
"Alhamdulillah!"
Mama memeluk Galexia, mengetahui kehamilan Gale. Lengkap sudah kebahagiaannya kali ini, Allah membalas kesedihan masa lalu dengan berlipat-lipat.
"Kalo mau apa-apa bilang sama abang, mama, atau Fathya. Jangan di pendem. Yakin Gale kalo punya keinginan dipendem? Ayolah ma, yang ga kepengen aja dipengen-pengen.
Pagi-pagi Gale sudah bersiap menuju rumah sakit.
"Ini kalo periksa kandungan doang ga akan disuntik kan?" tanya Gale memakai dressnya, Fatur berdiri di tepat di depan punggung semulus pualam milik Gale, membantunya menarik resleting. Yap! Selamat Gale, sejak semalam titah suami sudah turun, no jeans, no hotpans, no ketat-ketat. Pake aja karung!
Fatur bingung menjawabnya, setaunya dokter kandungan akan membutuhkan sampel darahnya untuk mengetahui kondisi kesehatan si ibu.
"Engga kayanya, kalaupun ada tindakan itu demi kesehatan kamu sama dedek ke depannya, biar terpantau, abang bakalan di samping Gale tiap periksa," sudah jawaban yang paling halus, karena Fatur meng-ayak (menyaring) kata-katanya pake saringan teh milik mama.
"Janji ya?!" Gale menunjukkan kelingkingnya.
"Janji," ia sudah membuat dirinya sendiri menanggung beban berat dengan berjanji pada Gale.
Gale menghentikkan langkahnya, hingga tangan Fatur tertahan.
"Kenapa?" tanya Fatur.
"Abang 'ga bohong kan? Dokter kan suka gitu, engga sakit..engga sakit, kaya digigit semut. Tapi nyatanya kaya digigit Andro waktu mau tumbuh gigi!" wajahnya sudah keruh juga panik.
"Kaya digigit abang! Udah, selesai ga ada debat lagi!" ia bingung, sebab ia bukanlah dokter anak yang pandai merayu pasien, kebanyakan pasiennya sudah dewasa.
"Kalo masih ga mau juga, abang lempar Gale dari sini langsung ke rumah sakit!" Gale tertawa, "impossible!"
Tiba-tiba tubuh Gale terangkat, Fatur menggendongnya ke ruang makan sambil cekikikan.
"Cih! Bisa ngga sih, ga usah gendong-gendongan gitu?! Manja banget, jarak dari kamar kesini ga akan makan 1 kilometer?!" senang betul keduanya mesra-mesraan bikin Fathya pengen cepet-cepet punya pasangan juga.
"Si jomblo sewot aja, cari pacar sana! Loe tuh cantik, sayang kalo dianggurin, bagusnya dikacangin!" Gale tergelak, suatu hiburan tersendiri untuk bumil ini menggoda Fathya. Ralat! Bukan hanya Fathya, semua orang pun ia ganggu.
"Dih! Hamil bikin orang nyebelin makin nyebelin," ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Nanti abis dzuhur siap-siap aja ma, kita ke gang Irit."
"Asik! Fathya ikut!" serunya. Sudah lama Fathya tidak mengunjungi deretan rumah kontrakan bertumpuk dan padat itu, mungkin hanya beberapa saja yang rumahnha besar seperti babeh Mu'in, Cing Nirin dan koh Ali yang punya toko matrial.
Tak susah bagi Gale untuk makan ini dan itu, beruntung ia tak seperti Shania dulu yang mengalami mual muntah.
"Ma, pamit dulu!" Gale salim takzim.
"Iya hati-hati," mama mengusap perut Gale. Fatur merangkul Gale dari samping, sepertinya hari-hari ke depan akan menjadi hari berakhirnya kebebasan si gadis nakal Galexia dan sifat overprotektif dari Fatur.
"Abang, Gale pingin ikan gabus yang di rumah makan itu," pinta Gale.
"Nanti siang, abang udah minta menu dari rumah makan babeh buat menu makan-makan siang nanti," jawabnya.
Fatur berhenti sejenak di depan mobil, ia membungkukkan badannya menghadap ke arah perut Gale, "ayah minta jangan yang aneh-aneh maunya ya, yang gampang aja di dapetnya,"
Gale tertawa, mengusap rambut rapi Fatur, "otak abang mulai geser! Jangan gitu bang, nanti orang-orang pada ga mau berobat sama abang," Gale membuka pintu mobil.
Langkah Fatur membawa Gale memasuki ruang dokter Tara. Seorang dokter perempuan yang sudah paruh baya, mungkin usianya sama dengan momy-nya, tapi tentu saja lebih cantik momynya kemana-mana.
"Pagi dok," sapa Fatur dan Gale masuk.
"Pagi juga dokter Fatur dan istri,"
__ADS_1
"Pinter nih, dokter Fatur pilih istri! Masih muda, cantik lagi! Duduk dok,"
"Makasih," Gale dan Fatur duduk, awalnya mereka baik-baik saja. Gale juga masih anteng-anteng saja, ia diminta naik ke atas ranjang untuk diperiksa, matanya mengedar melihat semua poster di dinding, kebanyakan berisikan kondisi kandungan yang sehat, termasuk apa saja yang harus ibu hamil lakukan atau konsumsi, tapi alisnya berkerut saat netranya tertumbuk pada salah satu poster tentang gejala-gejala persalinan, seketika bulu kuduknya merinding.
"Dok," ia bersuara. Membuat kedua dokter ini mengalihkan pandangannya.
"Iya?"
"Ada lahiran yang ngga sakit ngga sih?" tanyanya takut melirik Fatur, dokter Tara tersenyum menatap Fatur sekilas lalu Fatur mengangguk.
"Tak ada lahiran yang tidak menyakitkan. Vag_inal birth atau yang biasa kita sebut lahiran normal, Caesar, Water birth, Gentle birth, semuanya sama saja, akan ada masanya merasakan nikmatnya berjuang. Dengan gaya hidup sehat, ikuti saran dan anjuran dokter insyaallah bisa meminimalisir resiko, lagipula itulah kenikmatan dan perjuangan seorang ibu. Akan jauh lebih besar nikmatnya dibanding rasa sakit yang dirasakan," terlihat jelas raut wajah khawatir dan pucat Gale.
"Mau lihat dedeknya di dalem?" tanya dokter Tara mencoba mengalihkan ketakutan Gale, ia mengangguk.
...****************...
Sebuah foto usg ia tenteng di tangannya, "kecil banget bang?!"
"Terus mau segede apa? Usianya masih 12 minggu. Ukuran normal itu sayang," gemas Fatur mencubit pipi Gale.
"Mau pulang apa mau tunggu abang praktek?" tanya Fatur, ia melirik arlojinya.
"Mau tunggu aja, males bolak balik! Tapi kalo nunggu lama atuh ya?" ia menimbang-nimbang.
"Abang beliin amunisi?" tawarannya.
"Gale beli sendiri aja, minimarketnya di depan rumah sakit kan?" tanya Gale.
"Iya, biar abang anter?" Fatur mengusap kepala Gale lalu menarik tangan Gale, tak bermaksud meminta persetujuan istri nakalnya.
"Abang ih!!" Gale menepis tangan Fatur.
"Ga usah berlebihan deh, ini udah masuk jam praktek abang loh! Jangan bikin pasien pada nungguin dokternya belanja cemilan. Tau ngga, nungguin dokter itu hal yang paling nyebelin! Gale pernah ngalamin pas lagi sakit, pengen ta cekek aja tuh dokter, ga tau apa pasien tuh udah ga betah? Harap-harap cemas nungguin kondisi dia-nya sendiri, kapan pulang! Kapan sembuh! Kapan dikasih obat, gue tuh kenapa sebenernya?" terangnya, ekspresi Gale ini selalu lucu saat menirukan sebuah fakta.
"Gale cuma lagi hamil, bukan kena penyakit kanker yang besok meninggal, jadi abang masuk aja ke ruangan, Gale mau jajan!"
"Ya udah, hati-hati..jangan ambil makanan pedes, kabarin abang kalo udah jajannya."
"Iya, nanti Gale kabarin, berikut jumlah struk belanjanya yang harus abang ganti! Karena ini ga masuk itungan uang jajan Gale,"
"Bisa banget bumil, ya udah hati-hati, inget pesen abang! Jalannya pelan-pelan aja jangan grasak-grusuk pecicilan kaya penganten su nat aja,"
"Iya, cerewet ih suaminya Gale!" gadis itu salim takzim dan Fatur mencium keningnya, tak sengaja Seli melintas dan melihat itu semua, ia sampai menghentikkan langkahnya dan berbalik arah.
Fatur mengikuti kemana sosok Gale pergi, gadis manis pecicilan yang sebentar lagi jadi mama untuk anaknya. Rambut hitam sepinggang Gale bergerak sesuai langkahnya.
"Selamat," seseorang mengulurkan tangannya, otomatis Fatur menoleh.
"Kabarnya Galexia sedang mengandung?"
"Makasih," jawab Fatur tanpa menyentuh Seli, ia malah memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Semoga persalinannya nanti lancar, ibu dan bayi dalam keadaan sehat," lanjutnya tulus.
"Aamiin, terimakasih banyak. Kalau gitu saya masuk ke ruangan dulu!" pamit Fatur tanpa banyak berbasa-basi.
......................
Gale mengambil beberapa coklat, keripik kentang, singkong dan berbagai macam cemilan. Bumil muda satu ini tak tau akan sebesar apa nantinya yang penting ia tidak kelaparan dan suntuk saat menunggu dokter menyebalkan itu. Ia melihat postur tubuhnya lewat kaca minimarket setelah keluar dari sana.
__ADS_1
"Ini badan gue gede gini sii?!" ia melirik sekeresek penuh cemilan di tangannya.
"Ga bisa jadi nih! Bisa-bisa gantiin peran si giant kalo gini! Tapi gue laper terus, gimana dong?!"
Gale menyipitkan pandangan, matanya jatuh pada seorang gadis remaja di lantai dua, mungkin seusianya, dimana ia sedang memandang taman rumah sakit tepat di samping Gale.
Wajahnya begitu pucat tak bersinar, rapuh, kulitnya kusam dan terbilang cukup kurus bila dibandingkan dengannya.
Gale berniat menghampiri gadis remaja dengan pandangan kosong itu. Ia hanya perlu naik satu lantai saja. Gale menapaki anak tangga dan melihat seorang remaja perempuan duduk di kursi roda menatap ke taman.
"Hay," ia mendongak pada Gale.
"Sendirian aja?" tanya Gale.
"Mamah lagi pulang bawa baju ganti," jawabnya tersenyum getir.
"Terus disini sama siapa?"
"Tadi sama suster,"
"Oh,"
"Mau ke bawah?" tunjuk Gale.
"Mau,"
"Aku temenin?"
"Namaku Galexia Adhara, panggil aja Gale, Dara juga boleh sih!"
"Iya Dara," Gale memegang handle kursi roda dan mendorongnya menuju tangga, karena disana disediakan tangga khusus untuk kursi roda atau blangkar.
"Bagus tamannya, baru dikasih tanaman baru lagi!" tunjuknya pada serumpun beberapa tangkai peach lily yang berjajar.
"Peach lily.." jawab mereka kompak lalu tertawa.
"Dara tau?"
"Tau lah, banyak di rumah momy," jawab Gale, menghentikan dorongannya setelah sampai di taman yang sedikit tersorot matahari pagi. Gadis itu melepas sandalnya dan menginjak rumput jepang disana, merasai tekstur kasar rerumputan.
"Ko kamu tau itu tanaman baru? Aku aja yang beberapa kali kesini 'ga ngeuh loh?!" tanya Gale.
"Aku udah disini beberapa bulan, tiap hari cuma itu yang menurutku bagus buat diliat,"
"Udah berapa bulan kamu disini?" tanya Gale.
"Udah hampir 6 bulan," jawabnya.
"Lamanya?!" Gale sampe berdecak.
"Sejuk ya?" tanya nya, Gale mengangguk duduk di bangku taman.
"Aku punya banyak makanan, kamu mau?!" Gale menunjukkan coklat batangan dan menyodorkannya satu.
"Namaku Alexa,"
"Sini aku bukain," tawar Gale.
"Aku mengidap leukimia," Gale menghentikkan kegiatannya, tanpa berniat menyela ucapannya.
__ADS_1
.
.