Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Narsis!


__ADS_3

Sudah 3 kali Fatur menghubungi Gale, tapi tak ada jawaban darinya, begitupun Fathya. Akhirnya ia memutuskan untuk langsung saja ke kampus Gale. Mobil bergerak melewati tugu buku bertuliskan kampus kebangaan.


Dari kejauhan, sudah nampak maba berpakaian hitam putih berhamburan di pintu gerbang, itu tandanya para maba baru saja keluar.


Ia mencari posisi yang tepat untuk parkir, setelah memutar stir dan menemukan tempat yang tepat, Fatur keluar, kampus kebangaan warga Jakarta tampak megah di pandangan, dengan kolam Makara yang menjadi tempat paling histori dan iconic dari kampus ini. Kebetulan sekali cuaca sedang panas, makanya air mancurnya dinyalakan membuat suasana tampak semakin asri.


Fatur tak tau dimana Galexia dan Fathya berada sekarang, tadi pagi ia hanya mengantarkan sampai di dekat parkiran saja.


Mata Fatur mengedar, dari tampilannya kemungkinan besar kedua orang mahasiswa yang sedang melintas itu adalah panitia ospek. Fatur menghampirinya,


"Maaf, apa maba sudah pada keluar ruangan?" tanya Fatur pasalnya ini sudah lebih 15 menit dari jam pulang Gale.


Robi melirik jam di tangannya, "oh, udah mas. Mau jemput?" tanya nya, Fatur mengangguk.


"Fakultas apa?" tanya Robi.


"Kedokteran dan FMIPA,"


"Oh, baru keluar mas!" lanjut Jovan.


"Abang!" pekik Fathya yang melihat Fatur, mereka menoleh. Fathya setengah berlari, seiring para senior yang berlalu.


"Gale mana?" tanya Fatur, diliriknya tak ada siapapun di dekat Fathya.


"Ale kayanya masih di ruangan. Bentar lagi juga keluar,"


...----------------...


Galexia merapikan semua barang, menyampirkan tasnya. Bersama Nadia ia berjalan bersampingan.


"Eh, abang telfon. Ga kedengeran,"


"Siapa Gale? Suami?" tanya Nadia, Gale mengangguk.


"Kayanya udah sampe depan," jawab Gale dengan berjalan tergesa.


"Gale, tunggu! Ikutlah, jadi pengen tau suami kamu ih!" Nadia menyusul. Nadia dan Gale berjalan bersama menuju tempat dimana Fatur berada, sebelumnya Fatur memberikan pesan kalau ia dan Fathya sedang berada di dekat kolam Makara.


"Boleh..boleh!" jawab Gale.


"Suami kamu kerja apa Le?"


"Dokter spesialis," jawab Gale.


"Wah, hebat! Pantesan, pengen ngikutin jejak suami?" Nadia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Engga juga sih, emang pingin aja!"

__ADS_1


Gale menyunggingkan senyum jahilnya disaat netranya menangkap dua sosok yang sedang menunggunya sambil duduk dan mengobrol.


"Mana, Le?" Nadia celingukan, padahal tak ada gunanya juga ia celingukan toh belum pernah melihat wajah Fatur.


Gale menarik tangan Nadia untuk berjalan pelan dan mengendap-endap.


"Kenapa Le?" Nadia mengerutkan dahinya dengan kelakuan Gale tapi tak urung mengikuti.


Niat jahil memang tak selamanya berujung mulus, ingin membuat Fatur terkejut, tapi mendadak perutnya keram.


"Awwshhh!" Gale langsung membungkuk dan memegangi perutnya.


"Eh! Kenapa Le?" seru Nadia ikut membungkuk memegang lengan Gale.


"Gale?!"


"Galexia?!" Bukan hanya Fatur yang berlari menghampiri Gale, tapi juga Randi yang diekori Robi.


Baik Randi maupun Fatur mendongak saling pandang. Randi mengalihkan pandangannya ke arah Gale yang meringis.


"Mau ke ruang kesehatan?" tawarannya tulus dengan sorot mata khawatir, sontak saja Fatur mengerutkan dahinya pada Randi. Jangankan Fatur, Fathya saja ikut mengernyitkan dahi melihat sikap Randi.


"Kenapa perutnya?" Fatur menyentuh perut Gale.


"Mas, maaf. Bisa sopan sedikit kan?" Randi sedikit geram, dengan tindakan Fatur yang menurutnya kurang sopan, menyentuh-nyentuh Galexia.


"OMG," gumam pelan Nadia, ia mengerti situasi apa ini, sepertinya seniornya sekaligus ketua BEM kampusnya ini memiliki ketertarikan pada bumil cantik yang sedang meringis di sampingnya.


"Kak Randi maaf," Fathya menyela, belum si cabe melanjutkan ucapannya Fatur sudah memotong dengan nada ketus.


"Kamu siapa?" tanya nya.


"Saya panitia ospek maba disini, dan Galexia maba kampus sini. Jadi dia tanggung jawab saya," jawab Randi diplomatis penuh wibawa namun tak meninggalkan kesan cool.


"Dan ini sudah jam usai kan?" tanya Fatur tak kalah dingin, Randi yang mendengar jawaban sengak Fatur merasa terpancing di hari yang panas dan melelahkan ini.


"Tapi ini masih di lingkungan kampus."


"Aduhhh! Bisa ngga sih ga usah berantem! Keram nih perut Gale," galaknya.


"Abang ga usah berantem deh! Panas nih," omelnya menyengat.


"Kak Randi, ga apa-apa. Dia ada hak mau pegang- pegang kek mau jorokin ke tebing kek, atau mau mandiin Gale sekalipun!" cerocosnya, Randi dan Robi sampai terbengong dengan ucapan Gale.


"Mau dilanjut apa engga nih debatnya? Gale mau balik?!" tanya Gale dengan wajah keruhnya, seketika mereka diam.


"Iya iya sayang, maaf. Yuk pulang!" ajak Fatur.

__ADS_1


"Sayang?!" gumam Robi, sementara Randi sudah dapat menyimpulkan siapa Fatur ini, raut wajahnya lantas berubah redup terkesan memandang getir.


"Maaf, saya kira mas bukan keluarga Galexia. Sekali lagi maaf atas kekeliruan saya," ucap Randi, mata Fatur masih menatap tajam, belum sedikit pun mengurangi rasa kesal dan marahnya, ia terkesan waspada pada Randi, karena Fatur bukan tak tau dengan gelagat Randi pada Gale, Fatur adalah lelaki sama seperti Randi.


"Iya, lain kali tanya dulu!" Fatur membawa tangan Gale ke pundaknya.


"Kuat ngga? Masih sakit? Mau digendong?" tanya Fatur, Gale menggeleng.


"Udah baikan, pengen duduk dulu." Pintanya.


Randi menatap nanar, lalu ia segera berjalan meninggalkan tempat itu.


"Borr, itu lakinya?!" tanya Robi sedikit syok menyusul Randi.


"Iya! Makanya ati-ati loe ngomong, janda...janda... Ada lakinya tuh!" sewot Randi, entah kenapa baru kali ini ia merasa ada yang berdenyut dan bergetar di dalam dada meskipun tak seberapa.


Robi malah tergelak, "lah! Gue kira udah ditinggal, bang Hendra ngomongnya bikin gagal paham,"


"Bukan bang Hendra, tapi kita yang ga fokus!" ia menggelengkan kepalanya dan berjalan dengan langkah cepat, kenapa ia bisa termakan omongan Robi dan Hendra yang tak jelas, hanya dengan melihat paras dan kepribadian Galexia saja otak cerdasnya oleng, untung saja tidak semakin mempermalukan diri di depan orang lain.


"Galexia, kalo gitu aku duluan ya?" ucap Nadia canggung jika terus menerus berada di situ.


"Oh iya Nad," Fatur tersenyum tipis menggetarkan kalbu pada Nadia.


"Yang tadi siapa?" tanya Fatur pada Fathya.


"Nadia?" tanya si cabe menunjuk kemana Nadia pergi.


"Bukan, yang laki-laki."


"Oh, kak Randi..ketua BEM disini bang," bukan Gale yang menjawab tapi Fathya.


"Ganteng ya bang?" tanya Fathya tersenyum.


"Ck, gantengan abang!" jawabnya, Gale dan Fathya sampai menoleh dan menajamkan pendengaran demi bisa mendengar jelas kalinat yang dilontarkan Fatur. Sejak kapan bapaknya si kembar narsis begini.


Gale mengulum bibirnya, daripada harus kena omel seperti tadi pagi lagi, ia lebih baik mengajak pulang.


"Udah ga beres nih pohon, cabe!" ujar Gale mengamati ke atas pohon lumayan rimbun.


"Balik yuk, balik!" ajak Gale. Fathya meledakkan tawanya sementara Fatur mendesis tajam.


"Eh!! abang!!" jerit Gale, saat Fatur tiba-tiba menggendong Gale.


Fathya terkekeh geli melihat keduanya, "ga tau malu!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2