
Fathya duduk di kursi dalam ruang UGD awalnya, tapi ia langsung keluar. Hatinya terasa ikut ngilu mendengar jeritan kesakitan Gale dan abangnya yang komat-kamit melafalkan mantra cinta. Tak peduli orang-orang melihatnya seperti apa sekarang.
Ada yang bergetar di dalam tas selempangnya, sudah dipastikan itu orang rumah. Jantungnya lebih berdegup kencang lagi sekarang, dilihatnya nama mama disana.
"Mama," gerakan kaki Fathya cepat menghentak-hentak keramik karena panik, sampai ia sendiri harus mondar-mandir saking panik dan bingungnya.
"Bismillah!" Fathya mengangkat panggilan mama.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, nah akhirnya kan diangkat?!" bukan...ini bukan suara mama-nya melainkan suara tante Shania.
Matanya belum apa-apa sudah kabur.
"Hallo Fathya, Gale ada sama kamu kan? Bilangin sama tuh anak, kalo telfon orangtua tuh dijawab! Kebiasaan deh, suka dibiarin, lagi kemana sih dia? Jajan pasti! Bilang cepet pulang, ini udah pada nungguin disini," cerocosnya, Fathya meloloskan air matanya.
"Tante bilang sama si Lele, kalo jajan bagi-bagi, bawa pulang! Ga tau apa nih manusia-manusia nunggu dia lama?!" terdengar suara lain disana, mungkin itu Andini atau Lila.
"Tante," cicit Fathya, kemudian ia menarik nafasnya, tak mungkin ia berbohong. Jika hanya satu dua jam ia masih bisa membohongi Shania, tapi jika Gale pergi berhari-hari, maka ia mencari masalah.
"Gale ditusuk orang.. bukan--bukan..lebih tepatnya kena sabetan piso waktu dijambret, sekarang lagi di rumah sakit." Fathya memilah-milah padanan yang tepat tapi malah berujung kebingungan.
Hening....
Hingga kemudian ia mendengar suara orang sesenggukan.
"Rumah sakit mana?" tanya nya bergetar.
"Tempat abang praktek, Jakarta Central Hospital."
Tutt..tut....
Ponsel dimatikan sepihak disana.
Gleuk..
Fathya menelan salivanya sangat berat.
Di rumah
Semua terasa hening untuk Shania, ia menatap teman-temannya asik mencicipi makanan yang sudah dibuat seraya melontarkan candaan dan obrolan, begitupun teman-teman Gale.
"Ada apa bu?" tanya mama.
"Gale," ia mengusap air matanya. Begitu banyak hal yang memutari otaknya sekarang, bagaimana nasib putrinya, bagaimana nasib kedua calon cucunya, dan Arka sedang menuju kesini, bagaimana kondisi jantungnya nanti jika tau.
Ia mulai merangkai kata-kata. Tapi pertama-tama, yang harus ia lakukan adalah melihat keadaan Galexia.
"Gale kenapa?" tanya besannya itu.
"Sha?" kini mereka yang ada di dapur menoleh pada Shania, dimana ibu 2 orang anak itu sudah menangis, tak kuasa menahan air mata.
"Jangan kasih tau mas Arka,"
"Kenapa?" tanya Deni.
"Gale ditusuk jambret, eh bukan kena sabetan piso jambret.." ia jadi ikut tergagap.
"Apa?!"
"Dimana Gale sekarang Sha?" Guntur baru saja sampai dan bergabung.
"Tempat Fatur praktek, lagi ditangani!"
"Kita kesana sekarang, jangan terlalu banyak orang! Biar gue sama gledek aja anter Shania. Yang lain tunggu di rumah,"
"Bu, saya ikut!" pinta mama.
"Ma, mama di rumah aja ya. Nanti dikabarin, Fathya sama Fatur disana," Shania bukan tidak tau penyakit darah tinggi yang di derita mama Fatur. Disini ia hanya ingin mengetahui kondisi Gale tanpa ada pasien tambahan.
"Kalo mas Kala sampai, bilang gue lagi beli bahan dapur yang kurang. Biar nanti gue yang jelasin sama mas Kala," pinta Shania, saat seperti ini bukan saatnya untuk heboh dan panik. Dibutuhkan otak yang dingin, hati yang tenang dan keputusan bijaksana.
__ADS_1
Shania menyambar clutch-nya bersama Deni dan Guntur.
"Yank, aku pergi dulu," kecup Deni di kening Leli.
"Iya, kabarin secepetnya!"
"Sha, tenang...gue yakin gemoynya kita kuat, ada Fatur disana!" kini jiwa momy kuat itu mulai goyah dan bergetar.
"Kalo Gale..." bayangannya mengingat berita kriminal di tv-tv yang sangat mengerikan.
"Jangan ngomong gitu Sha, ucapan ibu adalah do'a," jawab Guntur.
Deni segera membawa mobil menuju rumah sakit.
...----------------...
Masih tersisa isakan dari Gale, tubuhnya sudah lelah dan tak kuat lagi untuk terjaga.
"Abang Gale capek," suaranya parau.
"Minum dulu ya, Gale boleh bobo!" pintanya menyerahkan air minum, diminumnya dari sedotan.
"Terimakasih dok," ucap Fatur. Dokter Rey tersenyum seraya melepas sarung tangan lalu menepuk pundak Fatur, "saya salut sama rasa sayang kamu pada istri, angkat topi.. meskipun umur kamu jauh dibawah saya."
"Kalo gitu saya duluan," ijinnya pamit. Gale langsung dipindahkan ke ruang rawat inap.
"Tur, biar Gale jadi pasien VIP gue." Teri menawari.
"Makasih bro,"
"Sus, jam praktek saya sudah habis? Apa masih ada pasien?" tanya Fatur pada suster Dian di sambungan telfon.
"Sudah habis dok."
"Oke, terimakasih."
Srekkk!
"Silahkan,"
"Abang," Fathya masih dengan keadaan terakhir berdiri di belakang para perawat.
"Dek, Fath..abang sampai lupa kamu disini." Fatur mengecek seluruh inci badan Fathya.
"Alhamdulillah kamu baik-baik saja." Fathya menangis memeluk Fatur.
"Kenapa?"
"Bapak yang jambret Gale, bang!" Fatur membeku dibuatnya.
"Bapak yang bikin Gale jadi gitu,"
Sekali lagi hatinya hancur, masih dengan orang yang sama. Percayalah sekarang di lubuk hatinya ia sudah mengeluarkan sumpah serapah, umpatan paling keji karena tindakan penjahat itu.
"Biar nanti abang yang urus," ucapnya tenang, begitu datar dan dingin.
Fathya mendongak, "abang mau apa?"
"Penjahat kaya gitu patutnya masuk neraka," datarnya begitu menyeramkan bagi Fathya.
"Cuci cardigan kamu di toilet, jangan sampai nanti mama liat da rah banyak gitu, baju kamu juga ada noda da rahnya, jangan bikin mama dan orang-orang di rumah panik. Kamu bisa pulang sendiri?" tanya Fatur.
"Bisa bang, tapi Fathya pengen liat Gale. Apa calon ponakan Fathya baik-baik aja?" netranya mengikuti pergerakan ranjang Gale di dorong ke bagian lebih dalam rumah sakit. Kaka iparnya dalam kondisi memejamkan mata.
"Gale tidur, alhamdulillah mereka baik-baik aja, kamu ga usah khawatir."
"Jambretnya udah ditangkap?" tanya Fatur.
"Udah bang, orang-orang langsung nolong, terus mereka diuber dan dibekuk! Termasuk..." jawab Fathya tak meneruskan.
"Abang tau, lapor polisi?" tanya nya lagi.
__ADS_1
"Iya, ada yang lapor. Tapi polisi belum sempet dateng waktu Fathya bawa Gale."
"Ada kemungkinan nanti polisi langsung kesini kalo engga dateng ke rumah, jangan panik. Arahkan aja ke sini,"
"Kamu pulang dulu sekarang, di jalan kamu beli kaos, ganti dulu. Langsung pulang! nanti minta mang Kosim atau siapapun anterin baju ganti abang sama Gale, kalo bisa baju Gale yang kancing di depan," pintanya pada sang adik.
"Iya bang, Fathya pulang. Salam buat Gale.." Fatur mengangguk.
"Hati-hati, abang masuk dulu." Fathya meraih kresek berisi cardigan kotornya lalu pergi ke toilet.
"Breng sek!" gumam Fatur masuk mengikuti kemana Gale pergi. Ada yang lebih penting sekarang, mengurusi Gale hingga sembuh.
Ceklek,
"Dok, baju ibu mau diganti sekarang atau nanti? Mau dibersiin dulu badannya," tanya salah satu perawat.
"Biar saya saja nanti," jawab Fatur membiarkan Gale istirahat sejenak.
"Saya taruh disini air hangat dan baju pasiennya ya dok," ucapnya.
"Dok, saya ikut sedih atas apa yang menimpa ibu." ucap suster Deva.
"Terimakasih," jawab Fatur, mereka keluar setelah selesai. Fatur menarik kursi di samping ranjang, membuka snelli yang sejak tadi belum ia lepas, hatinya berdenyut saat melihat noda merah milik istrinya.
Dilihatnya wajah lelah Gale, wajah pucat yang kembali menghangat, meski menyiratkan rasa sakit teramat.
"Abang minta maaf sama Gale, sama anak-anak. Abang terima kalo Gale marah sama abang. Kenapa harus dia orangnya.." Fatur mengecupi tangan Gale. Ia meraih baskom berisi air hangat, mulai menyapukan lap handuk kecil di tangan Gale, ia juga membuka setiap kancing yang tersisa membuka helaian kemeja kotor, menampakkan bagian depan tubuh Gale, tak ada gai rah seperti semalam. Menyapukan lap basah itu untuk membersihkan noda dan kotoran yang menempel.
Tok..tok..tok...
Fatur menoleh ke arah sumber suara dan menutupi dahulu badan Gale dengan selimut.
Tangannya terulur membuka pintu. Dilihatnya wajah ibu mertua yang sudah memerah karena menangis bersama kedua onta Gale.
"Gale?"
Fatur menggeser posisinya memepersilahkan ibu mertua dan kedua omnya Gale untuk masuk, "Gale tidur mom,"
Shania, Deni dan Guntur masuk ke dalam.
"Ya Allah!!" Shania membuka dan mengintip ke dalam selimut.
"Sha,"
"Udah dapet pelakunya?" tanya Deni berdiri menyaksikan Gale terpejam dan Shania yang menangis sambil mengelusi lengan serta perut anaknya.
"Udah om, lagi ditindak polisi!"
"Kurang aj ar! Mau gue abisin," desis Guntur mengambil duduk di kursi.
"Ini si kembar gimana Tur?" tanya Shania masih mengelusi sayang bakal calon cucunya.
"Alhamdulillah baik mom, lukanya di area perut. Cukup dalam tapi tidak sampai mengenai organ penting. Sudah dijahit meski ga pake anestesi.." jawabnya.
"Apa?! Ga pake anestesi?!" tanya Deni dan Guntur.
"Yang bener aja Tur?" Deni mengucap tak percaya.
"Gale takut sakit kan, kenapa ga dibius?!" ringis Guntur.
"Terlalu beresiko om, kandungan Gale masih usia rentan. Saya ga mau ambil resiko,"
"Aduh berisik,"
Mereka langsung menoleh.
"Suara om gledek tuh kaya guntur tau ngga?!!"
.
.
__ADS_1
.