Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Kamu membuatku nyaman


__ADS_3

Fatur terlihat serius, karena memang ia selalu serius dalam bekerja. Tak seperti Ori yang lebih banyak bercanda.


"Le, gimana rasanya married?" tanya Kia, sejenak kedua gadis ini memandang ke arah luar jendela kamar Kia, dimana langit berwarna gelap kebiruan tak ada bintang bertaburan layaknya dalam sebuah cerita dongeng, ataupun UFO yang melintas untuk sekedar menampakkan eksistensinya. Jika suara binatang malam seperti jangkrik dan kodok memang banyak bersahutan disini.


Gale yang ikut berbaring di ranjang hanya menghela nafasnya merasa bosan, tak ada kegiatan lain yang ingin ia lakukan saat ini selain rebahan.


"Gimana ya, ga gimana-gimana Ki..berjalan seperti hari-hari biasa, kecuali gue dapet uang jajan dari bang Fatur," kekeh Gale karena tak ada perubahan yang signifikan selain dari Fatur yang seranjang dengannya dan selalu nyosor.


"Kira-kira kalo gue korupsi muka gue meyakinkan engga Ki?" tanya Gale, membuat Kia tertawa. Pertanyaan Gale selalu diluar nalar manusia pada umumnya.


"Pertanyaan loe Le, emangnya uang jajan dari dokter Fatur kecil ya? Pake mau korup segala!"


"Ya engga sih, cuman kalo dulu waktu dikasih ayah, gue suka dipakein komisi, uang karyawisata 100 gue bilang 150," tawa Gale.


"Mayan buat jajan, atau beli barang! Tapi kalo ma laki sendiri ko gue ga tega ya, liat kalo dia tidur, kayanya lelah banget! Kaya abis kerja rodi gitu," terang Gale, Kia selalu tertawa dengan setiap jawaban yang Gale lontarkan jika ditanya.


"Lelah bukan cuma fisik doang Le, apalagi dokter..tanggung jawabnya gede! Sumpah yang dia pegang juga harus dipertanggung jawabkan,"


"Ga ada kerjaan yang ga bikin capek, tidur aja capek!" lanjut Kia.


"Tapi sebenernya loe cinta ngga sih sama dokter Fatur, Le?" Kia menoleh.


Pertanyaan Kia sedikit keliru, seharusnya ia bertanya loe ngerti ngga sih cinta itu apa, gimana rasanya, dan apa loe rasain itu buat dokter Fatur?


"Gue ga tau, Ki. Dulu gue sempet suka sama abang. Tapi abang sempet bikin gue down, karena ternyata abang udah punya pacar. Kata orang, cinta itu ga akan mudah luntur, tapi bagi gue ko waktu itu gampang banget ikhlasnya. Akhirnya gue bertanya sama diri sendiri, kenapa gue bisa tertarik sama abang..jawabannya karena dia tampan, tegas, berwibawa, keren deh pokonya, dingin-dingin gitu, menantang karena ga gampang buat ditaklukan. Tapi setelah kejadian itu, gue memutuskan untuk mundur! Dan bisa gue simpulkan mungkin gue hanya sekedar mengagumi,"


"Le, sayang dan cinta itu berawal dari mengagumi. Karena sering bersama jadinya rasa sayang itu tumbuh. Terus sekarang perasaan loe kaya gimana?"


Gale bergidik acuh, "entah!" bohongnya.


Gue kadang marah kalo abang bilang mau godain cewek lain kaya tadi, gue takut si perawan tua ngambil abang lagi sewaktu-waktu, gue deg-degan kalo abang lagi cium gue...


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?"


"Kaka, kamu di dalem?" tanya Shania mengetuk pintu kamar Kia.


"Momy," gumam keduanya.


"Apa mii?!" tanya Gale, tapi sudah tak terdengar suara momy-nya lagi.


"Coba buka, Le!" pinta Kia, Gale beranjak lalu membuka pintu kamar Kia.


Bukan momynya yang ia temui, namun Fatur kini yang tengah berdiri di depan pintu kamar Kia.


"Abang?"

__ADS_1


"Udah mainnya? Mau tidur ngga, ini udah malem?" tanya Fatur datar.


"Mesti disusulin segala. Gitu aja ga ngerti!" ucap ayahnya Arka santai, yang tak sengaja melintas dari arah belakang menuju ruang depan.


"Ayah ih!" dumel Gale.


"Udah malem Le, gih balik kandang!" pekik Kia dari dalam kamar.


"Yuk!" tanpa aba-aba Fatur menarik tangan Gale membuat Gale terbawa.


"Ki, jangan lupa besok ya!"


"Abang ih, ntar dulu aku belum selesai ngomong sama Kia..." ucapan Gale perlahan mulai samar terdengar, seiring keduanya yang menjauh dari bibir pintu. Kia tersenyum miring melihat kebersamaan Gale dan Fatur, begitu manis tidak sepertinya dan Ori yang jalan di tempat, kini Ori terkesan seperti merasa canggung padanya, apa mungkin dia yang terlalu agresif jadi seorang gadis. Dengan lancang menyatakan perasaannya dan tak sopan mengecup bibir Ori, saat keduanya menonton bioskop 2 minggu yang lalu.


Bibir Gale masih cemberut sampai masuk kamar, "abang mau apa sih, nyuruh aku tidur. Ini masih siang, ga liat ?! Musang aja baru keluar nyari makan?"


Ctak!


Keningnya kembali dijitak Fatur.


"Awwsh ih! Tanggung jawab kalo Gale geger otak!" jawabnya mengusap kening.


"Ga ada sejarahnya, geger otak gara-gara kening kamu dijitak pelan."


"Musang binatang nocturnal sayang, keluarnya malam hari."


"Bisa, mau abang contohin?" tanya Fatur menyeringai.


"Caranya?" tanya Gale.


Bak gayung bersambut, dokter muda itu bangun dan duduk menghadap Gale, tanpa diduga Fatur mengecup bibir Gale. Entah yang keberapa kalinya ini sudah terjadi, mencium tanpa ijin pada si pemilik bibir. Karena bagi Fatur, semua yang ada di diri Gale adalah miliknya sejak sah di mata agama dan negara.


Tangannya tak tinggal diam, menarik pinggang dan tengkuk Gale hingga membuat Gale menubruk dadanya. Tangan Gale yang semula menahan dadanya agar tak terhimpit kini secara naluriah mulai mengalung di leher Fatur. Tapi ada yang terjadi setelah ini, bukan seperti kemarin-kemarin atau tadi di kamar mandi. Bibir Fatur menyapu ke sudut bibir lalu beranjak meninggalkan tempat pendaratan nyamannya menuju ke hilir. Hingga sampailah di leher mulus Gale.


Gale terkesiap, "aww!"


Satu sengatan dibuat Fatur disana meninggalkan bekas kemerahan sepanjang 1,5 cm hingga 2 cm.


"Dah!" Fatur tersenyum melihat leher Gale.


"Apanya ?"


"Mau kasih selamat ngga?" tanya Fatur.


"Buat apa?" tanya Gale. Fatur meraih tangan Gale dan menjabatnya.


"Bilang dong selamat buat abang, karena sekarang abang udah resmi jadi makhluk nocturnal," jawab Fatur.

__ADS_1


Gale semakin bingung dibuatnya, padahal jelas sekali Fatur kini merebahkan badannya dan memejamkan matanya.


"Apa sih?! Geje!" desis Gale.


Gale ikut merebahkan badannya memikirkan perkataan Kia dan curahan hatinya sendiri.


Udah cinta, apa belum?


"Bang,"


"Hm,"


"Kalo jatuh cinta tuh kaya gimana rasanya?" tanya Gale. Fatur yang sempat menutup matanya, kini membuka kembali.


Ada angin apa tiba-tiba Gale bertanya hal begini padanya.


"Kenapa emangnya?" tanya Fatur memiringkan badannya menghadap ke arah Gale.


"Gale cuma pengen tau," jawab Gale masih betah menghadap ke arah langit-langit kamar, dengan lampu neon kecil di tengah-tengah, beberapa cicak terlihat berlarian saling mengejar seperti sedang mengejek Gale, bahwa mereka saja sedang main kejar-kejaran ala India.


"Jatuh cinta, abang ga bisa jelasin. Yang jelas, kamu bakal marah jika liat dia ketawa sama orang lain," jawab Fatur, sekelebat bayangan Ori dan Gale yang selalu bertengkar sayang membuat hati Fatur kesal.


"Egois memang, tapi rasanya ga ada yang boleh ketawa dan lindungi si dia selain kita,"


"Selalu ingin tau apa yang sedang dia lakukan, ada apa yang sedang dipikirkannya. Takut jika nama kita tak ada di setiap do'a-do'a yang dia panjatkan. Deg-degan kalo lagi deket dia..."


Gale melirik, belakangan ini semua hal itu ia rasakan, pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya ini.


"Sekarang abang tanya," Fatur menangkup pipi Gale membuat gadis ini gugup.


"Apa?"


"Apa kamu ngerasain semua itu sama abang?" tanya Fatur, tatapannya penuh makna.


"Gale ngantuk bang, besok lagi aja nanya nya!" jawabnya mengelak.


Fatur hanya bisa menghela nafas.


"Ya udah, sini bobo! Abang elusin!" Fatur membawa kepala Gale untuk menempel di lengannya dan mengusap lembut kepala Gale, menghantarkan Gale ke gerbang mimpi.


"Abang nyaman banget, bikin Gale betah," gumam gadis ini setengah memejamkan matanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2