
Gale tak buru-buru membuka mukenanya, ada ritual yang harus dijalani keduanya seusai isya. Bukan ritual jum'at kliwon ataupun malam satu suro.
Fatur membuka al-qur'an miliknya. Sungguh indah, jilidnya berwarna merah maroon dan emas dengan bahan bludru, pemberian ayah Arka.
Flashback on.
Saat mengetahui ada gerakan yang terjadi di dalam perut Gale, saat itu pula, Fatur tau jika kedua calon buah hatinya telah ditiupkan ruh oleh sang pencipta. Bisa mendengar, bisa merasakan.
"Sini! Mukenanya jangan dibuka dulu!" pinta pria bersarung dan bersongkok, sungguh tampan dengan kemkonya (kemeja koko), memang beginilah penampilan Fatur jika tiap menunaikan salat magrib dan isya. Pemandangan yang selalu bikin Gale ngiler bawaannya pengen terus nempel.
Fatur mengambil posisi menghadap Gale, lalu meraih al-qur'an miliknya. Lantunan ayat-ayat suci ia bacakan tepat di depan Gale dan kedua anak dalam kandungannya, sisi romantis lainnya dari seorang Faturrahman Al-Lail.
"Ini hadiah dari ayah, atas gelar dokter yang abang raih. Hadiah paling indah yang pernah abang dapat, ngerasa punya sosok ayah." Fatur mengusap lembut sampul depannya. Mata Gale berkedut, mulai menggenangkan air matanya, alisnya seringkali berkerut singkat mendengar suara Fatur. Sekujur kulitnya dilanda merinding. Sudah bukan rahasia umum lagi, Gale dan Andro harus berbagi cinta sang ayah, pasalnya anak ayah Arka bukan hanya ia dan Andro saja, tapi masih ada beberapa ratus orang lagi seperti Fatur yang menganggap Arka adalah ayah mereka.
Dan setiap Fatur membacanya, kedua janin itu diam seperti sedang menghayati. Meskipun hanya beberapa ayat saja, tapi Fatur tak pernah melewatkannya hampir di setiap malam.
"Abang, besok Gale mau ke Route 78," ijinnya. Fatur mendongak setelah mengecup permukaan perut Gale yang tertutupi mukena.
"Ada apa? Route 78?" ia mengerutkan dahinya.
"Oh iya, abang belum tau ya cafe ayah kan namanya Route 78," jawab Gale.
Ia cukup terkejut, Seli...ah sudahlah! Itu hanya masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam, intinya..jadi selama berpacaran dengan Seli, mereka sering makan di cafe milik Arka?
Ekspresinya tetap datar, "oh." Fatur memandang Gale menunggu lanjutan ceritanya.
"Bang Ori mau pamit. Katanya, dia tugas jadi dokter di puskesmas salah satu desa gitu daerah Cianjur," lanjut Gale.
"Oh, Ori itu dokter bedah umum kan?" tanya Fatur.
"Iya kayanya, Gale ga tau." Tawa kecil Gale, tapi kemudian ia meredupkan senyumnya.
"Kenapa? Kehilangan sosok Ori ya?" tanya Fatur hati-hati mendongakkan wajah Gale.
"Kenapa jadi gini ya bang, masa deket dari orok, tapi jadinya mesti ancur gini...Kia, bang Ori, Gale.." Gale kembali menunduk, mengingat betapa mereka sangat dekat sebelumnya.
"Kamu nyesel, pilih abang?" tanya Fatur lagi, jantungnya berdegup kencang, kenapa ia jadi khawatir jika Gale menyesal menikah dengannya.
Sontak Gale memukulnya, "ish! Ko ngomongnya gitu?!" sewotnya.
"Ya engga, abisnya kamu ngomong kaya gitu, kalian bubar kan pas udah abang datang," jika menarik waktu ke belakang, hubungan mereka merenggang saat Fatur hadir.
"Baru aja Gale ditinggal Irvan, Pandawa pada lagi sibuk ospek masing-masing. Sekarang bang Ori sama Kia, jadi kaya orang asing. Kata onty Niken, Kia sekarang punya pacar," Gale memainkan kuku-kuku jarinya seraya bercerita.
"Karena hidup harus terus berjalan, ga bisa stuck disitu-situ aja. Harus melangkah maju, mungkin Ori memang udah ada niatan mau mengabdi buat masyarakat, abang juga dulu pernah. Buat Kia, dia sadar cinta ga bisa dipaksakan, dia juga ga bisa terus mengharapkan Ori yang ga bisa cinta sama dia. Ga usah negative thinking dulu. Bukannya Galexia yang abang kenal itu selalu berfikir maju dan positif?"
"Tapi buktinya abang nunggu Gale,"
"Eh, engga deh! Abang kan pacaran sama dokter Seli, abang ngga nunggu Gale," ralat Gale.
__ADS_1
Fatur mengeluarkan kekehannya dan mengusap pucuk kepala Gale, "mau nunggu apa engga, Allah sudah menggariskan takdir hidup hambanya sejak dari kandungan, termasuk kamu, abang bisa pacaran sama siapa aja, tapi tetep Gale jodohnya abang,"
Cup!
Bibir kenyal itu menyatu.
Bisa ae biji kedongdong jawabnya. Gale menatap lekat wajah Fatur selalu mencuri kesempatan untuk menciumnya.
"Mau ditemenin ngga ketemu Oriza?" tanya Fatur, Gale mengangguk cepat.
"Iya dong, Gale kaya si wakwaw nyari bapaknya kalo abang ga ada," keduanya tertawa.
"Abang janji ya, kalo Gale lahiran abang harus ada," pintanya. Fatur yang sudah menanggalkan songkoknya menoleh.
"Abang ga bisa janji, tapi insyaallah abang usahakan."
"Ga mau ah! Pokonya abang harus ada, Gale ga mau lahiran sendirian! Abang kan kalo kerja juga di rumah sakit, cuma tinggal lompat ruangan doang, ketemu Gale!" bibirnya merengut, selama ini Gale tak pernah meminta macam-macam.
"Kalo abang lagi urgent gimana?"
"Ya makanya dari sekarang harus jadwalin, kalo pas bulannya Gale lahiran abang ga boleh sibuk banget! Emangnya ga ada dokter jantung lain apa? Di skip dulu deh yang pada sakit jantung di bulan lahiran Gale," ia masih cemberut memohon pada Fatur seraya melipat mukena, Fatur terkikik mendengar celotehan Gale.
"Emangnya sakit bisa direncanain, kaya beli beras,?!" ada-ada saja istrinya ini yang ada telat penanganan nyawa orang lewat.
"Abang usahain ya, selalu stay di rumah sakit dalam keadaan yang normal. Yang penting Gale kuat, sehat, lancar, anak-anak lahir tanpa kurang suatu apapun," jawabnya lagi.
Fatur segera masuk ke dalam mobilnya, ia mungkin sedikit terlambat menjemput Gale.
Benar saja, wajahnya sudah keruh untung saja tak berbau.
"Abang lama ih!" mungkin ia sudah menghabiskan 3 gelas es jeruk, kembung--kembung tuh perut wong sudah terlanjur menggelembung. Fatur sudah meminta Fathya untuk pulang duluan, karena ia dan Gale akan langsung ke Route 78.
Pandangan Randi jatuh pada bumil yang sempat mencuri perhatiannya, dimana 3 gelas es jeruk kosong sudah berjejer di depannya, ko kosong min? Lah emang esnya kemana? Habis digares juga!
Ia berjalan mendekat, logikanya mengatakan untuk tak menghampiri Gale, tapi hatinya berkata lain. Tak bisa ia dekati bukan berarti tak bisa ia jadikan teman kan?
"Sendirian? Belum dijemput?" tanya nya mengejutkan Gale.
"Eh, iya kak!" Gale melihat ke arah depannya, dimana sosok jangkung duduk tepat di hadapannya.
"Oh,"
"Kak Randi masih di kampus?" basa-basinya, padahal tak perlu bertanya sudah pasti Randi dan anak-anak panitia masih disini untuk melakukan evaluasi.
Berulang kali Gale melirik jam berwarna softblue di pergelangan tangannya. Benar-benar tak bisa dielak, wanita ini sedang kesal saja tampak menggemaskan.
Anak-anak panitia lainnya ikut masuk ke kantin melihat sang ketua ada disini, hanya saja mereka tak menyangka jika Randi bersama Gale, bukan apa-apa, jarang sekali Randi mau duduk bersama perempuan hanya berduaan apalagi hanya sekedar basa-basi ga jelas.
Tapi baru saja mereka menghampiri langkah mereka sempat tertahan dengan kejadian selanjutnya, untung saja mulut Robi memiliki rem yang pakem. Padahal pemuda ini sudah hampir meluncurkan kalimat berbau kompor gas.
__ADS_1
"Abang!" Gale berdiri mengacungkan tangannya pada seorang laki-laki masih memakai snellinya dengan name tag yang membuat para senior Gale tercengang, Gale beranjak dari sana.
Dr. Faturrahman Al-Lail, Sp.JP
"Kak Randi, saya duluan ya?!" pamitnya, diangguki Randi.
"Maaf abang lama, barusan ada pasien baru, masuk ruang ICU," ia memegang tangan Gale lalu mengajaknya keluar dari sana, tanpa peduli ekspresi orang lain, karena yang ia pedulikan kini hanya wajah masam Gale.
"Tau gitu cabe nemenin Gale dulu disini, dikira enak apa nunggu tanpa kepastian, sakitnya tuh di dompet! Sampe abis 3 gelas tuh es jeruk," manjanya memukul lengan Fatur.
"Iya--iya maaf," Fatur tertawa tanpa suara seraya menggandeng tangan Gale.
"Kaya cewek abis dipacarin terus ditinggalin gitu aja!" ucapnya masih kesal.
"Ish! Ngomongnya kemana aja, masa iya abang ninggalin Gale," Fatur menarik kepala Gale ke dalam rangkulannya.
"Jangan peluk-peluk ah! Gale marah, harus disogok coklat sama sundae!" ketusnya.
"Bilang aja Gale pengen coklat pake bilang ngambek segala,"
"Itu!"
"Dia suaminya atau pacarnya Galexia?" tunjuk salah satu panitia anak kedokteran.
"Iyee, dia lakinya Galexia. Tapi gue juga baru tau kalo doi dokter," acuh Robi malah melengos ikut duduk bersama Randi.
"Seriusan itu dokter Fatur yang itu..." serunya mengekori Robi.
"Emangnya siapa dia? Ko kayanya lu girang banget," tanya Vena.
"Loe semua kemana aja, kalo yang masuk kedokteran pasti jadiin dia panutan tau ngga?! Dia kan dokter yang masuk jajaran 10 dokter muda dengan segudang penghargaan, dokter spesialis jantung!" ucapnya membuat yang lain mau tak mau menoleh demi mendengar itu.
Brakkk!
Aisyah menggebrak meja membuat semua terkejut, "tau gitu tadi minta tanda tangan sama kiat-kiat nya lah!!!" bibirnya merengut.
"Ko gue ketinggalan info sih?!"
"Malu gue, awal liat Galexia..mandang sebelah mata karena dia tekdung. Ternyata...." ucap Putri penuh sesal seraya tersenyum getir, dibalik keistimewaan Gale ada orang-orang hebat di belakangnya.
.
.
.
Noted :
Stuck : mentok.
__ADS_1