
Fatur langsung menahan Gale, "eits mau kemana?"
"Mau dibaju lah! Awas, abang minggir, Gale injek nih kakinya?!" ancam Gale berapi-api.
"Sayang lah kalo dibaju sekarang, mendingan gini aja biar abang ga usah repot-repot bukanya,"
"Ck, masih sore bang. Ga malu sama matahari?!" tunjuk Gale ke arah luar jendela.
Srekkk!
"Kelar! Matahari ga akan ngintip!" Fatur menutup tirai, Gale sontak menganga dibuatnya.
Fatur menarik pinggang Gale, ingin mengulang kembali petualangan cinta seperti semalam, sore ini. Kalo halal ga usah nunggu hari gelap biar bisa lancarin aksi syahdu berdua tanpa takut diarak, kalo halal ga usah sampai cari-cari tempat se-invisible boat mobile biar orang-orang ga sadar kalo mereka lagi tenggelam berdua, kalo halal ga perlu nyari-nyari tempat es ek-es ek yang ramah di kantong dan jauh dari keramaian biar orang-orang ga nyadar mereka lagi lakuin dosa. Cukup di kamar, sore-sore selagi gejolak cinta masih anget-angetnya kaya kue cucur, karena orang-orang ga akan ada yang berani gebukin.
Dikecupnya beberapa kali keseluruhan inci wajah Gale, membuat semburat merah menghiasi wajah cantiknya. Gale menggelinjang kegelian, disaat bersamaan dengan turunnya bibir Fatur.
"Abang geli," kikiknya, tiba-tiba ia merasa ikatan bathrobe tak sekencang sebelumnya, rupanya si tangan nakal itu sudah duluan menarik hingga ikatannya terlepas.
Meskipun remang-remang Fatur masih dapat menyaksikan pahatan terindah di muka bumi tanpa ada apapun yang menghalangi. Li bid o-nya melonjak naik, baru melihatnya saja si junior sudah terasa sesak di celana dal_am.
"Gale takut sakit kaya semalem," ujar si cantik nakal ini wajahnya penuh kekhawatiran.
"Engga, yang ini abang jamin ga akan sesakit semalem," janjinya, menatap Gale lekat dan hangat, menuntunnya menuju tempat dimana kata 'ngadon akan jadi kalimat kerja keduanya.
Pluk!
Bathrobe teronggok di bawah kaki Gale, menyisakkan tubuh gitar spanyol tanpa apapun.
Bahu susu, terlampau sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa ia cu_mbu.
"Kamu jadi tambah se xy kalo lagi pasrah gini," Gale menggigit bibir bawahnya, tatkala Fatur mendominasi membaringkannya di ranjang.
Dan lagi, kalimat ancamannya tak ingin melakukan lagi tak berlaku 1×24 jam. Fatur selalu bisa mengelabui dan menjinakkan Gale, padahal tak ada kata magic yang ia mantrakan.
Badannya menggeliat dan melengkung sempurna ketika si kembar kembali tersentuh dan dimainkan, semakin membesar dan menantang. Selalu tak tau daratan, rakus itulah Fatur saat ini. Bahkan ia tak peduli dengan istrinya yang sudah merengek manja meminta berhenti.
"Abang..ih ud..ah! Sakhhitt.."
Fatur menarik dirinya sejenak, terdengar suara resleting dibuka, menunjukkan sesuatu yang sudah menantang sejak tadi, bukan pedang arthur ataupun pedang zorro.
"Pelan-pelan dulu bang,"
Fatur memangkas jarak antara keduanya.
"Iya,"
kini Gale sudah tak merasakan ketakutan seperti kemarin, tangannya mengusap garis wajah Fatur hingga turun ke leher, dada bidang dan berhenti di perut yang katanya bikin iman goyah.
"Ga mau diterusin?" tanya Fatur.
__ADS_1
"Engga ah," gelengnya.
Fatur membisikkan lantunan do'a, agar s3tan tak ikut andil dalam pembu_ahan calon penerusnya.
"Ahhh abang..." masih saja cukup terkesiap saat si junior mulai melesak masuk, masih sempit tentunya.
"Awsshhh...mass..sih sakhiit banghh!" ucap Gale di tengah-tengah guncangan badannya oleh pompaan Fatur.
"Abang!!" jeritnya dengan wajah memerah, sontak menepuk dada Fatur, pria itu dengan sengaja membenamkan miliknya semakin dalam hingga dirasa mencapai pangkal. Justru hal itu membuat Fatur terkekeh gemas, wajah Gale terlihat semakin cantik dibawah sana.
Tak kuasa hanya diam saja, bibirnya bergerak menciumi bibir ranum Gale, menyelami isi rongga mulut tanpa harus dipaksa terbuka, karena Gale sudah paham harus bagaimana.
Semakin lama gerakan dan hentakan semakin cepat dan dalam, Gale sampai meremas seprai juga punggung Fatur untuk mencari tempat pelampi asan.
"Abang..."
"Ya sayang, tahan sebentar.."
Terlihat Gale yang memejamkan matanya, karena dibawah sana miliknya sudah meremas si junior.
"Ahh..bang udah...udah!!" manjanya.
"Tapi abang belum sayang," Gale hanya diam pasrah di tengah rasa lemasnya, hingga Fatur menghentak di bagian paling dalam saat pencapaian itu sampai di titiknya, saat si junior menyesakkan memenuhi lubang manis istrinya, ia berdenyut membiarkan para benih keluar deras memenuhi diri Gale.
Nafas Gale tersengal saat menerima semuanya, tak ada yang tersisa. Matanya tiba-tiba melelehkan cairan.
"Ya buncit lah, kan isinya ada dedeknya!" jawaban diplomatis dan humoris.
"Kan emang itu tujuannya kan?" tanya Fatur, keduanya masih berada di posisi yang sama, tanpa berpindah satu inci pun.
Fatur mengusap sudut mata Gale, "ngapain kamu nangis? Gale ga mau punya anak dari abang?"
Gale menggeleng, "mau, tapi Gale takut ga kuat.."
"Ga kuat apa?"
"Ga kuat lahirinnya, ga mau sakit bang, takut meninggal! Terus jadi sun del bolong,"
"Ishhh, ngomongnya ngaco! Sekarang banyak metode lahiran sayang, meskipun tidak akan menghilangkan rasa sakit tapi setidaknya kemajuan teknologi dan ilmu di bidang kedokteran dapat mengurangi resiko kematian, banyak obat-obatan, banyak dokter sama rumah sakit juga dimana-mana. Dikira jaman kerajaan majapahit apa?! Kamu lupa abang ini siapa? Abang dokter loh, kalo kamu lupa!"
Rasa ketakutan itu berubah jadi tawa kecil karena kecupan nakal Fatur, "iya inget pak dokter. Kalo gitu itunya cabut, buruu! Ko berasa mulai ng'otot lagi ya ?!" ledek Gale.
"Bangun lagi Le, gimana dong?!"
"Ha? Engga ah! Abang minggir ngga?!" sewotnya, tapi Fatur malah dengan sengaja kembali memaju mundurkan miliknya membuat Gale kembali meremang dan men the'sah.
Dan itu terjadi hingga hampir magrib, keduanya memutuskan untuk bersih-bersih.
"Heuhh! Ini mah udah dipijit malah pegel-pegel lagi!" Gale membaringkan badannya yang lemas di ranjang sambil menunggu adzan magrib. Tak berniat mengeringkan rambutnya, rasanya ia ingin tidur sangat lama, bahkan jika memungkinkan ia akan terbangun jika setiap warga Indonesia sudah memiliki jet pribadi sendiri-sendiri biar kalo ke warung ga perlu repot jalan kaki tinggal pake jet pribadi.
__ADS_1
Matanya memang terpejam, tapi pikirannya berkelana oleh ucapan mak Mpon.
"Ada apa sama bapaknya abang?"
"Kenapa harus sabar? Pake dibilang ga waras segala?"
"Mukanya emak juga serius banget?!"
Cup!
"Mau magrib, jangan tidur dulu!" Fatur merebahkan dirinya di samping Gale.
"Bang," Gale menoleh ke arah Fatur.
"Hm," Fatur ikut menoleh.
"Kalo Gale ada nanya sesuatu, kira-kira abang marah engga. Abang bakalan jawab Gale jujur engga?" tanya nya. Alis tebal itu mengkerut.
"Insyaalllah abang jawab kalo abang tau,"
"Gale mau nanya, ayahnya abang beneran masih ada kan? Dimana?"
Raut wajah Fatur berubah drastis, "ada,"
"Dimana? Gale belum pernah liat, Gale boleh ketemu?"
"Enggak!" Gale cukup tersentak dengan jawaban cepat Fatur.
"Kenapa? Dia kan ayahnya abang, mertua Gale.."
"Dia bukan siapa-siapa Gale, hidup abang, mama dan Fathya sudah tak ada lagi hubungannya sama dia!" Fatur duduk dari posisinya.
"Kamu cukup tau dia masih ada. Pria macam dia ga pantes buat dicari lagi! Apalagi sama kamu dan keluarga kamu,"
"Kenapa bang, emang dia punya salah apa? Gale juga yakin keluarga Gale bakalan terima, keluarga Gale bukan orang yang gila harta atau tahta, abang tau sendiri.." Gale ikut bangkit, obrolan ini memancing emosi keduanya, sedikit bersitegang kini Fatur meraih bahu Gale.
"Please, jangan bawa nama dia lagi. Abang ga mau kalo sampe abang marah sama kamu, abang juga ga yakin kamu bisa terima dia, apalagi kalo ayah sama momy tau..apa mereka masih mau terima abang sebagai menantunya?"
Gale semakin tak mengerti, ada apa sebenarnya dengan masa lalu mereka? Apa seburuk itu sampai Fatur bicara seperti ini.
"Ya udah, Gale ga maksa. Tapi alangkah lebih senengnya kalo abang mau terbuka, setidaknya Gale sebagai istri tau kalo nanti ada orang terdekat abang bahas-bahas nama bapak, ga melongo kaya ayam be*go," jawab Gale beringsut dari ranjang hendak keluar dari kamar.
.
.
.
.
__ADS_1