
"Udah beres semua kan, ga ada yang ketinggalan?" bisik Fatur dengan tegas.
Tanpa mengalihkan pandangan yang sejak tadi tertumbuk pada kedua makhluk yang tengah meny usu kuat di sumber kehidupannya, Gale menggeleng, "kayanya engga bang, udah dibawa momy semua tadi."
Jika biasanya perempuan dengan gelar baru, ibu muda ini selalu menggerai rambutnya, kini Gale selalu mengikatnya satu di belakang, tak mau tiap helaian rambut itu mengganggu anak-anaknya yang sedang makan. Ia terkekeh-kekeh pelan geli, mungkin ke depannya ia akan mengalami kesakitan seperti ibu-ibu pada umumnya saat permukaan kuncup miliknya akan mengelupas akibat seringnya si kembar meny usu.
Tok..tok..tok..
Dua kepala itu menoleh ke arah pintu dan saling menautkan alis, "siapa?"
"Tante Seli bukan?" balik Gale bertanya. Fatur menggidikkan bahunya, mempercepat memasukkan peralatan mandi Gale lalu membuka pintu.
Saat pintu terbuka lebar, pemandangan wajah seseorang berwajah hangat itu menggenggam dua buah boneka beruang pink di depan dada.
"Surprise!!!"
"Ori?"
"Bang Ori?!" segera Gale menutup dadanya dengan swetter di sampingnya.
"Masuk Ri,"
"Mana bocah?! Pasti anak-anak loe cakep kaya bapaknya?! Soalnya kalo jelek udah pasti kaya emaknya!" tawa Ori mengejek namun penuh kerinduan.
"Idih, apaan...anak-anak gue cantik ya pasti kaya emaknya. Masa kaya tetangga!" ia mendengus kesal.
"Ini udah mau pada balik nih? Gue baru aja nyampe kesini?" ia menaruh kedua boneka pink itu di atas meja. Sementara Fatur membenarkan posisi Gale, mengancingkan bajunya, menghentikan acara ngemil dessert kedua anaknya. Sepertinya kedua anak kembarnya akan menaruh dendam pada dokter satu itu, karena telah mengganggu acara makan mereka.
"Iya, sudah dari 2 hari yang lalu datang kesini."
"Sorry deh baru bisa hari ini, baru bisa dapet cuti ," jawab Ori meneliti wajah si kembar yang menggemaskan.
"Ga usah diliatin lama-lama bang, anak-anak gue empet, kaya diliatin sama psikopat!" tawa Gale membalas kelakar Ori.
"Kimvriit," bisik Ori mendesis.
Sesekali Aliyah menggeliat tak nyaman, lalu menangis sementara Afifah seperti tak terganggu adiknya yang manja, si kakak lebih anteng dan kalem bagaimanapun situasi dan kondisinya.
"Selamet yeee! Akhirnya sekarang loe bisa bebas lagi buat bandel," ucapan selamat macam apa itu ?! Gale mengerutkan dahi setengah mencibir, tapi jika dipikir-pikir perkataan Ori ada benarnya juga. Sekarang ia bisa bergerak bebas tanpa takut membahayakan kedua anaknya.
"Idih, gue ga bandel lah!"
"Cih, perasaan. Terus yang selama ini sering dihukum om Arka di empang om Guntur siapa?!"
"Hati-hati Tur, nih bocah udah bebas lagi, bahaya!" kelakar Ori menghentikkan acara memandang kedua bayi Gale, tiba-tiba ia jadi tergiur untuk memiliki anak, apa karena umurnya yang sudah cocok untuk menjadi bapak atau memang gemas saja.
__ADS_1
Fatur tak menampik ucapan Ori, memang betul setelah perutnya kempes kembali, Gale lebih bahaya jika tidak diawasi.
"Ya udah deh, karena gue orang baik! Gue bantu bawa barang-barang!" Ori menawarkan membantu sepasang suami istri ini. Gale menekuk bibirnya mengejek, "kalo otang baik tuh ga akan sombong, pake dibilang-bilang!"
Fatur menerima bantuan Oriza, "istirahat di rumah saja Ri, kebetulan keluarga ayah ada di rumah juga."
"Makasih deh Tur, gue cuma mampir aja kayanya, mesti nemuin papah sama mamah dulu!"
Ceklek!
"Dok, mau sekarang?" salah seorang suster mendorong kursi roda untuk Gale.
"Boleh sus," si suster mendorong sampai kursi roda mendekat dengan ranjang. Mengambil Afifah dari pangkuan Gale dan menaruhnya di ranjang, begitupun Aliyah. Badannya yang sudah lebih segar, diangkat Fatur. Padahal ia sudah bisa kesana kemari sendirian, tak perlu sampai digendong-gendong. Suaminya saja yang lebay.
"Bang, Gale bisa sendiri ga perlu digendong-gendong." Bibirnya mengerucut malu oleh suster dan Ori, terlebih oleh Afifah dan Aliyah. Seakan tuli, Fatur tak menggubris ucapan Gale.
"Gendong Tur, lempar noh ke lantai bawah! Berisik amat," kekeh Ori.
Mata Gale menatap sinis pada Ori, "ck!"
Ditaruhnya kedua bayi kembar di pangkuan Gale, nampak tenang dan pulas.
"Makasih sus," kursi didorong Fatur keluar dari ruang rawat Gale melewati koridor bercat putih bersih dengan tanaman hias di beberapa titik.
"Selamat ya dok, ibu.."
Sudah dapat diprediksi bagaimana rumah mereka saat datang, sudah seperti pengungsian korban bencana, ramai!! Demi menyambut mereka pulang, kabar yang di dengar Nadia dan Arlan pun sampai menyempatkan diri berkunjung untuk melihat Gale beserta si kembar.
Fatur dan Gale sudah membicarakan pasal aqiqah, mereka lebih memilih memesan kambing langsung dari Pondok.
Palang portal komplek dibuka oleh satpam perumahan, mobil yang membawa Gale dan keluarga kecilnya sudah masuk ke area blok tempat tinggalnya berada. Mata Gale menatap nyalang, terakhir ia melintasi jalan ini menggenggam tangan Shania dalam keadaan yang pasrah juga kesakitan.
Dari luar saja sudah nampak jelas jika rumah Fatur ramai. Mama Ela dan momy Shania menyambut penuh suka cita, membawa kedua cucunya masuk ke dalam, sementara Gale dipapah Melan.
"Masukkin aja Ri mobilnya," pinta Fatur memberikan akses jalan untuk mobil Ori memasuki halaman rumahnya.
"Oke," pria itu memutar stir, ban mobil mulai menggelinding menapaki halaman rumah Fatur dan berhenti di area carport yang cukup luas, hanya ada mobil milik Deni dan motor milik Fatur yang kemarin dibawa Andro pulang dari rumah sakit.
"Ya Allah gemesnya!"
"Jangan dikerubungin! Nanti gerah," si granny cantik ini posesif pada kedua cucunya.
"Gale, selamat ya!" ucapan selamat tak henti-hentinya mengalir untuk Gale dan Fatur.
"Makasih Nad, Lan..udah bela-belain datang kesini," jawab Gale menyambut pelukan Nadia.
__ADS_1
"Eh ada babang Ori!!!"
Deg!
Ternyata pas sekali, dari sudut meja makan se-sosok gadis tengah mencomot kue, langsung menoleh mendengar nama Ori disebut. Air mukanya mendadak berubah bagai angin puyuh, tak beraturan kemana arahnya, menyeret semua perasaan di dalam dada.
Ia segera memalingkan wajah dan meninggalkan tempatnya berdiri, menuju halaman belakang bergabung dengan anak-anak kecil.
Tampak canggung keduanya memilih berbeda ruangan, sementara Ori bersama Deni di ruang tengah.
Hanya sebentar Nadia dan Arlan di rumah Gale, mengingat si ibu muda ini perlu istirahat.
"Le, istirahat bareng anak-anak di dalam." Pinta Fatur.
"Iya bang," Gale mendudukkan pan tatnya di tepian ranjang aga pelan, rasa ngilu akibat persalinan dan jahitan masih cukup terasa mengganggu. Perempuan itu menatap kedua bayi mungilnya. Wajah tenang keduanya terlihat lebih mirip Fatur.
"Kok kakak sama adek lebih mirip abang dibanding aku?! Gale kan ibunya bang, yang lahirin mereka?!" tanya nya khawatir, kalau-kalau nanti tak diakui kedua anaknya.
Fatur mengganti pakaiannya, 2 hari kurang istirahat membuatnya sangat lelah hari ini, ia memutuskan untuk bergabung dengan anak dan istrinya menyelami dunia mimpi di siang hari, sebuah aktivitas yang jarang ia lakukan.
"Kan abang ayahnya, punya andil besar dalam pencetakan adonan, jelas mirip abang!" jawab Fatur asal tapi penuh kebangaan, rupanya gennya lebih kuat menempel di kedua anak kembarnya.
Keduanya kini berbaring berdampingan dengan kedua bayi kembarnya sebagai penyekat diantara mereka.
"Untuk saat ini Gale ga usah mikirin apapun kecuali ngurusin anak-anak sama diri Gale sendiri." Gale mengalihkan pandangannya ke arah Fatur dengan wajah seriusnya, sementara netra Fatur masih sibuk memperhatikan pipi gembul Afifah yang berada di sampingnya.
"Untuk kerjaan rumah ada bibi, mama juga suka masak. Untuk baju, biar abang yang nyuci setelah pulang kerja. Anak-anak biar kita sama-sama urus, ada Fathya, mama, momy yang pasti mau bantu asuh, sudah pasti abang juga bakalan nemenin dan ingetin Gale buat ngasih ASI. Jangan sampai kamu merasa menanggung beban sendirian, capek sendirian. Abang mau kamu sama anak-anak sehat!" jelasnya beralih menatap mata Gale lekat-lekat.
"Ga usah mikir macem-macem, kalo ada yang dipengen kamu harus bilang sama abang. Atau kamu sudah mulai lelah dan ingin istirahat," kini tangannya terulur menyentuh pipi Gale, membuat gerakan ke samping kanan kiri, mengusapnya lembut. Merasai permukaan kulit istrinya yang selalu mulus nan menggemaskan.
"Iya abang,"
Bukan apa-apa, Fatur tak mau Gale sampai mengalami baby blues, ataupun kedua anak kembarnya kekurangan gizi karena ASI Gale yang kurang akibat ia stress dan kurang asupan nutrisi.
"Apalagi kuliah kamu masih semester awal, pasti sibuk banget nantinya!"
"Makasih abang, abang juga harus jaga kondisinya. Buat dampingin Gale pasti butuh tenaga ekstra, belum lagi abang harus kerja," jawab Gale ikut menyentuh dan mengusap rambut Fatur ke arah belakang.
Fatur mengulas senyum, dan ikut terlelap bersama kedua putrinya.
.
.
.
__ADS_1
.