
Gale membuka pintu dokter sambil berkacak pinggang,
Brakkk!
Fatur dan suster Nita sampai terkejut, "gimana sus? Lama banget! Dokternya sibuk ya? Udah sejam saya nungguin nih! Waktu..waktu...time is money loh!" jarinya menghentak-hentak jam tangan biru di pergelangan tangan Gale.
Suster Nita sudah meledakkan tawanya, baru kali ini ia menemukan pasangan dokter di rumah sakit ini, segila Gale ditambah itu adalah pasangan dokter yang terkenal dengan kecool-annya seantero rumah sakit ini.
Ia berjalan anggun layaknya model dan duduk di kursi pasien dengan angkuh, mencoba jadi pasien menyebalkan.
"Tolongin saya bisa dok? Jadi keluhan saya nih ya, jantung saya itu suka kembang kempis kaya balon! Apalagi kalo liat cowok ganteng, kaya dokter gini lah! Detakannya nih cepet ga beraturan kaya lagi du geman, pipi saya tiba-tiba merona anget-anget ee' sapi gitu! Suka berhalusinasi pengen memiliki gitu, itu kenapa ya kira-kira?" Suster Nita sampai memegang perutnya karena pegal.
"Kalo gitu saya keluar dok, masih ada check up rutin di beberapa ruangan dok setelah ini," ujar suster Nita sembari melengos pergi.
"Iya, sebentar lagi saya keluar. Ngurusin pasien nakal dulu!"
Fatur menatap lekat pasien nakalnya satu ini, mencondongkan badan dan mendekatkan wajahnya dengan Gale.
"Kalo sedeket ini berasa pengen cium ngga?" kecup Fatur di bibir Gale.
"Pengen gigit!" Gale menggertakan giginya.
"Istri abang sehat, alhamdulillah! Dan yang paling penting istri abang berani," ia berjongkok di depan Gale, memutar kursinya.
"Bang, menurut abang Gale bisa ngga ya keluar dari ketakutan Gale?" tanya nya menunduk.
"Pasti bisa! Gale si gemoy kan kuat, apa sih yang ga dia bisa? Kenapa kamu tiba-tiba kaya gitu?"
"Abang pengen tau ngga sih cita-cita Gale sebenernya?" tanya Gale lagi.
"Apa?"
"Gale pengen jadi dokter anak bang, lucu ya! Dokter takut disuntik, dokter kok takut da rah?" tawanya sumbang.
"Kamu pasti bisa, Gale-nya abang pasti mampu! Tak ada yang tak mungkin bagi Allah,"
"Kalo Gale ga berhasil gimana bang?" tanya nya meredup, belum pernah Fatur melihat Gale seredup ini. Ia memeluk istrinya, "berusaha semaksimal mungkin, berdo'a sama Allah, untuk urusan lainnya serahkan pada Allah."
"Abang bantu sebisanya," Gale membalas pelukan Fatur erat, terasa seperti pelukan ayah dan momy-nya, nyaman, hangat dan melindungi.
"Makasih abang,"
"Jaga kesehatan kamu sama anak kita," ucapnya.
"Iya,"
"Abang tinggal dulu sebentar ya, kamu tunggu disini aja sambil siap-siap,"
__ADS_1
Fatur meninggalkan ruangannya, membiarkan Gale untuk beristirahat sejenak di kursi kerjanya. Gale tersenyum melihat frame foto berukuran 15 cm diatas meja kerja Fatur, foto dirinya yang tersenyum manis beserta salah satu tespeck semalam di dekat foto itu.
********
Gale berjalan cepat menuju kamar, merebahkan badannya sebentar.
"Mau pergi jam berapa?"
"Abang dzuhur dulu," ia membuka kemeja dan celana bahannya.
"Gale juga belum dzuhur, abang mau pake baju mana?" tanya Gale, ia bangkit dan menyambar pakaian yang tergantung di dalam lemari.
"Terserah kamu!" jawabnya dari kamar mandi.
"Gale pakein rok gimana?" tawanya, tapi tak mendapat jawaban dari dalam.
"Abang, Ale! Udah siap belum?" tanya Fathya dari balik pintu.
"Iya bentar! Ponakan loe minta ditengokin cabe!" pekik Gale.
Bughh! suara pintu dipukul.
"Ale ih!"
"Ha-ha-ha!" Gale keluar dari kamar sambil tertawa-tawa melihat ekspresi Fathya, wajahnya memerah, dan pipinya menggembung, alisnya menukik tajam seperti air terjun.
Netranya melihat ke arah luar jendela kaca, pemandangan di luar seakan bergerak mundur hingga matanya lelah dan tertidur.
"Le," tubuhnya diguncang Fatur.
Semilir angin siang menyapa kulitnya, rupanya mereka sudah sampai sejak tadi. Gale membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit, mengumpulkan kesadarannya.
Matanya sampai memerah, tanda jika bumil ini tertidur dengan pulas.
"Udah nyampe?" tanya Gale mencoba menyesuaikan pandangan, sebuah rumah bercat campuran orange, hijau dan merah berdiri di depannya. Pohon mangga besar dan nangka di samping kanan kirinya, belum lagi pot-pot berjejeran di pagar rumah mencerminkan kesejukan, diantara rindangnya pepohonan besar lain, tempat diparkirkannya mobil pun masih berbentuk tanah merah bertabur batu kali kecil-kecil.
"Minum dulu, mau cuci muka dulu engga?" Gale meneguk minumnya lalu menggeleng. Fatur merapikan rambut Gale.
"Mama sama Fathya mana?" tanya nya.
"Udah di dalem dari tadi," jawab Fatur. Gale turun dari mobil menyapu pandangan ke seluruh arah, di dalam rumah terlihat ramai dengan banyaknya sandal dan juga suara canda tawa.
"Yuk!" ajak Fatur menarik tangan Gale.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
"Ini die nih pengantennya, ditunggu-tunggu dari tadi!" seru seorang ibu memakai ciput.
"Sini neng! Masuk! Dimari jangan sungkan, ntar keabisan kalo malu-malu bae!"
"Iya bu," jawab Gale membuka sepatunya.
"Jangan panggil ibu, kebagusan! Panggil aja mpok Ina, aye tetangga mak Ella waktu disono tuh! Rumahnya deket dari sini,"
"Ga usah teriak-teriak Na, bini Fatur ngga budeg!" jawab mak Mpon.
"Neng!" sapa mak Mpon.
"Mak,"
"Bener pan aye bilang, bininya Fatur bening! Air di rumah loe mah kalah Rin," ucapnya membawa Gale duduk.
"Li ! Kalo cari bini macem si Patur! Bening-bening kaya aer gunung," sahut seseorang muncul membawa minum dari dalam rumah.
"Gale, ini mak Eha istri babeh Mu'in!" ujar mama.
"Ntong! Sehat lu, apa kabar?!"
Gale duduk diantara mama dan mak Eha, jangan ditanya apa yang ada di hadapannya sekarang, karena berpiring-piring dan toples makanan berjejer disana, mulai dari dodol betawi, kembang goyang, kue rangi sampai asinan ada semua, layaknya orang menggelar hajatan.
Suasana seketika makin ramai seperti orang gelar kawinan masal. Semakin sore semakin banyak yang datang, beberapa laki-laki seusia Fatur membawa anak, ada juga yang bersama pasangannya, Fatur tampak bercanda ramah dengan mereka di luar sambil ngopi dan merokok.
"Nih neng! Dulu rumahnya Patur Pathiya sebelahan ame aye! Kebetulan anak aye satu umur ma Patur, si Padli tuh nyang ntu tuh! Nyang pake kaos merah bladus!" Aduh ampun kalo udah pada nguber layangan! Sampe kaki baret-baret,"
"Iye, anak loe pada..kalo kencing di comberan samping rumah gue!" Gale tertawa, dulu masa kecil Fatur ga sedih-sedih amat.
Gale jadi penasaran dengan tempat tinggal Fatur dulu, seperti apa kontrakan saksi bisu tumbuh kembangnya seorang Fatur, saksi dimana ia menghadapi kejamnya dunia, atau barangkali ada beberapa tetangga yang tau dengan apa yang terjadi pada Fatur dan ayahnya. Rasa penasaran itu semakin besar menggelayuti benaknya.
"Cabe," colek Gale pada Fathya, gadis itu tengah asik berlenye-lenye memakan dodol.
"Apa?"
"Gue penasaran sama kontrakan loe dulu! Kesana yuk!" ajak Gale.
"Beneran loe mau ke tempat pengap gitu? Lagian kalo sekarang kayanya udah ditempatin orang," jawab Fathya.
"Ya engga apa-apa, dari luar aja. Ga akan dikira maling lagi nyari target kan?!" tanya Gale.
.
.
.
__ADS_1