Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Manggil tukang pijat


__ADS_3

Tangannya meraba-raba ke arah meja samping, mencari benda pipih miliknya.


"Awww, badan gue sakit semua, kaya abis diti_ndih gajah!" ringisnya, dengan masih menguap dan terkantuk-kantuk. Fatur tidak menggempur Gale habis-habisan seperti kebanyakan pasangan pengantin baru pada umumnya. Ia sadar, Gale masihlah sangat muda ia juga masih harus sekolah. Bukan berarti ia tidak kuat melakukannya namun lebih kepada berfikir 2 kali jika harus membuat Gale tersiksa sampai tak bisa berjalan ke sekolah, Fatur tidak setega itu. Waktu keduanya bermesraan baru saja dimulai, masih banyak waktu untuk keduanya melakukan hal in_tim.


"Jam berapa ini?" Gale mencoba membuka matanya dibalik selimut tebal pembungkus tubuh toples Gale.


Tega!


Gale manyun dengan hati mendumel, melihat ke arah Fatur. Pelakunya malah enak-enakan tidur pules kaya bayi abis copot tali ari-ari.


"Bajuin kek! Cuma terima bongkar doang!"


Belum sempat melihat jam, suara pintu diketuk memenuhi gendang telinga Gale.


"Abang, Gale...ga pada kerja sama sekolah emangnya, jam segini belum keluar?" tanya mama dari balik pintu.


"Iya ma," jawabnya.


"Emang jam berapa?" gumam Gale menyalakan ponselnya dengan tangan yang satu sibuk menahan selimut, karena sejak tadi benda penghangat ini melorot terus kaya minta dipasangin rante. Matanya melotot mendapati waktu sudah pukul 06.15 WIB.


"Anjayyy dong, gue kesiangan!"


"Abanggggg!!!"


Seketika Fatur menutup telinganya dengan tangan, teriakan super kencang, mendadak bikin jantung berhenti berdegup dan telinga berdengung.


Fatur membuka matanya, tangannya terulur menutup mulut Gale.


"Berisik!"


Fatur terduduk dan mengumpulkan sisa nyawanya yang semalam ikut melayang.


"Cup!" kecupnya di kening Gale, ia kemudian melepaskan bekamannya dari mulut Gale, dan mengecup sekilas bibir manyunnya. Lirikan mata Gale mengikuti gerakan santai Fatur.


"Abang, Gale telat ih!" omelnya.


"Emang jam berapa ini?" Fatur baru akan menyambar handuknya.


"Makanya melek bang, jam 6 lewat seperempat!" Fatur melongo, setelah kesadarannya penuh, ia segera masuk ke kamar mandi.


"Abang ih, ini Gale gimana?!!" sewot gadis ini meratapi nasibnya yang sudah kayak korban banjir bandang saking besarnya, baju pun ikut terbawa arus tak menyisakkan sehelai pun dan tubuhnya terbanting-banting benda di sekitarnya sampai merah-merah dan semrawut. Wajahnya menabuh genderang perang pada Fatur.


"Astagfirullah, abang lupa istri abang juga mau sekolah," Fatur menepuk jidatnya sendiri terkekeh.


"Mandi berdua aja biar cepet ya, abang juga ada janji sama pasien jam 07.15 WIB!" Fatur kembali keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya menutup pintu kamar mandi.


Ia menggendong Gale untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Kapan sih kita kalemnya pagi-pagi bang?!" tanya Gale ditengah gendongan Fatur menuju kamar mandi.


Sebenarnya Gale sangat amat malas untuk bersekolah, inginnya berleha-leha di rumah sambil dipijit, tapi hal itu hanya akan menjadi sebuah angan-angan belaka saja. Mandi saja secepat kilat menyambar bumi.


Gale tertawa, "abang itu busanya masih nyangkut,"


"Coba Gale siramin!" pinta Fatur, tapi Gale malah mengusili Fatur.


"Kalo mau main basah-basahan nanti aja, kita udah telat," Fatur segera meraih dan melilitkan handuk di badan.


****


"Badan Gale lemes bang, sakit-sakit semua, males sekolah," Fatur membantu Gale sisiran.


"Katanya ada pemahaman materi di sekolah, belum lagi latihan dance?" tanya Fatur, ia pun sibuk mengenakan arlojinya.


"Ahhh, bunuh aja Gale lah! Mau pingsan aja biar bisa tiduran di uks," jawabnya frustasi.


"Mau abang panggilin tukang pijet ke rumah apa gimana?" tanya Fatur, keduanya bicara lewat pantulan kaca karena posisinya Gale tengah bercermin dan Fatur berdiri di belakangnya sibuk menata rambut.


Mata Gale menyipit saat menyibakkan rambutnya.


"Haaa?! Apaan nih banyak banget?" Fatur hampir meledakkan tawanya.


Gale membalikkan badannya.

__ADS_1


Meniup kepalan tangannya seperti meniup kelomang kecil lalu meninju-ninju lengan Fatur secara brutal, tapi dokter muda ini malah tertawa.


"Gelutnya dilanjut nanti aja malem, biar ujungnya love after war!" ujar Fatur menaik turunkan alisnya.


"Enggak! Ini aja Gale udah kaya robot jalannya!" sengaknya segera menuntaskan rapi-rapinya.


"Makanya mesti lagi, biar nanti engga sakit!" selalu begitu rayuan lelaki.


"Abang panggilin mak Mpon deh, langganan pijit mama kalo pegel-pegel, biasanya beliau juga pijitin orang abis lahiran. Abang percaya sama dia, soalnya punya sertifikat kepelatihan," mata Gale sinis.


"Malu atuh bang! Kan ga lucu nanti dia nanya, neng...abis jatoh dari motor, apa pohon? Atau abis lahiran? Bukan mak, badan Gale pegel semua gara-gara abis diperawanin suami!" Gale membuat suaranya jadi 2 macam seperti dialog seorang tukang pijit dan dirinya.


"Ya ga usah jujur juga atuh neng cantik!" Fatur mencubit gemas pipi Gale.


Fatur dan Gale keluar dari dalam kamar, saat mama dan Fathya sudah selesai sarapan sejak 10 menit lalu.


"Abang sama Gale lama banget sih!" omel Fathya, matanya jatuh pada jam tangan miliknya, menunjukkan jika waktu sudah pukul 6.45 WIB.


"Biar abang telfon pihak sekolah, kalo kalian ijin datang telat." Ujar Fatur menggeser layar ponselnya.


...----------------...


Fathya melirik Gale, ada yang aneh dengan gadis ini.


"Loe kenapa?" tanya Fathya, tentu saja merasa aneh, Fathya berjalan di belakanh Gale. Mereka memang tak pernah berjalan bersampingan, tapi kini entah angin apa yang membuat Fathya mengekori Gale.


Mimik wajahnya menatap penuh waspada, "kenapa emangnya?"


"Biasanya pecicilan, hari ini jalan loe kaya putri Solo!"


"Suka-suka gue lah, kaki-kaki gue!" sungutnya.


"Loe sendiri ngapain, tumben deket-deket sama gue! Kesambet jin sekolahan?!" ejek Gale tersenyum miring. Fathya terlihat mengontrol emosinya agar tak terkejut dengan pertanyaan Gale, jika sebenarnya ia sekarang adalah ajudan Gale yang diutus sang kaka untuk mengekori kemanapun Gale pergi.


"Ya udah deh, gue masuk ke kelas dulu!" Fathya segera membalikkan haluan kakinya. Tas gendongnya sampai ikut bergerak karena hentakan kasar Fathya.


"Lele!! Gimana liburannya?!" sambut Lila di depan kelas Gale.


"Loe semua ga bosen apa, nyemilin keripik terus?" tanya Gale ikut duduk di samping Irvan.


"Bilang s3tannya jangan ke gue juga kali!" desis Faisal wajahnya penuh dengki, Lila tertawa.


"Ini kan udah jam masuk, loe semua ngapain disini?!" tanya Gale, netranya tertumbuk pada jam di pergelangan tangannya.


"Jamkos!" jawab Irvan. (jam kosong)


"Kelas kita?" tanya Gale pada Andini.


"Sama, janjian kali gurunya!" sahut Andini menjawab.


"Eh bentar deh, tumben rambut loe masih basah gini, keujanan dimana nih?!" tanya Andini penuh selidik.


"Kesiangan gue-nya!" jawab Gale malas.


"Pijitin dong, badan gue lemes banget, pegel semua!" pinta Gale meraih tangan Andini ke pundaknya.


"Si@*lan dikira gue tukang pijet, abis ngapain sampe segininya?"


"Jangan-jangan..." goda Irvan mengerling pada Gale.


"OMG!! Bontot, loe udah belah duren?!" seru Lila.


"Apa?! Sotoy!" elak Gale sengak. Padahal wajahnya telah merah, hatinya sudah menghangat ingat kejadian semalam.


"Coba sini gue liat!" Faisal hendak meraih leher Gale, tentu saja gadis ini menghindar tak mau ketauan jika memang semalam ia dan Fatur...ahhh tidak!! Mereka makhluk-makhluk berdosa, sudah pasti ia akan habis digoda dan diledek.


"Ih! Ogah ah! Mau ngapain loe ! Emangnya tanda di leher bisa jamin kalo orang udah begituan apa?! Ngaco!" tepisnya.


"Dih, bontot nakal!" telunjuk Lila bergoyang sepaket wajah jahilnya di depan wajah Gale menggoda si bontot diantara kelima anak ini.


Dengan wajah yang sudah merah padam Gale masuk ke dalam kelas, "dah ah, ngantuk gue! Dono, ntar pelajaran terakhir gue ijin sakit lah, ga enak body gue-nya!" Gale melengos masuk.


"Loe sakit Le?" tanya Irvan.

__ADS_1


"Ga enak badan!" jawab Gale.


"Jangan-jangan tekdung!" tawa Irvan menggoda.


"Ivan gue cekek loe!!!!"


Pluk!!


Sebuah penghapus whiteboard melayang ke arah Irvan dari dalam.


"Bontot ngamuk oyyy!" tawa Irvan dan yang lain.


......................


"Ekhem!"


Mereka mendongak dan menunjukkan wajah datar.


"Gue boleh gabung kan?" tanya Fathya.


"Ha?" Andini terkejut, Irvan sudah terbatuk-batuk, Faisal tersedak kuah mie dan Lila tertawa tertahan.


"Loe mau ngapain disini?" tanya Gale tenggorokannya sampai tercekat.


"Mulai sekarang gue mau jadi adik ipar yang baik buat loe, nemenin loe kemanapun loe pergi!" selorohnya tersenyum.


"Ha?! Wkwkwkwk!" keempat anak ini tertawa, lain halnya dengan Gale.


"Loe apa-apaan sih?! Mabok lem ya?! Gue bilangin abang!"


"Sini adek ipar, duduk di samping kaka ipar bontot!" tawa Faisal menggeser duduknya, mempersilahkan Fathya duduk.


"Gue minta maaf sama kalian, kalo selama ini gue suka nyebelin," ucapnya tulus.


"Sadar loe nyebelin?" tanya Gale sengak.


"Ha-ha-ha, kaka ipar nih sadis amat!" jawab Andini.


"Loe beneran nyesel nih? Atau cuma pura-pura doang?" tanya Lila penuh curiga.


"Gue tau kalian susah percaya, tapi bentar lagi kan mau lulus. Gue cuma ga mau keluar ninggalin musuh. Pengen masa muda gue lebih berkesan, punya banyak temen!" jawabnya. Giliran Andini, dan Lila melirik Gale, bermaksud meminta persetujuan.


"Ya udah, gue cuma mau bilang itu aja," Fathya kembali bangkit dan bergabung bersama Tami di meja sebrang sana. Tetap dengan mengawasi Gale.


"Aneh ga sih?" tanya Andini berbisik pada yang lain.


"Apa mungkin om dokter udah marahin si Fathya?" tanya Ical.


"Atau dia punya rencana jelek, mungkin ngga sih?" wajah Lila mendelik menyelidik melihat Fathya, dimana gadis itu sedang tersenyum dan mengobrol bersama Tami sambil menyantap jajanannya.


"Terserah lah, ga peduli gue!" jawab Gale tak ambil pusing.


Ting!


Pulangnya abang jemput ke sekolah ya, udah abang panggilin tukang pijit ke rumah.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Gale.


"Ck, abang apaan sih. Lebay banget. Malu lah nanti kalo si mak nya liat badan gue totol-totol auto koprol pengen nikah lagi dia!" gumamnya.


Baru saja Gale mau memasukkan lagi ponselnya, benda itu kembali berdenting.


Ting!


Sengaja abang panggil, biar malem kamu segeran.


"Apa-apaan nih maksudnya?!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2