cek deh, nanti kalo udah keluar hasilnya kasih tau gue, oke?!" Fathya terkekeh, ia mengangguk, "oke deh!"
Ia sudah harap-harap cemas, tak enak tidur, tak enak rebahan, tak enak duduk ataupun makan? oh ya?! terus yang dari tadi nyemilin keripik sampe setengah toples siapa? Grandong?
"Udah belum cabe?!" tanya Gale harap-harap cemas, Fathya melihat satu persatu dari list yang tertera di layar laptop, sampai berulang kali ia lihat, matanya saja sampai ia buka selebar dunia agar tak ada satu huruf pun terlewat. Tapi hasilnya nihil, nama Gale tak ada disana.
Tak jua mendengar suara Fathya, Gale membuka bantalnya, ia sudah tau jawabannya.
"Ga ada ya?!" wajahnya redup.
"Masih ada SBMPTN, loe ikutan UTBK pasti lulus, otak loe kan encer!" tawar Fathya.
"Hiks...hiks...! Gue nyesel di sekolah sering bikin masalah, jadinya nilai gue jelek!" Gale menangis seperti anak kecil, baru kali ini Fathya melihat seorang Gale yang tak takut dan pantang sakit hati menangis hanya karena gagal SNMPTN.
Ingin tertawa tapi takut dosa, Fathya menarik Gale dan memeluknya. Menenangkan the little kaka iparnya.
"Le, udah dong jangan mewek! Ga pantes banget loe nangis gini," Gale masih sesenggukan.
"Ya Allah kenapa?!" tanya mama.
"Ini mah Gale nangis, gara-gara ga lolos SNMPTN," jawab Fathya.
"Ya Allah, masih ada SBMPTN kan nak? Masih ada kesempatan, kalaupun tetep gagal masih bisa kuliah di swasta?" option lain dari mama agar menantu yang tengah hamil muda ini bisa tenang.
"Engga gitu ma, cabe. Gue mewek karena gue baru sadar, gue salah nyantumin prodi!"
Mama dan Fathya melongo dibuatnya.
"Lah?!"
"Gue salah milih jurusan disitu, mau so soan kimia biar kaya ayah padahal nilai pas-pasan karena sering minggat. Tapi hati gue sebenernya pengen milih prodi lain," mama mengulum bibirnya sambil tertawa dalam diam.
Meskipun jauh di dalam lubuk hati Gale, ia benar-benar kecewa dan malu. Sudah mengecewakan ayah, momy, ibu dan Fatur. Kata gagal, toh...selalu berhasil membuat seseorang down. Alasan diatas ia pakai untuk menutupi alasan sebenarnya di depan mama dan Fathya. Walaupun Gale tau masih ada kesempatan untuknya masuk ke jaket kuning.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!"
"Lele! Bontot !" teriak beberapa makhluk Allah yang penuh dosa.
"Siapa lagi tuh?!" mereka menoleh ke arah pintu rumah.
Bibi membuka pintunya.
__ADS_1
"Bi, Galexianya ada?" tanya Andini.
"Ada neng,"
"Neng Gale, ada tamu."
"Oh iya makasih bi," Gale berjalan menuju pintu depan.
"Leleee!!!!!" pekik mereka datang menyerbu dan memeluk Gale, membuat Gale hampir terpundur.
"Gue kangen banget sama bontotnya Pandawa! Kata tante Sha loe hamil?!" tanya mereka berseru.
Ancur sudah rumah Fatur kedatangan pasukan modelan Pandawa, manusia-manusia dengan tingkat keberisikan dan kehebohan setara dengan klakson om telolet om. Rakus macam orang ga makan seminggu. Dan akhlakless macam kurawa.
Belum dipersilahkan masuk oleh si empunya rumah saja mereka main nyelonong masuk dan duduk di kursi.
"Loe semua jadi tamu ga ada sopan-sopannya, berasa jadi palang portal gue," decih Gale berjalan ke arah teman-temannya.
"Elah Le, biasanya tuh kalo tuan rumah kan gitu bilangnya, masuk..masuk anggap aja rumah sendiri!" jawab Faisal.
"Enak aja, laki gue beli rumah bukan hasil mungutin uang di bawah pohon. Main ngaku rumah sendiri," mereka malah tertawa melihat bumil ini kesal, Gale tambah gemoy dan menggemaskan, mirip-mirip sapi limosin.
"Ga mau nawarin minum nih? Aus tau!" sahut Lila memegang tenggorokannya.
"Ga ada! Sirop mahal, air juga bayar. Yang gratis cuma air kobokan!" Gale duduk diantara mereka.
Baru saja berucap begitu, mama dan Fathya membawa senampan sirup jeruk dingin beserta beberapa toples cemilan, jujur saja mama dan Fathya jarang kedatangan tamu atau teman sebaya. Jadi mereka cukup senang, meskipun riuh macam suara air terjun.
"Alhamdulillah, akhirnya muncul juga orang-orang baik disini!" seru Irvan dikekehi Faisal, Andini dan Lila.
"Njirr! Pegi sono!" sungut Gale.
"Yok, pada diminum dulu! Ini temen-temennya Gale di sekolah?" ucap mama.
"Iya bu eh mah, atau tante?" bingung Lila.
"Asik, mama gue nambah lagi. Roman-romannya baik banget deh!" senyum manis Andini, mama tertawa. Ternyata teman-teman menantunya satu frekuensi dengan Gale.
"Cabe! Sini gabung!" ajak Gale.
"Gue ke belakang dulu deh, ada yang mesti diurusin," ijin Fathya tak mau mengganggu temu kangen Gale cs.
"Diminum, dimakan ya. Mama tinggal dulu ke belakang ya?!" mama dan Fathya undur diri.
"Loe sama Fathya udah akur Le?" bisik Andini.
"Udah, lagian kasian dia ga punya temen." Gale memangku bantal sofa, sementara teman-temannya ada yang duduk di sofa ada juga yang malah duduk di bawah sofa, kalau sudah dasarnya kaum rebahan ya pasti ujung-ujungnya merosot ke bawah juga sambil selonjoran.
"Tadi pas dari rumah mendung loh malahan gerimis, tadinya mau pake taksi tapi yang lain ngajakin pake motor," ujar Lila.
"Dih manja! Ujan kan air. Loe takut air?" tanya Ical di bawahnya seraya meminum sirup miliknya.
"Air, tapi kan datangnya keroyokan rame-rame! Males kalo basah-basahan," tangan Lila merayap mengambil keripik.
"Kenapa? takut berubah jadi mermaid?" kikik Irvan.
"Seenak udel!"
"Keroyokannya pada bawa golok ngga Lo?" tanya Faisal lagi.
"Si@*lan!" Lila menjambak rambut Faisal, mudah untuknya karena Faisal berada di bawahnya.
"Le, udah berapa bulan? Ga kabar-kabar nih unboxingnya, jahat! Tau-tau udah tekdung aja!" sewot Andini.
"Udah jalan 4, lagian gue juga ga tau. Ga ngerasa keluhan apa-apa, cuman ga datang tamu aja udah 3 bulan!"
"Tapi ko kaya udah gede gitu Le, beneran deh! Tetangga gue hamil 4 bulan tapi kecil, apa dia kurang gizi ya? Kerjaannya muntah terus,"
__ADS_1
"Loe ga ngerasa mual muntah gitu Le?" tanya Ical, mereka menyimak sambil makan dan minum.
"Engga, anteng-anteng aja!"
"Liat dong Le, ponakan gue udah segede apa?" ujar Andini antusias.
"Loe pengen juga No? Minta sana?!" tanya Irvan.
"Sama siapa peak?! Loe pikir bisa dibuat pake tepung?!"
"Nikah dulu sistah, baru bikin!" jawab Lila, Gale beranjak mengambil foto usgnya.
Gale kembali, Lila, Irvan, Andini dan Faisal langsung mengerubungi Gale.
"Lucu banget ya Allah!" seru Andini.
"Mana sih? Ini?!" tunjuk Irvan.
"Ko kaya biji sih, apa kacang tapi kaya kecebong? Mana mata, idung sama mulutnya Le?" tanya Faisal.
"Ini mukanya disini deh kayanya!" tunjuk Lila.
"Pesek ngga sih? Soalnya si Lele kan suka kelinci sama kucing?!" tanya Faisal.
"Loe pikir anak gue kucing Persia?!" jerit Gale mengguncang-guncang kepala Faisal, ditertawai yang lain.
"Guys gimana hasil daftar kuliah? Le?" tanya Irvan.
"Gagal Van, mungkin gue mau coba SBMPTN," jawab Gale sedikit cemberut.
"Wah pasti masuk lah ke almamater kuning! Gale kan pinter,"
"Semangat bunda Lele!"
Dari luar terdengar suara deru mesin mobil memasuki gerbang rumah.
"Itu om dokter Le?" tanya Lila.
Gale mengangguk, "iya."
"Le, tanyain dong! Nomer dokter Teri," pinta Andini.
"Ogah ah, kemaren aja gue dimarahin! Dihukum gue-nya! Loe aja tanyain sendiri," tolak Gale menggidikan bahunya.
"Se-posesif itu ya bang dokter Le?" tanya Faisal penasaran, Gale mengangguk.
"Jadi pengen diposesifin kaya Gale! Apalagi sama cowok ganteng!" manyun Lila.
"Dih, sakit nih anak!"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Lagi ada tamu nih,"
"Eh, iya om dokter. Tamu tak diundang!" jawab Andini.
"Bentar ya, gue masuk dulu!" ijin Gale, sebagai istri ia terbiasa mengambilkan air minum untuk Fatur, wajahnya menampakkan kekecewaan, walaupun sebenarnya ia tak sepenuhnya sedih tapi rasanya mendapati kata gagal hatinya ko ikut sakit juga, sementara Fathya sudah berhasil.
"Kenapa? Bumil ga boleh cemberut gitu?! Kan ada temen-temennya datang?" tanya Fatur setelah meneguk air minum yang diberikan Gale.
"Gale gagal bang," ia langsung berjinjit dan menyarangkan pelukan di badan Fatur. Aroma Fatur selalu membuat dirinya tenang.
Tau apa yang terjadi, Fatur membalas pelukannya, meskipun Gale selalu terlihat ceria, Fatur tau Gale pun hanya manusia biasa, seorang yang selalu butuh dukungan dan bahu untuk bersandar.
"Masih ada kesempatan buat jadi dokter anak, abang yakin pasti di SBMPTN Gale lolos!"
__ADS_1
"Udah jangan sedih, itu temen-temennya di depan pada nungguin. Nanti dikira abang ngapain kamu,"