Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Mencoba berdamai


__ADS_3

"Sini momy bantu dulu ke kasur," bantu Shania, bahkan ia sampai lupa, mau teriak-teriak sambil joget-joget pun, baik Arka atau Fatur tak akan bisa mendengarnya karena di luar ramai.


Shania memapah putrinya menuju ranjang, jarak yang hanya beberapa meter saja terasa seperti dari Arab ke Indonesia sambil ngesot, a.k.a jauh bingitss!


"Tapi mulesnya belum terlalu mii, masih bisa ditahan cuman..." Gale menggantung kalimatnya.


"Cuman apa nak?" tanya Shania khawatir manakala melihat butiran peluh mulai terlihat shine oleh cahaya dari pelipis Gale.


"Cuma Gale ga ngerti ini tuh maunya apa?! Mules apa bukan sih, pinggang kerasa pegel tapi entah...kaya mau haid gitu mii, sakit perut tapi di dudukin di toilet ga mau keluar," jelasnya tak mengerti.


"Tuh mii, ada lagi deh mulesnya." Ia kembali mengernyitkan dahi menahan sakit dengan tangan yang membelit lengan ibunya.


"Aduh! Momy ga ngerti kamu ngomong apa?!" jawab Shania.


"Otak gue kemana sih!!!" gumam Shania panik. Ia setengah berfikir, tak semudah membuat adonan creme brulee, ia sudah lupa rasanya melahirkan bagaimana.


"Ah! Momy inget. Kamu ada keluar len dir da rah engga?" tanya Shania.


Alis Gale berkerut, "ga tau belum liat, Gale ga sempet liat dale man." ujarnya polos, dengan sigap Shanua melongokkan kepalanya ke kamar mandi, memungut kain beserta dala man basah Gale yang masih teronggok dan belum sempat dibersihkan.


"Mulesnya dari kapan?" Shania kembali duduk di samping Gale yang sudah berbaring menyamping.


"Neng, Jang...utun kalo mau lahir..lahir aja nak, sing lungsur langsar, mulus rahayu bageur!" Shania mengelusi perut Gale.


"Mii, Gale takut!" mata itu sudah berkaca-kaca menatap Shania, dengan tangan yang mendadak mendingin memegang lengan Shania.


"Ga apa-apa, momy temenin disini! Makan dulu ya," Gale menggeleng, selera makannya tiba-tiba saja menghilang entah bersembunyi dimana.


"Biar ada tenaga. Momy ambil makan dulu sambil panggil Fatur ya," elusan calon granny ini pindah ke area pinggang Gale.


"Momy disini aja," tahan Gale memohon.


"Eh, jangan nangis atuh. Sebentar aja, ngasih tau dulu Fatur. Ga enak itu rame di depan," Shania mengusap ekor mata Gale, ia terpaksa meninggalkan Gale disana sendiri.


Momy Sha sedikit mengangkat pakaiannya, bergegas menghampiri menantunya dengan wajah yang sudah tak menentu.


Fatur tengah tertawa bersama rekan dokternya, termasuk disana ada Seli.


"Tur, momy boleh ngomong sebentar!" ajak Shania menarik Fatur ke tempat dimana Arka sedang duduk bersama para Kurawa.


"Ada apa mii?" Fatur nampak terheran-heran tapi mengikuti.


"Kenapa Sha?" tanya Arka, matanya menangkap sinyal kekhawatiran di raut wajah istrinya. Seketika obrolan absurd yang sedang terjadi diantara mereka terhenti.


"Kenapa Sha?" tambah Deni.


"Mas, Fatur kayanya Gale udah mau lahiran,"


"Hah?!!" sontak mereka terkejut, bisa-bisanya si kembar ngebet launching saat orang-orang sekitar sedang merayakan suka cita tujuh bulanan.


"Ga betah amat anak-anak si gemoy di dalem?!" seru Guntur.


"Terus ini gimana acaranya?" sahut Lila ikut menghentikkan tangannya dari kegiatan menyendok rujak.


"Fatur liat Gale dulu mii," ijin Fatur buru-buru.


"Ya udah, momy juga mau ngambil nasi. Itu anak belum makan, ga akan ada tenaga buat ngeden!" Shania dan Fatur malah pergi meninggalkan mereka sepaket wajah kebingungannya karena ditinggalkan tanpa penjelasan dan planing berikutnya.


"Aduhh, terus ini gimana?!" tanya Niken.

__ADS_1


"Ya udah sekalian selametan gemoy lahiran aja, gitu aja repot!" jawab Ari melanjutkan memakan nasinya dengan santai. Mereka memang makhluk teraneh di muka bumi, disaat orang lain seharusnya panik, mereka malah santai. Disaat orang lain kalem dan anteng, mereka heboh sendiri.


"Om pong santai banget!" tawa Lila.


"Kok gue jadi ikutan mules ya?!" decak Roy, dihadiahi tepakan di perutnya oleh Guntur.


"Anj*#^#, sakit nyet!" aduh Roy.


"Pak?" tanya Deni pada Arka yang terlihat sedang berfikir.


"Ini kira-kira selesai berapa lama lagi?" tanya Arka.


Melan melihat jam di tangannya, "kayanya tinggal bagiin hampers doang pak,"


"Ya udah bagiin saja sekarang, durasi tamu hadir ga mungkin lama mereka punya kepentingan lain di luar. Ga usah panik, biar nanti Gale langsung dibawa ke rumah sakit," jawabnya.


"Atur-atur Den, Tur. Saya mau liat dulu Gale!"


"Siap pak!" jawab mereka langsung bubar jalan. Arka menghampiri Andro, "Ndro, sudah pada nukerin doorprize belum?"


"Udah yah, semuanya!" diangguki Fathya.


"Ya sudah." Angguk Arka.


...----------------...


Fatur membuka pintu kamar, dengan segera ia menyentuh Gale.


"Le, mana yang sakit?" tanya nya khawatir, mengusap butiran keringat di kening Gale.


"Abang, perut Gale mules bang. Tapi ilang timbul! Abang Gale takut, kenapa kecepetan?!" rengeknya merengut, ia bangun dan duduk.


"Kalo kembar kan emang suka awal Le,"


"Nanti aja, ini masih rame." Jawabnya lalu berdiri, terlihat Gale yang malah mondar-mandir tak bisa diam seraya memegang pinggang, rambut panjangnya masih basah terurai.


"Biar tau udah sampe mana perkembangannya,"


"Engga ah! Kalo di rumah sakit Gale malah stress liat suntikan sama alat-alat logam, bau etanol!" sungutnya mulai kesal.


"Sshhhh, pegel!" desisnya. Mau tak mau Fatur harus melibatkan Seli.


Ceklek!


Shania masuk membawa senampan makanan.


"Makan dulu, belum makan siang kan?" Fatur berdiri dari duduknya. Gale menggeleng, "taro aja dulu mii, belum mau! Perut Gale kaya apa ya..." ia menggaruk kepalanya tak gatal karena kebingungan menjabarkan rasa sakitnya.


"Ga ada nav suu lah pokonya, ga enak!" jawabnya secara otomatis menarik dan membuang nafas sebagai tindakan mengurangi rasa sakit, gugup juga takutnya.


Berulang kali ia menarik nafas panjang dan membuangnya.


"Nanti ga ada tenaga buat ngedennya, ngerasain mules juga bikin capek Le," paksa Shania. Fatur memang dokter tapi ia tak pintar dalam membujuk orang.


"Le, dengerin abang. Makan dulu, abis itu ke rumah sakit, abang siapin mobil ya?" pintanya, raut wajah memohon.


"Nanti aja," jawabnya mematahkan harapan Fatur dan Shania.


Fatur keluar untuk menemui Seli, menurunkan ego dan rasa malunya.

__ADS_1


"Sel, bisa ikut sebentar?!" pintanya, sontak saja Seli yang sedang mengobrol dengan Teri dan kawan lain mendongak tak percaya, pria dengan watak dingin ini mau berbicara lagi padanya.


"Oh, bisa-bisa. Ada apa Tur?" perempuan itu langsung berdiri dari duduknya.


"Kayanya Gale sudah dalam tahap pembukaan, bisa minta tolong buat diperiksa? Ga mau di bawa ke rumah sakit, biar nanti saya transfer biaya periksanya," pinta Fatur.


"Oh, oke--oke. Ck, kaya sama siapa aja Tur!" ia menyampirkan tasnya.


"Galexia nya dimana?! Emangnya dia mau aku periksa?" tanya Seli bangkit dari duduk, mengingat riwayat pertemuan mereka yang tak pernah baik.


"Di kamar, saya coba bicara nanti."


"Oke, punya stok sarung tangan steril." Pintanya mengikuti Fatur ke kamar, Fatur mengangguk, "sebentar saya ambilkan."


"Ayo lagi!" bujuk Shania menyuapi Galexia, setelah kehadiran Arka yang ikut masuk, akhirnya Gale mau makan.


"Bentar dulu," jawabnya sambil mendesis dan menarik nafas. Ketiganya menoleh saat pintu dibuka, dan menampakkan Fatur dengan Seli di belakangnya.


Mata Gale mengkilat, alisnya menukik tajam.


"Mii, ini dokter Seli Pragistya, dokter kandungan." Ucap Fatur.


"Oh, kebetulan banget dok! Untung aja ada dokter disini, sok atuh dok, lah! Dari tadi cuma bisa nebak-nebak aja, tanpa tau gimana kondisi sebenernya," seru Shania tersenyum lega. Padahal disana putrinya sudah mengomel menggerutu kesal, momynya tak tau saja jika wanita yang dianggap malaikat penyelamat ini adalah mantan Fatur yang dulu pernah jadi rival dan berniat jadi pelakor.


"Sha, kita keluar dulu kalo gitu!" pinta Arka pada Shania.


"Iya mas, momy tinggal dulu ya! Ini diabisin!" Shania menaruh piringnya di meja dan keluar bersama Arka.


"Ishhh! Abang ngapain sih bawa-bawa tante Seli?!" ucap Gale to the point ketidaksukaannya langsung di depan Seli, perempuan itu hanya tersenyum getir, memaklumi sikap Gale.


"Dengerin abang dulu, kamu sendiri yang minta ga mau ke rumah sakit kan? Makanya abang panggil dokter Seli kesini, biar tau perkembangannya, si kembar emang udah mau keluar apa cuma kontraksi palsu?" kini Fatur berujar sedikit tegas pada Gale, membuat bumil ini merengut.


"Galexia, maaf kalau sikap saya sebelumnya membuat kamu sakit hati dan marah. Saya minta dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya, tapi sekarang saya minta kerja samanya, biar persalinan kamu lancar.." ucapnya dengan segala kerendahan hati, sebagai seorang dokter dengan semua janji, sumpah yang diembannya.


"Gimana? Pilihannya cuma 2, mau diperiksa Seli sekarang, atau abang bubarkan acara di depan dan paksa bawa kamu ke rumah sakit?!" tanya Fatur tegas.


"Ish! Dokter galak! Jangan galak, nanti ga laku!" sewotnya pada Fatur tapi langkahnya mendekat.


"Ga liat apa Gale udah sakit gini, masih digalakin!" Gale masih sempat-sempatnya memukul dada Fatur dengan kepalan tangannya, hingga Fatur menghadiahinya dengan jiwiran di hidung Gale, "pasien kaya kamu emang kudu di galakin."


Seli tersenyum dan memasang sarung tangan, untung saja di mobilnya ia sempat membawa gel khusus untuk pemeriksaan dalam saat memeriksa pasien pribadinya kemarin.


"Oke, boleh tidur! Terus dibuka cel ana dal amnya," pinta Seli.


"Hah?! Mau diapain?!" belum sempat pertanyaannya dijawab Seli, Fatur sudah mendahului Gale dengan mendekati Gale dan mengangkat ujung dress Gale.


"Eh! Abang mau ngapain?!"


.


.


.


Noted :


Neng : sebutan gadis (sunda)


Jang : sebutan anak laki-laki (sunda)

__ADS_1


Sing lungsur-langsar, mulus rahayu : semoga lancar jaya, berkah selamet.


Bageur : anak baik.


__ADS_2