
Blughhh!
"Uhukk..uhuukk!" dadanya terasa dihantam sesuatu yang berat.
"Le, pelan-pelan?! Kenapa?!" tanya Fatur mengusap punggung Gale, untung saja barusan ia makan makanan bergizi dan mengandung banyak nutrisi, hingga badannya tak mudah jatuh, meskipun sempat terhuyung menahan beban tubuh Gale sepaket si kembar yang menghambur langsung menubruk tubuhnya. Menyarangkan pelukan erat.
"Hiks...hiks..!" Fatur mengernyitkan dahinya menatap Fathya di belakang Gale, "ada apa?"
Fathya melebarkan senyumannya ikut terharu, benar! Hidup tak selalu gelap untuk mereka, tak selalu mendung dan hujan..akan selalu ada pelangi setelahnya, akan ada mentari cerah yang Allah kirimkan setelahnya.
"Gale lolos abang!!" tangisnya tak dapat dibendung lagi, ia menangis dalam tawanya. Hingga sulit membedakan apakah Gale tengah menangis atau tertawa.
"Gale mau jadi dokter!" air matanya banjir, membuat pipi chubby itu basah.
"Alhamdulillah," Fatur mengangkat badan Gale dan memutarnya, sampai-sampai istrinya ini membenamkan wajahnya di pundak Fatur seraya tertawa-tawa.
Fathya ikut tertawa, rejeki untuk keluarganya begitu bertubi-tubi. Allah benar-benar Maha Adil.
"Gale mau kasih tau momy sama ayah!" Ia melepaskan tautan tangannya di leher Fatur dan mencari letak ponsel miliknya.
"Abang, Fathya mau punya ponakan kembar?!" tanyanya menahan lonjakan hormon kebahagiaan yang sudah hampir meledak dengan menggigit bibir bawahnya demi mendengar jawaban Fatur, selain diterimanya dia menjadi mahasiswi di fakultas ternama bersama Gale.
"Iya,"
"Aaaa!!!" pekiknya, mama sampai mengucap istigfar saat Fathya menjerit senang.
"Ada apa ini? Tadi Gale yang teriak, sekarang kamu!" mama masih menggunakan mukenanya, belum selesai mengaji sehabis isya, di tangannya saja masih terselip tasbih.
"Mama, Gale hamilnya kembar ma!" seru Fathya.
"Ha?! Alhamdulillah,"
"Gale juga lolos SBMPTN," tambah Fatur.
"Masyaallah," mama sampai mengeluarkan air mata bahagianya, kebahagiaan seorang ibu bukan pada seberapa besar pemberian anak-anaknya, tapi kesuksesan mereka lah yang paling utama.
"Terus sekarang Gale mana?"
"Momyyy!" terdengar suara tangisan dari teras samping dekat jemuran.
"Loh, kenapa tiba-tiba video call sambil nangis?" tanya Shania dari layar ponsel, terlihat disana Shania yang memakai kacamata berbingkai bulat sedang duduk di sofa tengah. Terlihat pula wajah ayahnya di samping Shania.
__ADS_1
"Alah, palingan lapar!" ucap Andro menyebalkan, wajah ganteng tapi mulutnya pedes kaya jalapeno. Kali ini bumil itu tak membalas seperti biasanya, ia malah sesenggukan dan terlihat sibuk menyeka ingus juga air matanya.
"Dih malah makin kenceng nangisnya, bang Fatur ga kasih loe jajan? Loe nakal kali?!" Andro menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan duduk di samping lain ibu mereka.
"Kenapa?" tanya Arka kini ikut bersuara, sejak tadi ia menunggu jawaban Gale, akhirnya bersuara juga.
"Ayah, momy..kaka lolos SBMPTN!! Kaka mau jadi dokter!"
"Alhamdulillah!" pekik Shania dari sana, euforianya membuat Gale tertawa karena kini perempuan cantik yang sudah melahirkannya itu tengah menciumi pipi Arka berkali-kali bergantian dengan Andro.
"Dan satu lagi mii!" tukas Gale menyela selebrasi ibunya. Gale mengambil hasil usg-nya beberapa waktu lalu dan menunjukkannya di depan layar ponsel.
"Baby twin!"
"Ha?! Ya Allah, oksigen...oksigen!!" jerit momynya, Gale tertawa melihat reaksi berlebihan Shania sementara ayahnya dan Andro menjadi sasaran empuk selebrasi lebay Shania.
"Harus tumpengan ini mah!" ucap Shania, sebuah tangan memeluk Gale dari samping, memecah fokus kamera.
"Assalamualaikum mii, ayah, Andro," sapa Fatur.
"Waalaikumsalam, Fatur besok momy ke rumah! Harus tumpengan ini mah, kasih tau juga onty-ontynya,"
"Fathya gimana?" tanya Shania tak melupakan gadis itu, bagaimana pun Fathya adalah adik Fatur, dan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Alhamdulillah, Fathya juga diterima di kampus yang sama dengan Gale cuma berbeda jurusan."
Terlihat, meskipun tak bersuara tapi Arka mengucap alhamdulillah sambil menganggukan kepalanya.
Shania dan Arka saling menatap nanar, bukan perkara mudah untuk Fatur saat ini, biaya kuliah 2 orang di kampus yang tak main-main, Arka sudah merasakannya dulu. Apalagi putrinya itu masuk di jurusan kedokteran tentu saja harganya fantastis, belum lagi biaya lahiran. Fatur memang seorang dokter dengan gaji besar, tapi bukan berarti ia tak akan mengalami kesulitan jika menanggung itu sendiri.
Arka melengos pergi dari layar ponsel, memilih menelfon Fatur secara pribadi sementara Gale dan Shania mengobrol.
Dengan tidak bermaksud merendahkan, meremehkan apalagi menghina, Arka bicara terus terang pada Fatur.
"Jika butuh bantuan bicara sama momy dan ayah. Bukan meragukan atau bermaksud meremehkan. Kita tanggung beban ini sama-sama sebagai satu keluarga,"
Fatur menatap langit-langit kamarnya. Memang benar apa yang tadi ayah mertuanya itu ucapkan. Ia benar-benar harus menguras koceknya, biaya kuliah Fathya dan Gale akan cukup membuat kantungnya berlubang. Belum lagi bersiap menyambut kelahiran si kembar dengan rentetan persiapan dan biaya yang tentu saja akan double-double.
Gale mengerjapkan matanya di tengah malam, ia merasa haus.
"Abang kenapa belum tidur?" tanya Gale.
__ADS_1
"Kenapa, lapar, haus apa kebelet?" tanya Fatur.
"Gale aus,"
"Abang ambilin minum ya," pria ini bergegas turun dari ranjang menuju pintu kamar.
Ia kembali dengan segelas air putih, Fatur menyentuh permukaan perut Gale, hanya tertutup selembar daster tipis bercorak batik. Ia mengusapnya seakan menularkan rasa kasih sayang untuk si kembarnya.
"Eh," keduanya saling pandang lalu tertawa di tengah malam.
"Kerasa ngga bang?" tanya Gale.
"Iya," Fatur kembali mengusapnya meskipun gerakan di dalam sana belum terlalu kuat.
"Bobo ya nak, udah malem!" pintanya.
"Abang Gale mau beli perlengkapan buat nanti kuliah lah sama Fathya, ada beberapa barang yang harus dibeli."
"Kapan? Perlu abang anter?" Fatur membantu Gale kembali berbaring menyamping.
"Besok, biar nanti ga perlu dadakan sekalian Fathya sama Gale daftar ulang juga ke kampus. Abang kirim aja uangnya ke rekening Gale,"
"Oke," jawabnya.
"Yakin ga perlu abang anter? Bisa jaga diri?"
"Bisa, kan berdua sama cabe. Abang kan besok katanya sibuk. Banyak janji temu sama pasien," jawab Gale.
"Kalo gitu berhubung sekarang udah kepalang tanggung bangun. Gimana kalo abang ajak Gale sama anak-anak olahraga tengah malem dulu. Katanya barusan kakak sama dedek pengen main gempa-gempaan!" Rayu Fatur mulai mendekati Gale.
"Kapan?! Ko Gale ngga denger?!" tanya nya mengerutkan dahi menatap wajah prianya yang sudah dipenuhi kabut kabut pink. Fatur mendorong badan Gale untuk terlentang, kali ini dan beberapa bulan ke depan mungkin Fatur harus berusaha selembut mungkin agar tak menyakiti ketiganya. Tapi ia tau, akan mendapat kejutan kecil saat Gale memasuki trimester kedua ini, sedikit pengetahuannya dari dokter Tara. Jika hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh Gale akan meningkat drastis, sehingga gai rah sek sual si bumil kesayangannya akan meningkat, terdengar licik tapi itulah keuntungan suami, disaat bumil minta dimanjakan oleh sang suami maka Allah akan memberikan upahnya.
"Gale aja yang diatas bang," pintanya dengan suara terdengar sen sual juga merdu di telinga Fatur, Fatur tersenyum penuh kemenangan.
"Boleh banget sayang,"
.
.
.
__ADS_1