
3 bulan berlalu, Gale harus sudah memulai kembali aktivitas kampusnya. Masa-masa nifas, bagaikan jalanan terjal penuh batu kerikil bagi Gale, begitu berat dan berliku, selain di masa itu si kembar sering terjaga di tengah malam, Gale juga kerap merasakan stress dan pucuk gunungnya yang sering lecet. Tapi sekarang, ia sudah terbiasa. Selain karena kedua anaknya yang semakin anteng, bantuan dari orang sekitar sangat amat membantunya, terutama sang suami.
Rambut keduanya hitam legam, lurus dan bertekstur lembut namun lebat. 3 bulan namun sudah seperti bayi 5 bulan, karena keduanya tumbuh sehat.
Lihatlah lipatan-lipatan di sekitaran tangan dan pa ha, kaya minta di sayat terus dijadiin campuran nugget. Mereka acap kali menangis karena risih oleh ibunya sendiri yang gemas dan kerap meng uyel-uyel keduanya.
Afifah selalu melepas hiasan kepala yang dipasang ibunya, sementara Aliyah si manja anteng-anteng saja. Afifah lebih aktif dibanding Aliyah yang doyan tersenyum cari perhatian.
"Kakak ih, dilepas lagi dilepas lagi!" decak Gale, kening Afifah mengkerut tak suka ada yang menghalangi kepalanya, ia bahkan mendongak dan menggeleng mencari keberadaan benda yang mengganggu itu.
"Anak-anak bunda udah cantik, udah wangi!" keduanya direbahkan di ranjang. Mata bulat nan bening mereka mengerjap saat di sun sang bunda.
"Abang, angkut nih penumpang ke depan! Udah siap cari om om ganteng!" pekik Gale, dari kamar. Kini bagian dirinya yang mengurus diri sendiri setelah selesai mengurus si kembar.
Fatur masuk dengan stelan rapinya hendak berangkat ke rumah sakit.
"Assalamualaikum, cantik-cantiknya ayah!" sapa Fatur.
"Waalaikumsalam ayah sayang!" gema-nya dari kamar mandi, Fatur terkikik, yang disapa siapa yang menjawab yang mana.
"Udah pada wangi nih!" kecup Fatur, ia mengangkat satu persatu anaknya ke ruang tengah. Mama menyambut kedua cucu gembulnya dengan hangat, "eh udah pada cantik aja nih!" mama bahkan tak malu-malu untuk melenggok di depan si kembar agar sang cucu tersenyum.
Rumah ini semakin ramai saja, hampir setiap hari Shania akan datang dan terkadang memboyong keduanya ke rumahnya, basecamp Kurawa. Si kembar sering jadi bahan rebutan para omanya.
"Abang duluan aja sarapan, Gale santai, kuliah jam 9 ini!" suara Gale bersahutan dengan suara siraman air dari dalam sana.
"Iya," jawab Fatur singkat.
"Abang beres praktek jam berapa?" tanya Fathya menikmati potongan ayam goreng kedua di piring nasinya.
"Jam 2 kayanya," jawab Fatur.
"Oh, jadi Ale sama Fathya?!" tanya nya sudah pasti Fatur mengerti maksudnya.
"Kita naik motor Cabe! Ga usah manja deh," jawab Gale yang muncul dari dalam kamar, menyerut tali tasnya yang dirasa pendek sebelah.
Fatur menelan makanan di dalam mulutnya sulit, sampai-sampai ia harus berdehem dan minum.
Bahaya!
"Adududuh! Anak-anak siapa ini ya Allah!!! Gemes pisan, gue kantongin juga nih ke kampus! Cus lah bungkus, kita cari cogan di kampus, masa ga ada yang nyangkut satu pun!" kelakarnya menunjukkan wajah konyol di depan si kembar hingga keduanya tertawa tanpa suara dan bergerak aktif.
"Ma, stok ASI baru semua. Soalnya yang kemarin abis."
"Iya, hati-hati di kampus!" jawab Mama, Gale duduk santai di samping Fatur tanpa melihat wajah keruh Fatur, ia bahkan menyendok nasi dengan tenang.
"Abang kenapa liatin Gale gitu?" tembak Gale.
"Kamu yakin begini ke kampus?" tanya Fatur penuh selidik.
"Yap! Absolutelly!" anggukan Gale mantap, satu sinduk, dua sinduk, cukup..
"Inget kamu udah punya anak loh!" ultimatum pertama untuk Gale.
"Ya inget lah! Kalo ga inget ga mungkin stok ASI, kenapa emangnya? Pakaian Gale sopan kok?!"
"Sopan--sopan!!" sindir Fatur.
"Kalo Gale dasteran ke kampus, baru tuh abang berhak marahin, masa istri dokter ke kampus dasteran, kaya ga dibeliin baju aja!" kekeh Gale ditertawai Fathya, roman-romannya ia akan menjadi stalker dadakan lagi.
"Ya ga apa-apa, abang ga keberatan!" Gale sampai melongo mendengar itu, sementara mama tertawa pelan.
"Ck, canda nih ayahnya twin!" tepis Gale mengehkeh, padahal Fatur sedang tak mengajak siapapun tertawa.
"Udah ah, tuh abang ga liat udah jam berapa!" tunjuk Gale pada jam dinding. Mata ayah 2 anak itu terpaksa beralih ke arah jam di pergelangan tangan, setelah sebelumnya memandang tajam pada istri.
Fatur beranjak, merapikan penampilan, berpamitan pada kedua princess yang bertahta dihati, dengan menyentuhkan hidung di hidung kedua putrinya itu secara bergantian.
__ADS_1
Menghirup aroma lembut campuran minyak telon, minyak sirih dan wangi chamomile yang menguar dari kedua gadis kecil ini.
"Ayah berangkat dulu, baik-baik ya sholehah-nya ayah,"
Gale menggeser kursi membawa clutch milik Fatur dan mengekor ke arah pintu depan.
"Gale ngga disun kaya kakak sama dedek, bang?" bibirnya merengut menyerahkan clutch hitam Fatur, hanya berisi ponsel dan beberapa kartu penting sementara dompet ia taruh di saku belakang celana.
Gale masih manyun, tapi belum sempat ia kembali menaikkan wajahnya, Fatur menarik pinggang Gale mendekatkan wajahnya dan wajah sang istri.
"Cup!"
"Bunda jangan nakal, ga usah tebar pesona di kampus. Ayah cemburu, soalnya bundanya kakak sama dedek makin cantik!" ucapnya membuat wajah Gale memanas, dengan terang-tedangan Fatur menyatakan kecemburuannya.
"Dih, gombal banget!"
"Ya udah abang berangkat, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam,"
...----------------...
Motor Arka senantiasa dipakai Gale, ngapain masih pake padahal Fatur juga punya. Karena sudah merasa bestie sama tuh motor.
"Bye gadis-gadis nakalnya om dokter!" pamit Gale pada kedua anaknya.
"Kalo nanti granny centil kesini, jangan mau dibawa kesana, nangis aja yang kenceng!" pesannya membungkukkan badan lalu mengecup semua inci wajah si kembar.
"Uhhh, bunda bakal kangen tau!" keduanya bergerak aktif dan antusias diajak mengobrol begini.
"Nih bawa!" Gale menyerahkan coller bag dan seperangkat pompaan bersama botol-botol kaca kecil pada Fathya. Bukan lagi buku paket seabreg yang Fathya pegang melainkan coller bag si kakak ipar yang wajib ditentengnya jangan sampai ketinggalan, jika sampai terlupa akan habis di kill ia oleh Gale dan abang.
Gale memasangkan helm di kepala Fathya, so sweet bukan? Pasalnya tangan Fathya penuh dengan barang.
"Naik!" pinta Gale sudah menstaterkan mesin motornya. Untung saja ia cukup tinggi untuk menjangkau jok yang seuprit.
"Iya ah!" Gale melajukan motornya menembua kesibukan pagi kota Jakarta, menuju kampus kebanggan.
"Nih, gue masuk."
"Thanks!" Gale menerima coller bag.
"Galexia?!" teman-temannya cukup terkejut dengan kedatangan perempuan cantik ini. Terakhir mereka lihat badannya masih menggelembung seperti balon, dan sekarang penampilannya ck! Bikin cowok klepek-klepek, tak akan menyangka jika ia ibu dari 2 orang anak.
"Hay guys!"
"Edyaaannn! Ini mah hot momy cuy!" Gale menyunggingkan senyum, tertawa tanpa suara.
Mulai hari ini kesibukannya pasti akan bertambah, tapi Gale adalah Gale, ia sudah kembali ke stelan awalnya, pecicilan, energik, dan ceria.
"Cabe, selagi loe kegiatan senat gue ke pasar bentar ya! Abang request pengen makan siang di rumah dibikinin Pepes ikan, titip ini! Jaga sepenuh hati, kalo ga mau uang jajan loe di cut abang!" tawa Gale.
"Iya ah," berasa jadi ibu menyu sui bawa-bawa coller bag sambil rapat. Sebenarnya yang lahiran tuh siapa sih?!
Untuk urusan makan suami dan anak-anaknya, kini Gale tak mengandalkan bibi atau mamah. Katanya biar si abang makin kesemsem tak lari ke lain dapur dan betah di rumah meskipun ia natckal, semenjak nifas Gale sering belajar masak pada ibu mertuanya. Sekaya apapun laki-laki, ia akan lebih senang makan masakan istrinya sendiri.
Si cantik ini tak malu bergumul dengan para ibu level dewa dalam hal menawar harga di kios-kios sayuran dan daging. Suasana pasar yang baunya menyengat dan kadar kebersihannya level 2 tak membuat Gale mengurungkan niatannya untuk berbelanja, katanya biar lebih murah.
Satu jam sudah, Gale berbelanja dan kembali ke kampus, dengan hasil menenteng keresek merah dan hitam. Malu? Ck, ayolah ia tak pernah malu dengan apa yang dikerjakannya selama masih memakai baju.
Stelan kaos putih dengan jaket kulit, celana jeans panjang dan sepatu warrior, flashback saat bertemu Seli.
"Si cabe lama ih! Kapan gue masaknya ini," gerutunya.
"Kak, sorry!" Gale menegur Robi yang melintas, ia sedikit terperangah melihat Gale.
"Iya," matanya sampai mengerjap untuk berfokus agar tak salah duga.
__ADS_1
"Itu anggota senat belum pada selesai?" tunjuk Gale ke ruangan.
Robi menoleh ke arah telunjuk Gale, "oh belum, ada apa?" Gale berdecak seraya melirik jam di tangannya.
"Bisa minta ijin sebentar ngga?"
"Oh boleh, yuk kebetulan saya mau masuk juga!" ajak Robi, kapan lagi ia jalan bareng cewek cantik, eh tunggu! mungkin lebih tepatnya momy cantik.
"Ran, ada yang mau ikut ketemu Fathya katanya!" Robi melenggang masuk, sementara Gale hanya menyembulkan kepalanya saja di ambang pintu.
"Siapa?" tanya Randi yang ternyata berada di dekat jendela ruangan.
"Kak, sorry ijin bentar boleh?!" Gale berucap, sontak Randi menoleh, 3 bulan tak bertemu Gale tetap cantik.
"Masuk aja," suruh Randi bersidekap di kursinya, ia penasaran dengan urusan Gale, rasanya ia juga rindu sudah lama tak berjumpa dengan si pemilik wajah manis nan judes ini. Eh!
"Fathya aja deh yang keluar kak," pinta Gale.
"Kak," sela Fathya ingin menghentikan perdebatan.
"Masuk!" pintanya dingin penuh penekanan.
Emang nih kating minta di hihh sama piso dapur! Nyebelin! Mana posisi duduk Fathya paling pojok di belakang, lagi!
Mau tak mau Gale berjalan masuk ke dalam ruangan, tampilan oke, menenteng dua kresek berisi ikan dan sayuran.
"Galexia, wah! Udah lahiran?" pertanyaan itu lolos dari mulut Saka diangguki Abi.
"Udah kak alhamdulillah!" jawab Gale mengumbar senyum.
"Selamat ya Gale," ucap Aisyah.
"Makasih kak Aisyah," ia melewati Vena yang melihatnya sinis.
Ia rasa, ia sudah cukup totalitas sebagai perempuan, tapi ternyata adik tingkatnya ini memang definisi cewek keren nan cantik sebenarnya.
"Misi," ijin Gale.
"Cabe, loe ga kurang pojok apa duduknya! Kenapa ga sekalian di toilet belakang aja!" dengusnya Fathya hanya terkekeh menjawab pertanyaan absurd Gale.
"Loe masih lama engga, gue mau masak. Abang keburu dateng ini!" omel Gale nyeroscos mirip kereta api tanpa rem.
"Ya udah loe duluan aja Le, takutnya masih lama."
"Ya udah sini coller bagnya!" Fathya menyambar tali coller bag di sampingnya dan menyerahkan pada Gale.
Jadi ibu itu memang ribet, sibuk, selalu supel. Tapi Gale harus bisa itu, tangannya menyampirkan coller bag di pundak dengan pompaan ia masukkan ke dalam tas gendong. Fathya tertawa tergelak, "ribet amat, emak---emak!" ia membantu kakak iparnya.
"Terus ini?!" ia mengangkat kedua kresek Gale.
"Itu ikan, sama sayur!" Gale menyambar dan menentengnya.
"Loe gimana naik motornya" tanya Fathya khawatir.
"Sabi lah, gampang itu! Mau bawa beras sekarung juga gue bisa!" jawabnya enteng.
"Ya udah gue duluan, ati-ati loe sama mata jelalatan! Pesen ojek online aja," pesannya melangkah menjauh dari Fathya.
"Iya, hati-hati Ale!"
"Makasih kak, maaf udah ganggu!" Gale melintas begitu saja.
Mata Randi tak beralih barang sedetik pun, bahkan netranya mengikuti Gale hingga keluar ruangan lewat kaca jendela, saat gadis itu memakai helm dan naik menunggangi kuda besinya.
.
.
__ADS_1
.