Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Lepaskan beban dan luka itu


__ADS_3

Fatur menatap Gale dengan tatapan yang sulit diartikan, tangan Fatur meremas selimut rumah sakit, ia menunduk. Sepertinya ucapan Fathya benar adanya jika dia adalah bapak, Gale saja bisa melihat wajahnya di wajah penjahat itu. Apakah ini sudah saatnya Gale tau?


"Bang," tegur Gale, karena Fatur hanya diam saja.


"Maafin abang," ucapnya sangat pelan, ada gurat kekhawatiran dan penyesalan di wajah Fatur.


"Kamu boleh marah...boleh pukul dan balas semua tindakan dia, tapi abang mohon jangan minta abang buat tinggalin kamu,"


Gale mengerutkan dahinya, tangannya terulur menangkup rahang tegas Fatur, "kasih alasan buat Gale, kenapa Gale harus minta abang ninggalin Gale?" tanya nya dengan mata beningnya yang menyiratkan kegetiran.


"Latar belakang keluarga abang memang berantakan ga seperti kamu, abang terlahir dari ayah seorang preman, penjahat, penjambret, tak tau diri, dan semua sifat buruk yang melekat padanya," jelasnya datar, seolah memendam kebencian. Terlihat jelas dari raut wajah Fatur, rasa marah, takut dan malu.


"Abang sudah menutup masa lalu dengannya, semenjak dia sendiri yang memilih meninggalkan kami,"


Gale tau masa lalu Fatur yang sering mendapatkan perlakuan buruk setelah tempo hari meminta mama bercerita meskipun dengan sedikit paksaan pada mertuanya itu.


"Biar abang yang urus, masalah dengan polisi! Abang terima konsekuensinya, jika ayah dan yang lain akan membenci atau melampiaskan amarahnya sama abang, selama kamu tidak membenci abang," ucap Fatur lagi tangannya membawa tangan Gale ke dalam genggaman.


"Kalo abang fikir Gale sama keluarga bakalan marah apalagi benci sama abang, abang picik. Abang ga ada hubungannya dengan kejadian ini. Ga penting abang terlahir dari siapa?! Bukan berarti abang yang harus menanggung dosa dan aibnya bapak, itu ga adil buat abang. Gale juga tau abang ga akan seperti dia. Abang jangan menyalahkan diri sendiri karena sifat buruk bapak, Gale ga suka!" ucapnya bergetar, air mata mulai menganak sungai di pipi Gale. Pikirannya mengingat cerita mama, ia sampai menghabiskan satu bungkus tissue kecil, hidungnya sampai mampet dan matanya sembab. Gale melihat Fatur kecil yang kuat disana, sedang menatapnya.


"Coba peluk Gale bang," pintanya, Fatur mengerutkan dahinya bingung, Gale menarik paksa Fatur agar mendekapnya yang tengah berbaring.


"Keluarin semua luka abang, biar Gale bisa rasain juga apa yang abang rasain!"


"Abang punya Gale, tempat untuk berbagi.."


"Jangan simpan dendam dan penyakit hati di sana lama-lama." Tunjuk Gale di dada Fatur.


"Selama ini abang nanggung beban berat sendirian, menyimpan luka lama tanpa ada siapapun yang mencoba untuk menyembuhkan," Fatur menatap Gale rapuh, sisi lemahnya tersentuh oleh ucapan Gale.


"Bantuin Gale duduk dong bang!" pinta Gale. Dengan kepayahan, Gale dibantu Fatur setengah duduk.


"Abang duduk disini," pintanya menepuk-nepuk ranjang.


"Sebelah mana bapak pernah pukul dan nyakitin abang biar Gale sembuhin?" tanya Gale maaih menyisakkan air mata mengalir, Fatur hanya diam.


"Apa sebelah sini?" Gale menarik tangan Fatur dan mengecupnya.


"Atau sebelah sini?!" kecupan Gale berpindah ke dahi Fatur yang duduk di ranjang tepat berhadapan dengan Gale. Fatur terkekeh melihat tindakan Gale.


"Kamu salah, kehadiran kamu beberapa tahun lalu adalah obat buat abang.." jawab Fatur.


"Ini seperti bom waktu buat abang, abang ga tau apa yang bakalan terjadi kalo sampe keluarga kamu juga tau," jawabnya.


"Gale yakin ayah pasti udah tau, ga ada yang ga dia tau bang," ucap Gale.


"Abang pengen tau apa yang bakalan mereka lakuin? Mereka bakal merangkul abang seperti yang Gale lakukan sekarang, dan bilang...Kamu suami terbaik buat Galexia," jawab Gale. Fatur tak bisa mengatakan apapun selain sangat bersyukur untuk semua anugerah yang ia dapat, ia mengusap perut Gale.


"Sehat-sehat kalian bertiga," pria itu menyarangkan ciuman lama disana, seolah sedang merasai kehangatan dari Gale, dan kedua anaknya.


"Besok ada momy sama yang lain kesini, sementara abang urus masalah ini di kantor polisi," ujar Fatur tanpa mau merubah posisinya.


Gale menatap Fatur nanar, lelaki ini memang berpendirian keras.

__ADS_1


"Iya,"


"Hukum harus tetap berjalan," lanjutnya dingin, dulu bapaknya pernah membawa Fatur dan mama ke dalam kehidupan bagai di neraka, lama tak jumpa ia kembali dan membawa kiamat untuk Fatur dengan mencelakai Gale serta kedua anaknya. Beberapa jam yang lalu, hidup dokter muda ini seperti sedang berada di bibir jurang melihat Gale-nya bersimbah da rah hampir meregang nyawa.


Gale mengusap pipi Fatur, "lepasin semua dendam dan penyakit hati abang sama bapak, berdamailah dengan masa lalu, kasih contoh buat si kembar sejak mereka masih di dalem...biar mereka tau kalo abang adalah ayah hebat. Bukan buat bapak, mama ataupun keluarga bapak. Tapi untuk kita..."


"Allah ga pernah salah mengirim hadiah buat abang," senyumnya mengulas senyuman.


"Sini abang gantiin celananya. Kotor kena noda darah," pinta Fatur menyelesaikan pekerjaannya.


"Bang, Gale pingin pulang aja! Ga enak disini sepi," pintanya tapi Fatur menggeleng.


"Masih harus disini, takut ada komplikasi dari luka. Sabar ya sayang..."


Gale membuang nafasnya lelah, "abang, Gale lapar ih! Abang gimana sih, katanya dokter! Masa pasien kelaperan dibiarin, ibarat orang donor darah aja langsung dikasih bubur kacang, ko Gale malah di kacangin.." Fatur tertawa melihat mimik wajah Gale seperti donald bebek.


"Iya, abang sampai lupa..kalo istri sama anak-anak abang belum makan!" tawanya.


"Ga tau ahh! Pokonya makannya harus double! Udah gitu Gale pengen makanan manis juga,"


"Siap!" jawabnya.


...----------------...


"Lele!!!!" Andini dan Lila melakukan video call sambil terisak, melihat dari bentukan wajah mereka, sepertinya sudah lama mereka menangis.


"Dih, kenapa pada mewek? Irvan mana? Gue belum sempet ketemu? Kapan berangkat?" tanya Gale merapikan penampilannya, meskipun tak ada yang berubah, ia tampak cocok dengan baju pasien dan rambut yang dicepol ke atas meskipun asal.


"Lele!!! Loe ga apa-apa kan? Ponakan kembar kita baik-baik aja kan?" tangis Andini mengencang sampai-sampai ucapannya hampir tak jelas terdengar.


"Besok kita kesana, tot!" ucap Faisal.


"Bontot, loe ga apa-apa kan?!!" Irvan yang baru bergabung nampak khawatir.


"Ga apa-apa Van, sorry ya perpisahan kita jadi gatot gara-gara guenya malah masuk rs, kapan berangkat?" tanya Gale.


"Besok sore, tapi gue mau ke rumah sakit dulu ketemu loe, bontotnya gue!"


"Oke ditunggu," jawab Gale.


"Om dokter kemana Le?" tanya Ical.


"Ada, lagi makan tuh. Abis nyuapin gue tadi," Gale terkekeh seraya menunjukkan layar ponsel ke arah sofa dimana Fatur sedang makan.


"Uhh so sweet," seru Andini dan Lila, mereka masih berada di rumah Fatur.


"Kata Fathya jambretnya udah ditangkep?! Minta diabisin tuh orang-orang! Berapa orang sih? Gue bejek-bejek kalo ketemu," geram Faisal menonjoj-nonjok kepalannya di tangan.


"Alah, so iyee. Paling loe ngacir duluan!" toyor Lila.


"Sayangkuhhh!!!" para onty Gale berebut duduk dan merebut, memenuhi layar ponsel milik Lila.


"Aduh onty!!" pekik Lila dan Andini.

__ADS_1


"Aww, njiir..Ical kecepit onty!" seru Faisal, Gale tertawa melihat pandawa dan kurawa malah berebut ingin mengobrol dengannya. Layar berukuran 15 cm sedangkan orang-orang disana gerombolan.


"Mana yang sakit sayang, udah baikan kan? Kata onta Deni katanya kamu dijahit tanpa anestesi?! Peluk jauh buat kamu sayang," ucap para ontynya heboh.


"Iya onty, Gale udah ga apa-apa kok!" Gale masih meringis menahan tawa melihat kondisi nelangsa teman-temannya dihimpit emak-emak Kurawa.


"Onty sedih sih sedih..tapi ini kaki Lila jangan ditin dih dong!" omel Lila.


"Kalian heboh banget sih?!" Gale mengulum bibir menahan tawa, tak kuat ia sampai air mata ingin keluar, ternyata menahan tawa begitu menyakitkan. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.


"Ponakan gue mana oy ?!" terdengar suara pekikan Ari dan Roy ikut mengambil tempat hingga mereka terjatuh-jatuh, karena posisi sofa hanya muat untuk 5 orang saja.


"Le, masih nav shu makan nasi kan?" tanya Ari.


"Iya lah, terus Gale mau makan apa om pong?" tanya Gale.


"Kirain gara-gara kena sabetan piso ponakan gue jadi sukanya makanin gabah?!" tawa Ari. Gale menatap layar ponselnya tajam.


"Bisa ngga sih kali ini ga usah pada becanda?!" sarkas Gale. Semua terdiam, apa candaan mereka keterlaluan?


"Gale ga bisa ketawa tauuuu...." rengeknya memohon, membuat mereka yang ada di layar sana tertawa puas, akhirnya mereka bisa mengusili si ratu usil ini. Sejak tadi ia tak melihat penampakan keluarganya, bahkan batang hidung Andro saja ia tak melihat.


"Onta, momy, ayah sama Andro kemana? Udah pulang ya?" tanya Gale.


"Keluarga cemara lagi nyusulin anak pungutnya...eh salah anak sulungnya, emang belum sampe ya?" tanya Roy.


"Ayah? Kesini?!" tanya Gale terkejut.


"Iyalah, emang anak sulung ayah kamu ada berapa?" tanya Melan.


"Le, kata onta Deni, dia pingin ngobrol sama suami kamu sebentar, kasih hapenya ya nak?!" pinta Lila.


"Oh, oke onty bentar!"


Baru saja Gale ingin mengalihkan pandangannya, kini Gale merasa tubuhnya di peluk sosok hangat dan wangi menenangkan.


"Abang.."


"Eh.."


Hangat...


Nyaman...


Melindungi...


"Ayah?" ia mendongak, sosok ayahnya kini tengah memeluknya.


Terlalu asik mengobrol dengan Pandawa dan Kurawa, ia sampai tak menyadari jika pintu kamar terbuka. Ponsel Fatur sampai jatuh di samping Gale.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2