Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Abang boleh makan Gale


__ADS_3

"Aku beli makanan tadi, tapi ga bisa makan sendirian, kata pak ustadz kalo ga habis itu nanti jatuhnya mubadzir. Tolong bantuin abisin makanan aku," si anak dengan rambut hitam tapi kepirang-pirangan dan sedikit berantakan itu masih mencerna maksud Gale, pasalnya jarang sekali ada orang asing yang mau bicara banyak dengan mereka, kebanyakan dari mereka hanya sekedar melihat dan membeli tanpa mau berbincang.


Matanya meneliti Gale dari atas hingga bawah, memastikan jika ia bukan dari acara reality show ataupun konten-konten tertentu, pasalnya tampilan Gale tidak kumel seperti dirinya, malah terkesan bersih, rapi dan wangi.


"Abang!!! Makanan Gale!" teriaknya meminta Fatur membawakan kresek makanan. Pria itu tersentak dari lamunannya lalu dengan segera menuju jok belakang, meraup semua tanpa ada yang tertinggal.


Fatur melangkahkan kakinya menghampiri Gale.


"Makasih abang,"


"Aku mau duduk, disitu aja yuk!" Gale bahkan tak sungkan meraih tangan satu genggaman milik anak barusan.


"Aku punya banyak es krim sama kue, ada ayam sama burger juga. Kayanya kalo cuma kita berdua doang yang makan ga akan abis. Bisa panggil temen-temen kamu juga?" pinta Gale.


Tentu saja, ia bersenang hati untuk memanggil teman-temannya, apalagi melihat banyaknya makanan yang jarang mereka nikmati, mungkin hanya ada dalam mimpi saja makanan-makanan itu bisa mereka dapatkan tanpa tau rasanya seperti apa.


Segerombol kecil anak berlarian menghampiri Galexia, gadis itu duduk di bawah jalan layang diantara anak jalanan, seperti ia adalah bunganya tanpa merasa jijik ataupun risih menyentuh dan berbaur. Suara bising kendaraan berlalu lalang memekakkan telinga.


"Boleh dibagi-bagi ya!" Gale membuka kresek makanannya, meminta mereka memilih makanan apa yang mereka mau.


"Tapi!!! Tunggu dulu!" Gale mengobrak-abrik isian tasnya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi hand sanitizer.


Mereka berbaris dengan tangan yang ditengadahkan menerima setiap semprotan hand sanitizer dari Gale.


Tak sulit bagi Galexia untuk mengakrabkan diri dengan mereka. Seperti hal ini adalah kemampuan khususnya. Buktinya, kini mereka sedang tertawa-tawa seraya menikmati makanan.


"Buat abang!" Gale menyerahkan satu cup es krim vanilla pada Fatur, dari tadi pria ini banyak diamnya.


Gale memposisikan diri duduk di samping Fatur, memandang anak-anak dengan wajah hebohnya, ada yang menyendok es krim sedikit-sedikit agar lebih merasai, ada juga yang memakannya tanpa belas kasih.


"Kalo dunia ini isinya orang-orang kaya kamu sama ayah Arka, ga akan ada ketimpangan sosial, ga akan ada anak jalanan yang takut kalo besok ga bisa makan," Fatur hanya memperhatikan cup es krim yang hampir meleleh isinya.


"Tau ngga, dulu...Fathya pingin beli yang kaya gini, abang harus nabung 5 hari karena uangnya dibagi-bagi antara makan sama kontrakan."


Beberapa bulir air mata berhasil turun ke pipi chubby Gale, ia segera mengusapnya.


"Mereka hanya separuh gambaran dari Fatur kecil,"


"Gale kasian sama mereka bang, apa dulu abang-nya Gale juga pake baju lusuh kegedean gitu?"


"Iya," kekeh Fatur. Gale menghambur memeluk Fatur, menyeka air di hidungnya agar tak ikut turun.


"Rambut bau matahari, kulit kasar berdebu, pulang ke rumah mandi sampe kadang ga berbusa saking tebelnya debu jalanan seharian," kekeh Fatur.


"Hiks...hiks...!" air matanya mengalir deras mirip aliran sungai.

__ADS_1


"Ga apa-apa, ga usah nangis. Buktinya abang masih bertahan hidup kan?" Fatur menaruh es krim di sampingnya dan membalas pelukan gadis manjanya.


"Abang udah dapetin hadiah yang pantas dari Allah. Mungkin kalo dulu abang ga gitu, abang ga akan kenal ayah Arka, terlebih lagi abang ga akan ketemu kamu!" mata Gale menyendu merasa terharu.


"Sini Gale cium bang !" ujarnya.


"Boleh, nanti di rumah ya?!" Fatur melirik arlojinya.


"Udah malem, pulang yuk!" ajaknya.


Gale mengangguk, keduanya pulang setelah berpamitan.


********


Tangannya tak berhenti melingkar di perut Fatur, seakan tak ingin melepaskan pria ini setelah kejadian tadi.


Anak sekecil itu sudah berjuang melawan kerasnya dunia, sangat tak adil!


"Gale pengen peluk Fatur kecil, kasian!" meweknya melow, sampai-sampai Fatur tertawa-tawa, kerasukan jin apa gadis ini?


"Kan sekarang lagi dipeluk,"


"Ga kebayang abang nahan laper, sambil jualan koran, keujanan, kepanasan, hiks..hiks..."


"Kamu ga malu punya suami mantan anak jalanan gitu, jualan koran berbekal belas kasihan orang?" tanya Fatur, Gale mendongak dan menggelengkan kepalanya kuat.


"Gale bangga, abang bukan anak manja! Pantes buat dikasih reward," jawabnya.


"Nyesel Gale dulu suka buang-buang nasi, apalagi kalo momy ngasih brokoli, suka nyuri-nyuri buang ke tong sampah!"


Fatur kembali tertawa, melihat Gale semakin kencang menangis, "udah atuh jangan nangis, kan udahan susahnya juga!"


"Pokonya Gale sayang abang, Gale mau belajar masak enak buat abang. Apa yang belum pernah abang makan di dunia ini?" tanyanya.


"Makan kamu," goda Fatur, Gale menaikkan alisnya dan mengurai pelukan, ia sedikit kepikiran dengan permintaan Fatur yang satu itu, memang ucapan pria itu diiringi candaan dan godaan, tapi terucap berkali-kali. Bukankah secara tak langsung itu adalah suatu permintaan yang diinginkan Fatur?


Berkali-kali Gale menghembuskan nafas gugupnya, mencoba meyakini hatinya sendiri, jika ini memang sudah saatnya, Fatur berhak atasnya.


"Bang,"


"Hm?"


Gale menggaruk-garuk telinganya, bingung.


Masa iya gue nawarin diri, kaya wanita malam, Gale bergidik ngeri.

__ADS_1


"Engga jadi deh," jawabnya segera beringsut dari ranjang dan menyiapkan buku pelajaran untuk besok.


Fatur menyeringai, ikut beringsut turun dan memeluk Gale dari arah belakang, menggigit daun telinga Gale pelan.


"Mau bilang apa?" gadis ini terlihat berhenti dari kesibukannya, karena Fatur sudah membalikkan badannya.


"Itu bang..."


"Soal, makan Gale..." sepertinya jantung Gale lagi duge_man di dalam sana. Degupannya berirama beat semakin kencang.


"Abang boleh minta hak abang, kapan aja abang mau.."


Nyesss!


Gale seakan meleleh lemas, setelah mengatakan itu, tulangnya terasa melunak dan tubuhnya merosot.


Raut wajah Fatur masih nampak datar, mungkin antara percaya dan tidak.


"Kamu yakin? Udah siap?" tanya Fatur.


"Kayanya," ringis Gale.


"Ko kayanya?" Keningnya berkerut.


"Gale takut bang,"


"Takut? Takut apa? Kalo kamu belum siap abang ga apa-apa," jawab Fatur tak memaksa.


"Gale siap bang, Gale siap!" jawabnya menahan lengan Fatur. Fatur tersenyum penuh arti, penantian dan usahanya tak sia-sia. Atau mungkin ia harus berterimakasih pada anak-anak jalanan itu sudah menampakkan diri di depan Galexia.


"Gale cuma takut sakit," cicitnya.


"Abang ga bisa jamin itu ngga sakit, Le." Fatur menarik dagu Gale meminta Gale menatapnya.


"Tapi abang jamin itu akan berbuah pahala," tanpa menunggu lagi persetujuan istri nakalnya lagi, Fatur mengecup bibir Gale. Takutnya Gale berubah pikiran kembali.


Cukup lama keduanya menikmati tautan kasih sayang, sampai tangan Fatur menarik kuat pinggang Gale lalu menekan tengkuknya karena kini tautan itu semakin menuntut seiring bertambahnya keinginan untuk lebih dari sekedar berci_uman, itu terdengar dari deru nafas keduanya yang semakin memburu. Bunyi decapan bibir keduanya saja terdengar seperti melodi di malam hari, memenuhi semua sudut kamar.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2