Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Penantian sejak dulu


__ADS_3

"Sorry...sorry Tur, jadi ga enak gue ! Itu bini loe ?!" ujar Teri.


"Iya, ga apa-apa. Ada apa Ri ?" tanya Fatur segera memakai jaketnya.


"Lusa kan loe off nih, tapi file rekam medis kirim ya, biar langsung ambil tindakan," Fatur mengangguk.


"Loe masih jam praktek ?" tanya Fatur.


Teri menggeleng, "engga ini udah mau pulang juga !"


Keduanya akhirnya berjalan bersama menuju parkiran.


"Lah, bini loe mana Tur ?"


"Tuh !" tunjuknya pada sesosok gadis yang sedang memakai sarung tangan dan helm fullface.


"Gilaaaak ! Sadis, motor trail bruhh !"


"Gue kira maenannya boneka Tur, liat mukanya kaya si elsa maenan ponakan gue, tapi aslinya sangar !"


Fatur hanya menyunggingkan senyumnya.


"Kalo gitu gue ke mobil dulu Tur," pamit Teri berjabat tangan ala anak muda. Fatur menuju motornya dan memakai helm, lalu ia menghampiri Gale.


Titt !"


Fatur mengangguk pada Teri yang memberikan klakson.


"Gale di depan, abang di belakang jagain Gale," ucap Fatur.


Gale mengangguk, tak melihat kapan dan dimana, otak Gale selalu dipenuhi oleh ide-ide konyol, ekstrem dan menantang.


Brummm !


Gale langsung tancap gas keluar dari parkiran motor, membuat Fatur berdecak, selalu dan selalu istrinya ini nakal.


Fatur ikut menyusul laju motor Gale. Gale mahir menggunakan motor, ia bahkan menyalip beberapa kendaraan di depannya dengan lihai.


"Galexia, ck !"


Fatur menambah kecepatan motor gedenya, setelah sejajar ia membuka kaca helmnya.


"Le, pelan-pelan !" Gale menoleh, ia membuka kaca helmnya.


"Siapa sampe duluan dia menang !" jawab gadis itu malah menantang.


Fatur mengangkat alisnya sebelah, rupanya gadis nakal ini ingin bermain-main dengannya.


"Jangan nyesel kalo abang menang nanti !" jawabnya menyeringai pada Gale.


"Oke buktiin !" Gale menutup kaca helmnya dan dengan bangganya mengarahkan jempolnya ke bawah untuk Fatur mencoba mencemooh suami dokternya itu.


"Seperti permintaanmu nona !" jawabnya tersenyum devil dari balik helm, Fatur menaikkan lagi kecepatan motornya begitupun Gale, mereka malah balapan menuju rumah, membelah jalanan ibukota yang tak pernah tidur. Menyalip kendaraan di depannya baik yang kecil maupun kendaraan besar membuat adrenalin keduanya terpacu.


"Gawat, abang udah jauh di depan lagi !" gumam Gale.

__ADS_1


Ia menggeber tarikan gasnya, berpacu dengan lampu jalan yang siap-siap berubah, merah.


Brrumm !


Ckitt !


"Shitttt ! Ga keburu lagi !"


Fatur tersenyum penuh kemenangan, melihat Gale tertinggal di belakang tertahan lampu merah.


Gadisnya memang bahaya !


Fatur kini bisa melihat, bahkan sepuluh Seli tak akan bisa mengimbangi satu Gale, benar katanya tadi, lelaki akan butuh partner hidup yang bisa membuatnya merasa dihargai, diperhatikan, dipedulikan, terhibur dan yang pasti merasakan hidup lebih berwarna.


Gale tak tau saja bagaimana masa muda Fatur, yang gadis itu tau Fatur adalah anak didik di Pondok selama bertahun-tahun. Sayangnya ia tak tau sisanya bagaimana Fatur menjalani hidupnya.


Gale menghentikan motornya dengan bibir yang mengerucut.


"Ah ga asik ah !" Gale membuka helmnya disaat Fatur sudah tertawa melihat kekalahannya, kini giliran Fatur yang membuat gerakan jempol ke bawah.


"Abang menang," ucap Fatur.


"Ga mau ah ! Curang, Gale ketahan lampu merah !" manyunnya turun dari motor dan memasukkan motor ke parkiran.


Dilihatnya Fathya yang duduk di depan tv, sedangkan mama fokus membaca Al-Qur'an dan terjemahannya dengan kaca mata bingkai bulat bertengger di hidungnya.


"Assalamualaikum," Gale menyalami mama, tapi tidak dengan Fathya.


"Waalaikumsalam, baru pulang nak ? Gale, ikut ke rumah sakit ?" tanya mama.


Ia melewati Fathya begitu saja, seakan tidak menganggap Fathya ada disana, Fatur mengerti akan hal itu. Kebetulan sekali tatapan Fathya bertemu dengan tatapan Fatur, seakan memberikan isyarat Fatur menyuruh Fathya untuk ikut dengannya.


Gale langsung masuk kamar, dan menyambar handuk. Ia hanya berharap air bisa membawa serta rasa kecewa berbalut amarah yang siang tadi memupuk hatinya.


Fatur membuka jaketnya, berjalan dengan diekori Fathya ke halaman belakang. Fatur membelakangi Fathya,


"Abang ternyata belum cukup mengajari kamu dek, jujur abang kecewa.." ucapan Fatur memang tidak membentak-bentak, malah terkesan dingin dan kaku. Tapi justru itulah yang membuat Fathya melelehkan air matanya, selama ini abangnya tak pernah sampai begini, abangnya memang terkenal kaku dan dingin, tapi tidak padanya dan mama.


"Apa yang kamu harapkan ? Abang ceraikan Gale, mama kecewa, om Arka kecewa, lalu Seli ?" Fatur membalikkan badan pada Fathya dan memegang kedua pundak adiknya dengan alis menukik tajam. Tangan yang mencengkram pundak Fathya, menandakan jika pria itu menahan amarah yang teramat.


"Abang merasa ditampar oleh adik sendiri. Merasa dikhianati oleh seseorang yang abang sangat percaya," Fathya sudah sesenggukan tanpa berani menyela ucapan Fatur, kakanya ini paling tidak suka jika sedang bicara lantas dipotong.


"Kamu tidak tau jika abang menyukai Galexia sejak ia masih kecil, abang menunggu-nunggu hari dimana om Arka menerima perasaan abang terhadap putrinya, menunggu dimana om Arka bisa menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab atas Gale putrinya bukan hanya untuk sekedar mengajaknya melihat kambing di kandang Pondok !" Fatur mengeraskan rahangnya, sementara air mata Fathya sudah menganak sungai.


"Abang hanya bisa memendam rasa sayang terhadap Gale dan menganggap jika rasa itu cuma sebatas abang pada adiknya, tapi nyatanya sampai sekarang...bahkan Seli saja tak bisa mendepak Gale dari pikiran dan hati abang, abang sadar bukan siapa-siapa. Hanya anak serba kekurangan dan dari keluarga yang berantakan, tak ada yang bisa dibanggakan di depan keluarga Arkala Mahesa." Fatur melangkah meninggalkan Fathya, membiarkan gadis itu bersama pikirannya.


Pria itu masuk ke kamarnya, mendapati Gale yang sudah mandi dan sedang mengoleskan pelembab di wajahnya.


Fatur membuka lilitan handuk di kepala Gale dan membantu menggosok rambut Gale.


"Abang ngapain ?" tanya Gale mendongak.


"Bantuin kamu ngeringin rambut. Kenapa, ga boleh ?" tanya Fatur.


"Ya boleh sii, cuma nanya doang." Jawab Gale.

__ADS_1


"Daripada bantuin Gale, mendingan abang bersih-bersih aja." Gale beranjak menyerahkan handuk milik Fatur ke tangan pria ini.


"Iya, pengen banget abang mandi, biar kamu bisa ngeliat abang yang hot pas tel_anja_ng dada ?" kekeh Fatur jadi ingat obrolan Gale dengan Seli.


Seketika pipi Gale memanas, "cuma gimik bang, buat bales tante Seli !" seru Gale.


"Beneran juga ga apa-apa," colek Fatur di pipi Gale, membuat Gale menepis tangan Fatur dan berdecak.


"Ihh !"


"Kamu bilang, marriage is workshop, abang yang kerja dan kamu yang belanja sebagai balasan, kamu layanin semua kebutuhan abang. Gimik juga bukan nih ?"


"Ihhh, udah sana mandi !" Gale tak bisa menjawab Fatur atas ucapannya tadi siang. Ia mendorong badan Fatur menuju kamar mandi.


"Asik, ada yang layanin !" goda Fatur lagi tertawa.


"Abang ! Cerewet ih !"


"Jadi terima brosur playgroup buat anak kita nanti nih ? Uhh, mikirnya sampe jauh gitu istri abang," godanya tak henti-henti.


"Abang berenti ngga ngomongnya ?!!!" Gale melotot, wajahnya sudah semerah strawberry karena malu. Selain marah, Fatur cukup senang dan berbunga-bunga mendengar obrolan Gale dan Seli tadi siang.


Fatur membalikkan badannya saat di ambang pintu kamar mandi.


"Kalo semua yang kamu omongin sama Seli itu bukan hanya sekedar gimik buat bales Seli, abang akan sangat senang, Gale." Fatur memandang mata Gale membuat gadis ini mengalihkan pandangannya ke samping.


"Udah ah, ga usah dibahas."


"Abang barusan menang loh, nyampe rumah duluan, setelah mandi abang mau nagih hadiah sama kamu !"


Gale mengangkat kedua alisnya, "hadiah apa ? Kapan Gale bilang kalo menang dapet hadiah ?"


"Karena kamu yang punya ide menantang, mau tidak mau kamu harus siapin hadiah buat pemenang," jawab Fatur melengos masuk ke kamar mandi.


"Apa ? Gale ga siapin apa-apa !" pekik Gale, tapi Fatur terlanjur masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mau mendengar ucapan Gale.


"Abang !!! Ihh !" Gale menendang pintu kamar mandi.


"Hadiah dilipat gandakan, karena pihak yang kalah tak terima kekalahan, malah sarkasme !" jawab Fatur dari dalam kamar mandi.


"What ?!" seru Gale,


"Masih ga terima ? Hadiah di trip..."


"Oke, oke !!!" potong Gale, membuat Fatur tersenyum di dalam kamar mandi, gadis itu duduk di meja rias karena ritual oles mengolesi terganggu oleh dokter menyebalkan.


Cup !


Gale terkesiap mendapati sesuatu yang dingin mengecup pucuk kepalanya, ia mendongak membuat jarak antara keduanya menipis.


Fatur menangkup kedua pipi Gale dan kembali mendaratkan bibirnya di kening Gale, gadis itu terbuai dengan sentuhan lembut Fatur dan memejamkan matanya. Entah sejak kapan kecupan itu turun ke hidung dan berakhir di bibirnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2